
Waktu berjalan dengan cepat. Sangat-sangat cepat malah. Singkatnya aku berhasil hidup setelah bertahan dan sampai di Ujian Akhir Semester. Tidak ada hari tanpa sihir dan buku usang. Ujian praktik pun benar-benar melelahkan. Aku bisa selesai dalam keadaan hidup saja aku sudah senang.
Ujian Akhir Semester telah selesai dilaksanakan begitu juga dengan ujian perbaikan. Hari ini, satu minggu sebelum tahun baru, artinya adalah hari dimana nilai kami diumumkan.
Sudah lebih dari satu jam aku dan teman-temana angkatan ku menunggu di aula Gedung Utama Akademi Lixorth. Para siswa angkatan atas pun juga berada di sini berkumpul dengan teman sekelasnya dan tampak antusias menunggu pengumuman peringkat ini. Ya, kecuali anak-anak kelas Omega. Mereka semua sibuk bercanda dan bergurau, bahkan beberapa anak kelas Delta dan Beta tidak berhenti menegur dan membentak mereka agar diam.
Akhirnya, setelah menunggu cukup lama Master Elliott sebagai guru kesiswaan datang ke aula memakai pakaian formal. Aku hanya bisa bertemu beberapa kali dengan Master Elliott, biasanya dia akan muncul di acara acara penting akademi atau jika memang aku dalam hukuman.
“Hari ini adalah hari pengumuman peringkat,” umum Master Elliott tanpa basa-basi. Seluruh aula langsung senyap meskipun tidak ada teguran khusus untuk diam. Aura mengerikan milik Master Elliott memang diatas rata-rata. Sorot matanya mengintimidasi. “Langsung saja kita mulai. Kalian semua telah melalui semester pertama dengan baik. Berikut peringkat semester pertama para siswa tahun kesatu.”
Layar proyektor tiba-tiba menyala. Disana tertera peringkat 70 siswa tahun pertama dari peringkat paling atas hingga peringkat akhir. Mata ku membesar mencari dengan cepat diperingkat mana nama ku tertulis. Suara bisikan mulai terdengar dari para siswa senior, tentu saja bagi mereka kami hanyalah anak bawang. Lagipula, selain peringkat, disana juga tercantum hasil nilai rata-rata kami. Jadi, memang benar, ini memalukan karena harus disaksikan oleh para senior juga.
Aku berhitung dalam hati seraya melihat setiap peringkat dari atas sampai akhir.
Tidak ada.
Deg
Kenapa? Tunggu. Aku harus memulai lagi. Kepala ku mendongak otomatis untuk kembali menghitung dan meneliti dengan cepat setiap nama siswa yang tertera di sana. Satu sampai dua puluh. Tiga puluh sampai lima
puluh. Enam puluh sampai….. tunggu. Sampai enam puluh sembilan? Nama ku tidak ada. Mustahil. Kenapa? Aku memang tidak ahli dalam praktik sihir, tapi nilai akademik ku seharusnya baik-baik saja. Dan lagi, aku tidak terlibat dalam pelanggaran peraturan yang fatal selain telat pada saat orientasi di Kastil Beta.
“Alison, nama mu?” Helen berbisik di telinga ku yang membuat ku merinding.
“Eh? Bukannya angkatan kita ada 70 siswa?” teman ku ikut menanggapi sambil menoleh pada ku beberapa kali memastikan kalau aku masih seorang murid di akademi.
“Aku harus protes,” gumam ku sambil mengepalkan tangan. Tanpa sadar aku bangkit, amarah ku naik seketika. Ini tidak adil.
Savanna yang duduk di samping ku menarikku dengan cepat, sangat cepat sampai-sampai aku pantat ku menghantam kursi. “Tunggu dulu.”
“Nama ku tidak ada.” Geram ku mencoba melepaskan genggaman tangan Savanna yang ternyata sangat kuat. Dimana dia menyembunyikan kekuatan fisiknya?
“Aku tahu, tapi jangan gegabah. Mungkin ada alasannya. Tunggu dulu saja.”
