
Sarah mengernyit, namun tidak lama dia kembali tersenyum. "Ya tidak hari ini juga Sayang, hanya ibu dan Ayah yang tahu kau sudah pulang. Kau juga pasti sangat lelah dan perlu istirahat. Ibu akan keluar agar kau bisa tidur."
Sarah pun akhirnya kembali membiarkan Dennis seorang diri di kamarnya, dia terduduk ditepi ranjang. Merasa asing dengan tempatnya kembali. Ingatannya terus terbayangi sosok Raya dan juga tempat yang selama 3 bulan di tinggalinya.
Dennis menatap foto Celine yang katanya pacarnya itu, dia bahkan tidak ingat apa apa, hatinya tidak merasakan apa apa saat melihatnya, berbeda dengan Raya.
"Apa ini yang membuatmu takut dan menolak ikut denganku Raya. Kau takut aku sudah memiliki wanita atau bahkan seorang istri. Tapi entahlah, aku tidak tahu apa aku harus senang atau sedih karena aku sudah kembali pulang Ray." gumamnya sendiri.
***
Hari hari.pjn berlalu, Dennis yang hanya diam di rumah masih belum mengingat apapun. Lebih dari lima dokter datang bergantian untuk memeriksanya dan memberinya obat dan serangkaian test untuknya. Namun tidak ada yang bisa dia lakukan, semakin keras dia berusaha, dia tetap tidak bisa mengingat apapun. Hingga kedua orang tuanya sudah tidak lagi melakukan apa apa, hanya menunggunya ingat kembali yang mereka yakini itu akan terjadi suatu hari nanti.
Kabar kembalinya Dennis pun lama lama terdengar ditelinga Randi, pria itu mengepalkan tangannya dengan kesal. Dia merasa bodoh karena membiarkan Dennis lolos dari maut, dan dia akan terancam jika Dennis kembali ke rumah sakit apalagi ingat semuanya.
Randi datang ke rumah kediaman pamannya hanya untuk memastikannya dengan matanya sendiri.
"Dennis?" ujarnya saat dia benar benar melihat Dennis yang tengah duduk di belakang rumahnya.
Dennis menolehkan kepalanya, untuk sepersekian detik mereka saling menatap. Dennis merasa pernah bertemu dengannya. Sementara Randi berhambur memeluknya.
"Syukurlah kau masih hidup! Aku mencari mu kemana mana. Aku dan tante Sarah sangat yakin kalau kau masih hidup. Dan keyakinan kami tidaklah salah. Kau benar benar Dennis."
Dennis terus diam, dia tidak mengatakan apa apa karena dia tidak tahu apa yang harus dia katakan. Randi menepuk nepuk pelan punggungnya walau Dennis tidak membalas pelukannya itu, dia hanya diam saja.
"Kau tidak ingat aku?"
"Maaf ... Aku tidak mengingatmu."
"Tidak apa apa. Kau nanti juga ingat siapa aku. Aku sudah senang kau kembali."
"Terima kasih."
Setelah memastikan jika dia benar benar Dennis, Randi masuk kembali kedalam rumah dengan wajah kesalnya. Rahangnya keras dengan gigi bergemelatuk menahan amarah karena usahanya menyingkirkan Dennis telah gagal.
Melihat kepergian Randi, Dennis terduduk dengan semua fikiran buruk yang terus berputar putar, Randi adalah orang yang dia lihat saat di jalan raya dan hampir menabrak seseorang, juga telah memukulnya tanpa sebab. Tapi kali ini sikapnya sangatlah baik, namun juga dia tidak mencurigainya begitu saja.
Dennis menghela nafas, ditambah dengan Raya yang tidak berada di sisinya.
Dennis melangkah masuk dan memastikan jika Randi sudah pergi juga dari sana. Dia lantas masuk kedalam kamarnya, hampir seminggu dia berada di rumah besar itu tanpa melakukan apa apa, kerinduannya pada Raya membuatnya sedikit frustasi.
"Kenapa kau Nak? Sepertinya kau gelisah sekali." Tanya Sarah yang masuk dengan membawakan vitamin dan juga segelas air putih.
"Apa aku boleh pergi ke satu tempat?" Tanya Dennis canggung, selama dia tinggal, tidak pernah satu oun panggilan ibu terucap dari bibirnya.
