
Profesor Gregory masuk kelas dengan tatapan tajam seperti biasa. Aku jadi mulai mempertanyakan apakah dia memang selalu memiliki masalah besar dalam hidupnya. Selama ini, pelajaran Sihir Dasar memang selalu menjadi mata pelajaran yang paling menegangkan. Selain karena kami menyesuaikan dengan suasana hati Profesor Gregory, dia juga lebih sering memerintahkan kami untuk latihan praktik.
Tiga minggu yang lalu, aku dan teman-teman angkatan menyelesaikan kegiatan orientasi menuju kelas Gamma dan Delta. Benteng Delta berada di sisi timur kompleks pendidikan akademi, di daerah yang sedikit gersang dibandingkan daerah yang lain. Aku mengunjungi markas Gamma terlabih dahulu, dan beruntungnya kami kalau kunjungan ke markas Gamma sama sekali tidak melibatkan pertarungan ataupun pertunjukkan bakat aneh.
Guru wali Gamma sendiri—Meredith Camden—yang datang memberikan semacam penjelasan tentang kelas khusus tipe sihir medis di ruang seminar. Memang sedikit membosankan dibandingkan dengan Alpha ataupun Beta, tapi justru itu yang membuat ku dan yang lainnya bisa menarik napas sejenak.
Sementara Delta, mereka melakukan perkenalan dengan singkat. Patrick Hackett selaku wali kelas tidak mau kami mengambil waktu mereka yang berharga itu karena mereka sedang dalam persiapan praktik di luar akademi.
Menyebalkan.
“Kalian sudah membaca buku mantra sihir?” suara Profesor Gregory pelan dan dalam. Dia meneliti semua dari kami bergantian dengan sorot pandangan tajam itu. Aku menelan ludah. Kali ini siapa yang akan dia panggil?
“Jordyn!” panggil Profesor Gregory sambil menunjuk saudara ku, Yara Jordyn yang duduk di kursi paling belakang. “Apa saja yang telah kau pelajari?”
Semua dari kami menoleh ke belakang melihat Yara Jordyn yang kini tiba-tiba panik. Dia memang mengikuti acara belajar bersama dengan geng nya yang diisi oleh Savanna Claire, Lenna Roberts, dirinya, juga Dominic Lawson, tapi aku tahu alasan utama dia mengikuti grup belajar itu karena dia memang menyadari kalau dirinya tidak pandai belajar. Jadi, dia terpaksa mengikuti bahkan mengekor dengan teman-teman ku yang rajin itu.
“Sihir elemental adalah sihir dasar yang dimiliki oleh hampir semua penyihir. Selama itu—”
“Dan bla-bla-bla,” lanjut Profesor Gregory memotong penjelasan Yara pahit. “Itu sudah dipelajari sebelum UTS, Jordyn. Sekarang materi baru. Aku jelas-jelas sudah memerintahkan kalian untuk membaca buku sebelum pelajaran ku dimulai, bukan?!”
“Oh, kalau begitu,” Yara tiba-tiba tersenyum masam sambil menatap langit-langit berusaha mencari jawaban yang telah ia temukan jika ia memang membaca buku pelajaran Sihir Dasar. “mantra sihir dasar utama dibagi menjadi beberapa tipe. Sihir dasar pertahanan, medis, portal, dan sensor. Untuk bisa menggunakan sihir dasar
tersebut diperlukan fisik dan stamina yang memadai juga keahlian dalam membaca mantra.”
“Hanya itu?” alis Profesor Gregory naik sebelah. Dia lalu memperhatikan anak-anak lain dengan seksama seakan dia siap menembak laser dari kedua matanya. Aku menggigit bibir. Aku yakin yang lain sama gugupnya dengan aku sekarang.
BRUK!
Pintu ruang kelas dibanting terbuka dengan keras. Aku hampir terlonjak dari kursi mendengar suara itu. Helen yang duduk di sebelahku malahan sudah memekik pelan karena kaget. Kami menoleh ke arah pintu kelas yang terletak di belakang ruangan.
