
Dennis keluar begitu saja, bahkan meninggalkan Celine yang masih berada di dalam kamar, entah perasaan apa yang di milikinya terhadap Celine, yang jelas dia tengah kebingungan di saat potongan demi potongan perlahan kembali. Lalu bagaimana dengan perasaannya pada sosok Raya.
Selama ini hanya Raya yang selalu berada di dalam fikirannya, Raya yang selalu muncul dan mengisi ruang hatinya. Lalu tiba tiba ingatan tentang Celine yang juga perlahan muncul, dia ingat Celine adalah gadis ceria yang selalu berada di dekatnya. Apa Celine benar benar pacarnya.
Tapi bagaimana mungkin dia bisa mencintai dua orang wanita sekaligus. Apa yang akan dia lakukan sekarang.
Dennis duduk termenung di taman belakang, memikirkan apa yang terjadi dan apa yang akan dia lakukan saat ini. Bagaimana bisa hati dan perasaannya terbagi dua,
"Raya ... Apa yang harus aku lakukan!" lirihnya.
Tidak lama, Celine datang menyusulnya. Wanita cantik itu memeluknya dari belakang dan membuatnya terperanjat.
"Hanya sebentar Dennis, Izinkan aku memelukmu ... Kau tidak akan pernah tahu seberapa lama aku menunggumu kembali." hembusan nafas panjang dengan suara setengah serak, "Aku merindukanmu Dennis, aku sangat bahagia karena kamu telah kembali."
Dennis berusaha melepaskan dua tangan yang merekat di pinggangnya, namun Celine menahannya erat.
"Tolong Dennis, sebentar saja!" lirihnya.
***
Mobil yang di kendarai Dennis baru saja keluar dari parkiran. Dia pergi menuju rumah sakit untuk mulai bekerja, walaupun dia tidak tahu apakah bisa bekerja dengan baik atau tidak. Kejadian semalam membuat fikirannya semakin bimbang saja, ada perasaan aneh yang terus menghantuinya sampai saat ini.
Kenapa dan apa yang terjadi sebelum ingatannya hilang. Cincin misterius yang kerap muncul menjadi mimpi buruknya, Celine dan juga Randi dan tentu saja Raya.
Hampir satu minggu dia tidak bertemu dengan Raya, kesalah fahaman yang terjadi sebelumnya membuat komunikasi mereka sedikit sulit. Dennis ingin menemuinya, namun situasi hatinya kini sedang tidak menentu.
"Kau datang?" Tanya Seseorang dari arah belakang pada saat ia baru saja keluar dari mobil.
Dennis menoleh, melihat Randy yang tersenyum melihatnya.
Mereka berjalan bersama menuju pintu masuk rumah sakit dengan Dennis yang masih terdiam.
"You ok?"
"Hm ... Tidak perlu khawatir, aku baik baik saja."
Randy tersenyum kecil, menepuk bahunya dengan pelan, "Cari aku kalau kau merasa kesulitan Dennis, aku akan siap membantumu kapan pun kau butuh!"
"Thanks Randi!" ucapnya saat keduanya brpisah ke arah berbeda. Denns mengangguk lalu melangkah ke arah ruangannya sendiri sedanhkan Dennis kini menatap punggungnya saja.
"Apa rencanamu Randy?" cicitnya pelan.
Dennis tidak hetinya bersyukur, ilmu kedokterannya tidak luput dari memory di kepalanya, walaupun ada beberapa terori yang membuatnya sedikit lupa namun Dennis kembali membuka file dan juga beras riwayat medis. Keterangan disana dapat membantunya mengingat, terutama karena riwaya pasien pasien dengan tingkat kesulitan yang berbeda.
"Sayang ... Kau sudah datang?" tiba tiba pintu ruangan terbuka, Celine masuk dengan membawa segelas kopi yang masih mengepul.
"Celine?"
"Aku hanya mampir untuk mengantarkan kopi ini, semangat kerja sayang ..." Celine mendekat dan mencium pipi Dennis.
Namun DEnnis menghindar dengan sedikit memundurkan kepalanya. Melihat penolakan DEnnis Clin tersenyum seraya menyimpan kopi di atas meja.
"Hubungi aku nanti ya ... Aku ingin makan siang bersamamu. AKu pergi sayang!"
Dennis menghela nafas saat pintu tertutup, dia juga langsung menghempaskan punggungnya di sandaran sofa.
"Apa dia benar benar pacarku? Apa aku benar benar menyukai Celena sebelum kecelakaan?"