
Dalam balutan kemeja berwarna biru muda, wajah tampan nan rupawan serta rambut klimis yang baru saja di potong serta jubah putih yang dia lipat ditangan, Dennis keluar dari kamar dan menghipnotis semua keluarga Atmajasalim. Yoga tersenyum begitu juga dengan Sarah saat melihatnya berjalan. Pria hilang ingatan itu masih tetap Dennis putra mereka.
Celine berdiri disamping Randi menatapnya tanpa berkedip, sementara Randi hanya berseringai kecil.
"Kau siap putraku?" tanya Yoga saat Dennis menghampirinya
Dennis menganggukkan kepalanya dan menjawabnya singkat. "Hm...!"
"Kalau begitu ayo kita pergi."
Celine benar benar gusar karena Dennis tidak sedikitpun melihatnya, bahkan sekedar menyapanya pun tidak. Dia hanya mengulas sedikit senyuman ke arah Randi.
Melihat putra semata wayangnya beranjak pergi, Sarah mengajak Celine mengobrol ditaman belakang. Dia ingin tahu pendapat gadis yang akan menjadi menantunya itu tentang rumor yang mengatakan jika kecelakaan Dennis disebabkan oleh orang yang ingin melihatnya celaka bahkan kalau perlu menghilangkan nyawanya.
"Apa kau mendengar rumor itu Celine?"
Celine tentu saja terperanjat, "Tante, aku baru tahu soal ini dari tante. Benarkah itu tan?"
"Apa menurutmu Dennis punya musuh sayang? Tante jadi khawatir."
"Setahu ku tidak Tante, Dennis itu baik pada semua orang, dia tidak pernah melibat suatu masalah apapun."
"Hm ... Baiklah! Tapi kau jangan cerita pada siapa siapa lagi ya, kita akan tetap menunggu penyelidikan polisi."
"Polisi?" Celine terlihat khawatir, "Apa Dennis saat ini tahu? Maksudku Dennis saat ini masih hilang ingatan,"
"Dennis tahu sayang, kau juga khawatir kan?"
"Iya tante ... Aku takut terjadi hal buruk padanya."
"Kau jangan khawatir lagi ya."
***
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Dennis hanya diam saja, melihat jalanan yang sepertinya tidak asing baginya, sekelebat ingatan berputar di kepalanya. Yoga melihatnya pun menjadi khawatir.
"Kau baik baik saja Dennis?"
"Sebentar lagi kita akan sampai, kau tenang saja. Nanti kau hanya perlu menjalankan tugasmu sebagai CEO. Tidak usah khawatir dengan pasien. Karena kau tidak akan langsung berhubungan dengan mereka." ujar Randi yang mengira jika kekhawatiran Dennis berkaitan dengan ilmu kedokteran yang dimilikinya.
"Hm."
Jawaban Dennis membuat Randi yang duduk didepan bungkam seketika. Tak ayal, Yoga mengulum bibir sembari membuang wajahnya ke arah lain, sementara Bram yang mengemudikan kendaraannya tampak datar saja.
Sial ... Kita lihat Dennis, bisa apa kau nanti saat bekerja dengan ingatanmu yang payah itu.
Tak lama mobil berhenti didepan rumah sakit starhealty, Dennis menengadahkan kepala menatap gedung tinggi itu. Ada sesuatu yang mendesir di hatinya saat menatapnya. Seolah kembali ke tempat yang tidak asing baginya.
"Ayo Nak. Mereka sudah menunggu."
Semua orang keluar, terkecuali Bram yang harus memarkirkan mobil terlebih dahulu. Dennis berjalan bersisian dengan Yoga, sementara Randi berada dibelakangnya.
Melihat ketiga orang penting di rumah sakit itu, Semua perawat dan bluder menganggukkan kepalanya. Ada juga yang terperangah saat kembali melihat Dennis.
"Apa itu dokter Dennis. Bukankah dia sudah meninggal?"
"Ya kudengar dia selamat dari kecelakaan maut itu, tapi kabarnya dia hilang di hutan."
"Masa?"
"Huuh ... Duh sayang sekali yaa! Untung saja selamat."
Beberapa percakapan mengenainya di station nurse yang terletak di lobby perusahaan.
Wangi khas rumah sakit, obat obatan yang terasa tidak asing bagi Dennis, dia terus melihat rentetan ruangan ruangan rumah sakit, apa yang tergantung di dinding dan juga gorden gorden berwarna pink muda. Terasa hangat dan tentu saja tidak merasa aneh.
"You oke Dennis?" tanya Randi yang melihat Dennis memegang kepalanya.
"Ya ... Jangan khawatir! Aku tidak apa apa."
Ketiganya masuk kedalam lift menuju ke lantai 5 dimana para direksi rumah sakit menunggunya.
"Katakan padaku kalau kau butuh bantuan."