
“Aku apa?” aku yakin aku berteriak cukup kencang karena kedua wanita di hadapan ku otomatis mundur menjauh bersamaan.
“Ya, Miss Bancroft. Kau diterima di Akademi Lixorth. Kami disini akan menjemputmu langsung ke sana.” Jawab salah satu wanita berambut pirang yang diikat buntut kuda sambil tersenyum canggung.
“Bagaimana bisa? Aku gagal ujian masuk. Aku bahkan sudah mendapatkan surat resmi dari akademi.”
“Soal itu, kau bisa tanyakan langsung pada Kepala Akademi Riggs.”
Wanita berkulit kecoklatan yang satunya hanya mengangguk-angguk tanpa menambahkan pernyataan temannya.
“Nah, sekarang ayo. Hari pindah asrama hanya dilakukan satu hari yaitu kemarin, tapi karena kondisimu khusus, pihak akademi memberikan mu izin. Ayo.”
Aku menelan ludah. Ini pasti kesalahan. Aku jelas-jelas menerima surat hasil ujian masuk yang memiliki cap resmi dari Akademi Lixorth. Ayah dan Ibunya membacakan hasil keputusan keras-keras di ruang tengah dan jelas sekali kalau aku tidak lulus. Apa ini?
“Miss Bancroft? Ayo, kita harus pergi sekarang juga. Rumah mu hancur kemarin malam, kan? Tidak apa-apa, kau tidak perlu membawa barang apapun. Kau bisa berbelanja nanti.”
Wanita berkulit kecoklatan melirik jam tangannya, “Eve, satu jam lagi upacara dimulai.”
“Upacara?” tanya ku buru-buru menimpali.
Wanita yang bernama Eve itu tersenyum paksa, “Ya. Upacara penerimaan murid baru dan kau harus hadir. Ayolah, kita bisa terlambat dan aku tidak mau dapat hukuman membersihkan kandang kuda oleh Instruktur Snowden.”
“Tunggu-tunggu, bagaimana dengan Ayah dan Ibu?”
“Jangan khawatir. Mr. dan Mrs. Bancroft sudah tahu kami akan datang menjemputmu.”
Aku diam sejenak, mengingat hal yang seharusnya ku ingat. Aku membelalak. “Oh! Dan, Mathias? Dia juga pasti lulus, kan?”
Eve menggeleng. “Sayangnya hanya nama mu yang dapat surat rekomendasi dari Kepala Akademi Riggs.”
Apa? Ini tidak adil. Dia juga seharusnya mendapatkan surat rekomendasi itu. Lagipula, apa yang ku lakukan sampai-sampai aku dinyatakan lulus?
Eve yang sudah tidak sabar langsung menarik lengan ku keluar dari kamar Yara. Ya, semalam aku langsung diungsikan ke rumah Bibi Jane sementara Ayah dan Ibu langsung pergi ke Gedung Serikat Sihir Amerika untuk mendiskusikan perkara mammoth misterius itu.
Kami bertiga berlari menuju pekarangan belakang rumah Bibi Jane. Eve lalu bersiul seperti sedang memanggil sesuatu. Tiga detik kemudian, sebuah kapsul berbentuk lingkaran tampak terparkir rapi disana. Sihir selubung transparannya mulai rontok satu persatu dari depan sampai belakang. Aku menganga. Wow. Aku tidak pernah melihat kapsul sihir berteknologi tinggi seperti ini. Ayah tidak pernah ingin membeli hal semacam ini karena dia bisa terbang, sementara Ibu masih menjungjung tinggi nilai sihir tradisional dengan menggunakan sapu.
Wanita berkulit coklat melompat masuk ke kursi pengemudi dan mulai mengatur panel-panel yang ada disana. Eve menarikku masuk dan memerintahkan ku duduk di kursi belakang. Aku menurut sambil memasang sabuk pengaman. Mereka berdua tampak mendiskusikan sesuatu soal arah dan lompatan-lompatan yang akan kami lewati. Aku merasa sedang berada di dalam film star wars.
Akhirnya, kami pun terbang.
