
"Aku tidak peduli lagi Raya, sekalipun kau tidak bisa melakukan apa apa, kau hanya cukup diam dan turuti aku, aku sudah putuskan untuk memilihmu Ray!"
Mobil dilajukan oleh Bram dengan kecepatan sedang, sementara Dennis terus bicara untuk meyakinkannya, Raya justru terus menatap spion depan dimana wajah Bram sedikit terlihat, wajah itu memang tidak asing, sempat beberapa kali melihatnya tanpa sengaja.
Tak berselang lama Raya semakin terperangah saat mobil akhirnya berhenti tepat di depan gedung apartemen, yang anehnya tempat itu sangat dekat dengan tempat kost miliknya.
"Tunggu ... Apa selama ini kamu ngikuti aku?" kata Raya pada Dennis.
Menyadari Raya yang mulai curiga, Dennis tersenyum kecil lalu menggenggam tangannya saat berjalan masuk ke dalam.
"Dennis, jawab aku!"
"Bukan aku yang mengikutimu tapi aku menyuruhnya, aku juga melakukannya karena banyak alasan. Salah satunya yaitu memastikan kamu aman!"
Raya menoleh ke arah belakang, dimana Bram berjalan mengikuti mereka, wajahnya datar tanpa ekspresi.
"Bram?"
Dennis mengangguk seraya tersenyum,
"Jadi benar! Pantesan aja aku ngerasa selalu di awasi. Kenapa kamu sampai melakukan hal itu Dennis, kamu hanya bikin aku takut tahu gak!"
"Maaf ...!"
"Maaf, lalu kuliahku bagaimana? Kamu hanya memikirkan diri sendiri," selorohnya dengan mencebikkan bibirnya.
Melihat Raya cemberut membuat Dennis gemas dan mencubit pipinya pelan, hal itu membuat Raya kesal namun juga tersenyum.
"Tadinya aku hanya memastikan keamananmu saja, tapi kamu malah ketakutan, Bram harus tahu kalau dia semenakutkan itu!" celetuknya.
"Ish .. Kamu ini! Kamu belum jawab pertanyaan aku, bagaimana dengan kuliahku Dennis!"
Dennis tidak menggubrisnya, dia justru berdiri di depan sebuah pintu berwarna coklat, menunggu Bram membukakan pintu apartemennya.
"Kodenya tanggal ulang tahun Nona Raya!" tukas bram dari arah belakang.
Dennis mengangguk, langsung menekan tanggal lahir Raya pada kunci otomatis di pintunya sementara Raya hanya terperangah.
Pintu terbuka, Raya langsung bisa melihat jendela kaca yang lebarnya setengah dari lebar pintu, dan anehnya langsung tertuju pada rumah kost kecil miliknya.
"Dennis!" pekiknya, "Jahat banget sih!" Raya memukuli dada Dennis dengan bertubi tubi dan baru berhenti saat Dennis meringis dan juga mengaduh.
"Kamu gak tahu gimana hidupku selama kamu gak ada, aku takut ... Aku gak berani keluar kamar dan ketemu orang. Aku takut malam aku juga jadi gak berani jalan sendiri walau cuma nyari makan. Kamu nyebelin banget sih!"
Dennis merengkuh tubuh Raya ke dalam pelukannya, dia juga mengusap punggungnya beberapa kali hingga terdengar isakan lembut darinya. "Kamu gak tahu segimana takutnya aku!"
"Maafkan aku Ray ... Maafkan aku!"
"Kamu jahat banget, kamu jahat ... Kamu tinggalin aku sendirian di sini!" Lirih Raya dengan air mata yang kini tumpah.
Pelukan Dennis semakin erat, begitu juga Raya yang kini ikut memeluknya dan menangis.
"Maafkan aku Raya ... Maafkan aku, aku tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi. Aku janji,"
Bram berdehem, sejak tadi dia hanya mematung tanpa bisa menghindar walau ingin. "Jadi aku tidak dibutuhkan lagi?"
