Litmatch Made Us Meet

Litmatch Made Us Meet
Takut Kehilanganmu



Aku tidak bisa membenci waktu karena telah membuatku menunggu, aku juga tidak bisa memaksa nya untuk terus mengabariku, karena disini bukan tentang paksaan tapi siapa yang bisa menghargai atas sebuah perasaan.


Suatu hubungan akan terasa menyiksa jika tidak saling berbagi cerita, memendam luka sendiri tanpa mau memberitahu apa yang kita rasa, itu akan membuat hubungan menjadi hampa, lebih baik menghargai waktu yang masih kita punya dengan saling terbuka.


Jika dikatakan aku tidak berpikir sembarangan tentangnya itu mustahil, walau bagaimanapun kami memiliki hubungan meski itu bukan sesuatu yang sakral dan keterikatan dengan status berpacaran.


Ini sudah kesekian kalinya aku tidak mendapat kabar darinya, aku sudah mencoba menghubunginya melalui akun sosial medianya namun tidak ada hasil yang kudapatkan.


Jika kalian berada diposisiku apa yang akan kalian lakukan? Over thingking atau mencoba tenang tetap terus menunggu, hingga mendapatkan balasan dari pesan yang dikirimkan?


Setelah sempat mendapat kabar darinya kini sudah menghilang lagi bagaikan ditelan bumi, tidak ada kabar dan sapaan yang biasa dia lakukan setiap pagi dan malam.


Aku hanya bisa menunggu hingga dihubungi olehnya, karena seberapapun banyak pesan yang kulayangkan padanya tetap tak kan ada balasan.


Sudah beberapa hari kami tidak saling berkomunikasi, aku sangat takut jika dia benar-benar akan pergi tanpa sempat mengabari, itu yang membuat aku tidak sanggup menerimanya.


Saat ini aku sedang membersihkan rumput diperkarangan, menyapu halaman dan menyirami tanaman.


Ketika aku sedang menyapu tiba-tiba terdengar suara dering ponselku, dengan terburu-buru aku segera mengakat telephone masuk itu.


"Hallo, alisa?" terdengar suara sapaan dari seberang sana.


"Iya, hallo, mengapa baru ngehubungi? Kamu baik-baik saja kan?" Aku langsung menodongnya dengan pertanyaan.


"Aku saat ini jadi sering tidur dan tidak dibolehin bermain handphone karena bisa mengganggu istirahatku, kamu kan tahu kalau aku lagi sakit, jadi gak sempat ngehubungi kamu." jawabnya dari sana memberi penjelasan.


"Aku baik-baik saja kok, kamu tidak perlu khawatir, yang penting kamu jangan memaksa aku terus bisa mengabarimu karena itu tidak bisa aku lakukan" tuturnya dari sana.


"Tapi kan bisa ngasih kabar walaupun itu singkat biar aku gak nunggu terus, biar aku gak kepikiran kamu terus, aku takut kamu kenapa-napa" ucapku padanya dengan khawatir.


"Iya aku tahu kamu sedang sakit, aku juga sadar saat begini aku gak bisa jagain kamu dengan menemani disampingmu, jadi gak perlu juga untuk dikabari tapi setidaknya hargai perasaanku, aku itu khawatir dengan kesehatanmu" ucapku mulai lelah dengan semuanya.


"Kamu capek yah? apa kamu bosan dengan aku yang terus menghilang tanpa kabar begini? maaf aku membuatmu kecewa karena keadaanku, jika kamu sudah tidak sanggup lagi kamu bisa memilih pergi" tuturnya dari sana mulai menyerah.


"Kamu malah menyuruhku pergi? aku tidak bilang bosan apalagi capek denganmu, aku cuma minta kamu memberi kabar meski itu pesan singkat." pintaku padanya.


"kamu mengira aku akan memilih pergi ketika kamu sedang tidak baik-baik saja begini? aku bukan tipe orang yang seperti itu!" Tuturku dengan penuh penekanan.


"maaf, aku mengatakan begitu karena aku menyangkah kamu lelah dengan hubungan kita jadi aku mengizinkanmu untuk memilih jalan sendiri, maaf juga aku malah memilih menyerah dengan keadaan padahal kamu berusaha untuk mempertahankan" tuturnya dari sana mengakui kesalahan.


