
Si senior malah tertawa semakin keras dan puas. Aku mengerut begitu juga dengan Savanna di sisi ku. Masih dengan tawanya, si senior lalu berujar. “Tentu saja. Sebagai senior kalian, kami tidak akan membiarkan adik-adik tingkat kami melalaikan aturan begitu saja. Lagipula, hari ini adalah jadwal orientasi kalian di kelas Beta. Kami harus memperlakukan kalian dengan baik, bukan begitu?”
“Terimakasih.” Savanna membalas dengan raut wajah seramah yang bisa ia tunjukan. Aku tahu padahal dia ingin sekali mengutuk senior itu.
“Nah, kalau begitu kalian harus menyusul teman-teman kalian. Ikuti aku. Kalau sampai kalian kehilangan jejak ku, entah hukuman apalagi yang akan kalian dapat di sini.” Senior itu akhirnya melontarkan peringatan yang nyata dengan wajah serius.
Aku mempersiapkan kuda-kuda ku seketika, Savanna dan Helen melakukan hal yang sama. Benar saja, senior itu tiba-tiba melesat terbang masuk ke halaman depan Kastil Beta. Kami berlari mengekor di belakang berusaha mengimbangi kecepatan terbang senior bersayap itu dengan lari kami. Tentu saja ini sepuluh kali lebih sulit. Kami harus memastikan arah si senior sambil terus menghindari para penyihir Beta yang berseliweran di dalam kastil.
Kami sama sekali tidak bisa memperhatikan keadaan sekitar karena sibuk mengejar dan memperhatikan senior bersayap ini. Beberapa penyihir Beta yang kami lewati beberapa kali menyerukan kata ejekan atau kata penyemangat. Aku juga mendengar mereka meneriakkan nama kami dengan lantang bermaksud mengejek.Dengan ini aku semakin yakin dengan pernyataan Savanna yang bilang kalau panggilan untuk kami benar-benar didengarkan oleh seluruh penghuni Akademi Lixorth.
Setelah
mengelilingi setiap sudut kastil ini, akhirnya senior bersayap itu membawa kami
ke suatu ruangan kosong besar tempat latihan para penyihir Beta. Disana, aku
bisa melihat teman-teman satu angkatan ku tengah menyaksikan duel diantara dua
penyihir Beta di tengah lapangan.
“Teman-teman, kita kedatangan tamu.” Si senior bersayap berteriak menggema di dalam sana membuat pertarungan kedua penyihir Beta itu berhenti. Semua murid berbalik menatap ke arah ku, Savanna, dan Helen, begitu juga dengan kedua senior yang tengah bertanding disana.
“Bagus sekali, Elsie. Kau tiba di waktu yang tepat.” Salah satu senior yang ada di tengah lapangan bertepuk tangan sarkas. Pemuda itu memiliki otot yang besar meskipun tidak terlalu tinggi. Otot lengannya mencuat di balik kaus pendek biru yang ia pakai. Kulitnya sawo matang selaras dengan bola matanya yang hitam kecoklatan.
Kumpulan teman-teman tahun pertama yang mengerubungi kedua senior penyihir berotot Beta mulai terurai. Mereka memberikan jalan bagi kami untuk bisa berdiri di posisi paling depan. Savanna adalah orang pertama yang berjalan melewati kerumunan, Helen setelahnya dan aku terakhir berjalan dengan enggan.
Senior Elsie akhirnya mendarat di sisi kedua rekan satu regunya, melambaikan tangan menyuruh kami ke tengah lapangan bergabung d engan ketiga penyihir itu. Aku merampus dalam hati. Sepertinya gempa tadi adalah awal mula penderitaan kami.
“Kalian datang persis ditengah kami sedang mengadakan simulasi tanding.” Ucap Bodhi, salah satu senior berotot. Dia menarik senyumnya naik. “Seharusnya kalian mengerjakan tugas menganalisis sihir kami seperti teman-teman kalian. Tapi, karena kalian telat aku ingin memberikan tugas yang berbeda.”
Sudah kuduga.
Elsie dan satu senior yang lain mundur perlahan dan berdiri dekat dengan teman-teman ku yang lain. Bodhi mengatur posisi kami sehingga kami berhadapan satu sama lain dalam lingkaran yang kami buat sendiri.
Ya ampun. Aku tahu maksudnya apa.
“Kalian akan melakukan simulasi tanding langsung dengan ku, Bodhi McCallan, Si Penyihir Beta Paling Keren. Aku sarankan kalian melakukan ini dengan sungguh-sungguh. Wali kelas kami, Whitney Quinn juga sedang menonton orientasi ini.”