Bram mendengus pelan lalu mengangguk, "Baiklah Tuan Dennis ... Aku juga tidak mau melihat kemesraan ini!"
Bram kemudian keluar dari unit apartemen, dia memilih pergi ke klub selagi bebas malam ini.
Setelah suasana yang haru biru, keduanya duduk di sofa dengan Raya yang bersandar di dada Dennis, kedua tangan mereka saing menggenggam erat dan sesekali saling mengelus lembut dengan tayangan film netflik yang tengah mereka nonton terus berputar, sesekali senyum keduanya teruntai tipis dan sesekali saling menatap satu sama lain.
"Aku bahagia Raya,"
"Aku tahu Dennis, aku tahu hanya dari detak jantungmu saja!"
Dennis tertawa, "Kau bercanda, sejak kapan kamu bisa gombal seperti ini Ray?"
"Ish ..."
Dennis menarik dagu Raya dengan lembut hingga menghadap ke arahnya, "Tapi aku senang melihatmu berkata seperti itu Ray ..."
Raya mengulas senyuman, menatap dalam dalam manik hitam Dennis. Tanpa ragu lagi Dennis mengenadahkan kepalanya hingga dia dapat mencium bibirnya dengan mudah, Raya terpejam menerima sentuhan lembut Dennis pada indera pengecapnya.
Semakin lama ciuman mereka semakin dalam dan saling melumatt satu sama lain. Dua benda basah saling membelit mengikuti irama, decakan demi decakan muiai mengalun indah.
Untuk pertama kalinya, Raya tidak lagi menolak maupun menepis perasaan yang dia rasakan sebenarnya.
"Apa boleh aku egois Dennis?" ucapan itu menjadi jeda diantara ciuman yang semakin memanas.
"Sure Raya ... Egoislah. Katakan kamu juga ingin bersamaku."
"Ya Dennis, aku ingin bersamamu! Aku mencintaimu dan aku tidak mau kehilanganmu lagi, tapi aku takut!" Raya menggenggam tangan Dennis yang merekat di lehernya.
"Tidak ada yang perlu kita takutkan Raya, selama kita bersama dan berjuang bersama sama."
Raya mengangguk, kembali memejamkan mata dan kembali merasai sesuatu yang berdesir saat Dennis mengecup ceruk lehernya bertubi tubi.
"Ray ,,,, aku mencintaimu!"
"Aku juga Dennis!"
Dennis bangkit dan mengangkat tubuh Raya, kembali melumatt bibirnya dengan terus bergerak, mendudukkan tubuh Raya di atas meja bar mini dan perlahan melepaskan kaos yang dipakainya.
Raya melenguh saat bibir setengah basah mendarat di dadanya, dengan tangan Dennis kian bergerak kesana kemari tanpa kendali.
"Raya ...?" Dennis menatap matanya sangat dalam, seolah meminta ijin untuk bergerak lebih jauh lagi.
Raya menggigit sedikit bibirnya, jujur dia tidak bisa menolak gejolak yang tiba tiba menyerang, kerinduan yang tertahan sekian lama juga cinta yang akhirnya terucapkan tanpa lagi peduli masa lalu maupun masa depan. Raya siap untuk apapun itu.
"Aku tidak akan melakukannya kalau kamu bilang tidak Raya, aku mencintaimu sayangku!"
Akhirnya Raya mengangguk lirih, mengijinkan pria yang dia cintai itu bergerak leluasa, saling merasai hingga sama sama meneguk kenikmataan.
Cinta yang tidak pernah memilih pada siapa dia berlabuh, menjadikan dua insan yang saling mencintai itu larut dalam malam panjang yang indah, berpeluh keringat dengan berbagai alunan nada yang indah.
Dua tubuh tanpa sehelai benangpun saling memeluk di bawah selimut dengan sisa sisa nafas yang masih tidak beraturan.
"Menikahlah denganku Raya!"