
“Patroli pertama mu, kan?” Zavier terbang dengan sapunya di sisi ku melintasi langit Chili sambil mencoba mencari topik obrolan. Mungkin sudah lebih dari lima kali Zavier mencoba mencairkan suasana antara aku dan dua Pasukan Keamanan Penyihir lain yang juga ikut melakukan patroli bersama ku dan Zavier.
Aku bergeming tidak menjawab. Melihat pemandangan kota di bawah sana lebih menarik perhatian ku dibandingkan mengobrol dengan Zavier.
“Bancroft sudah melakukan perjalanan singkat dengan komunitas, Zavier. Ini bukan patroli pertamanya.” Jawab anggota Pasukan Penyihir Keamaan yang memakai kaca mata dengan bingkai putih transparan. Lelaki itu berputar sedikit di langit mendahului ku dan Zavier kemudian berpindah tempat ke sisi lain Zavier. “Lihat saja, dia sangat percaya diri.”
"Yah, aku sudah tidak kaget, sih.” Kata Zavier mengangguk-angguk seakan mengerti.
“Dia punya sisi Francis, kan? Tingkat kepercayaan diri itu milik Francis Bancroft.” Lanjut Tedd yang membuat ku ingin melemparnya langsung ke hutan amazon dari langit. Aku bersusah payah menahan emosi itu keluar meskipun sampai harus menggigit pipi bagian dalam.
“Kau benar.” Sahut Zavier yang sekarang malah meneliti raut wajah ku dari samping. Oh, Tuhan.
“Kalian berdua, fokus.” Tegur Joseph dari sisi ku. Akhirnya, seseorang menghentikan obrolan tidak penting Zavier dan Tedd. “Aku mendengar sesuatu dari radio.”
Aku mau tidak mau ikut melihat Joseph yang sedang menyentuh telinganya berusaha membetulkan posisi radio mini yang ia pasang di telinga. Mendengar teguran itu, Zavier dan Tedd tiba-tiba fokus. Pandangan ku beralih dari Joseph kepada Zavier dan Tedd bergantian menunggu instruksi selanjutnya. Ya, karena hanya aku yang tidak
dibekali radio.
“El Morro.” Ucap Joseph tajam hampir bersamaan dengan Zavier dan Tedd ketika menyebut salah satu tempat di Chile. Mereka langsung terbang menukik dengan kecepatan tinggi, tidak repot-repot menyeret ku atau mungkin mengancam ku kalau-kalau aku kabur jika mereka meninggalkan ku begitu saja.
Atau mungkin tidak. Mereka sudah tahu aku tidak akan lari jika ada sesuatu terjadi di depan mata kami. Aku jadi sebal dengan kebiasaan ku yang ini. Aku memaki diri ku sendiri sambil ikut terbang menembus udara malam Chili menyusul ketiga Pasukan Keamaan Penyihir.
Cara mereka bertiga terbang benar-benar menakjubkan. Mereka dengan lincah meliuk-liuk di udara seperti sedang melakukan atraksi terbang dengan sapunya. Belum lagi mereka terbang dengan kecepatan penuh, bagaimana mereka melakukan itu dengan keseimbangan yang luar biasa? Aku bisa melakukan itu karena aku tidak perlu sapu untuk terbang.
Setelah susah payah mengikuti laju gila-gilaan Zavier, Tedd, dan Joseph akhirnya aku bisa melihat tempat yang kami tuju. Sebuah daerah gersang di Chile dengan batuan besar yang menyerupai bukit menjulang membatasi daerah kota dan pantai. Bendera Chili berkibar diatas bukit ditengah deru angin malam.
Di atas bukit itu aku bisa melihat beberapa goblin keluar dan berlarian. Mirip seperti apa yang aku lihat di Machu Piccu. Para goblin itu meneriakkan kata-kata kebebasan sambil berputar-putar dan menari seperti orang gila.
“Itu dia target kita.” Joseph mengumumkan. Kami terbang melayang beberapa meter dari bukit batu berusaha agar keberadaan kami tetap tersembunyi, tidak diketahui para goblin.
