Lixorth

Lixorth
Alison



    Tanah berguncang hebat. Perlu beberapa saat sampai aku benar-benar kembali ke alam nyata setelah berpetualang di alam mimpi. Aku membuka mataku lebih lebar setelah benar-benar memiliki kesadaran seratus persen.


    Kasur ku bergeser hampir ke tengah ruang kamar dan meja belajar ku berbalik arah hampir menabrak laci ku yang jatuh ke lantai. Ini gempa bumi.


     “Oh, tidak! Kita terlambat!” saat itu teriakan Helen yang sepenuhnya menyadarkan aku akan apa yang terjadi pada kami pagi ini. Gadis itu melompat turun dari kasur, berusaha berjalan ditengah kacaunya situasi, dia menggapai semua barang yang bisa dijadikannya pegangan meskipun dia tetap akan jatuh lagi gara-gara gempa


bumi ini.


    Dari ujung mata ku, Savanna tampak pucat dan panik. Aku ingin tertawa dan mengejeknya. Sungguh. Dia selalu berpenampilan paling rapi, terstruktur, rajin, dan tenang, tapi sepertinya imejnya yang itu harus dilupakan terlebih dahulu. Kalau bukan karena situasi segenting ini, aku pasti sudah benar-benar mengolok Savanna sekarang.


    Aku pun bangkit dari kasur dan berjalan perlahan memegang dinding kamar untuk menopang ku melewati gempa bumi yang menyebalkan ini menuju kamar mandi.


    “Helen! Aku mengerti! Hentikan gempa ini.” Jerit Savanna liar sambil mengetok pintu kamar mandi berkali-kali. Helen? Benar juga. Sihir elementalnya adalah tanah. Kenapa tidak terpikirkan oleh ku?


    Gempa bumi berangsur berhenti, tapi tetap saja tidak menghentikan kepanikkan kami. Savanna masih berteriak seperti orang gila dan aku harus menunggu giliran mandi setelah Si Putri Rajin yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam. Sial.


     Helen membuka pintu kamar mandi dan sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk. Dia telah


memakai seragam, menyematkan syal bahu warna putih dengan lambang Akademi Lixorth di belakangnya—atribut orientasi—dengan rapi. Tidak mau menunggu lagi, Savanna mendorong Helen dari pintu kamar mandi dan buru-buru masuk, tak lupa dia pun menghentakkan pintu kamar mandi tepat di depan muka ku. Anak itu cari mati dengan ku.


    “Bagaimana ini? Kau mandi setelah Savanna.” Ujar Helen melihatku dengan sorot mata khawatir.


     Aku mendesah pasrah. “Ya mau bagaimana lagi?”


    “Ini pasti gara-gara latihan fisik dengan Instruktur Snowden kemarin. Kita semua benar-benar tidur seperti orang mati.”


    Aku mengangguk setuju dengan pernyataan Helen. Mata pelajaran Latihan Fisik memang benar-benar menguras tenaga. Apalagi jika guru yang mengajar adalah Instruktur Snowden. Aku mengerti sekarang kenapa banyak senior yang takut jika harus berurusan dengan beliau. Bisa-bisa kau berakhir di klinik akademi.


    “Wow. Kamar kita hancur.” Helen melompat kecil ke sisi ku sambil membawa ransel berwarna coklat susu. Matanya memindai seisi ruang tengah yang berantakan.


    Aku memutar bola mata. “Kalau kau tahu hasilnya akan jadi seperti ini, kenapa kau harus membangunkan kami dengan gempa bumi, huh?”


    Helen mengerjap dan melihat ku bingung. “Eh? Aku?”


    “Ini ulah mu, kan? Sihir elemental ku air sementara Savanna angin, siapa lagi jika bukan kau?”


    Gadis itu buru-buru menggeleng dengan cepat. “Bukan aku.


     “Lalu?”


     Pintu kamar mandi dibuka dan lagi-lagi dengan hentakan. Savanna keluar dari sana. Meskipun dia telah berpakaian rapi, tapi wajahnya kusut. Dia menyenggol ku dengan bahunya lalu beringsut ke arah kamar bersungut-sungut.


     Ya ampun. Ingatkan aku, jika nanti kami terlambat lagi, aku akan mengguyurnya dengan sihir air ku dan langsung membawanya ke kelas. Dia perlu mandi instan, kan?


    Sebelum amarah ku bergejolak lebih lanjut, aku melompat masuk ke kamar mandi dan dengan secepat kilat membersihkan tubuh ku. Beruntungnya, aku masuk setelah Savanna dan keadaan kamar mandi kembali rapi. Aku yakin ketika Helen masuk pertama kali, suasana disini pun sama kacaunya dengan seisi asrama.