Aku memperhatikan aula yang sudah diisi oleh lebih dari 50 murid baru berlomba-lomba duduk di kursi paling depan dekat dengan podium megah di ujung ruangan yang telah dihias oleh lampion, kursi-kursi megah nan mewah, juga disandangkannya kelima bendera dengan warna dan simbol khusus setiap kelas.
Wanita berumur sekitar 40 tahunan berdiri tepat ditengah podium memberikan senyuman lebarnya menyambut
para murid baru yang datang. Sesekali dia melambaikan tangannya, menyapa tidak hanya anak-anak baru tapi juga para senior dan guru-guru lain yang mulai berdatangan memasuki aula.
“Selamat datang di Akademi Lixorth.” Sapa Kepala Akademi Riggs setelah kursi murid semua telah terisi. “Selamat datang di akademi sihir terbaik di Amerika!”
Suara tepuk tangan bergemuruh. Kepala Sekolah tersenyum tanpa sadar berdiri lebih tegak bangga dengan
pencapaian sekolah yang telah ia pimpin selama lima tahun terakhir.
“Ku dengar Lixorth menerima murid baru dengan kuota penerimaan lebih kecil dari pada tahun lalu. Kau tahu
tentang itu?” seseorang berbisik dekat sekali di telinga ku. Tanpa sadar aku beringsut menjauh ke sisi sebaliknya sambil menatap gadis itu penuh tanda tanya dan kesal. Gadis itu memperlihatkan cengirannya, “Hai, salam kenal. Aku Helen. Helen Crowfield.”
Aku mengernyit. Aku masih dalam posisi ku, malahan hampir bersandar di bahu murid lain di sisi ku. Sebelum
murid itu sadar dan mendorong, aku langsung memperbaiki posisi duduk, pandangan terpaku ke podium, enggan melihat si gadis baru. Tapi, aku tetap menjawab.
“Alison Bancroft.”
Beberapa saat kemudian suasana aula kembali hening. Kepala Akademi Riggs melanjutkan sambutan, memberikan kata-kata motivasi dan terus menerus menyanjung para murid baru karena berhasil lulus ujian masuk Sekolah Sihir Lixorth Amerika.
Aku mengutuk dalam hati. Ini membosankan. Sudah ketiga kalinya aku hampir jatuh tertidur, apalagi tadi malam aku tidak tidur. Dan lagi, Helen terus menerus mengajak ku berbicara soal macam-macam sihir di Mexico, tidak peduli kalau aku mendengarkan atau tidak.
“Hei, Alison, dari kelima kelas, kau berharap ada di kelas apa?” untuk kesekian kalinya Helen mendekatkan dirinya padaku, berbisik.
“Tidak tahu.”
“Serius? Tapi, menurutku kau sepertinya akan berada di kelas Beta atau mungkin Delta.”
Aku mendesah lelah. Aku tidak
peduli sebenarnya soal regu kelas di akademi ini, tapi dari silsilah keluarga besar ku, mereka selalu berada di kelas Alpha yang merupakan regu penyihir paling kuat atau berada di kelas Beta yang merupakan saingan sejati Alpha.
“Kalau aku berharap berada di kelas Gamma. Ibu ku menguasai sihir penyembuhan, aku harap ibu ku menurunkan bakat sihirnya.”
Aku tidak menoleh padanya. “Ya, tentu saja.”
“Bagaimana dengan mu? Keluarga mu memiliki bakat khusus juga?”
“Kau punya saudara?”
Mathias. Dia bisa kabur sendirian dan mungkin entah dia sudah sampai di San Diego atau belum sekarang. Ah, kalau saja dia tidak kabur, siapa yang tahu mungkin dia juga bisa masuk akademi.
Aku menghela napas lebih panjang, kali ini aku melihat Helen. “Tidak.”
“Apa keluarga mu berdarah sihir murni? Atau hanya manusia biasa?”
“Bisakah kau diam?”
