
Sudah satu bulan semenjak aku menginjakkan kaki di akademi paling menyebalkan yang pernah aku tahu. Aku berani bertaruh, kalau aku masuk di akademi pinggiran keadaan ku pasti jauh lebih baik. Banyak murid yang tidak memiliki bakat sihir luar biasa ataupun unik dan istimewa. Aku pasti bisa hidup bahagia dalam kesederhanaan itu.
Hari ini adalah hari sabtu, waktu bagi kami menjalani masa orientasi. Ini adalah minggu keempat aku berada di Akademi Lixorth, artinya sekarang adalah jadwal orientasi mengenal setiap kelas penyihir. Mengunjungi markas setiap kelas dan belajar lebih lanjut soal penyihir selalu dilakukan setiap akhir bulan.
Kelas Alpha.
Tentu saja, kelas pertama yang akan diperkenalkan adalah kelas nomor satu di akademi. Aku dan puluhan murid-murid baru sekarang sudah berbaris di depan markas Alpha yang benar-benar terlihat seperti sebuah manor. Aku juga sering dengar kalau mereka menyebut markas sendiri sebagai Manor Alpha, atau rumah besar Alpha.
Tidak salah, sih. Markas mereka memiliki desain seperti rumah mewah bertingkat yang mungkin lebarnya dua kali dari rumah ku di Colorado. Palang-palang mewah berderet di depan pintu masuk, melewati taman kecil di samping kiri dan kanan jalan setapak menuju pintu utama.
“Selamat datang di markas Alpha,” ucap senior dari kelas tiga, Bridget Lyra. Aku bisa melihat pin berbentuk simbol Alpha di kerah seragamnya. Bridget berkacak pinggang sambil melihat gerbang menuju markas, tampak kagum dan bangga. “Kami biasanya menyebutnya Manor Alpha.”
Mataku berbinar melihat markas super mewah dengan sentuhan kuno milik kelas Alpha. Aku harus bisa masuk ke kelas Alpha, itu artinya aku harus bekerja lebih keras agar sihir air ku bisa setara dengan milik Ayah atau paling tidak milik Mathias. Juga, aku tidak tahu apa yang akan Ayah lakukan padaku jika aku tidak bisa masuk ke kelas ini.
Dua senior tahun ketiga yang berasal dari kelas Alpha memimpin perjalanan kami dari gerbang sampai ke beranda. Bridget dan Max memperkenalkan beberapa ruangan penting di sekitar dengan cepat seperti mereka tidak ingin mengulanginya lagi.
Manor ini memiliki berbagai fasilitas layaknya sebuah hotel atau apartemen mewah. Mereka memiliki gor olahraga tersendiri lengkap dengan fitness, kolam renang besar, trek lari, lapangan sepak bola, bahkan istal kuda dan juga lapangan kecil untuk berkuda.
Bridget dan Max hanya memperlihatkan beberapa ruangan saja, bahkan mereka tidak memperlihatkan ruang kamar asrama dan tempat Octavius Kyle berada. Kami langsung digiring menuju ruang seminar dengan podium besar dan layar proyektor di depan dikelilingi dengan kursi para penonton di sekitar.
Kami dengan tertib duduk di kursi yang tersedia, beberapa dari kami malah tidak bisa berhenti kagum dengan Manor Alpha. Tentu saja, manor ini sangat berbeda dengan asrama murid tahun pertama.
Sekitar empat murid kelas Alpha berkumpul di podium dan terlihat seperti sedang mendiskusikan sesuatu dengan serius. Sementara kami, para murid tahun pertama sibuk meneliti keadaan dan tak henti-hentinya memuji semua yang kita lihat.
“Baiklah, sekali lagi selamat datang di Manor Alpha.” Kali ini Max yang mengambil alih mikrofon. Dia berdiri tegak di depan ketiga temannya yang lain, pandangannya dengan cepat memindai kami dari ujung kiri ke kanan. “Kami disini yang akan memperkenalkan kelas nomor satu di akademi, Alpha. Pemimpin kami, Octavius Kyle, sedang ada tugas di luar akademi. Jadi, kami yang akan menggantikan beliau.”
Bridget dan kedua temannya yang lain ikut maju dan berdiri berjajar dengan Max. Mereka juga membuka jarak yang lumayan lebar dari satu orang menuju orang berikutnya. Lelaki yang berdiri di ujung kiri tersenyum miring. Dia menghentakkan kaki kanannya dan seketika ruang seminar bergetar. Lalu, lantai di podium retak dan perlahan benteng tanah muncul naik dari pijakan si senior menuju langit-langit seminar. Trik sihir tanah standar.
Bridget yang berdiri di sisi lelaki itu mengacungkan tangannya ke atap, dari jauh aku bisa melihat udara berputar membentuk semacam pusaran angin mini. Max hanya menjetikkan jarinya lalu nyala api ada di atas telunjuk lelaki itu. Terakhir, gadis paling ujung kiri mengangkat telapak tangannya mengarah ke atas dan putaran air sekepalan tangannya terbentuk. Cantik dan elegan.
“Seperti yang kalian tahu, elemental adalah bakat sihir dasar yang hampir dimiliki setiap orang.” Lanjut Max, wajahnya berbayang karena nyala api yang semakin membesar. “Kalau begitu, artinya kalian semua bisa masuk kelas Alpha, kan? Tentu saja tidak.”
