
Hampir sepekan mereka kembali bersama tingga di apartemen itu. Setiap hari Dennislah yang mengantarkan Raya ke kampus, dia jugalah yang menyuruh Bram mengambil barang barang milik Raya di rumah petak yang selama ini ditinggalinya, bukan hanya bersikap protectif tapi pria itu juga bersikap posesif.
Meskipun Raya menolaknya berkali kali dan memilih tinggal ditempatnya sendiri tapi Dennis selalu berhasil meyakinkannya. Dia tidak ingin berpisah dengan anita yang dia cintai itu. Terlebih setelah malam panas yang terjadi diantara mereka beberapa waktu yang lalu.
Dennis benar benar tidak ingin kehilangan waktunya bersama Raya sekalipun ingatannya belum seluruhnya kembali. Tapi dia yakin jika perasannya pada Raya tidaklah main main. Gadis itu bukan hanya menolong nyawanya saja, Raya lah yang mengisi kehampaan yang
Dia rasakan selama ini, ketakutan dan juga penderitaannya selama 6 bulan terakhir ini.
Dan sekarang ini, Dennis tidak ingin peduli lagi pada apa apa selain Raya, baik keluarganya yang mungkin saja menentangnya maupun pekerjaan yang dia tinggalkan. Terutama pada sosok yang terasa asing baginya, Celine.
"Bagaimana kalau nanti ingatanmu kembali semuanya Dennis. Apa kamu tidak akan menyesal?" tanya Raya saat mereka menikmati sarapan pagi yang di siapkan Bram.
Dennis menggeleng dengan mantap, jemarinya mengelus pipi Raya lembut. "Tidak akan sekalipun aku menyesalinya Ray, aku akan memilihmu sekarang mau pun nanti!"
Raya menggenggam tangan Dennis yang masih menangkup pipinya, harapan yang sama yang dia rasakan. Dennis akan tetap bersamanya sekalipun dia mengingat semuanya tentang masa lalunya, siapa dan bagaimana dirinya dan juga wanita yang mengaku sebagai kekasihnya itu.
"Tapi apa aku tidak terlihat jahat Dennis, aku ingin memilikimu alaupun suatu hari nan---"
Ucapan Raya terputus sebab jari telunjuk Dennis kini menempel di bibirnya.
"Stttt ... Jangan fikirkan itu, justru aku senang kalau kamu jadi jahat karena kamu juga mencintaiku Ray!"
"Ish kamu ini!" Raya menepis lembut telunjuknya lalu beranjak dari duduknya. Namun secepat kilat Dennis menarik tubuhnya hingga gadis itu terjatuh tepat di pangkuannya,
"Arhgh ... Dennis!"
"Jangan coba coba pergi dari apartemen ini kalau aku tidak ada. Hm?" Denis melingkarkan dua tangannya pada pinggang ramping Raya, saat gadis itu tidak berhenti memekik.
"Jawab aku Raya,"
Raya bergeming tidak menjawab, dia hanya menatapnya saja dengan fikiran berada ditempat lain. Sekalipun dia mengatakan akan egois jika tentang Dennis, tapi bukan berarti tidak ada ketakutan yang dia rasakan.
"Bram akan menjagamu di sini," ucap Dennis lagi, tangannya masih betah melingkari tubuh Raya diatas pangkuannya.
"Bram?" Raya melirik ke arah pintu kamar dimana Bram selama ini tidur.
"Ya. Kecuali kau ikut bersamaku Ray?" bisiknya lembut, membuat bulu bulu halus di tengkuknya kini meremang.
Perlahan, Dennis memutarkan tubuhnya, hingga keduanya kini saling menatap dengan jarak yang sangat dekat, memudahkan pria berumur 24 tahun itu mengecup bibirnya yang sedikit basah, Raya tentu saja menyambutnya dengan senang hati, hingga kecupan itu kian memanas dengan sendirinya seiring hasrat keduanya yang kian meningkat.
Raya melenguh, saat bibir Dennis mendaratkan kecupan kecupan singkat menjalar dilehernya. Namun itu tidak berlangsung lama, dengan cepat Raya melepaskan tangan Dennis, menangkupnya di atas meja makan agar tidak bergerak sesuka hatinya,tersadar akan pembahasan mereka yang tertunda begitu saja.
