
“Tembak!” perintah Instruktur Snowden di sisi lapangan tembak sambil meniup pluit dengan seluruh kekuatannya setiap kali murid-murid mengacau. Ini sudah lebih dari kesepuluh kalinya aku menggosok kedua telinga ku.
Pelajaran kali ini adalah menembak. Ada lima target di depan sana berupa balok persegi panjang sebesar ukulele dan memiliki tebal mirip dengan buku 1000 halaman. Aku berdiri di depan target nomor tiga. Dua murid di sisi kanan dan kiri ku juga sudah menempati tempatnya tampak sangat serius.
“Semua dalam posisi?” teriak Instruktur Snowden kembali berteriak. “Kalau sampai kalian sama sekali tidak bisa menggeser target kalian barang satu sentimeter, push up 20 kali! Mengerti?!”
“Ya!” jawab ku bersamaan dengan murid-murid lain.
“Tembak!”
Aku mengulurkan tangan dengan telapak tangan menghadap ke arah target. Aku melihatnya seksama seolah aku bisa menggenggam target tersebut dalam jarak sejauh ini. Aku diam sejenak merasakan sihir ku dan detik selanjutnya aku menembak menggunakan sihir air.
“Bancroft!”
Bentakan itu membuatku buru-buru menoleh ngeri ke arah Instruktur Snowden di sisi lapangan. Semua murid-murid lain juga melakukan hal yang sama tanpa suara sama sekali.
“Memalukan! Sihir apa itu?!”
Aku menelan ludah. Jangankan menggerakkan target, sihir air ku saja memang tidak sampai ke ujung sana. Aku bisa mendengar beberapa anak menertawaiku pelan yang membuatku mendengus kesal.
“Push up!”
Aku berbalik ke sisi lapangan bersiap untuk melakukan push up bersama dengan tiga murid yang telah gagal menggerakan target sebelum aku. Latihan dilanjutkan selagi aku melakukan hukuman ku yang ternyata cukup menguras waktu dan tenaga. Bisa-bisa tenaga ku habis gara-gara hukuman, bukan karena latihan sihir.
Setelah melakukan push up, aku kembali ke barisan dan menunggu sampai aku berada di barisan paling depan. Sekarang, beberapa murid melihatku sinis sambil berbisik dan tertawa mengejek. Rasanya aku ingin mengguyurkan air ke kepala mereka agar mereka semua diam. Aku tidak bisa berpikir dengan jernih jika situasinya seperti ini.
Akhirnya, aku sampai di barisan paling depan. Aku melihat target ku lagi sambil terus memberikan pikiran positif ke otakku. Kali ini pasti bisa. Aku tidak mungkin membuat Instruktur Snowden menghukumku push up untuk kedua kalinya.
“Bancroft, berhenti main-main! Mana bakat sihir mu yang dibicarakan orang-orang, huh?”
Aku mendelik. Instruktur Snowden menatap sengit, aku bisa melihat api menyala-nyala di kedua bola matanya. Dia begitu bersemangat untuk menyaksikan ku gagal.
“Tembak!”
BLUSH!
Aku mendesah keras. Gagal lagi. Gagal lagi. Apakah Kepala Akademi Riggs berniat memasukkan ku ke akademi hanya untuk mempermalukan dan mempermainkan ku?
Instruktur Snowden berjalan ke arah para murid berbaris dan berdiri diantara target dan murid. “Bancroft, lari dua keliling. Sisanya, lanjutkan latihan kalian.”
Ingin rasanya aku memiliki bakat sihir Ayah ku atau Mathias. Mungkin, aku bisa menerbangkan Instruktur Snowden lalu meninggalkannya di kubangan. Sudah hampir dua minggu aku menjalani hari-hari ku sebagai murid di sini dan hampir setiap hari guru-guru memberikan pekerjaan berat padaku, menyindir, tak banyak yang juga
mengejek, atau bahkan menantang ku. Mereka bilang bakat sihir ku unik dan langka jadi mereka tidak ingin repot-repot mengajari ku, mereka ingin langsung melawan ku.
