Lixorth

Lixorth
Mathias



    Machu Picchu ada di bawah ku ketika aku dan anggota komunitas melayang terbang di sekitar memperhatikan para goblin yang kabur dari dunia sihir bersiap mengirimkan kejutan bagi para manusia.


     “Benar, kan? Aku sudah bertaruh kalau kita akan menemukan mereka disini.” Desmond tertawa kecil di sisi ku. Kami terbang bersebelahan di barisan belakang.


    “Apa yang mereka lakukan disini memangnya?”


    “Biasanya mereka memang hanya ingin keluar dari dunia sihir dan menghirup kebebasan di sini.”


    Aku menoleh pada Desmond. “Kebebasan?”


    Desmond mengangguk. “Betul. Anggota Serikat mengurung mereka di dunia sihir. Terkadang, mereka bisa lolos dari tahanan dan pergi keluar lewat tempat-tempat yang memiliki energi sihir tinggi. Seperti gunung ini.”


     “Teman-teman,” Silas memanggil. Dia berhenti dan diam di tengah langit malam Peru dan memperhatikan kami berkerumun mengelilinginya menunggu instruksi. “Perlombaan akan segera dimulai. Kalian kuberi waktu tiga puluh menit untuk mencari gulungan sihir dan juga untuk mengembalikan para goblin nakal itu masuk ke portal dunia sihir, paham?”


    Luapan energi mengalir di seluruh tubuhku mengirimkan sinyal girang. Inilah yang aku tunggu-tunggu. Bermain di alam bebas. Silas menghitung mundur perlahan. Adrenalin ku naik seketika.


    “Tiga!”


    Teriakan Silas lantang dan aku langsung menukik turun membiarkan angin malam Peru menerpa wajah ku. Beberapa penyihir lain tak kalah antusiasnya, mereka melesat ke segala arah mengintari pegunungan dengan sapu. Beruntungnya aku yang memiliki bakat sihir angin, aku tidak perlu repot-repot mengarahkan sapu untuk terbang.


    Aku terbang melintasi para goblin yang tengah bernyayi rusuh di bawah sana sambil menggoyangkan pantat mereka. Goblin itu tidak menyadari keberadaan kami karena mereka terlalu bersuka cita akan kebebasan sementara yang bisa mereka rasakan.


     Sinar tembakan meluncur melewati arah terbang ku. Pipi ku terasa hangat. Itu adalah sihir api yang ditembakkan salah satu anggota komunitas. Sosok wanita itu terlihat terbang dengan kecepatan tinggi melewati ku sambil tertawa terbahak-bahak. Tembakannya akurat. Aku bisa mendengar teriakan kesal para goblin.


    Aku menukik ikut melihat serangan itu. Dua goblin lainnya berpencar dengan terburu-buru ketika mereka mulai menyadari kehadiran kami. Aku tersenyum. Akar-akar pohon mulai bergerak mengikuti perintah ku. Satu persatu akar-akar itu menembus permukaan tanah menimbulkan suara sebesar tembakan yang merobohkan bangunan. Tiga akar pohon sebesar batang pohon bambu meliuk lincah seakan mereka menari di bawah sinar rembulan.


    Aku menghembuskan napas sambil menahan senyuman ku yang mulai melebar ketika dalam irama yang sama, ketiga akar pohon itu menukik mengejar para goblin yang mulai berlarian ketakutan. Aku melayang tak jauh dari para goblin sambil terus berkonsentrasi pada setiap akar yang kugerakan.


    Salah akar yang aku kendalikan berhasil meringkus salah satu goblin pendek yang kini memberontak dengan seluruh kekuatannya untuk melepaskan diri. Kedua akar pohon lainnya terus mengejar goblin itu kemanapun mereka melangkah dan melompat menjauh.


    Goblin yang telah ada di genggaman ku tiba-tiba sama meludahkan lendir berwarna hijau menjijikan. Pangkal akar yang melilitnya perlahan meleleh. Aku mengernyit. Apa itu? Kekuatan goblin?


