Litmatch Made Us Meet

Litmatch Made Us Meet
Jatuh Sakit



"Vid, minta tolong boleh, gak?" Panggilku pada vidya yang lagi memasak di dapur.


"Iya alisa, mau minta tolong apa?" Sahutnya dari dapur.


"Tolong ambilkan satu gelas air, boleh?" Pintaku padanya.


"Boleh, tunggu sebentar yah, aku mematikan kompor dulu" teriaknya dari dapur.


saat ini aku sedang berbaring di kasur, sudah seharian ini aku tidak keluar dari kamar selain pergi ke kamar mandi, itupun di bantu oleh vidya.


tubuhku terasa sangat panas, kepalaku sakit dan kalau bangun aku merasa pusing.


Saat itu aku bangun pagi ingin berangkat ke kampus, namun kepalaku terasa berdenyut, seluruh badanku jadi meriang, ditambah lagi perut sakit dan asam lambung kambuh, lengkap sudah.


kerongkonganku terasa kering dan mataku berkunang-kunang, akhirnya aku putuskan untuk tidak berangkat ke kampus, hanya meminta izin saja pada dosen.


"Dimana obatmu? biar aku bantu ambilkan" tawar vidya sambil menaruh gelas dia atas nakas di samping tempat tidur.


"Di dalam laci itu!" Tunjuk ku pada vidya memberi tahu.


Setelah vidya mendapatkan-nya dia segera memberikan-nya padaku, lalu keluar kamar menyambung kembali kegiatan memasaknya.


Setelah minum obat aku memilih tidur sebentar, mungkin sakitnya bisa ilang kalau di bawa tidur.


Namun saat hendak memejamkan mata, tiba-tiba ponselku berdering menandakan telephone masuk.


"Hallo, Assalamu'alaikum, sayang" terdengar suara dari seberang sana.


"Iya, wa'alaikum salam, sayang" jawabku dengan suara serak.


"Loh, suaranya kenapa gitu? Kamu lagi sakit?" Tanyanya kelihatan khawatir.


"Iya, tadi pagi waktu bangun tiba-tiba kepalaku terasa berat, terus badan juga panas, kalau bangun terasa pusing banget" ceritaku padanya.


Hari ini genap satu bulan kami dekat, dan aku sudah mulai memanggilnya dengan sebutan sayang, dari satu minggu yang lalu.


Kami sudah meresmikan hubungan ini tanpa pacaran, tapi kami saling mengikat satu sama lain, berkomitmen untuk saling memiliki.


"kenapa bisa sakit? mungkin kamu kecapean itu, abisnya kamu nugas mulu sih" dari suaranya kelihatanya dia sedikit kesal sama aku, karena tidak bisa mengatur waktu istirahat dengan baik.


"Mungkin sih yang, udah gitu perut aku sakit, asam lambung juga naik, lengkap sudah" ceritaku padanya.


"Ada makan pedas lagi kan?" Tebaknya dari sana dengan suara datar.


"Iya, tadi malam abis makan mie juga" laporku padanya.


"Nah kan? Bandel aja terus, ngelawan aja terus! Udah diingetin jangan makan pedas, tetap aja dimakan" omelnya dari sana seperti emak-emak memarahi anaknya.


"gak suka kalau gak makan pedes, gak enak yang" sangkalku.


"Oh, yaudah abis sembuh nanti makan pedas lagi aja, sering-sering aja makannya biar kamu sakit lagi, kalau dibilangin juga suka ngebantah kamu, mah" gini nih, kalau dia udah mulai kesel kalau di bantah omongan-nya


"Engga lagi, aku janji yang. jangan marah-marah, sayang..." bujuk ku padanya.


"Gak mau janji aku, entar juga kamu bandel lagi." jawabnya dengan suara tidak senang.


"Udah ah, mau kerja dulu, lanjut lagi nanti abis aku pulang kerja, aku temenin sampek malam" sambungnya lagi mulai melembut.


"Iya ayang... tau gak obatnya banyak banget, sampai lima jenis disitu" aduhku padanya.


"Bodoh, mau lima atau mau berapapun tetap minum! Kalau sampai gak diminum atau gak tepat waktu minumnya, jangan harap kamu bisa chattan atau teleponan sama aku lagi!" ancamnya padaku.


"Iya janji! minum obat tepat waktu" jawabku dengan semangat.


"Yaudah, aku sambung kerja lagi yah? Jangan lupa makan!" ucapnya sambil mengingatkan.


"Iya dear" jawabku


"Kalau masih sakit perutnya sama asam lambungnya ,istirhat aja terus minum obatnya, jangan lupa!" Perintahnya


"Siap, titah pak ketua di laksanakan!" jawabku meledek, sambil memberi hormat seakan-akan dia dapat melihatku, padahal hanya telephone biasa bukan video call.


"Tau aja kamu yah? kalau di tongkrongan aku di panggil pak ketua, kamu udah berani ngeledek aku yah, yang?" ucapnya dari sana.


"Kamu yang cerita waktu itu, udah dear lanjutin kerjanya, gak kelar-kelar ini kalau ngomong terus" ucapku mengalihkan pembicaraan


"Yaudah aku tinggal dulu yah, cantik?" Ucapnya dari seberang diiringi kata gombalan di akhir.


