Lixorth

Lixorth
Mathias



    Ini adalah hari ke sepuluh aku berkeliaran di California, sesekali menginap di rumah Paman Billy, sesekali aku mengunjungi rumah teman kecil ku. Kemarin, aku mendapat pesan dari Paman Billy soal keberadaan Alison yang


ternyata berhasil masuk akademi. Awalnya aku sama sekali tidak mengira hal itu akan terjadi. Tapi, setidaknya Alison tidak jadi dibuang ke Norwegia. Itu sudah lebih dari cukup.


    Belakangan ini, Ayah dan Ibu ditengah kesibukannya dengan Serikat Sihir Amerika, mereka juga beberapa kali menanyakan keberadaan ku pada Paman Billy dan beruntungnya paman ku benar-benar bisa menjaga rahasia dengan baik. Itu juga berkat pekerjaan Ayah dan Ibu di sana, mereka sibuk tentu saja keberadaan ku mungkin  menjadi prioritas kesekian yang bisa mereka pikirkan.


    Tujuan ku sebenarnya hanya ingin bebas. Aku mengetahui dengan baik jalan kehidupan para penyihir. Setelah lulus dari sekolah, kami dituntut masuk dalam akademi penyihir. Setiap benua di dunia memiliki akademi terbaiknya masing-masing. Disana, kekuatan dan bakat sihir kami akan diasah lebih lagi. Jika berhasil lulus dengan nilai baik, kami akan diputuskan apakah kami cukup bisa untuk bekerja di Serikat Sihir Amerika dan sisanya mengurus keamanan dunia sihir dan dunia manusia agar dapat berjalan beriringan dengan damai.


    Dan aku tidak suka dengan hal itu. Aku mencintai kebebasan. Aku ingin mempraktikkan sihir ku dengan bebas tanpa aturan dan hukuman, tanpa buku-buku pelajaran, dan tanpa ancamanan serius. Itulah mengapa aku sengaja gagal di ujian masuk Akademi Lixorth. Aku merencanakan hal itu dan kabur sendirian, tapi aku benar-benar tidak menyangka kalau Alison juga akan gagal.


    Itu semua diluar perkiraan ku.


    Aku ingin mencari Komunitas Penyihir Penjelajah. Paman Billy mengetahui beberapa informasi soal komunitas penyihir tersebut, itulah mengapa aku datang padanya. Tapi, selama ini Paman Billy tidak memberitahu ku secara mendetail soal komunitas dan malah menyuruhku untuk liburan saja di California.


    Aku terbang di tengah langit malam California, beberapa kali melayang melintasi kota, pantai, dan perumahan dari Los Angeles dan San Diego lalu ke San Fransisco atau sebaliknya. Paman Billy pernah bilang kalau Komunitas Penyihir Penjelajah biasanya melakukan semacam tur malam di langit menggunakan sapu pada hari-hari tertentu. Beruntungnya aku, kalau tur berlangsung hari ini di California.


     “Mathias Bancroft.” Seseorang memanggil di tengah deru angin California. Aku melayang berbalik melihat seorang pria berkumis, rambut panjangnya diikat, dia mengenakan rompi kotak-kotak coklat yang senada dengan celana panjang, dan dia duduk di atas sapu meneliti ku. “Ikut aku.”


    Aku mengerjap bingung pada awalnya. Tapi, ketika pria itu menukik turun aku pun buru-buru terbang mengikuti takut kehilangan jejak siapapun dia. Pria itu mendarat di gang antara dua rumah susun di daerah kumuh. Aku tidak sempat melihat papan jalan di bagian California mana tepatnya pria itu mendarat.


    Pria itu berbalik sambil memegang gagang sapu. “Kau mencari kami?”


    Aku menaikan alis, “Kami?”


    “Komunitas Penyihir Penjelajah.”


     Aku mematung.


    Wow. Tidak kusangka aku tidak perlu mencari Komunitas Penyihir Penjalajah, justru mereka yang menemukan ku.


    “Aku mendengar tentang mu dari Billy.” Kata pria itu, suaranya parau. Dia lalu meneliti ku dengan tatapan heran. “Kenapa kau tidak sekolah?”


    Aku mengangkat bahu, “Tidak ingin.”


    “Hanya itu?” tanya dia sedikit tidak percaya. “Penyihir yang bukan lulusan akademi tidak memiliki masa depan yang cerah, kau tahu?”


    “Tidak terlalu peduli.”