“Ada alasannya? Bagaimana kalau alasannya adalah aku tiba-tiba saja dikeluarkan dari akademi? Padahal aku, kan, tidak melakukan pelanggaran berat!” pekik ku mulai tidak sabaran. Jangan salahkan aku kalau aku pemarah karena yang ada dalam otakku adalah siluet Ayah dan Ibu yang kecewa dan menarikku dengan paksa pergi ke Norwegia. Kalau aku di keluarkan dari akademi, Norwegia mungkin bisa jadi kenyataan. Akademi sudah tidak menjamin keadaan ku.
“Justru karena itu.” Lanjut Savanna tanpa ekspresi, meskipun begitu nada suaranya benar-benar tenang. “Kau tidak melakukan pelanggaran fatal, pasti ada alasan lain. Tenang dan tunggu saja.”
“Peringkat pertama, Lenna Roberts, Kelas Umum dengan nilai rata-rata 97.” Master Elliott malah melanjutkan tugasnya dengan wajah seram itu tanpa menyadari kalau nama ku tidak ada. Bagaimana bisa dia tidak menyadari apapun?
Gemuruh tepuk tangan terdengar. Di daerah tempat duduk anak-anak tahun pertama aku juga mendengar sebagian dari kami memberikan selamat pada Lenna atas prestasinya ini. Aku, sih, tidak mau. Lagian, kenapa nama ku bisa hilang?
“Selamat, Savanna. Kau ada di peringkat ke dua.” Helen menyodorkan lengannya memberikan ucapan dengan sedikit formal. Savanna menerima menjabatnya sambil tersenyum kecil. “Aku pikir aku berada di dua puluh besar. Huft.”
“Peringkat dua puluh enam juga tidak buruk,” sahut Savanna lagi.
Aku menggerutu. Nilai ku bagaimana?
Layar berganti. Sekarang suasana kembali sunyi dengan sendirinya. Inilah yang ditunggu-tunggu. Sekarang adalah pengumuman para siswa tahun kedua. Peringkat yang mereka dapatkan memberikan bonus poin untuk setiap kelasnya. Aku yakin banyak siswa kelas Alpha yang menduduki peringkat atas dengan begitu posisi Alpha di puncak akan sulit digeser atau dijatuhkan.
Muncullah nama-nama para siswa tahun kedua beserta asal kelas dan nilai rata-rata yang di dapatkan. Kali ini suasana aula semakin ramai. Mereka saling tunjuk sambil melihat peringkat yang terpampang di layar.
“Peringkat pertama, Itzel O’Shea, Kelas Alpha dengan nilai rata-rata 98.” Master Elliott membuka suaranya.
Kalau tidak salah, Itzel O’Shea merupakan salah satu siswi tahun kedua yang pernah memberikan kami tutor singkat ketika orientasi di Manor Alpha beberapa waktu lalu. Berkat nasihatnya, grup belajar di angkatan kami pun terbentuk. Memang sih, hanya keempat orang-orang itu saja yang tidak pernah bolos belajar bersama. Siswa lainnya satu persatu meninggalkan grup belajar setiap minggunya.
“Peringkat terakhir, Vance Salvador, Kelas Omega dengan nilai rata-rata 65.” Lanjut Master Elliott. Otomatis pandangan ku mengarah pada tempat duduk para siswa kelas Omega dan penasaran bagaimana reaksi yang akan mereka tunjukkan, tapi ternyata mereka malah cekikikan. Beruntungnya, Master Elliott tidak mengumumkan dengan
Eh? Bukannya aku, ya? Aku tidak ada dalam peringkat, otomatis aku pasti berada di urutan paling akhir.
“Dengan ini Kelas Alpha mendapatkan bonus poin 100 dan Kelas Omega pengurangan poin 100.”
Penambahan poin 100 dan pengurangan poin 100? Wow, perbedaannya cukup besar.
Layar kembali berganti dan kali ini menunjukkan perolehan nilai dari para siswa tahun ketiga. Aku berusaha menyipitkan mata ku melihat urutan peringkat para senior tahun ketiga.
“Peringkat pertama, Maximillian Payton, Kelas Aplha dengan nilai rata-rata 97.”
Wow, senior yang ikut memberikan pertunjukan singkat ketika orientasi, Max. Dia memiliki bakat sihir api yang luar biasa.