"Oke yang, aku juga mau tidur bentar" jawabku


"Wa'alaikum salam, semangat kerjanya, ayang" jawabku sambil memberi semangat padanya.


"Makasih sayang..." ucapnya.


"Eum" jawabku singkat, setelah itu sambungan telephone terputus.


Semenjak berubah panggilan dia mulai protektif padaku, semakin berani bertindak lebih peduli dengan kesehatan maupun aktivitasku.


Aku beruntung bisa kenal dengan-nya, disini kita bisa saling berbagi cerita satu sama lain, bahkan saling menyemangati diri dari masalah yang menghadang.


Aku mulai menarik selimut, lalu segera memejamkan mata untuk menuju alam mimpi.


●●●●●


"Alis... alisa bangun! Makan dulu, kamu udah lama banget itu tidurnya" Tiba-tiba terdengar sebuah suara memanggil namaku, diiringi tepukan ringan di lenganku.


Aku membuka mata dengan perlahan, terlihat vidya sedang mengatur makanan di meja kecil di samping ranjang tidur.


Saat ini sudah menunjuk kan pukul delapan malam, dari siang aku terus tertidur, meski sempat sesekali terbangun karena ingin ke kamar mandi atau hal lainya.


Aku segera bangun hendak duduk, tapi rasa sakit di kepalaku semakin terasa, saat melihat keadaanku vidya segera mencegahku untuk bangun.


"Kamu berbaring saja kalau begitu, biar aku yang menyuapimu" tuturnya saat melihat aku merintih menahan sakit.


Ternyata vidy telah membuat bubur ayam kesukaanku, dia segera menyupakan bubur itu kemulutku.


"Kenapa rasanya begini vid, biasanya juga enak bubur yang kamu buat" heranku saat sudah menelan bubur itu.


"Bukan rasanya yang berbeda alis, tapi mulutmu saja yang terasa hambar karena kamu lagi sakit" jelasnya padaku.


Aku hanya diam membenarkan perkataan nya, mungkin benar kata vidya karena aku lagi sakit sehingga mengubah cita rasa di mulutku.


"Ayo buka mulutmu alis, ini tinggal dua sendok lagi" bujuk vidya saat aku menolaknya.


"Udah vid, jangan dipaksa lagi yah, nanti aku akan muntah" tolak ku dengan halus.


"Baiklah, aku akan mengantar mangkoknya ke dapur dulu, kalau mau sesuatu panggil aku saja" ngalahnya sambil berjalan keluar kamar menuju dapur.


Aku hanya mengangguk lalu kembali menarik selimut sampai dada.


Saat sudah terlelap sebentar tiba-tiba ponselku berbunyi.


"Hallo, Assalamu'alaikum, dear" sapa seseorang dari seberang.


"Iya, wa'alaikum salam, dear" jawabku dengan suara ringan dan serak.


"Kamu masih sakit yang?" Tanyanya dari seberang.


"Masih, badanku mulai panas lagi, tadi sore sempat keringetan" aduhku padanya.


"Obatnya udah diminum? Kepalanya kompres pakai air dingin, atau beli baby fever aja, yang" Ucapnya dengan suara lembut.


"Belum lagi yang, iya nanti mau tidur aja di kompresnya" jawabku dengan suara lemah.


"Minum obatnya cepat!" Perintahnya.


"Iya ini mau di minum, ternyata sakit itu gak enak yah, yang" ucapku padanya.


"Siapa bilang sakit itu enak, makanya jangan cari penyakit, kalau di bilangin itu dengerin. waktu istirahat di luangin, jangan sibuk organisasi melulu ibu negara... tugasnya jangan diburu terus" ucapnya greget dari seberang sana.


"Iya yang, dengar apa kata kamu" jawabku tidak membantah.


"Obatnya ada jadi diminum?" Tanyanya lagi memastikan.


"Udah yang" jawabku pelan.


"Bagus, sekarang tidur jangan banyak main handphone, terus jangan bergadang, telephonenya jangan dimatiin biar aku temenin boboknya" ucapnya menyuruhku segera tidur.


"Iya yang, kalau gitu aku tidur dulu, kamu juga tidur, pasti capek kan pulang kerja?" Aku mengikuti saja apa yang di katakannya, yang penting itu juga demi kesehatanku.


"Iya dear, aku juga akan tidur" nurutnya, mungkin juga dia kecapaian abis pulang kerja, akhirnya kami memilih terlelap dengan sambungan telepon masih tersambung.


Aku berharap kamu tidak berubah yah dear, kamu akan tetap jadi ian yang aku kenal, selalu menjadi penyemangat disaat aku berada di titik jenuh ketika berhadapan dengan tugas-tugasku.


Selalu jadi alarm pengingat di saat aku lupa dengan sesuatu, mungkin kamu akan marah jika aku melanggar pantanganmu, bahkan kamu akan mengomeliku jika aku tidak bisa menjaga diriku dengan baik, terimakih dear...


aku bahagia bisa mengenalmu, karena kamu mampu membuatku bangkit kembali di saat aku di titik rapuh~ lalisa nayyala trishala