
Keberadaan ku sudah diketahui oleh Serikat Sihir Amerika, lebih tepatnya oleh Ayahku. Tapi, diluar perkiraan, mereka sama sekali tidak memburu ku. Padahal, aku sudah berpikir aku akan dikejar, dikepung, dilumpuhkan paksa, bahkan diculik tiba-tiba oleh Pasukan Keamaan Penyihir.
Silas benar, mereka hanya ingin tahu keberadaan ku. Setelah mereka memastikan kalau aku ada di komunitas yang masih dalam genggaman Serikat, mereka hanya memperhatikan dari jauh. Aku sangat bersyukur, tentu saja. Aku masih bisa mengikuti berbagai macam kegiatan dengan Komunitas Penyihir Penjelajah selama beberapa bulan
kedepan.
Aku berharap, sih, Serikat memberikan izin agar aku bisa resmi tidak harus mengenyam pendidikan di akademi sihir. Toh, aku juga belajar dengan menjadi bagian dari komunitas. Tapi, soal ini aku tidak bisa memastikannya.
Siapa yang tahu mereka bakal menculikku bulan depan? Yah, aku tetap tidak mau ambil pusing.
Aku memasuki bulan kedua ku dengan komunitas. Kami baru saja mendarat di Sao Paolo, Brazil tadi malam dan kami diberikan waktu untuk bersantai. Aku menggunakan waktu ini untuk menenangkan pikiran di ruang fitness hotel sambil berlari di treadmill.
“Hah? Pasukan Keamanan Penyihir? Kau serius?”
“Mereka akan tiba besok pagi.”
“Mau apa mereka? Mau sok pamer kekuasaan?”
“Tidak tahu. Silas tidak bilang.”
Alis ku naik ketika aku mendengar obrolan anggota komunitas di belakang. Perlahan, aku menekan tombol untuk memperlambat laju lari ku sambil memasang telinga baik-baik. Biasanya informasi-informasi bagus didapatkan dari gosip orang-orang.
“Tapi, ada hubungannya dengan si anak baru yang diambil di California, kan?”
“Ku dengar, sih, begitu.”
“Hubungan apa?”
“Anak itu, kan, anak emas di Serikat sekarang.”
“Yang benar?”
Aku mendengus. Tahu kah mereka seberapa bencinya aku dengan kata-kata anak emas? Selama sekolah, aku selalu mendapatkan titel itu. Anak emas elit Serikat Sihir Amerika, anak emas Francis dan Lindsey Bancroft, anak emas istimewa, dan julukan bodoh lainnya.
Memang benar, jika dibandingkan dengan Alison, bakat ku berkembang jauh lebih cepat dari miliknya. Alison menguasai sihir elemental jauh lebih dulu dari ku, tapi dia sulit berkembang. Sementara aku, bakat sihir ku berkembang dengan cepat dan menjanjikan seiring bertambahnya usia. Hal itulah yang membuatku melakukan apa yang aku lakukan di ujian masuk akademi.
Aku mematikan treadmill dan melompat kecil meninggalkan tempat itu tanpa sekali-kali memperlihatkan wajahku pada mereka. Biarkan saja mereka menggosipkan aku sesukanya. Sejujurnya, aku masih ingin menguping lebih lanjut, tapi setelah mendengar kata sindiran anak emas itu, otomatis aku ingin pergi dari sana.
Hotel tampak sepi malam ini. Selain memang kami memilih hotel yang jarang dikunjungi orang-orang sebagai tempat singgah kami di Brazil, jadi hampir setengah pengunjung di hotel ini adalah penyihir komunitas. Pembicaraan para penyihir tadi menggangguku. Apalagi jika bahasannya soal Serikat Sihir Amerika dimana Francis dan Lidsey Bancroft adalah salah satu petinggi disana. Daripada aku tidak bisa tidur semalaman, kuputuskan untuk mengunjungi kamar Silas.
“Mathias Bancroft?” salah seorang pemuda tinggi menghalangi jalan ku yang hendak mendaki tangga. Dia memakai kemeja putih dengan dasi garis-garis berwarna biru langit dan kuning tua, cardigan tipis berwarna biru tua menutupi kemejanya kecuali dibagian kerah dan leher. Tanpa perlu bertanya pun aku tahu siapa dia. Corak warna itu adalah warna Serikat Sihir Amerika.
Kami saling
tatap selama beberapa saat sampai aku menggerutu dan bergeser satu langkah ke
samping lalu mendahuluinya menaiki tangga tidak peduli dengan apa yang akan dia
katakan.
“Buru-buru hendak pergi kemana, Mathias?” Silas kini yang berada di ujung tangga berdiri menjulang. Dia tersenyum kecil melihatku, kemudian matanya beralih pada si pemuda Serikat yang juga sedang menengadah ke arah ku dan Silas. Meskipun Silas tampak biasa saja, tapi aku tahu kalau dia sedang menegur ku sekarang. Aku
lebih suka ditegur dengan teguran tegas dibandingkan sindiran-sindiran halus tapi menyakitkan. Maka dari itu, aku mengerut.
“Aku tidak menyangka benar-benar bisa bertemu Mathias disini. Aku kira itu semua hanya kabar angin.” Ucap si pemuda itu. Dia memperhatikan ku dari ujung rambut sampai kaki dengan ekspresi sumringah. Itu membuat bulu kuduk ku berdiri. Senyumnya naik tiba-tiba ketika dia mengulurkan tangan. “Senang bertemu dengan mu, Mathias. Aku Zavier Lotts.”