    Dia terkekeh, “Aku tidak menyangka putra seorang Francis Bancroft, elit Serikat Sihir Amerika, memutuskan untuk putus sekolah.”


     “Pertama dalam sejarah,”


     “Aku Desmond Oswin, omong-omong.” Dia menepuk dadanya.


     “Mathias Bancroft.” Balas ku mencoba tidak terlalu menunjukkan ekpsresi girang.


     Desmond menunjuk ujung jalan gang yang buntu dengan telunjuknya. “Disana. Tempat Komunitas Penyihir Penjelajah bermukim selama kami di California sebelum pergi ke Peru besok pagi. Kau bisa bertemu dengan Silas, tapi sebelum itu aku harus memastikan sesuatu dulu.”


    “Apa itu?”


    “Francis dan Lindsey Bancroft? Mereka tidak sedang memburu mu?”


     Aku menatap langit-langit berusaha mencari alasan yang masuk akal untuk menjawab pertanyaan itu. Tapi, alih-alih aku berpikir lebih dalam, aku langsung menggeleng percaya diri. “Tidak. Mereka tahu aku hilang, tapi sepertinya mereka tidak terlalu tertarik akan apa yang akan aku lakukan di luar sini.”


    “Kau tentu tahu kalau mereka bisa melacak mu, kan? Mereka didukung oleh Serikat.”


    “Kalau mereka berniat mengurungku, seharusnya aku sedang menanti nasib ku di penjara sekarang.”


    Desmond diam dalam pikirannya, “Lalu, Alison Bancroft?”


     Indra ku menjadi awas ketika nama saudara ku disebut. “Ada apa soal Alison?”


    “Dimana dia?”


    “Dia masuk akademi.”


     Desmond memiringkan kepalanya, “Dan kau tidak?”


     “Aku tidak.” Jelasku lebih tegas.


     Aku mau tidak mau tersenyum mendengar hal itu. Ini baik. Tak kusangka kalau pelarian ini berjalan lebih baik dari yang ku kira.


    Desmond berbalik dan berjalan perlahan ke ujung gang buntu. Beberapa langkah sebelum kami menabrak tembok, Desmond mengangkat tangannya lalu mengulurkannya ke depan. Aku melihat tangan kanan Desmond masuk ke dalam lubang tak kasat mata di depan tembok yang berada setinggi dadanya. Pria itu berlagak seperti sedang membuka kunci dari dalam dan kemudian aku bisa melihat lubang hitam disana.


    “Ayo,” ajak Desmond santai. Dia menepuk bahu ku dan kemudian masuk mendahului. Aku berdehem, rasa girang ku meluap-luap. Aku bahkan harus menahan agar tidak tiba-tiba tersenyum seperti orang bodoh di depan salah satu anggota komunitas.


    Rasanya seperti masuk ke dalam dunia lain. Satu langkah sebelumnya aku berada di daerah kumuh rumah susun dengan palang jemuran yang saling bersambung dari setiap jendela di atas sana, langkah selanjutnya aku berada di ruang tengah sebuah villa bernuansa hitam.


    Orang-orang sedang duduk di meja bar sambil menyesap minuman dan tertawa setelah mereka menceritakan sebuah lelucon, sebagian lagi sedang bersantai di sofa ruang tengah dengan dua box pizza yang sudah hampir habis di atas meja kopi di hadapan sofa.


    Desmond menarikku menjauh dari ruang tengah dengan paksa karena aku yakin dia menangkap ekspresi terperangahnya aku. Berdiri dengan mata berbinar. Alison beberapa kali harus memukul kepala ku jika aku kelewat senang dan takjub seperti ini.


    “Kesini.” Gerutu Desmond. Dia menyeret ku melewati dapur dan kamar mandi dengan terburu-buru seperti keberadaan ku tidak seharusnya dilihat oleh orang-orang disana. “Nah, sekarang masuk.”


    Kami berdiri di hadapan sebuah pintu kayu geser berwarna coklat mengkilap. Desmond mendorong pelan menyuruhku untuk segera masuk tanpa banyak tanya.


    Tentu saja, aku melakukan apa yang dia suruh.


    “Aku menduga kau adalah Mathias Bancroft?” Silas menyapa terlebih dahulu bahkan sebelum aku membuka mulut. Dengan canggung, aku masuk dan menutup pintu kemudian berjalan hati-hati mendekati Silas yang tengah menyantap aneka ragam sushi di meja makan panjang.


