Lixorth

Lixorth
Mathias



    Aku memperhatikan Desmond yang sedang mengepak beberapa gulungan ke dalam satu tas ransel berwarna hitam berukuran sedang dengan sangat hati-hati seakan gulungan itu akan lenyap jika di genggam erat-erat.


    “Kemana kita akan mengirim ini?” aku bertanya.


    “Tempat yang kau suka.” Jawab Desmond berusaha sebisa mungkin menjadi seseorang yang misterius di depan ku. Ada apa dengan mereka semua?


    Pagi ini, Silas memerintahkan ku untuk menemani Desmond memberikan gulungan yang telah kami dapatkan di Amerika. Keduanya enggan membeberkan dengan jelas apa yang hendak aku lakukan atau kemana ini semua akan dikirim. Semenjak uji coba ku dengan Pasukan Keamaan Penyihir, Silas sering memperingati ku akan semua hal. Yang paling menjengkelkan adalah ketika dia memperingati ku untuk segera bertarung dengan sihir alam. Sudah kubilang, kalau begini ceritanya aku akan lebih enggan mengeluarkan sihir itu.


    Desmond berjalan terlebih dahulu keluar dari hotel sambil menenteng sapu terbangnya. Kami berdua berjalan menuju halaman belakang hotel dan mengambil ancang-ancang untuk terbang. Ini siang bolong. Jika kami tidak terbang dengan mantra penyelubung, surat izin kami sebagai penyihir dicabut atau dibekukan dan kami akan dipenjara selama beberapa waktu. Yah, seperti SIM yang digunakan oleh manusia biasa yang akan disita kalau kami melanggar aturan transportasi.


    Kami melayang cukup lama ke arah pulau-pulau yang mendekati Mexico dan Amerika Latin. Desmond sempat berhenti terbang dan melayang menunggu ku sampai aku berada di sisinya. Dia lalu menujuk ke udara kosong.


    “Kau lihat?”


    “Lihat apa?”


    “Itu. Lubang ke dunia sihir.”


    Aku menyipitkan penglihatan ku. Sekilas memang hanyalah awan-awan yang menghiasi langit biru, tidak ada apapun. Tapi, kalau diperhatikan lebih teliti aku memang bisa melihat lubang hitam kecil. Mungkin besarnya sebesar bola mata seseorang. Lubang itu mengeluarkan asap hitam yang langsung hilang ketika menyentuh udara sekitar.


    “Nah, kau lihat, kan? Biasanya lubang sihir bisa dipanggil dengan mantra. Tapi, beberapa memang tersebar di segala tempat. Lubang ini merupakan lubang terbesar menuju dunia sihir sekaligus lubang paling aman. Kenapa? Karena biasanya kalau kau memanggil portal dengan mantra, energi mu akan habis seketika. Itu juga kalau kau bisa mempertahankan lubang itu selama beberapa saat sebelum kau pingsan. Beda cerita kalau kau menemukan lubang sihir yang tersebar acak, tapi untuk menemukannya membutuhkan waktu lama karena lubang itu berpindah-pindah.”


    Aku memutar bola mata ku ketika Demond secara tidak sadar memberikan ku kuliah singkat. Dia memang sering melakukan hal ini. Pernah satu waktu dia berceloteh ini itu tentang gulungan kuno atau tentang sihir di tempat-tempat bersejarah. Kali ini aku memutuskan untuk membalas jasa kuliah gratis ini. “Memangnya lubang ini tidak akan berpindah?”


     “Tidak.” Jawab Desmond. “Lubang-lubang yang memiliki energi sihir sekuat dan sebesar ini tidak akan berpindah. Ini seperti lubang permanen.”


     “Oh,”


    “Omong-omong, kau tahu tidak kalau lubang ini saking kuatnya sering melahap manusia biasa juga?”


    Aku mulai mendengarkan dengan bosan. “Oh, iya?”


    Desmond mengangguk. “Inilah lubang yang manusia sebut sebagai segitiga bermuda.”


    Aku mematung. Wow. Informasi yang baru aku tahu.


    Desmond mengencangkan genggamannya di ganggang sapu sambil melihatku jahil. “Siap?”


