Litmatch Made Us Meet

Litmatch Made Us Meet
Berita Buruk!



Saat ini aku sedang disibuk kan dengan berbagai organisasi di kampus, terkadang aku sering pulang sore karena banyaknya kegiatan terkadang juga sampai malam.


Apalagi jadwal kuliah yang semakin padat, membuat aku harus pintar-pintar membagi waktu.


Saat ini Aku sudah menginjak semester lima, dimana beberapa tahun lagi aku akan menyelasaikan bangku kuliah, jadi aku harus lebih bersungguh-sungguh untuk menadapatkan Ipk tinggi.


Setelah pertengkaran minggu lalu, kami mengalami lost contact selama lima hari, namun sekarang sudah berbaikan kembali, tidak marahan lagi.


Dia disibuk kan dengan pekerjaan sedangkan aku sibuk kuliah, jadi kita sudah mulai jarang melakukan komunikasi.


Seperti saat ini dia hanya mengirimi pesan, yang berisi mengingatkan aku tentang kesehatan atau menjaga keselamatan.


[ kalau nanti sore latihan dramanya, terus katanya pulangnya malam, bilang yah kalau mau ditemani]


[ Semangat latihan nya, dan hati-hati berangkatnya!]


[ jangan lupa makan! biar gak sakit lagi lambungnya, jangan terlalu capek]


[ Bye.. aku berangkat kerja dulu yah, dear?]


Begitulah isi pesan nya, terkadang juga kami hanya dapat berkomunikasi malam, karena setelah selesai aku melakukan kegiatan di kampus, baru memegang ponsel dan mengabarinya atau membalas pesan darinya.


Disitu kami baru dapat berkomunikasi, terkadang juga kalau lagi lelah atau sibuk tidak akan sempat mengabari.


¤¤¤¤¤¤


Setelah selelsai latihan drama aku langsung memilih pulang karena aku benar-benar lelah sekali, sedangkan sebagian temanku ada yang memilih istirahat sebentar baru pulang.


karena sudah malam aku diantar oleh temanku,sampai di kontrakan aku segera membersihkan diri, lalu makan malam dan segera beristirahat.


Aku memilih tidak memintanya untuk menemani, karena benar-benar sibuk jadi tidak sempat menghubunginya.


Saat ini aku sedang bersandar di kepala ranjang, mengecek ponsel melihat pesan masuk.


Ternyata dia lagi aktif di whatsapp, aku segera mengetik pesan padanya memberi kabar.


[ Yank, aku sudah pulang! Maaf baru bisa mengabari soalnya sibuk banget]


Isi pesanku padanya.


[ iya yank, gak apa-apa aku tahu kok. kamu pasti lelah kan? Kalau begitu aku gak ganggu lagi, istirahat saja dulu]


[ walaupun sebenarnya aku mau bilang sesuatu sama kamu, tapi sepertinya waktunya lagi gak tepat, jadi tunggu kamu udah gak sibuk lagi aja]


Balasnya dari sana mencoba mengerti keadaanku.


[ iya yank, apalagi peran-nya banyak banget, soalnya sebagai pemeran utama wanita harus profesional, demi nilai bagus, yank]


Keluhku padanya, menceritakan kondisiku.


[ yaudah istirahat aja dulu yank, kalau nanti udah gak capek lagi baru kita bicarakan lagi]


Balasnya dari sana.


[ Gak apa-apa yank, kalau gak diomongin malah membuat aku kepikiran, mending bilang aja biar aku tahu, selesai kita bicarakan nanti baru aku istirahat, yank]


Balasku dari sini mendesak dia untuk mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan.


[ Tapi kalau aku bilang, kamu jangan kaget, yah?]


Balasnya dari sana, menjadi suatu misteri di pikiranku.


[ yank, sebenarnya aku lagi sakit!]


Lima kata yang dia kirimkan padaku membuat aku bertanya-tanya, kalau dia sakit biasanya langsung cerita dia sakit apa, tapi ini malah seperti memberikan sebuah kejutan padaku, tidak mengatakan lansung pada intinya.


[ Sakit apa? demam? atau Sakit perut lagi? Atau apa? Jangan bikin aku khawatir seperti ini, cepat katakan!]


