Love You Mr Amnesia

Love You Mr Amnesia
Bab.29(Perasaan sebenarnya)



Seminggu berlalu begitu saja, Dennis duduk termenung di sudut kamarnya, menatap foto dirinya yang berada di tengah tengah dan diapit oleh Randi juga Celine. Entah berapa lama dia menatap foto ditangannya, mengingat satu persatu bayangn bayangan yang selama ini kerap muncul di fikirannya. Bak sebuah puzzle tak beraturan yang kini telah dia pasang kembali. Namun, potongan puzzle belum semua terkumpul, ada beberapa bagian yang sulit dia terima.


"Kenapa Randi melakukan hal sekejam itu? Kenapa juga dengan Celine. Mereka....?"


Tok


Tok


Tok


"Sayang. Kau sedang apa?"


Dennis menoleh ke arah pintu kamar yang kini terbuka, sosok cantik yang tinggi dan juga berambut panjang tersenyum dengan kedua mata indah berbinar.


"Aku masuk ya!" ujarnya dengan mengayunkan kakinya masuk ke dalam ruangan kamar. "Kau baik baik saja kan? Tante bilang padaku, kau hanya mengurung diri di kamar selama tiga hari. Apa kau sakit. Hm?"


"Aa--aku baik baik saja Celine."


Wajah Celine semakin bercahaya saat menatap foto yang sedang dipegangnya, "Ah ... Kau sedang lihat foto ini. Ini foto kan sudah lama." mengambilnya dari tangan Dennis lalu melihatnya sendiri dengan bibir yang dia kulum. "Kau mengingat sesuatu saat melihat foto ini?"


Dennis menggelengkan kepalanya dengan ragu, dia masih tidak ingin siapapun tahu jika dirinya sudah mulai mengingat. Bahkan dia tahu siapa dalang dari kecelakaan yang menimpanya.


"Aa--aku tidak ingat apapun."


Benar ... Apa yang dikatakannya memang benar, kejadian saat ditaman itu dan aku tiba tiba muncul saat mereka akan berfoto juga benar. Jadi ....


"Kau selalu bilang, kau tidak suka aku terlalu dekat dengan sepupumu Randi, kau sudah cemburu kan waktu itu." ungkap Celine.


Entah kenapa ada yang mencelos dalam hatinya saat mendengar apa yang di katakan Celine, jika benar. Maka apa yang akan terjadi pada Raya.


"Dennis ... Kok malah ngelamun sih!" Celine terkekeh kecil, "Kau masih berusaha mengingatnya kan? Aku tahu ... Ini pasti sulit untukmu. Tapi kau tenang saja yaa, satu hati nanti kau pasti ingat semuanya, dan kau akan tahu seberapa besar cintamu padaku." Ujar Celine dengan menyandarkan kepalanya di bahu Dennis.


Dennis terpaku di tempatnya, bayangan Raya berputar putar dalam kepalanya. Apa yang di ucapkannya pada Raya, juga ucapan Raya di hari terakhir mereka bertemu.


Dan sekarang, disaat semua ingatannya mulai kembali. Dia justru merasakan keraguan yang teramat dalam pada perasaannya sendiri, tentang siapa yang dia cintai sebenarnya.


"Dennis, jangan terlalu di fikirkan hm. Aku akan selalu di sini untuk menemanimu. Tidak ada wanita lain yang akan berada di sampingmu selain aku."ujarnya dengan mendongkakan kepalanya sangat dekat. "Termasuk gadis bernama Raya." gumamnya kemudian.


Dennis menatapnya dalam dalam, dia sebenarnya ingin tahu seberapa dalam perasaannya pada Celine. Entah untuk ke sepersekian kalinya, mereka hanya saling menatap, sampai keduanya perlahan bergerak maju dengan lembut.


Darah keduanya tiba tiba berdesir saat kedua benda lunak saling menempel satu sama lain, entah siapa yang memulainya duluan, yang pasti keduanya kini tengah berpagut ria.


"Maaf! Aku harus pergi." ujar Dennis yang melepas tautan benda tanpa tulang itu seketika, lalu keluar dari kamar begitu saja.


"Dennis, tunggu!"