Litmatch Made Us Meet

Litmatch Made Us Meet
Mood booster



Dianran Ekadanta, seorang pria berumur 20 tahun yang memilih bekerja sebagia montir, karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkan study.


Tidak banyak yang tahu bagaimana kehidupannya yang sesungguhnya, terkadang dia sering merasa kesepian dalam hidupnya.


Banyak yang mengatakan dia seorang bad boy dan fak boy, dia seorang anak dari broken home yang memilih hidup sendiri, ketimbang hidup dengan ayah dan ibu tirinya.


Sesekali ia akan berkunjung ke rumah ayahnya, namun tidak di terima dengan baik oleh ibuk tirinya.


Setelah kematian ibunya, dan ayahnya menikah lagi, dia memilih beberapa tahun tinggal di rumah ayahnya, namun ibu tirinya terus mencercahnya bahkan mengatainya dengan kata-kata pedas.


Jika ibu tirinya sedang mengamuk padanya, dia akan berlari ke rumah neneknya dan tinggal di sana, namun sekarang nenekya telah tiada maka saat ini dia lagi bekerja keras untuk membiayai hidupnya dengan hasil sendiri.


Namun, dengan dia tinggal sendirian di situ kehidupanya semakin kacau, tida ada lagi yang melarang bahkan mengawasinya sehingga dia bertindak semau-maunya.


Karena kehidupanya yang berantakan, dia memilih mencari teman di sebuah aplikasi hingga dia bertemu dengan seorang gadis lugu dan polos, yang belum terlalu mengerti apa itu arti cinta.


Hingga mereka menjalin hubungan tanpa ikatan pacaran, namun saling keterikatan satu sama lain.


■■■■■■■


Saat ini aku baru saja selesai memasak, kini lagi menikmati hasil masakan seorang diri, tiba-tiba ponselku berbunyi menandakan panggilan masuk.


"Hai, lagi apa?" Sapa suara dari sana.


"Lagi makan nih, baru selesai masak" jawabku sambil menyuapkan nasi ke mulut.


"Widih, enak pastinya!" Pujinya.


"Gak juga, biasa aja. kamu lagi apa?" Ucapku basa basi.


"Lagi rebahan nih, capek pulang kerja" keluhnya padaku.


"Udah jangan ngeluh, syukuri aja, yang penting ada upahnya hasil dari lelahnya" balasku


"Iya sih, kamu gimana kuliahnya hari ini?" tanyanya balik padaku.


"Hari ini lumayan beruntung lah, presentasinya lancar, terus dosennya bilang kelompok aku paling bagus. seneng banget lah pokonya" ceritaku antusias.


"Khalis ku, memang yang terbaik!" pujinya dari seberang sana.


"Kok, khalis ku?" Tanyaku padanya.


"Emang gak boleh? ada yang marah yah?" Tanyanya dengan suara seperti kecewa.


"Kalau gak bisa manggil itu, maaf deh" katanya lagi dengan suara melemah.


"Eh, bukan begitu ian... aku kaget aja dengarnya" terangku padanya.


"Berarti boleh dong aku panggil khalis. apa tadi? ian? wah, panggilan untuk aku, yah?" sekarang malah jadi antusias banget.


'Benar-benar, nih anak' batinku.


"Iya... ian... iya..." jawabku sedikit kesal.


"He...he...he... jangan marah dong, ayo cerita lagi! aku mau dengerin apa aja yang kamu lakukan hari ini" ucapnya semangat lagi, ini hari ke empat di mana kami terus melakukan komunikasi.


"Gak ada yang gimana-gimana sih, tadi cuma capek banget abis nyuci banyak banget lagi, soalnya tugas menumpuk jadi nyucinya sering tertunda" ceritaku padanya.


"Semangat! pejuang sarjana, jangan mudah menyerah, karena banyak yang ingin di posisi anda tapi tidak bisa terlaksana, penyebabnya baik dari segi finansial maupun potensial" supportnya sambil memberiku sedikit arahan.


