Litmatch Made Us Meet

Litmatch Made Us Meet
Berita Buruk 2



[ Boleh gak, aku jujur sama kamu? sebenarnya beberapa hari ini penyakit aku kambuh terus]


[ jujur, sebenarnya aku mau banget dengar suara kamu, tapi aku gak boleh egois]


[Aku hanya menginginkan hal kecil itu, ingin bertemu meskipun gak tau kapan bisa terwujud, udah hanya itu yang mau aku sampaikan padamu, baik-baik disana yah sayank, love you...]


Setelah pulang dari kampus aku segera meluncur ke aplikasi whatsApp, melihat pesan masuk dan pemberitahuan mengenai tugas dan kegiantan KTI (karya tulis ilmiah).


KTI adalah karya tulis yang dibuat dengan prinsip-prinsip ilmiah, berdasarkan data dan fakta. seperti, observasi, eksperimen, dan kajian.


Jadi untuk saat ini, aku tidak ada waktu senggang untuk menemaninya mengobrol dan bercerita banyak seperti hari-hari biasanya, karena aku sedang melakukan sebuah eksperimen tentang sesuatu.


[ terus bagaimana, yank? Udah kerumah sakit belum?]


[ Aku juga mau dengar suara kamu sebenarnya, tapi aku lagi sibuk untuk saat ini, makasih yah udah mau mencoba mengerti aku]


[ Nanti kalau udah gak sibuk lagi kita ngobrol yah sayank, iya aku akan jaga diri baik-baik, love you too...]


[ Kalau masih sakit jangan kerja dulu, istirahat yang cukup, hentikan merokoknya, Aku mau pergi dulu soalnya kegiatan nya masih belum selesai]


Balasku padanya, Aku baru pulang dari kampus, namun hanya bisa rehat sebentar dan makan, setelah itu kembali pergi lagi menyambung kegiatan yang belum terselesaikan.


Terkadang aku sering mengabaikannya karena waktuku tersita oleh kesibukan yang dilakukan.


Dia sempat mengeluh dengan tidak adanya waktu ku untuknya, namun aku tidak bisa menurutinya untuk harus tetap mengabarinya, karena tugas ini sudah harus kulakukan demi mendapat kelulusan yang memuaskan.


Terkadang aku merasa kasihan padanya, apa lagi dia sekarang lagi sakit seharusnya aku lebih banyak waktu dengan nya, memberinya perhatian lebih serta memperdulikan kondisinya namun aku juga sibuk tidak bisa melakukan nya.


Dia hanya bisa mencoba mengerti keadaanku, bersabar menunggu kabar dariku.


Jika pejuang LDR beginilah adanya, jika sibuk tidak dapat melakukan komunikasi, terkadang juga tidak dapat bertemu secara langsung hanya dapat berkomunikasi dan berinteraksi lewat online.


Saat ini aku dan beberapa temanku sedang mengumpulkan beberapa data untuk di observasi.


Dari satu tempat ke satu tempat untuk mendapatkan nya, terkadang juga sulit untuk menemukan nya.


Setelah semua data telah terkumpul, akhirnya aku diantar pulang oleh temanku tepat pukul 8:00 wib malam.


Aku beristirahat sejenak, lalu berjalan ke dapur mencari makanan yang bisa dimakan.


"Baru pulang?" Tanya vidya padaku, saat aku sampai di dapur, dia sedang makan malam.


"Iya vid, kamu masak apa malam ini?" Tanyaku padanya sambil mendekat ke arahnya.


"Ini... tumis kangkung, goreng tempe, sama tadi beli ayam goreng dari warung depan kontrakan" jawabnya sambil menyuapakan nasi kemulutnya


Aku hanya diam mendengarkan penuturan nya sambil melihat ke arah makanan yang sudah tersaji di meja makan, setelah itu aku membawa piring segera menyendok nasi lalu ikut bergabung bersama vidya di meja makan.


Disini kami tidak mempersoalkan siapa yang membeli lauk dan siapa yang memasak, yang terpenting siapa yang tidak sibuk itu yang mengerjakan nya.


Kami saling mengerti satu sama lain, adakalahnya jika dia sedang sibuk giliran aku yang menghandle pekerjaan dapur dan rumah, mulai dari memasak hingga membersihkan rumah begitulah otoritas kami.