Disana berdiri tiga siswa senior menyeringai mengerikan. Lelaki yang berdiri paling depan memiliki rambut yang sedikit panjang berwarna hitam yang menutupi dahi dan alisnya, bola matanya berwarna hijau manyala-nyala, kakinya jenjang meskipun dia sedikit lebih pendek dari senior di sebelahnya. Dia tersenyum miring.
Tepat berdiri di belakang lelaki itu, seorang siswa lelaki lebih besar dan berotot dibandingkan dengan yang satunya. Rambutnya coklat gelap pendek di kedua sisinya dan bagian tengah yang sedikit tebal disisir kebelakang rapih. Kemeja seragamnya di lipat hingga ke siku.
Senior terakhir adalah seorang gadis tinggi dan langsing, rambutnya pirangnya yang tebal digerai panjang, seragamnya tidak terlalu rapih, dia tersenyum ke arah kami sambil melambaikan tangannya seakan dia adalah seorang artis sekolah yang sedang mengunjungi penggemarnya. Tapi, tanpa sorakan meriah dari kami.
Mata ku menyipit memperhatikan ketiga senior itu dengan jelas. Di dadanya tersemat pin itu. Pin berbentuk simbol Omega berwarna merah darah berkilauan. Mata ku membesar otomatis. Mereka adalah anggota kelas Omega.
“Padahal kalian bisa masuk tanpa perlu pamer begitu,” sindir Profesor Gregory memutar bola matanya kesal. Aku masih menatap ketiganya sedikit takjub dan seram. Kami memang belum mengunjungi markas Omega, jadi kami belum tahu banyak soal mereka selain tempatnya para siswa bermasalah.
“Profesor?” Savanna mengacungkan tangannya mencoba mengambil alih perhatian Profeor Gregory. Suaranya tenang seperti biasa. “Bukannya jam pelajaran masih berlangsung? Kenapa—”
“Kalian tidak suka melihat kami, hah, Anak Baru?” senior lelaki berambut hitam itu menyalak yang langsung membuat kami kembali tutup mulut dengan cepat.
“Tenang, Claire. Aku memang mengundang mereka untuk membantu ku dalam pembelajaran hari ini.” Jelas Profesor Gregory sambil menghela napas panjang. Kami langsung saling pandang mendengar penjelasan itu. Ini bukanlah pemandangan biasa. Meminta para Omega membantu pembelajaran? Tapi, sepertinya Profesor Gregory tidak terlalu memperhatikan respon kami. Dia memanggil ketiga orang tadi mendekat ke depan kelas. “Sebaiknya kenalkan diri kalian dulu. Jangan langsung masuk kelas sambil menendang pintu segala.”
“Keren dan memberikan dampak yang kuat.” Puji si gadis mengacungkan jempol sambil mengedipkan mata kananya semangat.
“Cepat perkenalkan diri kalian!” seru Profesor Gregory cemberut seraya bergeser memberikan tempat bagi ketiga siswa senior itu.
“Seth Evander, tahun kedua, kelas Omega.” Si anak lelaki berambut hitam memperkenalkan dirinya lebih dulu sebelum yang lain hendak membuka mulut.
“Creed Ackley, tahun kedua, kelas Omega.” Sekarang giliran lelaki berambut coklat gelap melanjutkan.
“Dan aku, Raelle Oswell, tahun ketiga, kelas Omega sama dengan dua orang bodoh ini.”
“Mereka bertiga sedang dalam hukuman karena menghancurkan taman umum akademi. Jadi, aku memberikan tugas tambahan bagi mereka bertiga untuk ikut mengajar kalian.” Papar Profesor Gregory sambil menyilangkan tangannya, sorot matanya bosan, tapi dia tetap waspada.
Menghancurkan taman umum? Taman yang itu? Taman paling besar di akademi yang terletak di mengelilingi Gedung Alat Sihir. Meskipun aku tahu Omega adalah regu tempat para penyihir dengan sihir mengerikan, tapi kenapa mereka ikut menghancurkan aset milik akademi? Anak-anak lain mulai berbisik bersiap menyebarkan rumor soal kelas Omega di jam istirahat nanti.