    Tentu saja. “Siap.”


    PLOP!


    Rasanya persis sama ketika aku melompat dari lubang beberapa saat lalu. Kali ini tanpa merasa pusing, malahan pikiran ku jernih sekali. Aku bisa melihat burung-burung terbang di langit kelabu, sungai memanjang membentuk garis cantik dibawah sana, hutan lebat dengan suara binatang saling bersahutan, dan….


    “Akademi Lixorth.” Desmond mengumumkan dengan bangga.


     Ya. Aku kehilangan kata-kata. Aku sama sekali tidak berpikir kalau Desmond akan membawa ku kesini. Semuanya diluar perkiraan ku. Tapi, tetap saja aku terperangah. Ini kali pertama aku melihat Akademi Lixorth dengan mata kepala ku sendiri. Seharusnya, sebagai anak dari elit Serikat Sihir Amerika, aku dan Alison mungkin sudah melakukan tour di sini.


    Mustahil. Ayah dan Ibu terlalu sibuk mementingkan Serikat dan mereka menyuruh kami juga untuk fokus belajar di sekolah. Ingatan itu tanpa sadar membuat hati ku bergejolak. Alison. Dia pasti ada di akademi. Mungkin sedang bertarung, belajar, atau bahkan makan dua piring pasta karena stress.


    “Sayang sekali kau tidak tertarik. Padahal akademi ini keren. Aku jamin.” Dia mengangkat jempolnya tinggi-tinggi supaya aku melihat.


     “Kau lulusan Lixorth juga?”


    “Ya.”


     “Kau masuk di kelas apa?”


    “Delta.” Jawab Desmond, senyumnya naik.


    Kelas paling licik. Begitulah cara Ayahku memberi gambaran soal para Delta. Benar juga. Sampai saat ini aku belum melihat dengan langsung kekuatan Desmond. Dia lebih sering menggunakan fisik saja ketika kami dalam perjalanan mengumpulkan gulungan.


    Kami berdua melintasi selubung berpendar yang menjadi selubung pertahanan akademi. Desmond bilang, kedatangan kami telah diketahui oleh Kepala Akademi Riggs dan kami diizinkan masuk. Kalau tidak, kami akan langsung dihajar golem sihir.


    Akademi ini didirikan di perbukitan. Indah sekali melihat keseluruhan kompleks pendidika ini dari atas. Bangunan-bangunan dibangun di tempat-tempat yang berbeda. Ada yang di dekat hutan, sungai, danau, di daerah sedikit gersang, dan gedung pamungkas yang berdiri di paling ujung, diatas bukit paling tinggi, Gedung Utama Akademi Lixorth.


     Akhirnya, kami mendarat di Gedung Utama Akademi Lixorth. Desmond berjalan dengan percaya diri sementara aku harus sibuk menahan rasa kekaguman ku yang berlebihan ini. Kami naik kelantai paling atas menggunakan lift.


     Diatas sini, aku melihat satu ruangan besar dengan tulisan Ruang Kepala Akademi. Di sisi ruangan itu, sang sekretaris Kepala Akademi Riggs duduk sambil meneliti beberapa kertas untuk memastikan kedatangan kami.


     “Profesor Riggs sudah menunggu. Silakan.” Ujar sang sekretaris ramah.


     Desmond membuka pintu besar itu tanpa basa basi. Dia melangkah masuk seakan dia benar-benar kerabat lama Profesor Riggs sedang memberikan kunjungan.


    “Oh, lihat siapa yang datang.” Sapa Profesor Riggs tertawa kecil menyambut Desmond. Wanita itu melambai pada Desmond terlihat senang. Lalu, kedua matanya bertemu dengan ku. Senyumnya perlahan pudar. “Kalau tidak salah, Mathias Bancroft?”


     Aku mengangguk canggung.


     “Selamat datang di akademi, Mr. Bancroft.” Sambut Profesor Riggs kembali ramah. Sikap waspadanya hilang tiba-tiba.


     “Terimakasih.” Balas ku.


    Desmond menaruh ranselnya di meja kerja Profesor Riggs sambil membusungkan dada. “Ini. Profesor menunggu kami mengumpulan ini, kan?”