Menyebalkan. Aku sendiri saja tidak tahu apa yang mereka maksud. Hampir semua penyihir memiliki sihir dasar yang berupa sihir elemental, jika bakat sihir ku memang di elemental dan aku bisa menciptakan air setara dengan sihir Ayah, mungkin aku akan langsung diangkat masuk ke kelas Alpha. Tapi, aku tidak. Sihir air ku
payah dan aku tidak punya bakat sihir lain.
Lari keliling lapangan sebesar lapangan sepak bola itu menjengkelkan. Aku harus ditahan di lapangan sini sementara teman-teman ku yang lain belajar dengan sihir dasar dan juga mengamati bakat-bakat sihir yang dimiliki oleh orang lain.
“Alison!”
Aku menghentikan lari ku setelah mendengar panggilan Helen. Baju ku basah karena keringat deras bercucuran yang tidak mau berhenti. Gadis itu melambaikan tangan tinggi-tinggi dari gerbang lapangan. Baju olahraganya sedikit kotor mungkin karena dia berusaha menggerakan bumi, mencoba mengirimkan gempa untuk menjatuhkan target. Helen memiliki bakat sihir elemental tanah.
Semburat oranye menghiasii langit kala aku berjalan lunglai mendekati Helen. “Sudah selesai? Kalau begitu, aku juga sudah selesai, kan?”
“Ya. Dia juga menyampaikan pesan padaku kalau kau sudah boleh berhenti berlari.” Balas Helen sedikit menunduk tidak enak hati melihat ku yang mungkin tampak sangat berantakan sore ini. Helen memandangku sekilas, “Oh, ya, Instruktur Snowden juga bilang kau harus bersiap untuk minggu depan. Dia tetap akan menguji mu
menjatuhkan target.”
Aku menggerutu kemudian meraih handuk yang disodorkan Helen dan mengelap rambutku yang basah. “Ya ampun. Sampai kapan dia akan menyiksaku? Lagipula, sudah berapa kali kubilang kalau sihir ku tidak sekuat yang dia bayangkan.”
“Mungkin dia berharap kau bisa sama seperti Ayahmu,”
Mataku memincing kesal, “Ya, ya, ya. Dia seharusnya sadar kalau aku itu tidak sama dengan elit Serikat Francis Bancroft.”
“Atau mungkin dia berharap lebih karena kau masuk secara istimewa?”
“Aku tidak begitu istimewa, Helen. Aku hanya telat satu hari dibandingkan kalian.”
“Tapi, kau bilang kau sempat ditolak.”
Oke. Aku kalah. Aku hanya menatap Helen sambil meremas handuk kecil berharap rasa kesal ku hilang.
“Kalau menurut ku, sih, begitu. Itulah sebabnya guru-guru lain juga penasaran dengan mu, Alison.” Lanjut Helen, matanya membesar seakan dia baru saja mengingat perlakuan apa saja yang aku terima dari guru-guru tidak tahu malu itu.
“Oke, cukup. Ayo, ke kamar. Aku lapar.” Kata ku akhirnya berjalan mendahului Helen keluar dari lapangan besar ini.
“Ide bagus. Kita bisa makan malam sebelum mengerjakan tugas mata pelajaran Benda-Benda Sihir. Savanna bilang dia mungkin akan mengajari kita bagaimana—”
“Helen?” aku memanggil namanya dengan sedikit nada bentakkan agar dia berhenti mengoceh.
“Ya?”
“Bisakah kita nikmati perjalan kita ke asrama tanpa bicara? Aku pusing.”
“Oh, maaf.” Helen cekikikan yang membuat ku tiba-tiba sepuluh kali lebih lelah dari biasanya. Hal terakhir yang aku inginkan tentu saja mendapatkan istirahat yang nyaman dan cukup, bukan mendengarkan ocehan Helen.
Akhirnya, aku sampai di gedung asrama murid tahun pertama yang berada di bukit paling ujung kompleks pendidikan Akademi Lixorth. Beruntungnya, para murid diperbolehkan berpergian ke sekitar area kampus menggunakan sapu, karena jika tidak, mungkin kaki ku bisa patah.