“Jadi, kalian sedang belajar apa memangnya?” tanya Seth sedikit tertarik. Senior tahun kedua itu sama sekali tidak peduli dengan sorot mata tajam anak-anak kelas ku. Dia melihat sejenak ke arah Profesor Gregory berharap mendapatkan jawaban. Tapi, Profesor Gregory sama sekali tidak membuka mulutnya. Seth kemudian bergerak maju melihat catatan milik Lenna yang duduk di bangku paling depan. “Sihir Dasar, ya? Pelajaran ini, sih, mudah. Kenapa Profesor meminta kami turun tangan? Memangnya mereka sebodoh itu?”
“Kalian sedang dalam hukuman, benar? Ikuti saja tugas dari ku.” Dengus Profesor Gregory jengkel.
“Baik, baik. Tidak usah marah juga, kan?” Seth mundur sambil mengangkat kedua tangannya menyerah bak seorang sandera yang dipojokkan oleh ******* dengan pistol. “Jadi, apa yang bisa kami bantu?”
Profesor Gregory kini mengarahkan seluruh pandangannya pada kami dan berdehem, “Kalian akan langsung mempraktikan cara penggunaan Sihir Dasar yang telah disebutkan oleh Jordyn. Aku akan membagi kalian ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan jenis sihir dasar yang akan kalian pelajari hari ini dengan ketua tim Evander, Ackley dan Oswell.”
“Ya ampun, ternyata begitu.” Ujar Raelle, ekspresinya tiba-tiba cerah.
“Berarti jam pelajaran ini pindah ke ruang olahraga, Profesor?” tanya Helen tiba-tiba mengacungkan tangannya.
“Tidak. Kalian akan melakukannya disini.” Tegas Profesor. Kami terkesiap. Ini pasti hanya lelucon saja. Profesor Gregory berjalan ke balik meja guru, membalik setiap kertas seraya melihat nama-nama kami. “Aku akan membagi kalian dalam tiga grup dan dua sesi praktik. Grup bertahan, portal, dan sensor. Peraturannya sederhana, grup portal kalian harus menggunakan sihir dasar portal untuk bisa berpindah kemana pun asal masih di dalam kelas. Grup sensor, kalian harus belajar menggunakan sihir dasar untuk menentukan kemana grup portal melakukan teleportasi dan menebaknya. Sementara, grup bertahan, kalian akan bertahan dari gempuran kedua grup itu. Grup portal dan sensor dibebaskan untuk saling menghalangi satu sama lainnya. Poin kalian akan dilihat dari seberapa banyak kalian memukul mundur grup bertahan dan menyerang grup lainnya, sementara grup bertahan, poin kalian akan dilihat dari sihir pelindung kalian.”
“Kau yakin memberikan tugas mengajar ini pada kami, Profesor?” tanya Creed. Semua orang yang sudah tampak tegang sekaligus bersemangat tiba-tiba hening mendengar pertanyaan dari Creed. Itu hal yang masuk akal jika kelas Omega terlibat. “Ruang kelas ini bisa hancur juga.”
“Kalau itu, sih, bukannya sudah pasti?” tambah Seth yang sedang melompat-lompat kecil sambil tertawa senang seperti orang gila.
“Haduh, kalian sepertinya tidak kapok dengan hukuman dari Instruktur Snowden, ya?” protes Raelle memijit dahinya perlahan.
Aku memperhatikan semua ini tegang. Mereka bukan si elit Alpha atau si kuat berkelas Beta, tapi si penghancur Omega. Lima puluh persen yang mereka lakukan yaitu menghancurkan. Dan mereka akan memperlihatkan hal ini di depan mata ku.
“Ini juga salah satu hukuman untuk kalian, Evander, Ackley, dan Oswell. Kalau kalian sampai menghancurkan kelas ini artinya hukuman kalian akan ditambah. Jadi, sebelum hal itu terjadi, dengan baik hati aku memperingati kalian.”
*