Lixorth

Lixorth
Alison



    Ujian Tengah Semester. Yup. Siapa yang tidak membenci ujian? Ujian itu merepotkan, tapi mau tidak mau kita tetap harus mengikutinya jika ingin lulus. Itulah kenapa aku benci ujian. Minggu ini diadakan Ujian Tengah Semester


yang dilakukan serentak oleh seluruh siswa Akademi Lixorth. Bagi siswa tahun pertama, Ujian Tengah Semester ini hanya berlaku untuk ujian tulis. Semua mata pelajaran praktik tidak memiliki jadwal UTS karena guru-guru lebih ingin menguji skill praktik muridnya mati-matian di Ujian Akhir Semester nanti.


    Aku mulai menyesali kenapa aku berada disini.


    Beruntungnya, hari ini adalah hari terakhir UTS dilaksanakan. Aku berada di ruang kelas B di lantai 3 Gedung Pelajaran Akademi Lixorth. Satu-satunya gedung yang digunakan untuk pembelajaran teori di akademi. Apalagi jika sudah tergabung dalam regu, nantinya kami hanya mendapatkan pelajaran sesuai dengan jenis sihir kami. Tidak ada lagi kelas besar dan umum. Sistemnya seperti fakultas dan jurusan dalam perguruan tinggi.


     “Ujian mata pelajaran Bahasa Sihir Kuno menyusahkan!” keluh Helen melipat kertas bekas coretan yang ia gunakan untuk menyusun kata-kata kuno sebelum dia mengisi lembar jawaban ujian.  Wajahnya kusut. Tidak biasanya Helen sepanik ini. Bahkan selama UTS berlangsung, dia tidak berhenti memberikan kata-kata penyemangat untuk ku yang kelewat stress. Sekarang malah dia yang hilang semangat.


    “Setuju.” Gumam ku mengangguk-angguk. Kami berjalan turun melewati anak tangga secara manual, tidak terbang dengan sapu. Oh, ya, tentu saja. Kalian pasti tahu hal itu, kan? Tidak boleh berterbangan di dalam ruangan. Ini terdengar seperti sebuah lelucon di dunia manusia, tapi di dunia sihir percayalah itu pernah terjadi. Anak-anak terbang melintasi ruangan satu ke ruangan lainnya dengan sapu dan semuanya kacau.


     Lantai dua dan satu mulai dipadati oleh para senior tahun kedua yang bersiap untuk mengambil ujian teori pamungkasnya hari ini. Semua murid dari kelima regu membaur menjadi satu di dalam gedung. Aku melihat berbagai macam pin berkilat dari setiap murid yang melewati ku menuju tangga. Beberapa dari mereka tampak percaya diri dan sebagian lagi lebih memilih tidak mau peduli soal ujian. Mereka sibuk bersenda gurau meskipun mereka sedang membuka buku besar sihir.


    “Savanna mana?” tanya Helen, dia melihat kesana kemari mencari teman sekamar kami ditengah murid-murid tahun kedua yang berseliweran memenuhi koridor.


     “Entahlah, mungkin dia langsung pergi ke tempat klub belajarnya.” Jawab ku seadanya. Sebenarnya tidak seadanya juga. Satu minggu terakhir ini, Savanna bilang kalau dia banyak menghabiskan waktu belajar dengan klub belajarnya itu. Mereka selalu belajar di perpustakaan sampai larut malam, entah apa yang mereka lakukan. Bisa saja mereka malah bergosip alih-alih belajar, kan?


     Mendengar itu, Helen berhenti mencari. “Benar juga.”


     Akhirnya, kami keluar dari Gedung Pembelajaran Akademi Lixorth dan lepas dari para senior yang berisik itu. Di luar situasinya jauh lebih tenang. Aku dan Helen bergegas pergi mengambil sapu terbang kami. Lucunya, alih-alih terdapat parkiran mobil, disini akademi menyediakan parkiran sapu. Tempatnya seperti palang-palang tempat parkir sepeda, hanya saja ini digunakan untuk sapu.


    Helen dan aku terbang melintasi bukit menuju ke kafetaria asrama umum. Kafetaria ini dibangun di sebelah asrama putra yang berada tepat di sebrang asrama putri. Benar sekali, ini adalah kafetaria khusus anak-anak baru. Meskipun beberapa senior juga sering datang dan ikut makan siang atau malam disini.


     Setelah memarkirkan sapu ku di parkiran asrama putri, aku dan Helen langsung berjalan menuju kafetaria. Sudah pukul 2 siang, tapi kafetaria ini tidak terlalu ramai dikunjungi para murid. Mungkin karena senior kelas dua sedang menjalani ujian. Entahlah. Kami berjalan melewati kafetaria dan naik ke tangga menuju lantai dua yang digunakan sebagai Student Center. Biasanya kegiatan kecil siswa seperti belajar atau kumpul-kumpul dilakukan disini. Begitu juga dengan hari ini.


    Beberapa teman angkatan ku sudah berkumpul disana. Sebagian sedang menahan kantuknya sambil bersandar di dinding, ada juga yang heboh membahas soal ujian tadi, dan juga ada yang malah asik bermain kartu di pojok ruangan.