Aku tidak suka padanya.
Bahu ku disenggol sedikit lebih keras oleh Silas sampai hampir saja aku menubruk Zavier, tapi keseimbangan ku yang baik ini menyelamatkan diri ku sendiri. Silas tertawa canggung dan keras di sisi ku, “Dia bicara pada mu, Mathias.”
Oh, ya. Tentu saja aku tahu. Aku tidak tuli.
Zavier menarik lengannya dan kini dia berdiri kikuk. Baguslah. Penyihir dengan wajah yang sering cengegesan seperti ini memang cocok dengan peran bodoh dan canggung, bukan gagah seperti para Pasukan Keamanan Penyihir lainnya. Zavier hanya mengangguk dan sekilas melihat ku. Sekarang, tatapannya berbeda. “Sudah lama aku ingin bertemu dengan anak-anak Francis dan Lindsey Bancroft.”
Aku balas menatapnya sengit. Memangnya apa hebatnya Francis dan Lindsey Bancroft di Serikat Sihir Amerika sampai-sampai mereka memperlakukan ku seperti ini? Aku tahu sihir mereka kuat, tapi mereka tidak terlalu berhak untuk dipuji dan diperlakukan seperti ini.
“Ayo, kita mengobrol di tempat lain.” Silas akhirnya menggiring aku dan Zavier sekaligus dengan lengan kanan Silas menggaet lengan ku dan lengan kirinya mendorong Zavier.
Aku membiarkan Silas menarik ku sesuka hatinya keluar dari pintu hotel dan mengintari halaman depan sampai kami tiba di halaman belakang dekat dengan kolam renang. Disana, Silas baru melepaskan ku dan Zavier bersamaan seperti sedang mendorong aku dan Zavier menjauh dari dirinya penuh emosi. Bukankah dia yang baru saja bilang kalau aku harus menunjukkan sopan santun pada tamu? Sementara dirinya sendiri asal mendorong dan menarik Zavier. Tidak adil.
“Beruntung sekali kau datang disaat kami hendak mencari mu.” kata Silas menunjuk ku dengan tatapannya. Oh, baik. Aku memang sangat tidak beruntung. Silas mengarahkan telunjuknya ke arah Zavier lalu menatap ku dan pemuda itu bergantian. “Tuan Zavier Lotts punya sesuatu yang harus dikatakan pada mu.”
“Kau akan ikut dengan Pasukan Keamaan Penyihir selama beberapa minggu.” Tutur Zavier datar. Wajah penuh senyuman seperti orang bodohnya telah lenyap dan yang bisa ku lihat adalah raut wajah serius tinggi. Mau tidak mau aku jadi ikut tegang dan juga semakin gondok.
Aku naik pitam. Apa-apaan?
“Kau pasti sudah tahu kalau dirimu memang sedang dalam pengawasan Serikat Sihir Amerika saat ini. Serikat tidak akan meminta mu untuk keluar dari komunitas, tapi karena kau juga tidak bersekolah, akan sulit bagi Serikat untuk mengukur kemampuan sihir mu. Maka dari itu, Serikat memutuskan untuk menguji kemampuan sihir mu dengan mengikutsertakan kau dalam Pasukan Keamanan Penyihir. Hanya selama satu minggu setiap dua bulan.”
“Yang benar saja.” Aku terkekeh sinis tidak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar dengan kedua telinga ku sendiri. Ini keterlaluan. Apa mereka harus melakukan hal ini hanya untuk menjaga aku yang memiliki bakat langka ini tetap dalam pengawasan mereka? Kalau begini ceritanya, kenapa aku repot-repot kabur dari Ayah? Darah ku mendidih menyalurkan amarah yang bergejolak. Aku melirik Silas tak habis pikir, “Kau pikir ini lelucon?”
Silas mengangkat bahunya santai. “Sudah kubilang, kan? Kalau ini perintah Serikat, aku tidak bisa bilang tidak.”
Rasanya aku ingin melempar bata di wajahnya menghancurkan raut wajah pura-pura tidak tahu itu.
Zavier kembali tersenyum puas. Dia pasti senang karena aku dan Silas sama sekali tidak bisa berkutik dengan wewenang Serikat. Kalaupun aku kabur sekarang, kemana aku akan pergi? Dan lagi, Zavier Lotts, salah satu anggota Pasukan Keamanan Penyihir yang bakat sihirnya saja tidak ku ketahui. Yang pasti dia adalah penyihir kuat.
Aku mendesah keras. Keputusan ku untuk datang ke Komunitas Penyihir Penjelajah mungkin bukan keputusan yang benar. Aku pikir Serikat tidak peduli dengan komunitas ini karena mereka lebih peduli mensponsori kumpulan lainnya seperti Pasukan Keamaan Penyihir. Mereka hanya peduli pada semua yang bisa memberikan mereka lebih
banyak kekuasaan di dunia sihir Amerika. Penyihir penjelajah dengan hobi berkeliling dunia sambil mengumpulkan gulungan? Bukan gaya mereka.
Tapi, tunggu. Ini semua gara-gara aku. Jika aku tidak datang ke komunitas ini, mana mungkin Ayah tertarik. Aku bodoh. Kenapa aku tidak berpikir jernih dan lebih hati-hati?
“Jangan khawatir, misi pertama kita dimulai lusa.” Tukas Zavier mengacungkan jempolnya sambil tersenyum miring.
Aku menunduk putus asa. Zavier menyukainya karena dia akan menindasku. Francis akan menyukainya karena aku semakin dekat dengannya.
Aku benci semua ini.
*