Love You Mr Amnesia

Love You Mr Amnesia
Bab.28(Ingat semuanya)



"Katakan padaku kalau kau butuh bantuan."


"Hm ... tidak perlu khawatir!" jawabnya dengan datar.


Mereka tiba di lantai Lima, kemudian masuk ke dalam direksi rumah sakit, dimana beberapa orang yang tengah duduk seketika menolehkan kepala ke arah pintu. Tak ayal mereka terperanjat saat melihat Dennis yang benar benar kembali.


"Luar biasa! Kami kira kami tidak akan pernah melihatmu lagi Dennis."


Dennis diam saja, dia jelas jelas tidak mengingatnya, sampai Yoga membisikinya.


"Pak Joyandi, kepala direksi."


Dennis mengangguk walaupun sama sekali tidak ingat siapa pria bernama Joyandi itu, dan pria itu mengulurkan tangan ke arahnya. Dennis menjabatnya seraya mengangguk kecil.


Satu persatu pun menyalaminya, begitu juga dengan Yoga yang terus memberitahukan nama nama orang yang berada di sana.


Randi berseringai, tidak mungkin Dennis bisa bekerja dengan baik mengingat ingatannya saja belum pulih, tapi dia terus bersikap baik padanya.


"Kita menjadi tenang karena kau kembali, posisi CEO yang kosong tidak baik untuk kelangsungan rumah sakit. Tapi apa kau bisa bekerja Dennis. Mengingat kau sendiri lupa semuanya? Bahkan kau juga mungkin lupa akan tugasmu sebagai dokter, ilmu ilmu kedokteran dan juga obat obatan yang sangat penting. Itu akan sangat berbahaya." ujar salah satu di antara mereka, sengaja menyulut api dijerami yang kering. Percikannya terlihat sangat jelas, bahkan wajahnya menunjukan ketidak senangan. Dan Hal itu membuat Yoga curiga, begitu juga dengan Dennis.


Apa dia ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa Dennis putraku. Terlihat sekali dia tidak senang melihat Dennis kembali. Batin Yoga.


Dennis mengulas senyuman tipis ke arah pria yang bicara sarkas itu, dia berujar dengan dingin. "Aku rasa aku mengingat sesuatu saat masuk ke ruangan ini."


"Benarkah itu?"


"Hah?"


Semua orang terperanjat kaget, bukan hanya Yoga namun juga Randi yang jelas sangat takut jika Dennis ingat sesuatu.


"Hm ... Aku ingat kalau aku ini seorang dokter, aku pernah melakukan pertolongan pertama pada seseorang dan ternyata itu adalah tindakan medis saat darurat. Jadi sekarang aku sadar. Dan aku yakin kalau apa yang aku pelajari di kedokteran tidak sepenuhnya lupa." ungkapnya lagi. "Permisi, aku ingin kembali ke ruanganku. Ayo ayah, Randi." ujarnya lagi dengan mengajak Yoga dan juga Randi.


Ketiganya keluar dari sana menuju ruangan Dennis yang selama ini dipakai sementara oleh Randi. Walaupun Randi kecewa, dia tidak bisa berbuat apa apa lagi setelah Dennis kembali. Hanya berharap agar Dennis tidak mengetahui apa yang telah dia perbuat.


Randi membuka pintu ruangan Dennis, mempersilahkan Dennis dan Yoga masuk terlebih dahulu.


Deg


Dennis merasa tidak asing berada di ruangan itu, sekelebatan bayangan bayangan dia yang tengah bekerja, gelak tawa juga beberapa aktifitas yang dia lakukan. Dennis terduduk lemas di kursi yang menjadi miliknya dulu, merasakan kepalanya sedikit sakit.


"Kau tidak apa apa?"


"Ya ... Aku baik baik saja." jawabnya saat Yoga bertanya dengan wajah cemas karena dirinya diam saja.


"Kalau kau tidak nyaman, lebih baik kau pulang saja. Biar aku yang disini." ujarnya dengan hati hati.


"Tidak usah, aku akan tetap di sini. Aku baik baik saja kau tidak perlu khawatir Di" ujarnya memanggil Randi dengan nama panggilan yang kerap dia lontarkan dulu.


Randi tersentak mendengarnya, "Kau panggil apa barusan?"


"Memangnya kenapa Randi?"


"Om ... Hanya Dennis yang memanggilku dengan sebutan itu. Hanya dia yang memanggil dengan panggilan Di padaku Om."


Dennis sendiri terkaget karena hal itu terucap begitu saja,


"Mungkin kah kau ingat sesuatu Nak?"


"Tidak ... Aku hanya memanggilnya begitu saja. Aku tidak ingat kalau aku memanggil Randi dengan panggilan itu." jawabnya dengan heran sendiri.


Ketiga terdiam dengan pikiran masing masing, kelebatan bayangan itu juga kembali hadir. Dennis merasakan luar biasa sakit di kepalanya lagi.


"Ah ... sakit sekali!"


Dennis terjatuh pingsan, didepan Yoga dan juga Randi. Keduanya panik dan segera menyuruh suster menyiapkan kamar. Yoga sendiri yang memeriksanya, ditambah Randi yang mulai khawatir.


"Apa dia tidak apa apa?"


"Dia memang sering pingsan ketika merasakan sakit kepalanya!" jawab Yoga.


Dennis dibawa ke ruang rawat dan mendapat perawatan, dia dibiarkan istirahat sampai kembali sadar. Yoga Menungguinya sementara Randi telah pergi.


Tak lama kemudian Dennis sadar, dia mengerjap ngerjapkan kedua matanya menatap langit langit ruangan lalu beralih pada Yoga yang duduk di sofa.


"Ayah."


"Ya?" Yoga menghampirinya ke tepi ranjang, lalu duduk di sampingnya.


Aku ingat semuanya, aku ingat tempat ini dan aku ingat kecelakaan yang terjadi padaku. Tapi aku tidak mungkin mengatakan semuanya sekarang, sekalipun pada ayah, aku ingin tahu siapa memilik cincin hitam itu, dan Randi? Ya Randi dan Celine yang berada didalam mobil denganku saat itu.


"Dennis. Kau kenapa?"


"Tidak."