Aku, Helen, dan Savanna saling tatap selama beberapa menit. Anak-anak lain yang menonton dari samping juga diam tutup mulut seakan mereka juga ikut bertarung dengan kami. Bodhi, si senior sialan ini malah tersenyum girang seperti orang gila.
“Siapa yang mulai duluan? Si anak tahun pertama yang terkenal? Atau kau? Atau kau?” Bodhi menunjuk kami satu persatu sambil cekikikan. Oh, Tuhan, aku ingin menenggelamkannya.
Bodhi menyeringai dan detik itu juga ia melompat tinggi. “Aku bercanda. Dalam pertarungan, tak ada aba-aba untuk mulai.”
Aku mendongak melihat lompat tinggi Bodhi. Dia seperti seekor katak super. Lompatannya tinggi sekali. Mungkin dia hanya memperkuat lompatannya dengan sihir akselerasi. Aku baru saja diajarkan mantra itu beberapa hari yang lalu, tapi hanya sebatas teori. Bodhi lalu bergelantungan di atap dengan satu tangan menempel ke langit-langit. Wow. Bakat sihirnya lumayan.
Tiba-tiba tubuhku panas. Gelombang api menari-nari disekitar ku, Savanna, dan Helen dan mengurung kami di dalamnya. Aku kembali mendongak melihat Bodhi yang masih bergelantungan sambil tertawa puas.
Elementalnya adalah api?
Keringatku mulai bercucuran membasahi seragam ku. Semakin lama api ini semakin besar dan terus naik hampir menutupi penglihatan ku.
“Fokus!” hardik Savanna. Kami bertiga kini saling membelakangi, sehingga bahu dan punggung kami menempel satu sama lain. Terpojok. “Dia bisa merekatkan dirinya.”
“Sampai kapan kalian akan diam, hah?” pekikan Bodhi terdengar lagi. Kali ini senior gila itu lompat dari atas dan menukik tajam ke arah kami.
“Alison, air.” Pekik Savanna mulai panik.
Aku mengangguk. Aku merasakan air di telapak tangan kanan ku lalu dengan tidak terlalu percaya diri, aku memaksa mengeluarkan air lebih banyak lagi dengan sihir ku.
BUSH!
Benar saja. Api tidak mungkin padam dengan air sesedikit itu.
Savanna menggerutu. Dia diam sebentar lalu berputar. Putaran angin besar mulai terbentuk dan kobaran api di sekitar kami padam seketika.
Hebat. Angin yang Savanna keluarkan cukup besar.
Belum sempat aku kagum, Bodhi tiba-tiba mendarat dengan luwes di depan ku. Lelaki itu tersenyum licik lalu mengayunkan tinjunya. Aku berpikir cepat dan buru-buru mengeluarkan sihir angin ku berharap memberikan celah sebelum Bodhi memukul, tapi tidak. Gumpalan air ku pecah begitu saja dan aku terpental karena pukulannya di pipi ku.
Bumi bergetar dan Helen dengan susah payah mencoba menyergap Bodhi dengan perangkap lubang tanah yang dia buat. Tapi, pergerakan Bodhi terlalu lincah. Belum lagi, dia bisa merekatkan dirinya di hampir semua hal. Jadi, sebelum dia sempat terjatuh, kakinya merekat di tanah dan mengagalkan semuanya.
Savanna menatap Bodhi sengit dari balik Helen. Dia membiarkan Helen bereksperimen dengan mencoba membuat lubang-lubang tanah sementara dirinya menunggu momentum yang tepat untuk bisa menembak Bodhi dengan angin.
Aku bangkit. Hanya aku yang tidak berguna? Baiklah.
Lubang-lubang di tanah itu menutup dengan sendirinya lalu terbuka lagi di tempat yang lain. Aku berlari kecil berusaha mendekat ke arah kedua teman ku sambil terus memperhatikan lubang itu, takut kalau nanti malah aku yang terjerembab.
“Mau kemana kau?” Bodhi tau-tau ada di depan ku dan lagi-lagi menendang pelan kakiku. Tentu saja aku langsung kehilangan keseimbangan. Dia lalu meloncat dengan lincah semakin mendekati Helen dan Savanna.
Sialan.
BUK! BUK! BUK!
Angin kembali muncul. Kali ini lebih liar. Bodhi yang memiliki bakat sihir perekat tentu saja bisa aman. Dia hanya perlu menempel di mana pun maka tubuhnya tak akan terseret. Sebaliknya, aku, Helen, dan anak-anak lain yang menonton malah kesulitan.
