
Entah berapa lama ponselnya terus berdering, tapi tidak sedikitpun Raya ingin mengangkat sambungan telepon dari bos tempatnya bekerja itu, dia membiarkan ponselnya terus menggelepar gelepar di atas meja di rumah kostan.
Ya ... Setelah memikirkan banyak hal. Akhirnya Raya memang harus kembali ke tempat tinggal yang disewanya enam bulan ke depan, dia tidak lagi memiliki uang simpanan, biaya ibu dan adiknya, kuliahnya yang tidak bisa dia abaikan begitu saja hanya karena perasaannya hancur seketika.
Semua perjuangannya selama ini, juga jerih payahnya sejauh ini membiat Raya kembali bertekad kuat, setidaknya sampai dia memiliki cukup uang untuk mencari tempat baru.
Raya menghela nafas saat tiba di rumah kost an yang kadung dia bayar enam bulan ke depan itu, meletakkan tas ransel yang penuh pakaian miliknya begitu saja dilantai, lalu dia duduk berselonjor kaki.
"Astaga Raya. Rupanya kau disini?"
Raya menoleh ke arah pintu dan melihat Yadi berdiri seraya berdecak melihatnya. Pemilik bengkel itu berjongkok di ambang pintu, dia tidak berani masuk begitu saja karena Raya belum mengatakan apa apa.
"Tadi Siang Dennis mencarimu ke bengkel! Dia mencarimu seperti orang gila Ray. Ada apa dengan kalian?"
Raya menggelengkan kepalanya pelan, dengan pandangan tertunduk lesu.
"Raya? Kalau ada masalah itu bagi abang, biar abang bantu kalau abang bisa, kita sama sama perantau dan kau sudah abang anggap adik abang sendiri." ucap Yadi dengan tubuh yang kini dia condongkan, kedua tangannya bertumpu pada lantai rumah Raya. "Raya?" tanyanya lagi.
"Dia sudah punya tunangan bang! Dan aku masih bersikeras padanya, memaksakan diri banget kan bang!" ujar Raya yang kini mulai tersedu. "Aku sudah memutuskan untuk pergi! Tapi keadaan memaksa aku untuk tetap kembali bang! Sakit."
Yadi menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, masalah hati rupanya. Dia merasa tidak bisa membantu karena dia saja seorang diri tanpa tambatan hati.
"Masalah itu ya! Abang juga bingung kalau masalahnya begitu, tapi sepertinya Dennis benar benar menyukaimu Ray, wajahnya sangat panik saat tahu kau tidak ada dimana mana. Dia mencarimu ke kafe tempat kau kerja juga."
"Aku sudah bertemu dengannya tadi bang!"
"Lalu ... Lalu?"
Raya menyusut jejak air mata yang masih mengalir di pipinya, "Ya gak lalu lalu bang! Begitu saja, kembali ke mode awal. Dia sudah memiliki wanita lain yang dia cintai, dan aku akan kembali ke kehidupanku yang sebenarnya. Bekerja mencari uang dan segera menyelesaikan kuliahku. Lalu pergi dari kota ini."
Yadi menghela nafas, tidak ada yang bisa dia lakukan selain mendukungnya saat ini dan apapun yang terbaik bagi Raya yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.
***
Sementara Dennis kini sudah berada di apartemen sederhana yang disiapkan oleh Bram atas permintaannya, dia menolak apartemen mewah disebrang jalan dan memilih yang sederhana saja.
"Bagaimana?"
Dennis menggelengkan kepalanya, melangkah gontai ke arah sofa dan membantingkan tubuhnya begitu saja. "Satu satunya cara meyakinkannya hanya dengan kembali bekerja di kafe!"
"Kau berencana tinggal lama di kota ini? Lalu bagaimana dengan posisimu di rumah sakit?"
"Entahlah Bram, aku tidak tahu! Kau fikir mudah bagiku harus kembali ke tempat yang tidak aku ingat sana sekali? Walaupun semua orang mengatakan itu tempatmu dan kau harus kembali. Aku butuh waktu Bram, aku tidak bisa mengingatnya sama sekali."
"Jangan lupa kau adalah seorang dokter, dan semestinya keahlian dokter tidak akan bisa terlupakan."
Benar, itu terjadi saat Raya tertabrak motor, aku menyebutkan suatu tindakan dan juga obat beserta dosisnya. Bahkan aku melakukan pertolongan pertama padanya dengan kayu itu. Jadi apa aku benar benar seorang dokter.
"Aagghk ... Lupakan dulu hal itu! Yang penting sekarang aku bisa meyakinkan Raya kalau hanya dia yang bisa aku percaya dan aku cinta."
"Tapi apa yang yakin kalau setelah semuanya kau ingat. Kau yakin tidak mencintai nona Celine?" tukas Bram menohok.
Dennis bangkit dari duduknya, dia berdiri di depan jendela kaca dan bisa melihat kost an milik Raya dengan jelas dari sana.
Aku tidak tahu! Yang jelas saat ini aku hanya ingin berada di dekat Raya. Aku akan memilihnya juga nanti. Saat ingatanku pulih. Dennis membatin dengan terus memperhatikan tempat kost an Raya.
Bram hanya bisa menghela nafas dengan menatap Dennis, dia sendiri sudah tahu apa jawabannya walaupun Dennis tidak memberikan jawabannya.
Segeralah pulih Dennis, karena akan banyak hal yang akan kau ketahui nanti. Salah satunya dengan hati mu sendiri.
Raya kembali bekerja di kafe ke esokan harinya, begitu juga Dennis yang datang lebih awal hanya ingin melihat dan bicara padanya.
Raya sontak kaget saat melihat Dennis, wajah kagetnya pun tidak bisa di sembunyikan lagi.
"Ray?"
"Aku sudah bilang kau harus pergi! Bagaimana dengan Celine yang akan sakit hati jika melihatmu berada di sini lagi." tukasnya dengan memperhatikan seragam kafe yang kini dikenakan lagi oleh Dennis.
"Kenapa kau peduli pada perasaannya? Tapi tidak peduli pada perasaanku Ray?"
Raya melewati Dennis begitu saja, dia bergegas masuk ke ruang loker untuk menyimpan tas miliknya, sementara Dennis menyusulnya dari belakang.
"Kenapa kau justru mengikutiku ke mari Dennis!" Sentaknya keras, hingga beberapa pegawai yang baru saja datang pun menoleh ke arah mereka.
"Karena aku mencintaimu Raya!"