     “Bagus sekali.” Puji Profesor Riggs melompat kecil kegirangan seraya mengeluarkan gulungan itu satu persatu. Matanya berbinar kagum. Bahkan saat ini, Profesor Riggs mungkin tidak menyadari kehadiran ku dan juga Desmond saking bersemangatnya. “Aku akan memeriksanya sebelum diberikan ke perpustakaan akademi. Ini menyenangkan.”


      “Sama-sama.” Desmond mengangguk-angguk sambil memberikan cengiran lebarnya. Dia pasti sangat bangga terhadap dirinya sendiri mendapat pujian dari Profesor Riggs yang telah menjadi kepala akademi di masa sekolahnya dulu.


    “Omong-omong, bagaimana kabar Silas tua itu? Kudengar kalian jadi kedatangan tamu dari Pasukan Keamanan Penyihir.” Profesor Riggs membuka topik baru. Dia melakukannya dengan amat santai, padahal kata-kata itu bisa saja menyinggung anggota komunitas. Profesor Riggs mengedipkan matanya memerintahkan aku dan Desmond


    “Silas baik-baik saja. Dia awalnya kesal, tapi mau bagaimana lagi.” Jawab Desmond setelah menyeruput teh. Dia sempat mengernyit karena panas teh yang membakar lidah.


     Aku menghela napas. Tidak ada salahnya aku ikut duduk dan bercakap-cakap dengan Profesor Riggs. Lagipula, Desmond tidak ingin buru-buru meninggalkan akademi kebanggannya ini.


     “Kau bagaimana, Mathias?”


     Mata ku dan Profesor Riggs bertemu. Hal ini yang membuat dahi ku mengerut dalam.


    Sejenak, suasana menjadi hening. Aku dan Profesor Riggs hanya saling tatap tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Dia tersenyum simpul berharap aku mau mengobrol dengannya. Sayangnya, aku tidak terlalu tertarik.


    “Hahaha,” Desmond tertawa masam. Dia menepuk punggung ku dengan kekuatannya sampai-sampai aku terbatuk. Sorot matanya memberikan ancaman meskipun mulutnya masih tersenyum. “dia memang tidak sopan, Profesor. Maafkan anak bawang ini.”


     Cih. Siapa yang dia panggil anak bawang?


    “Benar-benar mirip Francis.” Komentar Profesor ikut tertawa. Entah dia memuji ku atau menyindir ku. Kedua kemungkinan itu sama menyebalkannya. “Francis juga punya harga diri yang tinggi, tahu.”


     Aku membuang muka. Ayah memang seperti itu. Maka dari itu dia sama sekali tidak terima ketika aku dan Alison gagal ujian masuk akademi. Kenapa aku harus selalu dibandingkan dengan Ayah?


    “Desmond? Maukah kau menunggu diluar dulu? Ada yang harus kubicarakan dengan Mathias.”


     Hah?


    Bola mata Desmond bergerak meneliti aku dan Profesor bergantian.  Dia mungkin kebingungan dengan apa yang hendak dibicarakan oleh Profesor Riggs dengan ku. Jujur saja, ini semua memang mencurigakan. Lelaki itu akhirnya menghela napas panjang dan beringsut pergi dari ruangan Profesor Riggs.


     “Nah, Mathias, halo.”


     Aku menatapnya tanpa ekspresi.


     “Kenapa kau menatap ku seperti itu, hm? Seharusnya aku yang marah. Kau mengabaikan undangan pribadi ku untuk masuk ke akademi paling bergengsi di Amerika.” Profesor Riggs mengoceh santai. Sesekali dia menyeruput tehnya perlahan, lalu menggoyangkan cangkir searah jarum jam sambil menatap isinya seakan dia bisa menemukan uang.


    “Aku tidak tertarik.” Jawab ku seadanya.


     “Benarkah? Bahkan setelah kau berada dalam jangkauan Serikat Sihir lagi?”


    Mungkin begitu.


     “Bagaimana kalau sekarang? Kau mau bergabung dengan akademi?”


    Lagi?


     “Lihat, kau tertarik.” Profesor Riggs tampak cekikikan. Cepat sekali dia mengambil keputusan. Dia menaruh cangkirnya di meja dan melihatku lebih dekat.


