
Tidak terasa sudah aku akhirnya mencapai akhir tahun yang terasa cukup lama bagiku. Asal kalian tahu saja, kehidupan ku berjalan membosankan. Maksudku, meskipun menyenangkan bertualang dengan komunitas, namun perhatian dari Serikat yang ketat itu menghancurkan semuanya.
Ditambah aku harus ekstra hati-hati mengeluarkan sihir alam ku jika aku tidak ingin cepat-cepat ditangkap oleh Serikat. Semakin hari, mereka semakin memojokkan ku. Mereka sebegitu ingin tahunya dengan sihir alam yang aku kuasai dan itu yang membuat ku semakin ingin untuk mengabaikan mereka.
Aku hidup dengan baik bersama Paman Billy jika komunitas sedang libur. Sisanya, aku menetap dimana saja dengan komunitas. Tapi, aku tahu Silas benar. Kemarin, aku dan Silas –Ketua Komunitas Penyihir Penjelajah—berbincang soal keadaan ku di masa depan. Yap, topik yang aku benci.
Intinya sehabis percakapan serius itu, aku sepakat untuk memilih jalan ini. Semoga saja aku tidak menyesal dengan apa yang aku pilih. Lebih baik menjauh dari kejaran Ayah dan Ibu sekarang.
“Mathias Bancroft.”
Aku mendongak ketika nama ku dipanggil. Pria besar di depan ku ini tampak sangat tertarik menelitiku. Sudah lebih dari sepuluh menit sejak kami berdua di biarkan di hutan ini, baru sekarang dia akhirnya berbicara soal apa yang akan kita lakukan.
“Kali ini, kau harus bersunggu-sungguh. Aku tidak mau kau sengaja gagal seperti ujian masuk kemarin.” Ancam pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Instruktur Snowden. “Sekarang ini ujian masuk mu yang kedua akan dimulai.”
Ha-ha. Benar sekali. Aku memutuskan untuk mengikuti saran dari Profesor Riggs dan Silas yang menasehati ku untuk masuk akademi dibandingkan hidup dalam kejaran dan belenggu Ayah di luar sana. Hari ini, pihak akademi akan mengadakan ujian masuk istimewa untukku. Sebenarnya aku tahu kalau ini semua hanyalah formalitas, toh Profesor Riggs sendiri yang meminta ku masuk. Tapi, aku setuju juga soal ujian pura-pura ini. Rasanya ganjil kalau hanya masuk tanpa ujian.
Ujian masuk kedua ini sangat sederhana. Aku hanya perlu menempelkan cap resmi akademi di dahi Instruktur Snowden dan selesai. Mudah, kan? Tentu saja tidak. Dari yang Silas bilang, Instruktur Snowden berasal dari kelas Beta dan beberapa kali memperoleh nilai tertinggi.
Angin sore di Kompleks Pendidikan Akademi Lixorth memang menyegarkan. Bau tanah basah dan daun menyatu menjadi satu. Rasanya tidak enak jika aku harus sedikit merusak disini.
Ketika aku masih menikmati suasana sore sambil berpikir, Instruktur Snowden tiba-tiba melesat maju ke hadapan ku tanpa aba-aba. Tubuhnya jadi tiga kali lipat lebih besar, ototnya mencuat keluar, badannya tiba-tiba menjulang tinggi, dan aku melihat taring dari mulutnya. Dia seperti baru saja merubah bentuk fisiknya menjadi seekor beruang ganas berotot. Tentu saja tanpa bulu di seluruh tubuhnya.
Aku melompat setinggi yang aku bisa lalu mulai melayang dan terbang. Transformasi bentuk tubuh. Sepertinya itu bakat sihir Instruktur Snowden. Dia seperti menjadi jelamaan beruang marah. Kalau begitu, dia pasti tidak bisa bertarung di udara, kan?
Cengiran tipis terukir di mulut ku. Bagus kalau begitu.
Angin berkumpul mengelilingi ku dengan cepat ketika aku mulai memanggil sihir angin. Aku hanya perlu menembaknya sekali, tapi kekuatan ku harus besar.
“Turun sini, dasar manusia angin.” Raung Instruktur Snowden. Bahkan suaranya sudah mirip raungan harimau dan beruang marah.
Lalu, Instruktur Snowden melompat naik memanjat pepohonan. Cakar-cakarnya menancap di batang pohon dan dengan cepat dia naik ke puncak sambil terus menggeram. Aku bisa melihat air liur keluar dari sudut mulutnya, seperti anjing marah.
Ini gawat. Aku tidak berpikir kalau dia segila ini. Tapi, aku kan bisa menguasai sihir alam.
Pohon yang menjadi pijakannya perlahan bergerak ke kanan dan kiri seperti sedang melepaskan cengkeraman Instruktur Snowden. Pohon itu melilit dan mengecil. Instruktur Snowden terlihat kaget lalu genggamannya lepas begitu saja. Dengan lincah buru-buru melompat ke batang pohon yang lain dan kembali ke tanah.