"Kamu masih berhubungan dengan si dian?" Tanyanya memecahkan keheningan.


"Masih, kenapa vid?" Tanyaku heran dengan pertanyaan nya.


Tidak biasanya dia pertanyakan biasanya dia cuek aja, meskipun aku juga sempat cerita padanya hingga aku juga pernah memberikan foto untuk dia lihat orangnya, jadi sedikit banyaknya dia tahu tentang si dian dariku.


Dia terdiam sebentar seperti memikirkan sesuatu.


"Gak ada kenapa-napa, cuma tanyak aja" Respon nya sambil kembali melanjutkan makan.


Aku tidak berpikir terlalu banyak kembali melanjutkan makan.


Setelah selesai makan vidya membuat tugas di ruang tamu, sedangkan aku langsung ke kamar untuk berbaring, sudah lama aku meningglkan kasurku yang empuk rasanya sudah rindu padanya, kasur empuk ku aku datang...


Badanku terasa remuk setelah seharian melakukan kegiatan diluar, rasanya aku sudah tidak ada tenaga lagi untuk bergerak, ingin rasanya langsung terjun ke alam mimpi.


Saat mataku sudah terpejam dan hampir mengalihkan kesadaranku ke alam mimpi, tiba-tiba ponselku berbunyi.


"Yank..."


"Iya, kenapa?"


"Dada aku sakit, uhuk...uhuk..." aduhnya dari sana sambil terbatuk.


"Sudah minum obat belum? Minum air hangat biar bantuknya redah" usulku padanya.


"Udah yank, tapi masih juga" jawabnya dari sana.


"Terus bagaimana? Aku khawatir ini!" Disini aku khawatir dengan kondisinya, katanya semakin hari keadaan nya semakin down.


"Gak tau, yank kalau nanti aku pergi ingat yah! kamu harus jaga diri baik-baik, tetap semangat, dan harus bahagia, jangan lupa sholatnya!" Tuturnya dengan lembut.


"Jika nanti saatnya tiba aku gak bisa temani kamu buat tugas lagi, gak bisa dengerin cerita kamu lagi, dan gak bisa sama kamu lagi, kamu baik-baik yah disana aku akan tetap cinta sama kamu" sambungnya lagi dengan suara lembut dan rendah, membuat aku meneteskan air mata.


"Jangan ngomong gitu yank! kamu pasti bisa sembuh" tekadku dengan suara serak.


"Tapi kemungkinan besar tidak yank, terimakasih yah buat waktunya beberapa bulan ini, terimakasih sudah mau bersamaku, aku sangat bahagia bisa bertemu kamu" tuturnya dari sana dengan suara ringan.


"Jangan ngomong gitu dear, kamu semakin membuatku takut dan sedih" jawabku dengan suara serak menahan tangis.


"Aku ngomong faktanya, agar nantinya kamu siap saat aku tiada" ucapnya dari sana.


"Aku gak akan pernah siap!"


"Kamu harus siap!"


"yank kamu pasti cape kan, seharian melakukan kegiatan diluar? mending sekarang istirahat yah? Biar aku temani dari jauh, sekalian aku nyanyiin kamu biar tidurnya nyenyak" penuturan nya dari sana membuat aku sangat senang.


Apalagi seharian melakukan kegiatan yang melelahkan, jadi aku butuh yang membuat pikiran tenang seperti ini.


"Baiklah" jawabku singkat


Terdengar dia memetik senar gitar pertanda akan mulai menyanyi.


Kerinduan


Yang kini kurasakan


Terjawab sudah dengan hadirmu


Membawa kehangatan🎶


Lantun nya dengan suara lembut nan syahdu.


Sekian lama


Kau doa yang ku pintakan


Tuhan kirimkan engkau padaku


Mengisi kisah hidupku🎶


Dalam sepiku kaulah candaku


Dalam hatiku engkaulah cintaku🎶


Kaulah lentera di dalam jiwa


Kuatkan raga peluk nan cinta


Semoga abadi cinta tuk selamanya🎶


Hu🎶


Aku terharu dengan isi dari liriknya menyampaikan makna yang sangat dalam.