    “Benar.” Balas ku mencoba percaya diri. Aku pun ikut duduk berhadapan dengan Silas di meja makan dan meneliti ruangan sekilas. Ini seperti ruang makan private restoran bintang atas.


    “Kenapa kau mencari kami?” Silas sama sekali tidak melihat ke arah ku ketika ia berbicara. Dia sibuk memilih sushi apa yang akan dia makan selanjutnya.


    “Aku ingin lepas dari kedua orang tua ku dan aturan-aturannya.”


    “Memangnya apa yang salah dengan aturan yang dibuat oleh Francis?”


    “Aku….” Suara ku memelan otomatis. Kilatan memori melintas di benakku begitu saja dan aku membenci itu semua.


     Silas tiba-tiba tertawa dengan mulut penuh memecah keheningan diantara kami. Aku mendelik melihatnya bingung.


    “Aku mengerti, Nak. Pasti sulit harus hidup dalam bayang-bayang serta kesempurnaan Francis dan Lindsey Bancroft. Tapi, tetap saja tak kusangka kalau kau berencana memberontak di usia semuda ini. Padahal sihir mu langka dan kuat.”


    Tenggorokan ku mendadak kering. Mau tidak mau aku menyipitkan mataku kesal bercampur heran. Apa yang orang ini tahu tentang aku?


    Silas kembali tertawa, kali ini lebih seperti mengejek. “Jangan kaget begitu. Aku punya kenalan yang bekerja di Serikat Sihir Amerika.”


    “Mereka juga belum tahu jenis sihir ku.” Kata ku sengit. Aku mengepalkan kedua telapak tangan ku dan merasakan energi sihir ku yang naik. Jika sesuatu terjadi sekarang, aku harus siap untuk menyerang.


     “Tentu saja mereka sudah tahu sekarang, begitu juga dengan sihir Alison Bancroft.”


    Semua energi sihir yang telah aku rasakan terurai begitu saja. Dahi ku mengerut. Alison? Memangnya saudara ku menyembunyikan bakat sihirnya juga seperti ku? Aku memang merahasiakan bakat sihir alam ku, tak terkecuali pada Alison juga. Aku yakin kalau Ibu dan Ayah mengetahui bakat sihir ku dari lama, mereka pasti ribut dan terus menerus membanggakan diri ku di Serikat. Mungkin, aku sudah disuruh mengerluarkan bakat sihir ku sebagai atraksi di depan teman-temannya.


    Oh, tidak. Memikirkannya saja aku mual.


    “Ada apa dengan Alison?” tanya ku penasaran. Apa ini artinya saudara kembar ku memiliki bakat sihir air yang besar? Atau dia memiliki bakat lain seperti ku?


     Silas mengembangkan senyumnya seraya menaruh sumpit di atas pisin tempat ia menuangkan kecap asin. Silas lalu bersandar dan menyilangkan kakinya. “Oh, bakatnya benar-benar menarik. Sama seperti mu, tapi kupikir kau tidak perlu khawatir soal Alison. Dia berada di bawah pengawasan Riggs dan seluruh guru Akademi Lixorth. Lebih baik, kita membicarakan soal sihir mu. Apa kau yakin tidak mau mengikuti jejak saudara mu?”


     Aku menghembuskan napas lega. Silas benar. Setidaknya, Alison berada dalam pengawasan banyak orang. Meskipun nanti mungkin Ayah dan Ibu akan mencoba memanfaatkan Alison dengan bakatnya yang sama sekali tidak kuketahui, tapi Alison bisa berlindung dibawah peraturan Akademi Lixorth. Jadi, Ayah dan Ibu tidak bisa sesuka hati menarik Alison kesana kemari.


     Tatapan ku mengarah pada mata abu Silas. Aku menggeleng. “Sudah ku katakan, aku tidak tertarik dengan Akademi Lixorth. Aku ingin bebas.”


    Silas mengangguk puas dengan jawaban ku atau entah dia sedang merencanakan sesuatu yang lain. Dia hanya tersenyum kecil. “Baiklah, bagiku yang terpenting kau bukanlah buronan Serikat. Ayah dan Ibumu bahkan tidak peduli dengan keberadaan mu. Tak apa. Lagipula, kau mungkin bisa berkembang dengan komunitas kami.”


    Benarkah? Aku yakin mataku berkilat senang.


    Silas bangkit, “Untuk sementara, aku akan menerima mu. Ayo, bersiap. Besok pagi kita akan pergi ke Peru.”




*