     “Kau melihat sendiri ujian masuk akademi itu. Aku juga telah mendapatkan surat tidak lulus. Kenapa disaat-saat terakhir memutuskan untuk mengundangku?” akhirnya aku membuka mulut mempertanyakan hal yang paling mengganggu ku semenjak aku mendapatkan surat penerimaan mengejutkan diriku.


    “Bagaimana, ya?” kata Profesor Riggs pura-pura berpikir keras. Tapi, dengan cepat dia kembali dengan ekspresi santainya. “Aku menyadari betapa kuat dan langkanya bakat sihir milikmu dan Alison Bancroft. Jadi, kuputuskan untuk merekrut kalian sebelum Serikat bertindak. Sesuai perkiraan ku, mereka baru bisa menyadari bakat sihir kalian beberapa minggu kemudian.”


      “Kau menyadari bakat sihir ku?” aku mengernyit. Heran. Aku tidak pernah menggunakan bakat sihir alam ku dimanapun. Aku melatihnya diam-diam. Malam itu, malam ketika aku berencana kabur adalah kali pertama aku melepaskan sihir alam dengan kekuatan penuh.


    Profesor Riggs mengangguk, mendapat suntikkan semangat. “Tentu saja.”


    “Bagaimana bisa?”


     “Sebut saja sebagai salah satu bakat sihir yang aku kuasai.” Profesor Riggs bersandar sambil menyilangkan kakinya.


    “Lalu, bakat Alison? Sihir apa yang dia miliki selain sihir air?”


    Profesor Riggs tersenyum lebar, seperti wanita gila. Ada apa dengannya?


    “Alison Bancroft? Dia memiliki bakat sihir yang langka. Kau bisa melihatnya nanti. Mungkin.”


    Bahu ku merosot mendengar hal ini. Silas juga pernah memberi tahu ku hal yang sama mengenai bakat sihir langka yang dimiliki oleh Alison. Tapi, apa?


     “Aku berharap kau memikirkan tawaran ku lagi, Mathias. Aku mengerti dengan ambisi mu yang ingin bebas dari bayang-bayang Francis dan Lindsey Bancroft. Tapi, jika kau hanya akan bertahan di komunitas, kau malah semakin dekat dengan mereka.”


    “Memangnya kalau aku memutuskan untuk masuk akademi, apa yang akan kau lakukan pada ku? Bagaimana aku tahu kau juga tidak akan memanfaatkan ku untuk pamer?”


    Tawanya lepas. Dia seperti baru saja mendengar lelucon paling lucu sepanjang hidupnya. Profesor Riggs memegang perutnya dan juga sempat mengusap air mata yang keluar di ujung mata.


     “Apa yang lucu?” geram ku mulai kesal. Wanita di hadapan ku ini memang ramah, tapi dia kelewat aneh. Kesabaran ku juga ada batasnya.


     “Ya ampun. Pikiran mu benar-benar telah dicuci oleh prinsip Francis, ya?” ucap Profesor Riggs bersusah payah mengatakan hal itu sambil menahan tawa. “Pamer? Bukan ide buruk. Nama akademi ini bisa semakin terkenal, kalau begitu.”


    Sudah selesai. Aku menghela napas panjang. Obrolan ini semakin tidak ada artinya. Lebih baik aku menghirup udara segar sambil menunggu jadwal kerja paksa ku dengan Pasukan Keamanan Penyihir nanti.


     “Aku ini Kepala Akademi Lixorth, Mathias. Mengumpulkan dan melatih siswa-siswa yang berpotensi besar menjadi penyihir hebat adalah tugas ku.” Balas Profesor Riggs benar-benar singkat dan padat. Tapi, aku belum bisa memastikan lebih apa sebenarnya yang dimaksud oleh Profesor Riggs.


    Siapa yang tahu dia juga merencakan sesuatu sama seperti Ayah?


    “Ya sudah kalau kau masih belum tertarik,” Kata Profesor Riggs pada akhirnya. “toh aku juga tidak bisa memaksa mu. Semoga berhasil kabur dari belenggu Francis, Mathias.”




*