Nyala api yang tadinya hanya berada di pangkal telunjuk Max, kini membesar ke tinjunya sampai pergelangan tangan. Max masih memperhatikan api itu dengan tenang seperti panasnya sama sekali tidak mengganggu dia. Max mengangkat lengan satunya dan menyalakan api lagi di kepalan itu sama besar dengan api di tangan kanannya.
Max tersenyum kecil kemudian membuka kedua lengannya lebar-lebar, detik berikutnya api ditangan Max tersulut lebih besar lagi dan lagi menjalar ke setiap sudut ruang seminar mengelilingi kami. Ruangan berangsur memanas, peluh ku mulai membasahai pelipis dan leher, beberapa murid sibuk memperhatikan api di sekitar dan ada juga yang malah rusuh mengelap keringat.
Gadis air di sebelah Max dengan pusaran air kecil di telapak tangannya terkekeh. Kemudian,dia menutup bola pusaran air itu dengan telapak tangan yang satunya, seolah dia sedang menggenggam bola bisbol. Gadis itu bertingkah seperti seorang pitcher, dia siap melepar bola air di genggamannya dengan keseriusan tinggi. Secara tak sadar, aku pun ikut menghela napas tegang.
Dia lalu melemparkan genggaman air itu ke udara ke tengah tempat duduk kami dan
BYUUR!
Air hujan deras turun membasahi kami juga lambat laun memadamkan api di sekitar. Aku mendengar beberapa orang tertawa menikmati pertunjukan ini, tapi aku malah merenggut kesal. Ya, selain karena seragam ku basah, aku juga sebal melihat bakat sihir air yang kuat dan dapat dikontrol dengan baik oleh penggunanya.
Dalam keadaan basah kuyup, aku bisa melihat Bridget dengan putaran angin di telunjuknya mulai beraksi. Kini dia melayang beberapa meter dan terbang menuju tempat duduk kami. Bridget berhenti tepat di tengah para murid, masih dalam keadaan terbang. Aku mengengadah melihat Bridget diatas sana, mengapung. Setelah menatap kami
Bridget terus berputar dengan anggun sampai air hujan yang turun ikut dalam putaran angin besar ini. Aku sampai susah payah mempertahankan bentuk rambut ku karena takut terhisap dalam pusaran angin besar ini.
WOOSH!
Hentakan angin dilontarkan ke semua arah yang membuat kami sontak terdorong keras ke kursi sandaran. Kulit wajahku serasa ditarik ke belakang, mata ku perih karena dorongan angin dan air, rambutku berantakan tak karuan, dan baju ku basah.
Serasa belum cukup, lelaki tanah yang terakhir tiba-tiba membuat seluruh ruang seminar bergoyang. Bridget terbang melintasi kursi penonton kembali ke podium bersama dengan Max dan temannya.
“Jangan hancurkan ruang seminar, Pedro.” Bridget memberi teguran sesampainya ia di podium.
“Tidak boleh? Kalau begitu tidak akan seru.” Balas lelaki tanah yang dipanggil Pedro sedikit memohon.
Aku menelan ludah. Apa-apaan mereka?
Sebongkah balok tanah tiba-tiba turun mendarat di kursi paling depan, memisahkan kursi penonton dengan podium. Gempa besar pun terjadi ketika batu lain turun di atas tanah tersebut. Aku harus menggenggam lengan kursi dengan keras kalau aku tidak ingin terhempas dari bangku.
Aku sudah siap melindungi kepala ku kalau-kalau ruang seminar ini roboh ketika perlahan guncangan berhenti. Ruang seminar riuh oleh pekikan dan keluhan para murid baru. Begitupun aku. Tanpa sadar napas ku memburu seakan aku baru saja dikejar anjing liar dan tampak ku sangat amat tidak baik.
“Terimakasih, Pedro. Kalau kau tidak berhenti, kau bisa mengubur kami dalam tanah sekaligus.” Suara Max sangat tenang di tengah kericuhan yang terjadi.
Aku terkesiap. Begitu juga teman-teman ku yang lain.
“Kau mau pamer?” kata si gadis air yang tadi kudengar memiliki nama Vivienne Wright.
“Justru karena kalian semua pamer, aku juga harus pamer.” Balas Pedro sedikit tidak terima karena aksinya harus dihentikan oleh Max dan teman-temannya yang lain.
Max lalu bertepuk tangan keras untuk menarik perhatian semua orang yang ada disana termasuk rekan-rekannya yang sedang berdebat. Dalam hitungan detik, suasana berangsur tenang. Semua tatapan menuju ke podium. Aku tahu, kami berubah menjadi penurut karena kami takut kalau badai kedua menerjang kami lagi. Yah,
aku tidak bisa menyalahkan teman-teman ku karena aku pun melakukan hal yang sama.
“Nah, Murid Baru, seperti yang telah kalian lihat sendiri. Meskipun sihir elemental merupakan bakat dasar sihir setiap penyihir, tetapi hanya penyihir dengan bakat elemental sekuat dan sebesar kami yang bisa diterima masuk.” Max dengan suara datarnya tiba-tiba melanjutkan penjelasan yang sempat tertunda gara-gara tontonan bakat
para senior itu.
Aku mendesah. Tentu saja, bakat elemental kelas Alpha sekuat mereka. Seganas api Max, seanggun air Vivienne, sebesar angin Bridget, dan sekuat tanah milik Pedro. Belum lagi jika mereka memiliki bakat sihir yang lain selain bakat dasar elemental ini. Mereka semua memang pantas diterima di kelas ini. Francis Bancroft juga dilatih di kelas Alpha dengan bakat sihir angin yang luar biasa dan dia menginginkan aku ada di kelas ini.
Bisa, kah?
*