BRUK!
Aw. Aku meneliti sekitar sambil mengucek mata. Oh, bagus. Aku malah ada di dalam lubang Helen. Lubang itu tidak terlalu dangkal dan juga tidak telalu dalam. Tapi, aku tidak bisa keluar dengan lompatan. Bagaimana ini? Angin ribut masih meraung disana. Sihir angin Savanna keren juga. Dia mungkin bisa masuk Kelas Alpha.
Tunggu. Aku harus memanfaatkan situasi. Benar juga. Aku kan memiliki sihir air. Kuisi saja lubang ini. Keuntungannya, karena aku dijauhkan dari medan pertempuran, aku jadi sedikit lebih santai mengontrol sihir ku.
Suara tawa Bodhi terdengar lagi di atas sana mengalahkan suara deru angin yang masih mengamuk. Dia benar-benar orang gila.
Kubangan air mulai terbentuk di kaki ku. Sihir ku bekerja juga. Aku terus menerus memanggil gelombang air dengan sihir. Bekerja, sih, tapi cukup lama karena aku belum terlalu bisa menguasainya Atau mungkin memang sihir air ku sepayah ini. Mathias bilang, sihir itu mudah. Lama kelamaan, bakat sihir kita akan bekerja seperti refleks aku mengangkat tangan.
Oke, bagus.
Air terus naik dan naik. Aku mendongak melihat permukaan. Sesekali aku melihat Bodhi yang tengah melompat-lompat dengan lincah ditengah badai angin. Lalu, tanah berderak lagi.
Ini tidak baik. Helen tidak akan menguburku hidup-hidup, kan?
Akhirnya, kepala ku menyembul ke permukaan. Air ku sudah memenuhi lubang dan aku bisa mengapung diatas air. Keren, kan? Bukan Cuma Mathias saja yang bisa terbang, aku pun bisa melakukan sesuatu dengan sihir air ku. Aku menatap sekitar dengan hati-hati. Helen jatuh di lantai memegangi perutnya. Savanna entah ada dimana,
aku tidak bisa menemukan gadis itu.
“Sudah cukup
main petak umpetnya?” ucap Savanna. Aku mendongak. Gadis itu berdiri tepat di depan lubang tempat ku terjerembab. Angin masih ada di sekitar dan Savanna kini menerbangkan semua barang secara membabi buta. Dengan ini Bodhi tak akan bisa mendekat untuk sementara waktu.
“Kau punya ide?” aku dengan susah payah naik ke permukaan.
Teman sekamar ku menoleh pada ku tanpa berbicara. Dia berharap aku bisa membaca pikirannya atau apa? Huh. Di ujung mata ku, Helen lari menghampiri. Dia terlihat sudah lebih baik.
“Ya, aku punya ide.” Sahut Savanna pada akhirnya. Dia menjelaskan idenya sejelas yang ia bisa. Rencana ini cukup riskan, tapi patut dicoba. Lagipula, keadaan kami bertiga sudah bonyok. Kenapa tidak dilannjutkan saja perkelahian bar-bar ini?
“Sampai kapan kalian akan menghindari ku?” pekik Bodhi. “Kalau begini ceritanya, stamina kalian akan habis dan kalian akan menyerah dengan sendirinya. Itu tidak seru, kalian dengar?”
Savanna,
Helen, dan aku bersiap. Detik berikutnya laju angin berhenti, barang-barang
yang ikut berterbangan jatuh di sembarang tempat di gor ini. Bodhi merangkak
terbalik di atap masih dengan ekspresi yang menyebalkan.
Angin kembali ditembakan langsung menuju arah Bodhi. Tapi, sia-sia saja Bodhi melompat turun dan menghindar dengan mudah. Savanna tidak berhenti, dia terus menerus menembak memaksa Bodhi untuk bergerak. Savanna juga menerbangkan alat-alat yang telah jatuh, seperti tongkat, pipa, dan jaring lalu ikut menembakkannya ke arah Bodhi. Seperti meriam yang diisi oleh bom berbentuk alat-alat seadanya. Bodhi terus menghindar dengan mudah. Lelaki itu akhirnya turun mencoba mendekat dari darat. Dia melompat kecil seraya menghindar dari lubang yang Helen buat dan melesat ke arah Savanna.
Gadis itu menghadap Bodhi dan terus mengirimkan tembakan angin, tapi hal ini tidak memperlambat laju lari Bodhi. Dia sudah seperti atlet yang sedang lomba lari dengan penghalang.
