
Raya memandang nanar, berkaca kaca menatap pria yang berdiri didepannya, entah harus mengatakan apa yang jelas dia sangat ingin memeluknya, mengatakan hal yang sama dengan nya. Mencintaimu juga Dennis.
Namun lidahnya kelu, terlebih lagi saat Dennis melangkah ke arahnya dan membuat posisinya terpojok ke tembok.
"Hanya kau Ray! Begitu juga denganmu kan?" ungkapnya dengan lirih.
Tatapan keduanya begitu dalam, bermakna cinta di dalamnya, kalimat cinta sudah terucap berulang kali, tatapan penuh damba juga kerinduan yang kian menyerbu hebat. Perlahan Dennis semakin mendekat, memajukan wajahnya hingga dia berhasil menyapu bibir Raya yang kini memejamkan matanya. Logikanya seolah tidak berdaya. Tidak menampiknya, tidak juga menghindar.
Untuk sesaat mereka saling perpagutan lembut, bahkan sangat lembut dengan Raya yang meremass baju seragam kafe yang dikenakan Dennis.
Dan tiba tiba dia mendorong dada Dennis hingga pria itu mundur beberapa langkah. Tanpa kata dia melengos pergi begitu saja keluar dari ruang loker dan menuju dapur. Dennis menghela nafas, dia masih terus berusaha menyakinkannya lagi. Memang butuh waktu meyakinkannya tapi dia akan terus menunggunya, dia pun menyusulnya keluar.
Bu Amber datang dengan menatap keduanya, wanita berkaca mata itu menepuk bahu Dennis dengan keras hingga pria itu berjingkat.
"Ada apa?"
Dennis tersentak, dia menoleh ke arahnya dan menggelengkan kepalanya. "Tidak ada bu!"
"Kalau begitu segeralah bekerja, hari ini kafe kita akan segera sibuk lagi karena kau kembali."
Pria tegap itu hanya mengangguk, lalu menuju meja meja untuk mulai bekerja. Begitu juga Raya yang tengah membawa lap dan juga cairan pembersih meja dan memulai pekerjaannya.
Diam diam Dennis meliriknya, mengulas senyuman karena nyatanya Raya merasakan hal yang sama walaupun dia masih belum yakin sepenuhnya terutama pada dirinya jika hubungan mereka akan berhasil setelah mengetahui yang sebenarnya. Kehadiran Celine dan apa yang akan terjadi saat ingatannya kembali.
Mereka tidak tahu jika seseorang telah mengamatinya dari kejauhan, dengan tangan mengepal memukul kemudi, dan juga tatapan tajam ke arah keduanya.
"Sial! Dia telah mengacaukan semuanya. Harusnya dia mati dan wanita itu. Kalau saja dia tidak menolongnya, sudah pasti Dennis tidak akan bertahan lama dan pasti akan mati."
Tak lama dia meraih ponsel miliknya yang berada di atas dasboard mobil dan menghubungi seseorang lalu kembali melaju meninggalkan tempat itu.
***
"Tante. Kenapa tante membiarkan Dennis pergi? Bagaimana denganku tante?" Celine terisak dipelukan Sarah, "Bagaimana mungkin Dennis lebih memilih wanita lain yang baru dia kenal dibandingkan aku tante." ucapnya lagi.
"Sudah Celine. Kau harus bersabar sedikit lagi ya, biarkan Dennis menyelesaikan masalahnya dulu. Dia akan kembali pulang dan menemui mu nanti." Sarah mencoba menenangkan gadis cantik berambut panjang itu, mengelus punggungnya lembut dengan kedua mata yang ikut mengabur.
Bagaimana tidak, Sarah sendiri heran kenapa Dennis bisa menyukai Raya begitu mudahnya. Setahunya Dennis adalah tife pria yang cuek terhadap wanita, dia tidak suka di kejar. Dia saja baru tahu jika Dennis memiliki pacar bahkan berencana untung bertunangan setelah kejadian kecelakaan yang menimpanya. Dennis tidak pernah bercerita apa apa padanya sejak dulu.
Tapi dengan Raya, Dennis bahkan meninggalkan rumah begitu saja. Setelah tahu Celine menemuinya. Yoga hanya menghela nafas melihat kedua wanita itu berpelukan. Lalu dia masuk kedalam ruang kerjanya.
Dia menghubungi Bram untuk tahu keadaan Dennis. Dan merasa lega saat Dennis baik baik saja.
"Bagus. Terus kabari perkembangannya." ujarnya sebelum menutup sambungan telefon dan meletakkannya diatas meja.
Yoga membuka laci di meja kerja dan mengambil map berwarna merah. Membukanya sekilas lalu menghela nafas berat.
"Dennis memang harus segera kembali ke rumah sakit! Posisinya terancam dan digantikan oleh Randi, sementara aku masih belum percaya anak itu! Satu satu jalan yaitu membawa Dennis kembali." gumamnya dengan kembali menutup berkas itu dan memasukkannya lagi ke dalam laci.
"Siapkan mobil!"