“Ya ampun, kenapa belakangan ini goblin sering mencoba kabur?” keluh Zavier.
“Para sipir sepertinya harus diberi pelajaran.” Gumam Tedd seketika tampak bersemangat. Padahal dari tadi dia hanya peduli dengan patroli tidak jelas dan ingin kembali ke pos tanpa harus bertarung dan berkeringat.
“Para goblin itu lincah, beberapa dari mereka bisa mengeluarkan lendir seperti cairan asam.
Hati-hati.” Nasihat Joseph meneliti kami satu-persatu. Aku paham, Joseph sebenarnya hanya ingin memperingati ku saja. Zavier dan Tedd tidak perlu diberi nasihat seperti pemula.
Zavier dan Tedd memegang sapunya erat sampai-sampai aku bisa melihat urat nadi mereka menyembul ke permukaan kulit. Melihat semangat yang berkobar ini entah kenapa aku pun jadi ikut bersemangat. Aku memposisikan diri ku di ujung barisan, di sisi Joseph. Pandangan ku tertuju pada sembilan goblin yang bebas dengan fokus.
“Maju.” Joseph memberikan perintah dengan nada suara yang biasa saja. Tidak lantang seperti Silas sewaktu kami memburu goblin di Machu Piccu. Tapi, hanya dengan perintah pendek itu, Zavier dan Tedd melesat dengan kecepatan luar biasa ke arah puncak bukit. Aku mengekor di belakang maju tak kalah cepat dengan mereka.
Pertama aku melihat Zavier melesat sangat sangat cepat sampai aku sama sekali tidak bisa melihat pergerakan lelaki itu. Aku harus menahan diri ku agar tidak membuka mulut dengan bentuk O besar saking kagumnya. Zavier memiliki bakat sihir kecepatan super. Sebenarnya, ada sihir yang bisa membuat diri kita sendiri lebih cepat dua kal lipat, lebih kuat dua kali lipat, lebih tajam dua kali lipat, tapi hal itu bisa menguras tenaga besar-besaran dan ada batas waktu sampai kecepatan mu kembali ke semula. Kecuali memang para penyihir yang dianugerahi bakat kecepatan.
Tedd terkekeh melihat ekspresi melongo yang aku tunjukkan. Aku pasti terlihat bodoh. Tedd meregangkan lengannya dulu kemudian dia juga melesat maju. Aku menggeleng cepat berusaha membuang sikap bodoh ku itu dan ikut terbang mengikuti mereka.
Aku memfokuskan pandangan ku pada keadaan diatas bukit, sesekali aku juga mengekor pergerakan Tedd yang juga terbang lincah tanpa sihir percepatan.
Wushh!
Aku melongo. Pergerakan ku juga berhenti. Apa-apaan?
Tidak bisa dipercaya. Tedd yang semula terbang di depan ku, tiba-tiba tubuhnya menguap hilang perlahan menjadi asap dan keberadaannya lenyap ditengah langit malam.Bagaimana aku tidak kaget melihat hal itu di depan kepala ku sendiri?
“Fokus, Bancroft!” teriakan Joseph membuyarkan rasa kaget ku dengan perubahan tubuh Tedd. Dia terbang melintasi ku dan menukik ke arah pertempuran lalu menembakkan bola api besar.
Benar. Ini bukan saatnya aku malah terperangah melihat kekuatan sihir Pasukan Keamanan Penyihir. Sudah sepantasnya mereka memiliki sihir sekuat ini. Sebenci-bencinya aku dengan tugas ini, tapi aku tetap harus mematuhinya.
Setelah mendapatkan kesadaran ku kembali, akuburu-buru ikut dalam pertarungan. Aku terbang menembus asap tebal yang muncul karena ledakan bola api yang dikirim oleh Joseph. Dua goblin terkapar sedikit
gosong, Joseph melayang tak jauh dari mereka sambil meneliti keduanya.
