
Dennis terbelalak kaget saat mendengar Yoga hendak menemuinya dan juga menemui Raya, dia tidak tahu apa yang telah Yoga rencanakan untuknya. Begitu juga Raya yang tak kalah kagetnya saat Bram membawanya menemui pria yang selama ini mengaku sebagai ayah Dennia.
"Bram kenapa kau tidak memberitahuku lebih dulu." tukas Dennis saat keduanya masuk ke dalam mobil.
Bram menyuruh supir untuk segera pergi setelah dia masuk kedalamnya.
"Kau bisa tahu nanti! Dan situasi ini memang tidak bisa lagi di hindari." jawab Bram yang membuat Dennis maupun Raya hanya saling bertatapan saja.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" gumam Raya gelisah. Dia tidak berani terus menerus menatap Dennis.
Mereka tiba di hotel dimana Yoga menunggu, Bram tidak ingin mengambil resiko jika mempertemukan mereka disembarangan tempat.
Raya terperangah saat diajak masuk oleh Bram, dia bahkan terlihat ragu saat menginjakkan kakinya di hotel bintang lima dikota tersebut. Dia tidak pernah pergi ke tempat seperti itu, bahkan membayangkan nya saja tidak pernah.
Dennis yang melihat kegelisahan Raya meraih tangannya agar tidak perlu khawatir.
"Kau tenang saja! Aku akan pastikan kau tidak akan dapat masalah lagi gara gara aku." gumam Dennis yang juga hanya bisa mengikuti langkah Bram di depannya, karena dia pun tidak tahu apa apa.
Raya ingin menepisnya, tapi Dennis semakin erat menggenggamnya bahkan tidak memberikan kesempatan baginya. Dia menoleh dengan kepala yang dia gelengkan sebagai penolakan jika Raya melepaskan genggaman tangannya. Sampai akhirnya Raya hanya bisa pasrah dan juga diam saja.
"Ayahmu sudah menunggu di dalam." tukas Bram saat tiba di sebuah pintu coklat dan dia segera membukanya. "Silahkan masuk."
Dennis dan Raya pun akhirnya melangkah masuk, terlihat Yoga tengah duduk dengan sejumlah hidangan yang berada di atas meja bundar. Berbagai menu hidangan tersaji, begitu juga dengan dua kursi yang akan di duduki Dennis dan juga Raya.
"Apakabar Raya?" Yoga bangkit dan mengulurkan tangan ke arah Raya.
Yoga mengangguk lalu mempersilahkannya untuk duduk, lalu dia sendiri kembali menghempaskan bokongnya di kursi. "Ayo Dennis, kau juga duduk. Ayah mau bicara dengan kalian berdua."
Dennis menarik kursi yang akan di duduki Raya, setelahnya dia baru menarik kursi untuknya sendiri, Raya terduduk dan Yoga mengulum senyuman melihatnya.
"Jadi begini. Ayah ingin kalian berdua menikah."
Tanpa basa basi, Yoga mengatakan hal yang membuat keduanya terperanjat, lalu saling menatap.
"Dengan begitu, kalian bisa kembali ke kota yy bersama sama tanpa ada yang perlu di khawatirkan lagi."
"Jangan bercanda Om! Pernikahan bukanlah mainan, Om tahu sendiri kalau Dennis memiliki calon tunangan yaitu Celine. Dan aku tidak ingin menyakiti siapa siapa." Raya bangkit dari duduknya dan hendak melangkah pergi.
"Justru itu Raya, dengan kalian menikah. Kalian bisa tahu sesuatu yang selama ini tidak kalian tahu,"
Raya kembali menoleh, jelas dia tidak paham apa maksud perkataan Yoga. Sedangkan Dennis sama seperti Raya, selama ini dia hidup dalam kebingungan.
"Apa kau tidak ingin mengetahui siapa dirimu Dennis? Kembalilah ke rumah agar kita sama sama menyelidiki semua ini terutama tentang kecelakaan yang menimpamu. Rumah sakit membutuhkanmu, dan kau membutuhkan Raya. Jadi Ayah fikir ini jalan terbaik untuk kita bersama, menikah dengan wanita yang kau cintai dan kembali pulang."
Dennis menoleh ke arah Raya, begitu juga Raya yang menatapnya lalu menatap Yoga.
"Bagaimana dengan Celine?" Tanya Raya,
"Kau harusnya bertanya pada Dennis, untuk apa dia memilih tinggal disini lagi dan bekerja di kafe lagi bersamamu."