Sekian lama


Kau doa yang ku pintakan


Tuhan kirimkan engkau padaku


Mengisi kisah hidupku🎶


Dalam sepiku kaulah candaku


Dalam hatiku engkaulah cintaku🎶


Kaulah lentera di dalam jiwa


Kuatkan raga peluk nan cinta


Semoga abadi cinta tuk selamanya🎶


Dalam sepiku kaulah candaku


Dalam hatiku engkaulah cintaku🎶


Kaulah lentera di dalam jiwa


Kuatkan raga peluk nan cinta


Semoga abadi cinta tuk selamanya🎶


Lagu yang dia nyanyikan membuat aku terbuai, sehingga lambat laun menjadi teman penghantar aku ke alam mimpi.


Setelah itu aku tidak mendengar suara apapun lagi, dalam kondisi sambungan telephone masih terhubung.


Ini bukan kali pertamanya dia menyanyikanku seperti ini hingga tertidur, namun lagu ini sungguh romantis saat dia nyanyikan seperti ini, mengisyaratkan betapa berartinya aku didalam hidupnya, dan itu membuatku senang.


♤♤♤♤♤♤♤


Keesokan harinya


Aku sedang ada kelas mata kuliah dan saat ini, dosen sedang memberikan materi yang akan dipelajari, tiba- tiba ponselku bergetar menandakan pesan masuk.


Sengaja aku memberi mode getar agak tidak menggangu saat kelas berlangsung, untung saja dosen tidak mendengarnya jika tidak aku akan terkena teguran.



[ Perih yank]


Isi pesan nya dari sana.


[ Ya ampun yank, batuk darah?] Aku panik saat melihatnya.


[ Dadaku sakit] keluhnya dari sana.


[ Ya ampun, aku mengerti bagaimana rasanya batuk tapi perih, udah coba minum obat tradisional yank?]


Balasku sambil mengetik secara sembunyi-sembunyi di belakang punggung temanku, soalnya dosenku yang satu ini tidak suka jika dia sedang menerangkan materi tapi kita tidak mendengarkan nya, dia akan marah.


[ bisanya apa?] Balasnya dari sana.


Aku terus ngumpet di belakang punggung temanku, sambil sesekali melirik ke depan meilihat dosen itu.


[ Coba nanti aku tanya ibu yah? soalnya dulu kakek sakit paru-paru juga]


Balasku, terus mengetik balasan dengan sembunyi-sembunyi.


[ Udah yank, gak apa-apa kok, aku cuma kasih tau aja ]


Balasanya dari sana merasa sungkan.


[ gak! Aku ngerasain juga gimana sakitnya kamu]


[ Biasanya kalau lagi sakit ditandai dengan dada terasa sesak, sakit dan nyeri kalau dibatukin]


Aku mencoba mengerti keadaanya dan prihatin atas kondisinya.


[ iya tanda-tanda yang disebutin itu benar, makasih yah yank, udah mau peduli padaku]


Balasnya dari sana dengan emot sedih.


[ Bentar lagi aku pulang, kamu harus sembuh!]


[ Saat ini aku khawatir sama kamu, waktu lihat pesan masuknya tadi jantung aku langsung berdetak kencang, aku kaget yank]


Balasku lagi.


[Jangan khwatir besok aku bakalan pergi check up, kamu baik-baik yah disana]


Balasnya dari sana semakin membuatku sedih.


[ Aku cuma kasih tau aja, tapi gak ingin buat kamu khawatir dan kepikiran]


[ Sekarang kamu lagi ada kelas yah? Kalau begitu aku gak ganggu lagi tunggu kamu pulang aja baru diomongin lagi]


[ Aku istirahat dulu yah, kalau nanti udah sampai rumah, ganti baju jangan lupa makan, udah dulu yah]


Setelah mendengar kabar darinya membuat fokusku hilang di sepanjang kelas berlangsung, aku menatap kedepan dengan tidak bersemangat.


Ingin rasanya aku segera mengakhiri kelas supaya bisa langsung mendengar suaranya, namun mana mungkin bisa aku melakukan nya.


Rasa sakitmu rasa sakitku juga, karena hatimu telah terpaut denganku hingga menjadi satu~ Lalisa nayya trishala