Aku memeriksa keadaan sekitar, sekitar lima goblin masih berlarian tampak panik. Tedd tak ada dimanapun, lebih tepatnya aku tidak bisa melihat lelaki itu sama sekali. Begitupun dengan Zavier yang mungkin sedang melesat entah kemana.
“Tangkap mereka, Mathias. Keluarkan sihir mu.” Ujar Joseph tak bergerak satu senti pun dari tempatnya.
Aku terbang pelan diatas lima goblin yang tengah merencanakan sesuatu sambil berlari kecil menjauh dari aku atau Joseph. Ini terlalu sepi. Kemana Tedd dan Zavier? Bukannya mereka seharusnya membantu menangkap goblin ini? Sebelum melakukan serbuan, aku dengan jelas melihat ada sembilan goblin yang kabur. Dua telah dilumpuhkan Joseph dan lima ada di depan mata ku. Lalu, Zavier atau Tedd hanya memiliki dua sisanya?
Dan lagi, tembakan Joseph itu besar sekali. Mustahil jika hanya dua goblin yang tumbang.
“Cepat, Mathias! Jangan sampai mereka malah balas menyerangmu!” bentak Joseph dari tempatnya. Ada nada mendesak dari seruan Joseph. Aku mengerti, memang seharusnya aku menyudahi pemburuan malam ini dengan cepat, sebelum malah jadi boomerang untuk ku sendiri. Tapi, ini aneh.
Satu pikiran terlintas di otakku. Sebuah jawaban. Kenapa aku tidak berpikir ke sana?
Aku pun terbang beberapa meter lebih tinggi sampai goblin itu menyerupai titik di mataku. Kemudian, aku menukik turun dengan kecepatan tinggi. Wajahku tertarik ke belakang dan air mataku juga perlahan muncul di sudut mata saking cepatnya aku melesat.
Lambat laun aku bisa melihat keseluruhan bukit. Joseph masih ditempatnya menahan dua goblin sambil memperhatikan ku. Kelima goblin yang menjadi target ku masih berdiskusi sambil berlari tergopoh-gopoh mencari jalan turun dari bukit selain loncat.
Setelah cukup dekat, aku mengayunkan lengan kanan ku seperti sedang mengibaskan lalat ke udara kosong.
WOOSH!
Angin besar yang aku panggil dengan sihir elemental ku muncul menghalau semua yang ada di depannya. Aku mendengar pekikan para goblin yang terhempas ke segala arah secara bersamaan kecuali satu goblin yang berhasil bertahan. Goblin itu tidur menelungkup seakan dia bisa memeluk tanah pijakannya, tapi dia berhasil menghindar dari hembusan angin yang aku kirim.
Sebentar, aku harus mengurus empat goblin yang terlempar sihirku terlebih dahulu. Dengan cepat, aku meneliti keadaan sekitar. Dua goblin sedang berteriak karena jatuh dari bukit sedangkan yang lainnya berguling-guling di tanah. Aku mengirimkan putaran angin kecil ke arah dua goblin yang tengah terjun sehingga mereka kembali diterbangkan ke arah ku.
Tanpa buang banyak waktu lagi, aku mendorong dua goblin lain yang menghantam batuan ke arah yang sama. Kelima goblin yang telah aku kumpulkan meringis kesakitan. Tak lupa mereka juga melemparkan makian dan umpatan pada ku yang dengan mudahnya memisahkan mereka berlima bersamaan. Aku pikir mereka akan langsung balas menyerangku begitu saja, tapi ternyata tidak. Mereka malah mengelus-elus bagian tubuh mereka yang bonyok karena hantaman. Malahan, dua goblin yang hampir mati karena terjun bebas tengah melongo dengan tatapan kosong.
“Aku sudah menangkap mereka. Lalu, apa?” tanya ku setengah berteriak sambil menoleh ke arah Joseph yang berdiri tak jauh dari tempat ku mengumpulkan para goblin ini.