"Baguslah jika kamu tahu salah, lain kali jangan merasa lemah begini lagi cuma karena keadaanmu, kamu menjadi takut jika aku tidak bisa menerimanya dan memilih meninggalkanmu" peringatku padanya


"Baiklah, kita jangan membahasnya lagi yah? Kita baru bisa mengobrol begini jadi lebih baik kita manfaatkan buat saling melepas rindu, apa kamu tidak merindukanku?" Ucapnya dari sana mulai menyikapinya dengan tenang dan mengalihkan pembicaraan.


"Hem, baiklah aku tidak membahasnya lagi, mari kita membahas yang lain saja. aku juga merindukanmu bahkan sangat merindukanmu" tuturku padanya.


Aku tidak tahu bakalan kemana arah hubungan ini nantinya, dan akan seperti apa kedepan nya yang terpenting saat ini aku akan tetap mempertahankan nya.


"Aku rindu padamu, aku ingin bertemu dan ingin memelukmu walau hanya sekali saja, aku ingin melihatamu walau itu untuk yang terakhir kalinya" tuturnya dari sana dengan suara rendah dan serak.


"Lalu bagaimana? Saat ini kita berjauhan" jawabku dengan mata berkaca-kaca.


"Cuma bisa peluk dari jauh he...he.." ucapnya dari sana mencoba berlapang dada.


Jujur saat ini aku sangat ingin bertemu dengan-nya, memeluknya dan meluapkan semua beban bersamanya.


Apakah kalian tahu? hubungan seperti ini sangatlah berat untuk dijalani, jika tidak ada kabar dan komunikasi membuat kita uring-uringan, apalagi sudah terbiasa setiap hari walau bagaimanapun selalu berkabar, saling memberi perhatian dan saling memperhatikan baik kesehatan maupun menjaga pola makanan.


"Tiap malam aku selalu mimpiin kamu dan itu sudah cukup untuk mengobati rasa rinduku" ucapnya lagi dari sana terdengar senduh.


"Mau bagaimana lagi dear, kita tidak dapat bertemu karena situasi dan kondisi, jadi kita sabarkan saja menerimanya" jawabku dari sini mencoba menguatkan.


"Aku berharap bisa bertemu denganmu meski hanya sekali, sebelum kamu selesai kuliah dan kembali pulang ke rumahmu" harapannya dari sana membuat aku terdiam mendengarnya.


Bukan hanya dia saja akupun sama, namun keadaan tidak merestui kami bertemu untuk saat ini.


"Harapan kita sama, hanya saja susah untuk mewujudkan nya karena kesibukan masing-masing" jawabku dari seberang.


"Aku yakin jika kita ditakdirkan untuk bersama pasti akan dipersatukan, tapi jika tidak aku hanya meminta satu kepada sang pencipta yaitu dipersatukan denganmu" tuturnya dari sana membuat hatiku terasa hangat mendengarnya.


"Semoga kamu adalah takdirku" lontarku.


"Oh ya, aku mau bilang sesuatu padamu" ucapnya dari seberang sana.


"Apa itu?" Jawabku cepat dengan perasaan tidak enak.


"Jika nanti aku sudah tidak mengabarimu lagi itu tandanya aku sudah tidak baik-baik saja" lontaran perkataan nya dari sana membuat jantungku langsung berpacu dengan cepat.


Apa yang dia katakan? Aku tidak ingin mendengar perkataan ini! aku tidak siap jika itu terjadi.


"Jangan ngomong begitu, kamu pasti bisa sembuh!" Tuturku dengan suara serak dan mata berkaca-kaca.


"Satu lagi, jika nanti terjadi sesuatu padaku, finda yang akan mengabarimu, dia akan menceritakan semuanya bagaimana kondisiku padamu" tuturnya dari sana kembali mengungkit mantan pacarnya itu.


"Hem, apakah harus dia?" Tanyaku dengan sedikit tidak senang.


"Hanya dia yang tahu kondisiku, sekarang aku mau istirahat dulu, kamu baik-baik yah disana. bye... bye... dear" tuturnya mengakhiri obrolan.


"Hem, baiklah, kamu istirahatlah akutidak mengganggumu lagi, iya aku akan menjaga diriku dengan baik, bye... juga" setelah itu sambungan segera terputus tandan panggilan telah berakhir.