Setelah aku mandi, merapikan peralatan sihir ku, dan istirahat sebentar di kasur, aku akhirnya pergi ke ruang tengah. Savanna duduk di meja makan sambil meneliti buku besar usang dengan wajah serius. Tinggal menunggu waktu sampai gadis itu masuk ke dalam buku karena terlalu khusyuk membaca.
“Kau sepertinya harus berhenti berpura-pura.” Savanna memulai. Aku berjalan mendekati dari belakang gadis itu dan dia sama sekali tidak menoleh untuk memastikan kalau yang datang adalah aku.
Aku melihat punggung gadis itu yang ditutupi oleh rambut panjang ikal kemerahan. “Apa maksudmu? Kapan aku berpura-pura?”
“Setiap kali para guru memerintahkan mu untuk unjuk gigi.” Lanjut gadis itu lalu membalik satu halaman buku lagi. Kali ini pun dia tidak mau melihat ku.
“Kau pikir aku berpura-pura bego dalam sihir elemental?” aku beranjak mendekati gadis itu lalu duduk di hadapannya berusaha menarik perhatian Savanna.
“Tentu.” Pada akhirnya Savanna mendongak dan mata kami bertemu. “Kau murid istimewa. Guru-guru membicarakan mu setiap saat. Apa salahnya menunjukan bakat sejati mu?”
“Oh, kalau aku memiliki bakat sihir sehebat Francis Bancroft percaya padaku, aku tidak akan berpura-pura bodoh dan jadi sasaran empuk amarah para guru.”
Savanna mendesah cukup keras sampai-sampai aku mengernyit. Apa masalah anak ini? Aku bukan hanya gagal di kelas Instruktur Snowden hari ini saja, aku juga gagal di mata pelajaran Sihir Dasar, Analisis Jenis Sihir, Ramuan Sihir Kelas 1, dan mata pelajaran lain yang membutuhkan praktik langsung. Semua guru dan profesor yang mengajar tak henti-hentinya menyuruhku memperlihatkan bakat sihir yang aneh itu. Entahlah apa.
Tok tok tok
Savanna dan aku saling lirik sebelum akhirnya aku membuang muka berpura-pura tidak mendengar apapun.
“Buka pintu.” katanya datar. Aku mendelik, alis ku naik. Kurang ajar.
“Tidak. Kau saja.”
“Aku sedang baca buku.”
“Aku juga sedang diam.”
“Aku datang!” Helen berseru dari dalam kamar dan setengah berlari menuju pintu depan dengan hoodie peach yang sedang ia pakai. Aku tersenyum dalam hati. Punya teman sekamar seperti Helen ternyata tidak buruk juga. Mungkin aku lebih membutuhkan Helen dibandingkan Savanna si pendiam dan tukang suruh-suruh.
“Selamat sore, Miss Crowfield. Aku ingin bertemu dengan Alison Bancroft.”
Tiba-tiba aku menjadi awas ketika aku mendengar nama ku disebut. Kepala ku berbalik melihat langsung ke pintu depan, tapi pandangan ku terhalang oleh tubuh Helen yang tidak membuka pintu dengan lebar.
Helen mengangguk lalu meneliti ke dalam sampai matanya bertemu dengan ku. Dia memanggil dengan gestur tangannya yang heboh. Aku beranjak dengan malas mendekati Helen.
“Ah, Miss Bancroft. Orang tua mu datang dan ingin bertemu dengan mu. Sekarang di Lobi Gedung Utama Akademi Lixorth.” Suara rendah seorang pria yang aku kenali sebagai salah satu pegawai administrasi di akademi. Aku bertemu dengannya sebelum Eve dan temannya melemparkan ku ke aula di hari pertama aku datang ke
sini.
“Sekarang?” aku agak terkejut. Belakangan ini aku tidak pernah menjalin kontak dengan mereka, bahkan kali terakhir adalah saat aku secara mengejutkan diterima di akademi. Setelah itu, mereka sama sekali tidak ingin tahu apa yang aku lalui di sini.
“Ya. Ayo, mereka sudah sampai di lobi.” Ujar si pegawai dengan senyum ramah yang mau tidak mau membuat ku tersenyum juga.