Desak ku lagi mulai tidak tenang.


[ Aku terkena kanker paru paru Stadium akhir, yank]


isi pesan nya dari sana membuat aku shock seperti tersambar petir, aku terus membaca isi pesanya dengan berulang kali berharap aku salah melihat.


Penyakit Kanker paru-paru adalah penyakit yang ditandai dengan pertumbuhan sel-sel ganas di paru-paru, Kondisi ini merupakan salah satu jenis kanker yang paling banyak terjadi di Indonesia.


Data GLOBOCAN menyebutkan angka kejadian kanker paru-paru tahun 2018 sebesar 19,4% per 100 ribu penduduk, rata-rata kematian akibat kanker paru-paru sekitar 10,9 per 100.000 jumlah penduduk.


Tingginya kasus kanker paru-paru perlu mendapat perhatian khusus, karena jika tanpa penanganan yang tepat, kanker paru-paru akan memicu komplikasi serius yang berujung pada kematian.


Mungkin karena tidak ada respon yang dia terima dari aku dia mengirim pesan lagi.


[ Kata dokter umurku sudah tidak lama lagi, karena penyakitnya lama baru ditangani, jadi kemungkinan untuk sembuh itu minim banget, yank]


membaca pesanya membuat badanku lemas, dan air mataku tiba-tiba menetes. aku terpaku, tatapanku kosong tidak tahu mau mengatakan apa lagi padanya.


Tiba-tiba ponselku berbunyi, masuk panggilan video darinya.


"Yank, kenapa gak dibalas?" Tanyanya dari sana dengan ekspresi santai.


"Yank, kamu nangis?" Tanyanya dengan ekspresi kaget


"Kamu kenapa baru bilang sekarang, hah?" Bentak ku sambil mengusap air mata yang terus berjatuhan.


Aku sudah terlanjur dalam mencintainya, dan ini baru pertama kalinya aku bertemu orang seperti dia, tapi apakah tuhan akan memisahkan kami secepat ini? apakah tuhan akan mengambil dia dariku sedangkan aku belum begitu lama bersamanya.


Semakin memikirkanya semakin membuatku terisak, aku belum pernah berpikir untuk kehilangan-nya.


"Maaf, jika kamu mau pergi setelah mengetahui kondisiku silahkan! aku tidak akan bisa menahanmu untuk tetap bertahan]


Jawabnya dari sana terlihat pasrah.


"Maksudnya apa menyuruh aku pergi? Kamu tidak bisa melihat aku menangis karena aku takut kamu akan pergi?" lontarku dengan aura muka merah dan menatap ke arahnya dengan nyalang.


"Aku belum siap kehilangan kamu! aku tidak sanggup jika kamu pergi meninggalkan aku sendirian disini, hiks... hiks... hiks..." ucapku berapi-api padanya, sambil menahan tangis dengan membekap mulut namun tetap akan bersuara juga.


"Maaf" ucapnya singkat sambil menunduk kan kepala.


"kamu bilang gak akan ninggalin aku selamanya, kamu akan hadir di hari wisudaku nanti, dan kamu akan bertemu denganku walau hanya sekalipun, tapi nayatanya apa? kamu mau pergi ninggalin aku! Hiks... hiks... hiks..." aku terus menagih janjinya yang pernah dia katakan dulu.


"Iya, aku pernah mengatakan itu, tapi itu saat aku masih belum mengetahui bahwasanya aku sakit, yank" jawabnya dari sana dengan suara rendah.


"Apa kamu tidak bisa berusaha untuk sembuh demi aku?" Tanyaku mulai berhenti menangis dan menatap serius ke arahnya, dengan mata memerah.


"Aku akan berusaha yank, tapi kita tidak tahu kehendak yang maha kuasa seperti apa" jawabnya dari sana sambil menatapku dengan tatapan senduh.


"Iya, memang kita tidak tahu, tapi kamu jangan menyerah begitu saja kamu pasti bisa sembuh!" aku mencoba menyemangatinya.


"Terimakasih yah, selama ini sudah mau bersamaku. baik-baik yah cantik, sehat selalu, semoga impianmu tercapai satu-persatu" penuturanya dari sana semakin membuatku sedih.