    Si goblin kini kembali memberontak di balik akar pohon yang telah meleleh. Dia meregangkan tubuhnya ke segala arah dan begitulah belenggu akar yang aku kirim rusak seketika. Goblin itu pun berlari menjauh sambil tertawa. Menyebalkan.


     Aku melihat ke arah dua goblin lagi yang sedang aku kejar. Salah satu goblin itu dengan bodohnya berhenti berlari dan masuk ke dalam lubang di tanah bermaksud untuk bersembunyi dari ku. Hah, itu salah besar. Salah satu akar yang ku kendalikan menerobos tanah dengan cepat seperti sedang menusuk daging untuk dibuat sate.


    “ARGGHH!”


    Bagus. Kena juga. Sementara goblin yang satunya berhasil kabur setelah mencoba membakar akar pohon ku. Hembusan api mulai terlihat menembak ke satu arah, ke belakang bebatuan penyangga kuil.


     “Boleh juga. Kau dapat satu.” Puji Silas terbang mendekat ke arah ku.


    “Aku akan mendapatkan yang satu lagi.”


    “Tidak usah. Monica sudah mendapatkannya. Begitupula dengan gulungan sihir. Sekarang, ikuti Desmond dan kembalikan mahluk itu ke dunia sihir.”


     Aku mendesah. Padahal kalau aku lebih bersungguh-sungguh, aku pasti bisa mendapatkan tiga goblin itu bersamaan. Tapi, mau bagaimana lagi. Aku merasakan si goblin masih berusaha melepaskan diri dari genggaman akar pohon ketika aku mengarahkannya ke kerumunan komunitas yang sedang berkumpul di kaki kuil.


     “Kerja bagus, Mathias. Berikan padaku.” Perintah Desmond memberikan senyuman selamat padaku. Aku membiarkan Desmond menahan goblin yang aku dapat dengan sihir tanahnya, dia pun melakukan hal yang sama kepada sisa goblin yang sudah tertangkap.


     Monica memegang sapunya lalu merapal mantra. Lubang tak kasat mata pun terbentuk disana. Awalnya berbentuk oval kecil seukuran kepala, lama kelamaan lubang itu membesar dengan sendirinya.


    Beberapa goblin yang telah kami tangkap berteriak protes enggan dikembalikan ke sana.


    “Ini juga salah kalian, teman-teman.” Kata Desmond. “Kalau kalian berprilaku baik dan tidak coba-coba kabur seperti ini, kalian tetap akan hidup dengan baik di dalam sana.”


     “Sekarang kalian harus menunggu hukuman yang akan dijatuhkan Serikat Sihir Amerika." Lanjut Silas.


    Kemudian, para goblin itu dilemparkan melewati portal sihir dan lubang itu perlahan menghilang ditelan malam. Aku tersenyum. Sudah lama aku tidak langsung terjun dalam pertempuran kecil seperti ini.


    “Kau yakin tidak akan melaporkan kejadian ini pada Serikat?” tanya Desmond menatap Silas bingung. Aku juga melakukan hal yang sama. Setahu ku, jika ada keadaan yang cukup berbahaya, para penyihir diwajibkan untuk melapor ke Pasukan Keamanan Penyihir yang bekerja dibawah perintah langsung Serikat. Sebelum para penyihir


     “Tidak. Lagian, kejadian tadi tidak begitu sulit, kan?” kata Silas mengedipkan matanya jahil.


    “Memang benar.” Balas Desmond dan beberapa penyihir lain. “Tenang saja. Aku tetap akan melaporkannya nanti, aku juga perlu menyindir sistem keamanan yang mereka buat. Memalukan.” Silas mengucapkan kata itu sambil terkekeh mengejek.


    Aku sih, setuju dnegan apa yang dia maksud.


     “Gulungan?” tanya salah satu anggota komunitas.


    Silas mengacungkan gulungan perkamen yang sudah lecek itu. “Ketemu.”