“Kalau aku—”
Ocehan Helen terhenti oleh tepuk tangan meriah murid-murid dan juga guru yang telah mengisi tempat duduk di sisi kiri podium. Kepala Akademi Riggs berdiri menyamping ketika kelima ketua regu datang berbaris dan berdiri di depan singgasana tempat duduknya masing-masing sesuai dengan warna dan simbol regu.
“Kita sambut, pemimpin kelas Alpha, Octavius Kyle.”
Tepuk tangan semakin bergemuruh di aula. Aku memperhatikan, meskipun aku duduk di bangku yang tidak terlalu dekat dengan podium, dia melihat jelas Octavius Kyle, pria berumur sekitar 28 tahun dengan rambut pendek lurus keperakan disisir kebelakang. Dia mengenakan jubah berwarna ungu tua dengan bulu coklat keemasan memanjang di sisi jubah. Bahkan senyumnya elegan. Aku tentu tidak akan protes kelas paling elit dipimpin oleh seseorang dengan aura elit juga.
Kepala Akademi Riggs tidak berhenti, dia terus menunjuk para pimpinan kelas satu persatu secara bergantian. “Whitney Quinn, pemimpin kelas Beta, Meredith Camden, kelas Gamma, Patrick Hackett, kelas Delta, dan Agustin Brewster, pemimpin kelas Omega.”
Acara pun berlanjut selama satu jam lagi. Aku sekarang memikirkan soal nasib Mathias. Lebih baik dia yang ada di sebelahku, dibandingkan dengan Helen ini. Dia parah. Upacara penerimaan murid baru ini ditutup dengan atraksi sihir anak-anak senior yang berlangsung dari pintu aula sampai podium. Kebanyakan yang turun tangan berasal dari kelas Alpha, mereka mengenakan pin simbol alpha berwarna keemasan. Persis seperti jubah yang dikenakan oleh Octavius Kyle.
Akhirnya, aku bisa kembali ke kamar asrama. Satu kamar umumnya ditempati oleh empat orang, tapi aku masuk sebagai murid ketiga di kamar ini. Ya, hanya kami bertiga yang menempati kamar 209.
Sialnya, aku ternyata satu kamar dengan Helen Crowfield.
Aku melihat jadwal pelajaran yang telah disusun dengan rapi oleh Savanna Claire dan ditempelkan di papan dekat meja makan. Kamar ini cukup besar untuk dihuni tiga orang. Ada empat ranjang dan semuanya bukan ranjang susun. Keempat ranjang ini mengisi setiap pojok kamar, dilengkapi meja belajar, dan laci di sisi kasur. Di ruang tengah, ada satu meja makan bundar, papan mirip dengan papan tulis untuk belajar, empat lemari ukuran sedang, dan kamar mandi.
“Kau tidak ikut pengarahan murid baru kemarin, ya?” tanya Savanna, matanya menyusuri gerak gerik ku ketika aku memperhatikan dengan teliti jadwal yang Savanna tulis. Nada suaranya angkuh, “Dan juga, kau baru masuk asrama hari ini. Kenapa bisa?”
Aku mengangkat bahu berderap menuju meja makan. “Senior kita bilang alasan khusus, entahlah.”
“Kalau begitu, biar aku jelaskan sekali lagi.” Tawar Helen yang dengan semangat berlari kecil menghampiri ku di meja makan. Aku bisa melihat Savanna memutar bola matanya lalu berjalan masuk ke area kamar memilih untuk pergi dari sini.
“Aku akan memberikan kuliah singkat pada mu, oke?”
Aku mengangguk dan bersandar, “Silakan,”
“Murid tahun pertama akan memiliki jadwal pelajaran yang sama. Pelajaran sihir dasar. Kelas besar, mereka menyebutnya. Seperti biasanya, ujian akan dilakukan di pertengahan dan akhir semester. Setelah itu, diawal tahun kedua kita akan masuk dalam proses penempatan kelima regu sesuai dengan tipe dan jenis sihir kita.
“Pertama, kelas Alpha. Mereka menyebutnya penyihir berdarah setengah dewa—"
“Yang benar saja.” Aku mencibir tanpa sadar, aku bahkan terkekeh kecil. Bukannya itu berlebihan? Masa iya aku harus menganggap Ayah sebagai penyihir berdarah dewa?