Aku mengikuti si pegawai yang menuju taman belakang asrama putri dan benar saja, disana sudah terparkir satu kapsul. Desainnya mirip dengan kapsul yang mengantarkan ku ke sini dari rumah Bibi Jane. Perjalanan ini hanya membutuhkan waktu lima menit.
Gedung Utama Akademi Lixorth berada di bukit paling ujung di kompleks ini, sekaligus gedung paling mewah dan besar. Aku bertanya-tanya apakah ruang Kepala Akademi Riggs ada disini juga atau tidak.
Di lobi, aku menemukan Ayah dan Ibu yang tengah duduk di sofa coklat santai. Sebenarnya tidak begitu. Ayah sedang merenung sambil memperhatikan dekorasi langit-langit, sementara Ibu bersandar memperhatikan Ayah dengan bosan.
“Ada apa?” aku yang memulai ketika aku sampai disisi mereka. Aku duduk di sofa sisi ibu menghadap ke arah Ayah yang kini sudah selesai meneliti langit-langit. “Aku dalam masalah?”
“Bagaimana kuliah mu?” tanya Ayah, ada nada serius dalam suaranya. Aku tahu dengan jelas kalau dia ingin memberikan kesan santai dalam percakapan ini, tapi dia gagal.
Aku menelan ludah. Apakah para guru dan profesor memberi tahu mereka soal nilai-nilai ku?
“Tidak berjalan dengan baik, huh?” kali ini Ibu yang menyahut dari sebelah ku. Aku menunduk sedikit malu. Tentu saja malu. Kalau sampai kedua orang tua ku datang kesini, bukannya aku dalam masalah serius?
“Kalian tidak akan menarik ku kembali, kan?” aku berujar sedikit takut dengan respon apa yang akan aku dengar.
“Kembali? Kemana?” tanya Ayahku.
“Sejauh ini, aku tidak terlalu bisa mengikuti pelajaran. Kalian tidak akan menarik ku kembali ke rumah dan mengirim ku ke…” aku memelan tidak berani menyebut nama negara yang menjadi tempat buangan keluarga kami. Tapi, aku tetap melanjutkan. “Ke akademi yang lebih kecil, kan?”
Ibu terkekeh pelan. Dia sepertinya terhibur dengan tingkah ku yang aneh ini. Entahlah. “Tentu saja tidak, Alison. Kau sudah resmi menjadi murid Akademi Lixorth, aku dan ayah mu tidak bisa mengambil mu begitu saja.”
Mendengar itu aku merasakan semua otot dan urat ku yang menegang rileks seketika.
“Lupakan soal itu. Apakah kau mendengar kabar soal saudaramu?” suara Ayah kali ini sedikit mengintimidasi ku. Namun, secara tidak sengaja aku pun menahan napas seakan aku takut ketahuan kalau aku menyembunyikan Mathias.
Sudah lebih dari satu minggu semenjak insiden Mathias hilang dan aku masuk akademi, tapi mereka seolah tidak peduli soal itu. Tentu saja ini mengejutkan aku. Padahal aku berharap kepergian Mathias entah kemana ini tidak akan ditindak lanjuti lebih jauh oleh Ayah ataupun Ibu.
“Memangnya ada apa dengan Mathias?”
“Kau tahu atau tidak?” ulang Ayah sedikit mendesak.
Aku menggeleng. “Tidak. Aku sama sekali tidak memiliki kontak dengan Mathias setelah kejadian di rumah.”
“Kau yakin?”
“Ya. Memangnya ada apa?” kali ini aku mencoba peruntungan dengan berusaha mendesak. Siapa tahu Ayah atau Ibu membeberkan semua ini.
Ibu mendesah disisi ku. Tatapannya terpaku pada Ayah. “Sepertinya Alison memang tidak tahu, Francis.”
Ayah mengusap rambutnya. Aku mengenali ekspresi itu. Ayah kesal. Entah karena aku tidak menemui Mathias atau memang ada alasan lain. Tapi, jika Ayah tidak mengizinkan Mathias untuk pergi, kenapa dia baru mencarinya sekarang?
Akhirnya, Ayah bangkit. Dia menatap ku sengit. “Jangan hanya main-main saja, Alison. Aku ingin kau masuk ke kelas nomor satu di sini. Seriuslah sedikit.”