     “Bukan ulah mu?” pekik Savanna lagi, suaranya naik membuat telinga ku sakit. Belum sampai tengah hari dan Savanna sudah berteriak sebanyak sepuluh kali.


    “Bukan.” Jawab Helen dengan ketenangan yang luar biasa, padahal di depannya adalah Savanna yang sedang dalam mode marah. “Mungkin salah satu senior? Atau guru? Profesor?”


    “Ayo.” Aku memotong perdebatan mereka dengan membuka pintu kamar bersiap akan pergi. Kedua teman sekamar ku melihat ku dan langsung bangkit bersiap untuk pergi meninggalkan kamar.


    Pagi yang sangat merepotkan dan melelahkan. Kami baru saja selamat dari latihan fisik bak neraka kemarin dan inilah yang kami dapatkan di pagi hari. Tentu saja, kami salah. Bagaimana pun juga kami tidak boleh melanggar aturan sekolah. Humph.


     “Kepada siswa tahun pertama yang terlambat atas nama Helen Crowfield, Savanna Claire, dan Alison Bancroft segera melapor di Kastil Beta.”


    Suara menggema mikrofon terdengar di seluruh penjuru asrama putri. Langkah kaki kami terhenti bersamaan dan kami bertiga saling lirik. Aku merasakan keringat mulai jatuh di pelipis ku, padahal aku baru saja mandi. Helen dengan ekspresi kosongnya hanya mengangkat bahu sementara Savanna mulai panik. Dia berlari terbirit-birit


meninggalkan aku dan Helen di koridor. Aku mengaduh pelan dan menarik Helen untuk mengejarnya.


    “Kenapa, Savanna?” tanya Helen sedikit berteriak di belakang teman sekamar ku itu.


    “Memalukan.” Umpat Savanna. Aku hanya melihat rambutnya yang memantul-mantul ketika dia berlari, tapi aku yakin seratus persen kalau wajahnya merah mendidih.


    “Apa yang memalukan? Karena kita telat?” jawab Helen polos.


    “Pengumuman itu. Para senior juga memberitakan pengumuman itu di seluruh gedung dan bangunan akademi, bukan hanya di asrama putri. Sekarang, semua senior dan guru tahu. Ah, memalukan.”


      Aku menelan ludah. Berarti murid-murid yang berada di Manor Alpha kemarin dan ruang-ruang kelas lain juga tahu? Kalau begini ceritanya, semakin menutup kemungkinan aku akan diterima di Kelas Alpha.


    Di depan gedung asrama putri, satu kapsul terparkir disana. Kapsul ini lebih sederhana dibandingkan dengan kapsul yang membawa ku ke akademi atau yang mengantarkan ku ke Gedung Utama Akademi Lixorth.


    Tanpa basa-basi, kami masuk ke kapsul dengan terburu-buru. Helen bahkan hampir tersangkut di pintu kapsul. Kapsul ini sepertinya sudah diberi sihir atau entahlah apa, jadi ketika kami sudah masuk, kapsul ini langsung terbang dan melanju dengan cepat ke sisi barat kompleks pendidikan akademi.


     Butuh sekitar mungkin dua sampai tiga menit sampai kapsul berhenti dan mendarat di tempat tujuan kami. Aku mematung. Ini keren sekali. Markas Beta tampak anggun sekaligus gagah seperti kastil-kastil era romawi berwarna soft pink. Terdapat jembatan besar yang dibangun diatas sungai kecil mengalir yang memisahkan jalanan setapak dan markas. Gemercik air sungai di bawah sana benar-benar menenangkan pikiran ku, membuat ku lupa betapa kacaunya pagi hari yang aku lewati.


     “Ah, murid tahun pertama yang telat.” Suara kecil riang terdengar. Aku mengerut. Tak ada siapapun di depan ku. Aku menoleh kesana-kemari berusaha mencari sumber suara. Helen lah yang menghentikan gerakan rusuh ku dengan menepuk bahu dan menujuk langit.


    Aku menengadah. Seorang gadis berambut pendek bob berwarna coklat keemasan terbang di atas kami. Gadis itu mengirapkan sayap keperakan yang berkilauan dari balik punggungnya. Baru kali ini aku melihat langsung penyihir dengan bakat terbang. Bukan terbang karena sihir angin, tapi benar-benar terbang karena mereka memiliki sayap. Di bahunya aku bisa melihat pin berbentuk simbol Beta berwarna perak berkilauan.


     “Kalian suka dengan ucapan selamat pagi yang kami kirimkan?”




*