“Jangan dulu senang, Nak. Kami tak akan kembali ke penjara bau itu.” Bentak salah satu goblin. Suaranya serak dan dalam. Aku berbalik dan mendapati si goblin yang tidak terhempas kemana-mana itu bangkit sambil bersiap dengan kuda-kuda anehnya.
Mau apa dia? Apakah dia termasuk goblin yang bisa memuntahkan lendir itu?
Untuk berjaga-jaga, aku kembali melayang beberapa meter diatas para goblin yang aku tangkap. Kelihatannya mereka semua telah sembuh dari rasa shock dan panik karena mereka tiba-tiba bersemangat. Aku hanya membalasnya datar.
Aku mengepalkan tangan dan mengumpulkan sihir anginku disana. Putaran angin mulai terlihat di tinju ku. Semakin lama semakin besar. Si goblin tampak sedikit waspada melihat pergerakan ku. Dia hampir saja memilih untuk kabur sebelum salah satu dari mereka tampak meyakinkan sisanya dan memerintahkan untuk balas melawan ku.
Putaran angin besar membuat tinju ku sedikit berat. Aku mengangkatnya perlahan sambil tersenyum kecil. Wajah para goblin itu tiba-tiba pucat. Entah apa yang mereka rencanakan sebelumnya, tapi sekarang mereka lebih memilih untuk diam dan pelan-pelan kabur.
“Mau kemana kalian?” aku berujar dengan suara yang bisa mengalahkan deru angin. Ternyata bertarung menggunakan sihir elemental ku lumayan menyenangkan. Aku tidak terlalu ingin menggunakan bakat ini sejujurnya. Rasanya menyebalkan saja bertarung dengan bakat yang sama dengan Ayah.
Aku menyesuaikan posisi ku sehingga aku tepat melayang di atas mereka.
BOOM!
Tinju bertekanan angin tinggi akhirnya ku lepaskan dan menghantam telak para goblin itu. Samar-samar aku mendengarkan teriakkan para goblin yang benar-benar sudah pasrah menerima situasi yang mereka hadapi. Angin kencangku berakhir tiga puluh detik kemudian. Pandangan ku kabur karena pasir batuan yang berterbangan.
“Begitu saja?” suara Tedd terdengar di telinga ku. Lantas, sosok Tedd perlahan muncul menjadi padat dari ujung kakinya hingga kepala. Dia memeriksa aku sebentar lalu beringsut mendekati para goblin. Aku membelalak. Sebuah lubang kasar terbentuk disana yang sama sekali tidak aku sadari. Aku membuat lubang di bukit batu? Wow, hebat juga. Di dalamnya, kelima goblin terbaring tak sadarkan diri dengan penampilan sangat-sangat tidak baik.
“Kemana saja kau?” aku berujar padanya kesal.
Tedd mengalihkan pandangannya pada ku. “Kau tidak menggunakan sihir mu yang langka itu? Kenapa? Ini terlalu mudah untuk mu?”
Sudah kuduga. Mereka memang sengaja membuatku membereskan para goblin ini karena mereka ingin melihat sendiri bakat sihir alam ku. Beginikah cara mereka menilai kemampuan ku? Tahu tidak, ini malah membuatku semakin dongkol. Semakin mereka menginginkan aku mengeluarkan sihir itu, semakin aku tidak ingin mengeluarkannya. Kalian bisa sebut aku bandel, tapi itu memang menyebalkan.
“Lumayan.” Zavier tiba-tiba muncul sambil menenteng dua goblin di tangan kanan dan kirinya. Dia mengamati sekilas sebelum mengangguk-angguk dan melemparkan dua goblin yang ia bawa ke tanah.
“Sepertinya yang tadi terlalu mudah.” Sekarang Joseph yang menyahut. Lelaki itu juga berderap mendekat. “Saking mudahnya sampai-sampai Mathias Bancroft lebih memilih untuk menyelesaikan ini semua dengan sihir elementalnya yang lemah.”
Ha-ha.
Terimakasih atas sindirannya.
*