"Mau pergi kemana Nak? Kau pasti bosan di rumah terus ya."
"Ke suatu tempat, aku ingin bertemu seseorang."
"Seseorang. Apa dia Celine?"
Dennis menggelengkan kepalanya, tentu saja bukan Celine, dia bahkan tidak bisa mengingatnya, yang dia fikirkan hanya Raya.
"Apa orang itu sangat spesial?"
Dennis mengangguk kali ini, "Dia sangat special, dia yang telah menyelamatkanku."
"Oh gadis itu ya." ujar Sarah mengulum senyuman.
Dennis mengernyit, dia tidak pernah mengatakan apapun mengenai Raya pada orang orang yang ada dirumahnya, termasuk wanita paruh baya yang mengaku ibunya.
"Ayahmu yang mengatakannya pada Ibu, dia bertemu gadis itu saat menjemputmu di rumahnya. Apa kau akan ke sana?"
"Kau menyukainya ya? Kata Ayahmu dia sangat cantik."
Dennis tersenyum, dia lalu duduk di tepi ranjang dengan terus memikirkan Raya. Begitu juga dengan Sarah yang duduk di sampingnya, mengelus kepalanya dengan lembut.
"Apa perasaanmu sangat spesial karena dia cantik atau karena dia telah menolongmu Dennis."
Dennis menoleh ke arah ibunya, dia tidak tahu kenapa dia menyukai Raya, selain cantik, dia juga baik, penyayang dan tidak memikirkan dirinya sendiri, dia banyak berkorban untuknya, kehilangan motor dan terusir dari rumahnya karena dirinya pula. Dennis mengulas senyuman hanya karena mengingatnya saja, kerinduannya semakin besar.
"Lalu bagaimana dengan Celine Nak? Dia belum tahu kalau kau kembali, apa kau masih belum siap bertemu dengannya?" tanya Sarah dengan lembut.
Air muka Dennis langsung berubah saat mendengar Celine, dia masih belum tahu apa yang dia rasakan sebelum dirinya hilang ingatan.
"Bisa kau ceritakan tentangnya. Maksudku tentang Celine."
Sarah mengangguk, tentu saja dia kan menceritakannya dengan senang hati, Celine adalah calon menantu idamannya.
"Hubungan kalian sudah berjalan satu tahun. Dan dari yang aku dengar, kalian akan segera memutuskan bertunangan setelah kau kembali. Tapi, semua kejadian ini menimpamu. Dan kami belum bicara lagi mengenai pertunangan itu."
Dennis terhenyak, "Pertunangan?"
Rasanya tidak percaya dia akan bertunangan dengan Celine. Lalu Bagaimana dengan Raya.
"Aku harus pergi! Tolong ijinkan aku pergi bertemu Raya." ujar Dennis menggenggam tangan ibunya.
Baru kali ini mereka bicara sedalam itu, biasanya Dennis lebih banyak diam mendengarkan dari pada bercerita yang terjadi selama 3 bulan itu.
"Baik ... Tapi kau akan ditemani Randi ya! Ibi khawatir kalau kau kenapa kenapa dijalan."
"Tidak ...!"
"Kenapa Nak?"
"Siapa saja asal jangan Randi. A---aku...!" ujarnya dengan ragu, dia tidak mungkin bercerita tentang kecurigaannya pada Randi.
"Baiklah, kalau gitu kau ditemani Bram saja ya."
Akhirnya Dennis setuju, dia mengangguk dan tersenyum lepas pada ibunya. Dia juga beranjak berdiri dan bersiap siap pergi.
***
"Raya?" Ujar Dennis saat tiba di kost kostan yang ditinggali Raya.
Raya terhenyak kaget saat melihat Dennis yang kini sedikit berubah, wajahnya semakin tampan dan juga wangi, tapi penampilan dan tatapannya tidak berubah.
"Mr Amnesia?"
"Raya." Dennis menarik lengannya dan mendekapnya kedalam pelukannya. "Aku merindukanmu Raya."
Raya menitikkan air mata, menenggelamkan kepalanya di dada Dennis.
"Aku juga."
"Benarkah?"
Raya mengangguk, dan tentu saja wajahnya tersipu malu malu.
"Aku merindukanmu Mr Amnesia."