"Hufff..." aku menghembuskan napas melepaskan kepenatan dalam hatiku, aku tidak mengerti dengan situasi yang terjadi saat ini.


Dia berkata tadi jika ada sesuatu terjadi padanya aku akan dikabari oleh mantanya, pertanyaan nya jika cewek itu mengetahui tentangnya apakah mereka masih saling berintraksi satu sama lain untuk saat ini?


Apakah mereka masih sering berkomunikasi? Ah... sudahlah tidak perlu memikirkan nya aku sebaiknya mencoba percaya padanya.


Aku kembali melanjutkan kegiatanku yang sempat tertunda karena menerima panggilan dari dianran tadi, sekalian juga menunggu vidya datang dari berbelanja kebutuhan dapur.


Saat ini aku baru selesai mandi, vidya juga sudah kembali dari berbelanja, jadi kami memutuskan untuk memasak soto ayam dan rawon makanan khas jawa timur menu kami malam ini.


Aku membantu vidya menyiapkan bahan-bahan yang diperlukan, sedangkan dia sedang memotong-motong daging menjadi beberapa bagian.


Setelah semua bahan telah selesai disiapkan kami segera membuatnya, aku memasak soto ayam sedangkan dia memasak rawon, karena aku bukan orang jawa jadi aku tidak bisa memasak rawon dan aku menyuruh dia saja yang memasaknya.


Karena kami membagi tugas, membuat masakan jadi cepat terselesaikan, aku dan vidya menyantapnya dengan lahap, kami sudah lama tidak membuat masakan seperti ini karena sering sibuk, jadi biasanya kami hanya pesan masakan dari warung.


Kami sudah selesai makan, saat ini kami sedang menonton televisi diruang tamu, vidya dengan sangat fokusnya menonton serial drama korea kesukaan kami berdua di channel K drama.


Ketika lagi fokus menatap layar televisi tiba-tiba ponselku berdering menandakan panggilan masuk, namun anehnya tidak ada nama pemanggil tertera disitu, alias itu nomer masuk yang tidak diketahui milik siapa.


Karena suara televisi sedikit bervolume besar aku memilih menjauh, meninggalkan vidya seorang diri diruang tamu.


Vidya sempat melihat ke arahku sebentar, namun segera menarik kembali pandangan nya ke layar televisi.


"Hallo, apakah ini alisa?" Terdengar sebuah suara perempuan dari seberang sana.


"iya saya alisa, ada apa yah?" Tanyaku langsung ingin mengetahui maksud dan tujuan si penelephone.


"Aku finda, mantan nya dianran sekaligus teman masa kecilnya" ucap orang itu memberitahukan dirinya.


DEG


Seketika jantungku langsung berdetak kecang, tubuhku menjadi lemas tak bertenaga, apakah secepat ini dia datang mengabari? tidak mungkin! tadi kami baru saja mengobrol dia tidak mungkin pergi secepat ini!


"Hallo apakah anda masih disana?" Terdengar suara lagi dari seberang sana.


Menyadarkan aku dari keterkejutan, aku berusaha menepis pemikiran yang tidak-tidak tentang dinran.


"Iya, ada apa menghubungiku?" Tanyaku dengan cepat.


Jika nantinya dia mengatakan tentang kondisi dianran saat ini, aku harus siap mendengarkan nya walau itu sangat menyakitkan sekalipun.


"Em, tidak ada hanya ingin berkenalan denganmu saja" ucapnya dari sana dengan santai.


"Hah"


Aku melongo dibuatnya, maksudnya ada apa ini? mengapa dia tidak mengatakan nya langsung saja?


"Hanya itu?" Tanyaku tidak percaya.


"Iya, aku mendapatkan nomermu dari dianran, kamu pacarnya dianran kan?" Lontarnya dari sana padaku.


Aku bingung mau menjawab apa, karena hubungan kami saat ini bukan status pacaran namun sangat dekat, aku tidak tahu juga sebenarnya hubungan yang kami jalani ini seperti apa.