“Itu, kan, hanya sebutan saja, Alison.”
“Tapi, kan tetap saja.”
Helen balas menatap ku polos, tapi dia hanya tersenyum kecil mengabaikan ejekan ku dan melanjutkan, “Mereka dijuluki demikian karena jenis sihir yang mereka punya itu bersifat penciptaan. Kebanyakan penyihir dengan bakat elemental kuat ada disana.”
Mau tidak mau, aku memvisualisasikan lagi pertarungan Ayah dengan mammoth malam tadi. Ayah pasti bisa menciptakan angin ****** beliung yang menghancurkan satu kota.
“Kelas Beta, dijuluki sebagai penyihir berdarah setengah malaikat. Tunggu, jangan dulu tertawa. Para penyihir yang berada di regu ini memiliki bakat sihir bersifat melindungi. Biasanya penyihir dengan bakat perubahan pada fisiknya.”
Aku mengingat sosok Ibu yang memang merupakan salah satu murid kelas Beta di masa sekolahnya dulu. Apakah aku juga akan mewarisi bakat ibu? Ah, tidak mungkin. Sihir air ku saja lemah. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku bisa ada di akademi sekarang alih-alih di dalam pesawat menuju Norwegia.
“Gamma, kelas penyihir dengan bakat dalam bidang penyembuhan. Ibuku salah satunya. Lalu, Delta, kelas para penyihir yang memiliki bakat sihir dengan sifat memanipulasi.”
Kalau tidak salah, Ayah Yara dulunya merupakan anggota kelas Delta. Dia bisa memanipulasi ingatan orang-orang. Aku tiba-tiba merinding.
“Dan yang terakhir, Omega, mereka dijuluki sebagai penyihir berdarah setengah iblis. Para penyihir yang memiliki bakat sihir bersifat menghancurkan.”
Telinga ku gatal mendengar nama regu terakhir yang disebutkan oleh Helen. Setengah iblis mungkin bukan sekadar julukan bagi regu ini, dari apa yang aku dengar soal rumor Omega, tipe sihir mereka menyeramkan. Karena itu, tidak banyak yang memang direkrut oleh Omega sendiri. Anggota regu mereka sedikit sekali dibandingkan dengan regu lainnya.
“Jadi, bagaimana cara ku bisa masuk dalam regu-regu tersebut di tahun kedua nanti?”
“Pertama kita akan mengikuti ujian penempatan, lengkapnya soal ujian itu belum diberitahukan lebih lanjut. Mungkin nanti. Setelah itu, kita akan diurutkan sesuai peringkat yang akan memberikan keuntungan di rapot kita nanti. Para pemimpin kelas akan memilih sesuai dengan bakat, nilai, dan jenis sihir kita.”
"Bagaimana kalau kau termasuk ke dalam regu yang tidak terpilih?” tanya ku ragu-ragu. Hal ini hinggap di otakku ketika aku ingat kalau sihir air ku sangat payah. Aku tidak akan bisa dipilih oleh Octavius Kyle dengan kemampuan seperti itu. Ah, memalukan.
Helen berpikir sejenak. “Em, biasanya, sih, tidak ada yang sampai tidak terpilih.”
“Mereka akan memiliki predikat sebagai Penyihir Rendah.” Savanna menyahut, dia berjalan masuk ke ruang tengah dengan seragam hitam-hitam seraya menenteng beberapa buku di lengan kanannya. Wajahnya datar kala dia melihat ku, “Dan Penyihir Rendah hanya akan jadi babu di akademi. Mereka tak lebih kembali belajar sihir dasar dan menjadi asisten latihan penyihir atas.”
“Bagus.” Kata ku hampir seperti meludah. Tentu saja, aku bisa lolos dari Norwegia, tapi aku akan tetap menjadi babu di sekolah.
“Pelajaran pertama akan dimulai, ayo.” Lanjut Savanna berjalan mendahului Helen dan aku.
****