“Nah, ini yang aku tunggu-tunggu.” Ujar Instruktur Snowden tampak bersemangat dari bawah sana.
Aku terbang lebih tinggi kemudian mengirim sihir alam ku sekaligus. Akar-akar pohon mulai mencuat keluar dari dalam tanah dan mengejar Instruktur Snowden tanpa ampun.
Kelincahan lawan ku benar-benar membuatku jengkel. Dia melompat, berguling, bergeser, kemudian memukul mundur akar-akar pepohonan dengan ritme yang luar biasa. Raungan kembali terdengar di seluruh penjuru hutan.
Belum saatnya dia menang. Akar-akar lain mencuat naik dan kembali melakukan penyerangan yang sama. Saat itu, aku benar-benar fokus pada sisi penyerangan ku. Lagipula, Instruktur Snowden sedang dalam posisi yang berbahaya. Tapi, aku salah.
Byur!
Sialan. Air menampar wajahku. Rasanya menyebalkan. Untuk beberapa detik aku harus menyesuaikan penglihatan ku dan berusaha bernapas.
Byur! Byur!
“Turun sini!” pekik Instruktur Snowden. Suaranya menggelegar membelah hutan.
Aku terbatuk beberapa kali menahan sensasi tersedak air dan terbang lebih tinggi.
Sret!
Sesuatu mencengkram lengan kanan ku. Kukunya yang tajam menusuk kulit ku tanpa ampun dan dalam waktu sepersekian detik, aku dibanting langsung menghantam tanah.
Ugh. Tubuhku rasanya seperti disetrum tapi dengan hentakan yang luar biasa besar karena aku merasakan nyeri menjalar dari kaki sampai ubun-ubun. Pandangan ku mengabur. Oh, gawat. Jangan bilang aku kalah hanya dengan satu kali bantingan?
Meskipun rasanya menyakitkan, aku buru-buru mengirimkan angin besar ke arah lawan agar dia segera menjauh. Awalnya Instruktur Snowden berusaha bertahan mengandalkanfisiknya, tapi lama kelamaan dia terpukul mundur oleh angin ku.
Ini bagus. Aku mengumpulkan semua energi sihir ku dan mengirimkan sihir angin ke arah lawan. Tanpa ampun. Tidak sebesar milik Ayah, tapi cukup untuk membuat Instruktus Snowden terpojok. Dengan ini, dia akan sibuk mempertahankan keseimbangannya sambil menahan laju angin.
Aku bangkit perlahan. Energi ku mulai habis. Entah berapa menit lagi aku masih bisa mempertahankan kesadaran ku ini, sementara Instruktur Snowden sama sekali tidak terlihat lelah. Bukan saatnya aku memikirkan keadaan lawan. Aku harus memaksimalkan apa yang bisa aku lakukan sekarang.
Dengan energi sihir yang tersisa dalam diriku, aku memanggil sihir alam. Pepohonan sekitar seakan menjawab panggilan untuk bangkit. Tidak sekuat biasanya. Tak masalah, selagi cukup untuk menyerang.
Aku menarik napas panjang. Dorongan angin ini sudah tidak bisa kupertahankan lebih lama dan aku sudah siap dengan sihir ku selanjutnya. Aku akan menghentikan semua ini sekarang. Sihir angin yang memojokkan Instruktur Snowden perlahan berhenti, tepat saat itu akar-akar pohon naik ke permukaan tanah. Dalam hitungan detik, akar pohon yang aku panggil melilit Instruktur Snowden lalu menariknya turun ke masuk bawah tanah.
Instruktur Snowden memberontak liar, tapi terlambat. Kini seluruh tubuhnya sudah terperangkap di bawah tanah. Hanya kepalanya yang menyembul di permukaan.
Ku sunggingkan senyum lebar, meskipun sebenarnya aku tidak punya tenaga untuk menghampirinya.
Tidak, Mathias. Selesaikan dulu, baru kau bisa tidur.
Perlahan, aku berderap mendekati Inspektur Snowden yang tengah memperhatikan ku dongkol. Aku memaksa kesadaran ku untuk tetap terjaga selagi aku menggenggam stempel. Tak kusangka melawan penyihir setara Instruktur Snowden benar-benar melelahkan. Aku tidak bisa protes karena ini juga bagian dari ujian masuk dan aku memang harus seserius ini mengerjakannya.
“Oke, selamat datang di Akademi Lixorth, Mathias Bancroft.” Instruktur Snowden mengumumkan dengan nada formal setelah aku mengecap dahinya. Ya ampun, padahal aku bisa mendengar nada jengkel tidak terima kalau ia kalah. Instruktur Snowden memutar bola mata, “Sekarang, lepaskan aku.”
*