"I...iya, memangnya ada apa?" Membuat aku sedikit gugup menjawabnya, karena aku juga bingung dengan status kami yang sebenarnya


"Tidak ada, aku hanya ingin mengatakan padamu saja, bahwasanya saat ini aku sedang bersama dianran. eh, kamu jangan salah paham dulu aku hanya menjaga dia yang sedang sakit" tuturnya dari sana membuat aku tertegun mendengarnya.


Aku tahu aku tidak bisa berada disisinya saat ini, namun apakah perlu mantanya yang harus merawatnya? apakah tidak ada orang lain yang bisa menjaganya?


"Maaf merepotkanmu, aku berterimakasih karena kamu sudah mau menggantikanku menjaganya" tuturku mencoba


"Tidak masalah! aku sudah kenal lama dengan dianran, lagian aku dan dia berteman sangat dekat jadi sudah seharusnya menjaganya" lontarnya dari sana seperti ada maksud tertentu dari perkataan nya, membuat hatiku meradang mendengarnya.


Aku tahu aku jauh tidak bisa merawatnya, namun mengapa mempercayakan pada mantanya untuk menjaganya? mengapa dia tidak memberitahuku dulu?


"Baiklah, aku titip dianran padamu, jaga dia dengan baik karena aku tidak dapat menjaganya seperti yang kamu lakukan" jawabku mencoba tenang.


Aku sadar dengan itu, dia tidak perlu berkata terus terang seperti itu padaku, kesan nya aku seperti tidak berguna saja untuk dianran.


"pasti! Aku akan menjaganya dengan baik kamu tidak perlu khawatir" responya dari sana semakin membuat hatiku perih.


Meski dia cuma mantan namun mampu membuatku cemburu, karena mereka pernah kenal dan dekat sebelum kehadiranku, otomatis tidak menutup kemungkinan rasa itu tidak muncul kembali diantara mereka berdua.


"Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak aku hanya menjaganya saja" disini dia mencoba meluruskan atas perkataan nya tadi, mungkin menyadari atas keterdiamanku yang tidak merespon omongan nya.


"Tidak apa-apa aku bisa mengerti, apakah ada lagi yang ingin kamu sampaikan?" Ucapku ingin segera mengakhiri.


"Tidak ada, maaf aku telah menganggu waktumu, kedepannya semoga kita bisa berteman" ucapnya dari sana.


"Hem, baiklah aku tutup dulu kalau begitu" tuturku dengan datar, aku segera mengakhiri panggilan setelah berpamitan padanya.


Aku pikir aku akan mendapatkan berita buruk darinya menyangkut dengan kondisi dianran, sehingga membuatku takut saja, ternyata cewek itu hanya melapor jika dia yang merawat dianran, dan memamerkan kedekatan mereka.


Lagi-lagi membuat pikiranku berkecamuk, antara kondisinya dan orang yang berada di dekatnya yang membuat aku tak tenang.


Jika begini terus bisa membuat aku jadi tak karuan dan tidak bersemangat lagi disetiap kegiatan.


Aku tidak tahu mau bahagia atau bersedih, setelah mengetahui jika mantanya itu menghubungiku tidak bersangkutan dengan kondisi kesehatanya dianran, namun perkataan cewek itu cukup membuatku tertekan.


Karena suasana hatiku sedang tidak baik, aku memilih langsung berjalan menuju kamar melewati vidya diruang tamu.


"Alisa ada apa? mengapa kamu langsung main pergi saja meninggalkan aku disini seorang diri? dan tadi yang menghubungimu itu siapa?" Pertanyaan beruntun dia lontarkan padaku saat aku hampir sampai dikamar.


"Itu... aku sedang tidak enak badan, jadi kamu menonton sendiri saja dulu, bukan siapa-siapa hanya menghubungi tentang kegiatan dikampus" jawabku berbohong padanya tanpa membalikan badan saat berbicara, takut dia akan menyadari sesuatu.


"Oh, seperti itu. Yasudah, kamu isrirahat saja kalau begitu" jawabnya dan tidak memperpanjang pembicaraan lagi.


Aku segera melangkah masuk kamar merebahkan diri dikasur, dengan air mata yang merembes keluar, lelah menangis terus akhirnya aku tertidur sendiri.


Kehilangan merupakan hal yang tidak di inginkan, jadi pertahankan selagi masih bisa diperjuangkan~ Lalisa nayyala trishala