     Kami memutuskan untuk bergabung di sisi anak-anak yang sedang menahan kantuknya. Mereka pasti begadang untuk belajar ujian hari ini. Sementara aku sibuk menonton film di kamar dan belajar seadanya. Tentu saja, ada beberapa soal yang tidak bisa ku isi. Aku hanya lelah dan jenuh dengan semua hal yang terjadi di akademi dalam waktu yang bersamaan.


    “Hanya tinggal klub ambis itu, kan, yang belum datang?” tanya Gabriel bertanya pada seluruh murid yang berada di sana. Beberapa dari mereka menjawab dengan malas dan lelah. Kalau aku sih, selama masih ada yang membalas, aku tidak akan repot-repot masuk dalam obrolan.


    “Oi, Helen dan Alison, bisa tidak kalian telepon Savanna?” panggil Gabriel yang duduk di sisi lain ruangan. Suaranya memang keras dan sedikit mengintimidasi. Dia selalu berpikir kalau dirinya lah ketua angkatan kami. Padahal tidak ada instruksi dari para senior kalau kami diharuskan memilih ketua angkatan, toh nanti kami akan dipisah ke berbagai regu di tahun kedua.


     “Mungkin di perpustakaan?” Helen yang menjawab sedikit ragu-ragu. Sementara aku hanya mengangkat bahu dan menggeleng.


    Gabriel mengehela napas. Dia menengok kesana kemari berusaha mencari orang lain. “Matilda? Kau bisa menelepon teman sekamar mu? Lenna atau Yara? Kita harus memulai rapat angkatan.”


    Butuh waktu lima belas menit sampai aku bisa melihat geng klub belajar itu muncul di mulut pintu. Mungkin ini sudah ketiga kalinya aku jatuh tertidur selama beberapa menit, lalu bangun dan tidur lagi sambil menunggu mereka.


    Savanna, Yara, Lenna, dan Dominic masuk dengan santai. Dominic dan Yara membawa ransel besarnya dan susah payah mencari celah sempit ditengah anak-anak lain yang sudah duduk berbaris. Savanna sempat melihat ku dan Helen, dia tampak berpikir haruskah dia duduk di dekat kami, tapi kemudian Lenna menarik lenganya dan


mereka duduk di barisan paling depan. Benar-benar berhadapan dengan Gabriel.


     “Nah, kalian pasti tahu apa yang akan kita lakukan besok.” Gabriel membuka rapat angkatan ini. Dia memang terlihat percaya diri berbicara dan menuntun kami di depan sana. “Orientasi selanjutnya, menuju Gamma dan Delta.”


     Awalnya kami tidak menyadari hal yang aneh dari pernyataan Gabriel, tapi setelah itu suasana mulai riuh. Aku, salah satunya. Seharusnya kami hanya mengunjungi Gamma dan Delta akan menjadi tempat selanjutnya, yaitu bulan depan. Selama ini, orientasi kunjungan memang seru karena aku bisa melihat langsung markas setiap regu dari dekat. Tapi, itu benar-benar melelahkan. Kami selalu mendapat tugas berat dari mereka. Apalagi waktu kunjungan kami ke Kastil Beta . Aku harus kembali ke asrama dalam keadaan bonyok.


    “Senior bilang kalau Delta akan mengadakan ujian praktik keluar akademi bulan depan. Jadi,  mereka memerintahkan kita untuk datang sebulan lebih awal.” Lanjut Gabriel, dia sama sekali tidak terpengaruh dengan gaduhnya suasana.


     “Itu artinya kita harus mengerjakan tugas dua kali lipat!” keluh salah satu murid.


     “Apa kita tidak bisa mengajukan keringanan? Kita baru saja selesai UTS.”


     “Benar.”


    Gabriel diam sejenak memberi waktu bagi teman-temannya mengeluarkan unek-unek dan melampiaskan kekesalan mereka. Dia jadi mirip dengan Mathias. Kalau aku sedang berapi-api marah akan sesuatu, Mathias akan melakukan hal yang sama. Dia tahu kalau lama kelamaan aku sendiri akan berhenti mengoceh karena lelah. Ah, sudahlah. Aku tidak mau memikirkan Mathias sekarang. Aku harus fokus sekolah.


     “Sepertinya keputusan mereka sudah bulat. Meredith Camden dan Patrick Hackett juga sudah setuju dengan penyesuaian jadwal ini.” Gabriel kembali berujar. Lucu sekali. Wali kelas Gamma dan Delta setuju dengan jadwal mendadak ini, padahal yang menjalaninya adalah kami. Mereka tidak pernah berpikir soal keselamatan para


murid atau bagaimana?


    “Jadi, percuma saja kalau kita menolak jadwal ini, toh jadwal menyebalkan ini tetap tidak akan berubah.” Lanjut Gabriel yang langsung dibalas dengan keluhan anak-anak lainnya. Termasuk aku. “Oh, ya, untuk besok jangan lupa memakai syal bahu sebagai atribut orientasi. Dan untuk Helen, Savanna, dan Alison, jangan sampai terlambat lagi. Kalian juga, kan, yang repot.”


     Dia benar. Terakhir kali kami telat, kami harus bertarung melawan senior gila, Bodhi McCallen.




*