Semakin dekat. Semakin dekat. Di jarak yang hanya beberapa meter lagi, Savanna sekali lagi dengan membabi buta mengeluarkan angin kerasnya seakan dia membuat perisai angin agar Bodhi tak mendekat.
“Lemah sekali. Ada apa? Kau kelelahan?” ejek Bodhi. Dia sudah semakin mendekat. “Karena kau yang paling menyusahkan, aku harus mengalahkan mu terlebih dahulu.”
“Sekarang.” Savanna memberi perintah. Dengan itu, angin tiba-tiba berhenti berputar. Perisai angin yang dibuat oleh Savanna hilang. Sosok Bodhi ada disana, menyeringai sambil mempersiapkan tinju.
Lalu, aku muncul di sisi kanan lelaki itu menerjang langsung ke arahnya. Lengan kanan ku terangkat, aku bisa merasakan putaran bola air sebesar bola basket berputar di telapak tangan ku. Dalam sepersekian detik, aku bisa melihat ekspresi kaget dari Bodhi. Dia tidak menyangka aku akan ada disana sedekat itu dengannya.
BYUR!
Aku menyergap kepala senior ku, membiarkan putaran bola air itu menghantam persis di wajahnya. Bodhi tidak akan senang. Siapa yang senang dicelupkan dalam mangkuk berisi air tiba-tiba? Upaya pernyergapan kami rupanya sukses. Bodhi tidak bisa mengatur keseimbangan badannya karena panik berusaha mencari napas. Dia lalu terdorong masuk ke belakang dimana lubang miliki Helen telah muncul.
Refleks, lengan kanan Bodhi menggapai bahu ku dengan kasar. Aku merasa seperti dirobek atau ditarik paksa dengan sihir mengerat di lengannya. Sedetik kemudian, aku dilemparkan.
Aku tersenyum. Bodhi akhirnya jatuh ke lubang berisi air yang kami buat. Angin kembali muncul di dalam lubang itu membuat air ikut berputar. Bodhi mau tidak mau mempertahankan tubuhnya di dalam lubang
kalau dia tidak ingin ditarik masuk ke putaran angin yang telah berisi tongkat-tongkat latihan. Dia seperti sedang bertahan hidup di tengah ombak.
Savanna menahan anginnya selama beberapa detik lagi lantas dia terjatuh dalam posisi duduk, seluruh staminanya terkuras habis, dan dia pucat. Keadaannya mungkin yang paling buruk diantara kami bertiga. Beruntung dia tidak jatuh pingsan. Aku melihat Helen berlari menghampiri Savanna berusaha memberikan bantuan.
Ha-ha. Dan disinilah aku. Berapa kali totalnya aku dilempar kesana-kemari?
“Tidak buruk.” Elsie terbang mendekat memecah keheningan. Aku baru menyadari kalau teman-teman ku juga sedang menyaksikan pertarungan ini. Kepala ku melihat ke semua arah. Oh, ya ampun. Sarana olahraga ini kacau balau. Alat-alat latihan berseliweran hampir di setiap pojok. Mau tidak mau, aku melirik Savanna. Dia keren. Sihir anginnya mungkin lebih baik dari Mathias? Entahlah, aku tidak terlalu sering melihat Mathias menggunakan sihir itu. Tapi, aku yakin Savanna kuat sekali.
“Ah, aku lengah. Menyebalkan.” Erang Bodhi Lelaki itu sudah ada di permukaan dan dia basah kuyup. Dia lalu meneliti keadaan kami bergantian. “Kalian menyadari kalau dalam keadaan genting, aku pasti memakai sihir rekat ku, ya? Itu sebabnya kalian memojokkan ku, membekam ku dengan air sehingga semua konsentrasi ku buyar dan aku otomatis harus menyingkirkan si bocah air itu menjauh.”
“Dan karena itu, kau tidak menyadari kalau lubang lain terbentuk disana.” Lanjut Elsie cekikikkan melihat tampang Bodhi yang kusut. “Belum lagi, kau dipojokkan di dalam sana. Tak ada pilihan lain selain merekatkan diri mu di bawah. Mereka boleh juga. Kasar, tapi tidak buruk.”
Bodhi bertepuk tangan. Dia ingin memuji kami, tapi sebenarnya dia kesal sekali karena dikalahkan oleh murid tahun pertama. Lelaki itu menghela napas panjang, “Sepertinya, salah satu dari kalian akan menjadi calon murid kelas Alpha.”
*