"Tidak mau!"
Dennis mengaruk tengkuknya yang tidak gatal, mencoba menguasai dirinya agar kembali normal dan tidak bertindak impulsif seperti malam malam yang telah lalu. Kedua matanya terus mengikuti kemana gadis itu melangkah.
"Ray" entah berapa kali dia memanggil namanya, "Raya ....?" seolah tidak terima dengannya yang selalu menolak, "Ray. Aku mohon!?" ucapnya dengan sedikit merengek.
"Dennis, kasih aku kesempatan untuk menyelesaikan semua urusanku disini. Kuliah dan pekerjaan biar aku urus sendiri. Aku tidak ingin semua jerih payahku dan perjuanganku sia sia kalau aku ikut denganmu. Dan juga ... Bram tidak perlu menjagaku," terangnya dengan kembali melirik kamar Bram, "Tolong mengerti Dennis. Bukankah ayahmu juga percaya sama aku?" jelas Raya dengan tatapan serius, tidak ingin dibantah lagi.
Mendengar penuturannya Dennis hanya menghela nafas, itulah salah satu dari sekian sifat Raya yang dia sukai, memiliki prinsip yang tidak mudah tergoyahkan oleh siapapun termasuk dirinya.
"Baiklah, sampai kuliahmu selesai saja,tapi aku tidak mau berkompromi lagi soal pekerjaan. Jangan kamu teruskan. Aku akan membiayai semuanya mulai dari sekarang!" tegas Dennis, berulang kali pula dia selalu menyuruhnya berhenti kerja namun selalu dibantahnya. "Aku serius! Ini bukan lagi tentang kepercayaan tapi soal tanggung jawabku padamu Ray," katanya lagi tepat saat Raya hendak membuka mulutnya lagi untuk kembali menolak. Hingga akhirnya gadis itu memilih diam lalu mengangguk.
"Ayo. Aku akan mengantarmu pergi ke kampus." Dennis bangkit dari duduknya lalu menyambar kunci mobil di atas meja. "Ayo!"
Tepat pada saat itu pintu kamar terbuka, Bram keluar dan langsung menghadang keduanya untuk keluar dari sana.
"Berikan kuncinya padaku Tuan, aku percaya cinta Raya mampu membuatmu berubah seperti ini tapi keselamatanmu adalah tanggung jawabku!"
"Eeeh...?"
Keduanya saling menatap bergantian begitu Bram melenggang pergi keluar dengan kunci mobil yang dia ambil dari tangan Dennis,
"Jadi kau mendengarkan semuanya sejak tadi Bram?" tanya Dennis yang melangkah menyamainya. Sementara Raya hanya terdiam di tempatnya berdiri.
"Tentu saja aku mendengar semuanya, aku tidak tuli!" jawabnya dengan terus berjalan keluar.
Dennis menoleh ke arah belakang, menatap Raya yang kini terlihat salah tingkah, membayangkan Bram mendengar lenguhan dan desahaannya tadi.
"Mati!" desisnya tanpa suara.
Sementara Dennis tersenyum dengan bahu yang sedikit dia naikkan. "Tanggung!"
Keduanya hanya bisa terdiam,sesekali saling melirik satu sama lain lalu menatap spion dalam dimana Bram terlihat fokus menyetir.
"Ada apa dengan kalian? Aku merasa seperti di kuburan melihat kalian hanya diam seperti ini." Bram akhirnya membuka suara.
"Bukan urusanmu Bram, fokus saja menyetir!" Kilah Dennis. Sementara Raya hanya memejamkan keduanya matanya saja karena dia benar benar merasa malu.
"Apa Bram juga tahu kalau kita ....?" Gumam Raya pelan yang tentu saja hanya bisa di dengar oleh Dennis, pria itu hanya menggeleng sebagai jawabannya. Hingga Raya bisa bernafas lega. Untung saja Bram tidak tahu apa yang terjadi malam itu sebab dia pergi saat Dennis menyuruhnya mengambil libur.
"Tenang saja. AKu faham dan aku mengerti! Aku juga pernah muda!"