“Peringkat terakhir, Valeria Brooker, Kelas Delta dengan nilai rata-rata 60. Dengan ini, Kelas Alpha mendapatkan bonus poin 100 dan Kelas Delta pengurangan poin 100.”
Kali ini aku mendengar pekikkan kekecewaan dari para siswa kelas Delta, sementara anak-anak Kelas Alpha hanya bertepuk tangan dengan ekspresi wajah sangat-sangat biasa. Sepertinya memang bagi mereka mengambil alih peringkat pertama tidaklah sulit.
“Dan untuk tahun terakhir, peringkat pertama, Luciano Carlyle, Kelas Beta dengan nilai rata-rata 99. Peringkat terakhir, Javion Litton, Kelas Beta dengan nilai rata-rata 68.”
“Wih, tidak kusangka kelas Beta bisa mendapatkan kedua gelar itu.” Helen berujar sambil manggut-manggut sangat amat tertarik melihat peringkat senior kami.
Setelah itu, layar kembali berganti memperlihatkan perolehan poin dari setiap kelas. Di posisi pertama tentu saja Alpha memimpin, kemudian Beta, Gamma, Delta, dan Omega di peringkat paling akhir. Yap, sesuai dengan apa yang diharapkan.
Master Elliott tampak memberikan instruksi kepada para siswa untuk tidak segera meninggalkan aula dan kembali tenang di bangkunya masing-masing. Beberapa dari mereka, khususnya para senior tingkat keempat yang mengeluh ingin segera meninggalkan aula. Aku dengar mereka mulai berlatih untuk ujian akhir kelulusan di semester depan.
“Harap kembali duduk, acara belum selesai.” Master Elliott untuk ketiga kalinya memberikan arahan yang kali ini cukup keras sehingga tidak lagi ada protes yang keluar dari siswa tahun keempat. Setidaknya, bentakkannya berhasil membungkam khalayak. “Masih ada beberapa pengumuman yang akan disampaikan. Pertama, para siswa tahun keempat, pelaksaan tugas akhir kalian akan dimulai dari liburan tahun baru sampai satu semester kedepan dan akan dilanjutkan dengan Ujian Akhir Kelulusan. Pastikan kalian telah menemukan para guru yang akan memberikan proyek tugas akhir sesuai dengan bakat dan kemampuan sihir kalian.”
Kedengarannya merepotkan.
“Lalu, pengumuman selanjutnya,” Master Elliott melanjutkan. Kemudian, layar kembali menyala. Untuk sesaat, aku pikir Master Elliott akan memberikan semacam video ucapan selamat kepada Kelas Alpha yang selalu mendapat peringkat paling atas. Tapi, tidak. Layar pun menampilkan foto seorang gadis di sana.
Aku membelalak. Oh, Tuhan. Itu foto ku.
Aku otomatis menunduk. Apa ini? Mereka dengan jelas-jelas mengusirku dari akademi atau apa?
“Alison Bancroft, Kelas Umum, ditransfer ke Kelas Omega dibawah kepemimpinan Agustin Brewster.”
HAH?
Aku yakin semua dari kami yang ada di aula berseru kaget. Dengan cepat pandangan ku mengarah pada Master Elliott yang berdiri di tengah sana dan melihat tepat ke arah ku. Aku merasa sedang diterjun bebaskan dengan paksa. Panik.
Suasana hening cukup lama. Yah, menurutku ini cukup lama. Bahkan aku merasa waktu seperti berhenti begitu saja. Bagaimana bisa? Nilaiku? Mana mungkin aku berada diatas Lenna Roberts, kan? Lagi pula ini baru semester pertama, biasanya penempatan kelas dilakukan di awal tahun kedua. Setidaknya aku harus menempuh satu semester neraka dulu sebelum ditentukan. Meskipun memang aku masuk di kelas paling rendah, tapi tetap saja.
Lalu, layar berganti. Disana menampilkan sebuah foto lagi, kali ini foto seorang lelaki. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas karena otakku sedang dalam keadaan benar-benar tidak bisa dikontrol.
“Siswa baru atas nama Mathias Bancroft, ditempatkan di Kelas Alpha dibawah kepemimpinan Octavius Kyle.”
HAH?!
*