"Jangan ngomong gitu bisa gak?" Ucapku dengan suara serak.


"Jangan nangis lagi! nanti kamu bisa sakit, loh" tuturnya dari sana dengan suara lembut.


"Biarin! kamunya aja mau pergi, tandanya kamu gak peduli sama aku lagi" ucapku ngambek dengan muka bete.


"Jangan marah-marah dong, mungkin malam ini terakhir kali kita bisa ngobrol begini, jadi kita nikmati aja yah? jangan marah-marahan terus" ucapnya dari sana dengan pelan dan lembut.


"Jangan ngomong gitu, kamu pasti bisa sembuh! Semangat demi aku" jawabku dengan suara serak.


"Iya, aku akan berusaha kuat demi kamu, kamu jangan sedih lagi, yah?" Tuturnya dari sana dengan suara ringan.


"Janji yah, gaka akan nyerah?" Jawabku sambil mengangkat jari kelingking mengarahkan ke arah kamera ponsel.


"Iya, kamu juga harus semangat, kuliahnya yang rajin, jangan sedih-sedih lagi, karena gak selamanya aku bisa temani kamu ssperti ini" penuturan-nya dari sana dengan mengangkat jari kelingkingnya juga, kembali membuat air mataku menetes.


"Loh, jangan nangis lagi, senyum dong cantiknya aku" ucapnya dari sana dengan senyum khasnya.


"Kamu jahat! Masa orang lagi sedih di suruh senyum" jawaku sambil menyeka air mata dengang memonyongkan bibirku.


"He... he... he... biar kamu gak nangis lagi, tenang aja aku gak apa-apa kok. pasti aku bisa sembuh, kan ada kamu penyemangatnya" kekehnya dari sana melihat tingkah laku ku, sambil melontarkan kata gombal di akhir.


"Kamu mah, orang lagi serius juga malah di bercandain" ucapku pura-pura ngambek.


"Biar kamu gak sedih lagi, aku gak mau melihat khalisku bersedih, jadi jangan tumpahkan lagi air matamu demi seorang aku yang belum baik untukmu" Tuturnya dari sana.


"Gak janji, soalnya siapa yang gak sedih jika akan kehilangan" jawabku padanya.


"Sudah yank! kamu pasti capek kan? habis latihan terus dengerin cerita aku lagi, sekarang istirahat yah?" Ucapnya dengan lembut dari sana dengan sedikit senyuman.


Aku menatapnya dengan dalam, meneliti setiap inci mukanya menikmati senyum diraut wajahnya, berharap ini bukan yang terakhir kalinya aku bisa melihatnya.


"Kenapa bengong yank?" Tanyanya dari seberang sambil mengeryitkan keningnya.


"Gak ada-apa yank, yaudah aku istirahat dulu yah, kamu juga harus istirahat! jangan bergadang! kurangi merokok, kalau bisa jangan lagi!" Peringatku padanya.


"Siap ibu ketua!" kelakarnya dari seberang sambil memberi hormat.


Aku membalasnya dengan senyuman.


"Yaudah yank aku tidur dulu, nanti kalau ada apa-apa jangan lupa kabari aku" ucapku padanya.


"Iya yank, selamat tidur, jangan lupa mimpiin aku!" Tuturnya dari sana.


Aku mengangguk dengan senyuman terbit di bibirku.


"Bye..bye... Sayank" pamitku.


"Bye... bye... Juga, dear" balasnya dari sana.


Setelah itu telephone terputus, aku segera menaruh ponsel di atas nakas, lalu segera merebahkan diri di kasur.


vidya malam ini tidak tidur disini karena lagi membuat tugas dengan temanya, jadi dia nginap di kontrakan temanya.


Karena capek setelah pulang dari kampus, di tambah lagi mendengar berita buruk itu dari si dian, membuat aku cepat tertidur sehingga semuanya gelap dan aku sudah tidak mendengar suara apapun lagi.


Jangan pergi meninggalkan hati, meski tanpamu aku akan tetap berusaha menjaga hati agar tidak mati~ Lalisa nayya trishala


Tbc❤


Terimakasih udah mau mampir...😘