     Ya, benar sekali. Komunitas Penyihir Penjelajah ini memiliki hobi berkelana mengumpulkan rekam jejak benda sihir bersejarah. Biasanya berada di tempat-tempat yang juga memiliki nilai sejarah yang tinggi. Tak lupa setelah mereka menemukan benda-benda itu, mereka akan pergi ke suatu tempat untuk merayakan keberhasilan dan berlibur. Bukannya ini menyenangkan dibandingkan harus diam di kampus?


    Kami menghabiskan waktu di sana selama beberapa saat, mengagumi situs bersejarah sambil terbang mengintari pegunungan, dan juga melakukan balapan kecil di langit malam Peru. Setelah itu, kami kembali ke penginapan yang terletak di Kota Cuzco.


    Silas menjadi penyihir terakhir yang mendarat di pekarangan belakang hotel. Aku melihatnya dari balkon kamar yang mengarah langsung ke halaman tempat kami biasanya berkumpul dan melakukan olahraga ringan di pagi hari. Oh, ya, tempat kami bersiap pergi dan mendarat dengan sapu terbang.


    Pria itu berhenti tiba-tiba lalu mendongak. Kedua mata abunya mengintip dari sela-sela rambut panjang yang menutupi dahi sampai ke bawah mata, melihat ku. Silas lalu memberikan gestur tangan agar aku dapat datang ke tempatnya.


     Aku melihatnya lebih lama berharap dia bisa langsung bicara saja, tapi pria itu bergeming masih melihatku dengan serius. Baiklah. Beruntungnya aku bisa langsung terbang kesana, tapa harus repot-repot membawa sapu atau menuruni tangga hotel.


     “Ya?” tanya ku.


    “Aku dapat panggilan dari Serikat Sihir Amerika.”


    Aku otomatis menelan ludah gugup. Tidak mungkin soal itu.


    “Mereka sekarang mencari mu.” Lanjut Silas pada akhirnya mengatakan kalimat yang aku benci.


    Aku mengutuk dalam hati, “Kenapa mereka mencari ku?”


    Silas mengangkat bahu, “Selain karena kau anak dari Francis dan Lindsey Bancroft?”


    “Ini tidak masuk akal. Mereka sama sekali tidak mencari ku dari malam aku melarikan diri. Untuk apa mereka mencari ku sekarang?”


      “Mereka ingin mengawasi mu. Bakat sihir mu langka.”


     “Yang benar saja.” Aku terkekeh pahit. “Mereka mengawasi ku supaya nanti bisa memanfaatkan ku?”


    Silas mengangguk, “Ya. Mereka tidak mau penyihir dengan bakat sihir istimewa lolos dari penglihatan mereka.”


    Bahu ku merosot. “Kalau begitu aku sudah resmi menjadi buronan Serikat Sihir Amerika.”


    "Tidak.” Kata Silas yang membuat ku menatapnya bingung. “Serikat hanya ingin mengetahui keberadaan mu. Jika kau menjadi buronan, Pasukan Keamanan Penyihir mungkin sudah mengobrak-abrik hotel dan membubarkan komunitas.”


     “Sekarang kau memang anggota komunitas, tapi aku tetap tidak memiliki wewenang atas mu. Artinya, jika mereka memerintahkan ku untuk menyerahkan mu, aku tidak bisa bilang tidak. Itu melanggar aturan. Kecuali kau masuk akademi, sama seperti saudaramu.” Jelas Silas tampak serius.


    Oh, tidak. Alasan ku nekat berpura-pura pada ujian masuk tidak lebih karena aku tidak ingin melanjutkan sekolah. Aku ingin menjadi anggota komunitas yang bebas berkeliaran sekaligus bertarung.


     “Tidak usah murung, aku akan membantu.”


    Aku mencibir, “Dengan memasukkan ku ke akademi?”


     “Ya, kita bisa membicarakan soal itu nanti.” Kata Silas pada akhirnya. “Sekarang, kita harus istirahat. Besok ayo kita urus Serikat yang merepotkan ini.”




*