"Kamu benar, aku termasuk salah satu yang terpilih menjadi bagian yang bisa melanjutkan study" jawabku membenarkan perkataanya.


"Ya begitulah. eh, udah dulu yah? aku lanjut kerja dulu. Assalamu'alaikum" pamitnya mengakhiri panggilan.


"Wa'alaikum salam"


"Eh, tunggu dulu" cegahnya.


"Apa lagi, ian...?" Tanyaku heran


"Nanti bisa kan, aku telephone lagi?" tanya dengan suara khas miliknya.


"Iya... iya... udah sana! nanti di marahi bosmu baru tahu rasa" omelku padanya


"Oke, bye...bye... khalis" pamitnya lagi.


"Eum" balasku singkat, hingga terdengar suara telephone terputus.


Setelah mendengar suara darinya, aku menjadi lebih semangat, entah apa yang bisa membuat aku seperti ini.


Kini aku menyelesaikan makananku, lalu mencari vidya hingga ke penjuru ruangan, karena dari tadi aku tidak melihat dia.


"Vidya... kamu di mana?"teriak ku dari ruang tamu.


"Vid... Astahfirullah, ngapain disitu?" Tanyaku heran saat aku sudah berada di teras rumah.


"Sutttt... jangan berisik alisa, nanti ketahuan" larangnya padaku yang hendak mengomelinya.


Gimana gak terkejut, ngeliat vidya manjat tembok begini, terus mengendap-ngendap seperti maling.


"Vid, ada apa sih?" Tanyaku penasaran.


"Sini!" Ajaknya, tapi matanya tetap menatap kejalanan, aku tidak bisa melihat karena di tutupi tembok pagar.


Aku memanjat tembok mengikutinya naik. 'Masya Allah' pemandangan yang sangat luar biasa, pantas saja vidya bela-belain manjat tembok rupanya melihat ini.


"Kamu bukannya udah punya cowok? ngapain ngintilin cowo lain lagi?" Tanyaku heran.


"Udahlah alisa, ini itu cuma cuci mata bukan langsung suka, tapi kalau dia suka juga sih, ayo!" lontarnya sambil malu-malu genit begitu.


'Hadeh, ini cewek emang genit amat, matanya gak bisa tenang kalau melihat cowo ganteng'


Aku menatap ke jalanan, terdapat lima cowok lagi jalan sore, lengkap dengan pakaian santainya dengan handuk kecil di leher.


"Ganteng" gumamku tanpa sadar.


"Nah, kamu juga mengakuinya kan? Eh, Jangan berisik! mereka mulai mendekat ke arah kita" ucapnya semangat dengan senyum lebar.


"Hai, mbak"


"Sore, mbak"


"Sore, mbak cantik"


Sapa mereka beramai-ramai dengan berbagai sapaan.


Aduh meleleh jadinya kalau di sapa begini, Karena bingung mau ngomong apa? aku hanya tersenyum ke arah mereka.


"Ngapain di situ, mbak?"tanya salah satu dari mereka.


"Liatin... msdjlnsre..." saat vidya ingin menjawabnya, aku segera menutup mulutnya, agar tidak semakin membuatku malu dengan ulahnya.


"Oh, begitu mbak? yaudah, kalau begitu kami lanjut lagi yah?" pamit salah satu dari mereka.


"Oh, iya mas, silakan!" ucapku menyilakan mereka.


Saat mereka sudah jauh disana, baru aku melepas bekapan di mulut vidya.


"Kenapa di bekap sih, alis? Aku kan mau menyapa mereka tadi, mau minta nomor whatsapp juga, dan..." belum selesai dia ngomong sudah ku potong duluan.


"Udah yah vid, mending sekarang kamu turun! kalau gak, pas nanti cowokmu kesini lagi aku laporin kamu sama dia, biar dia tahu gimana kelakuan kamu di belakang dia" ancamku.


"Iya... alisa... iya, aku turun!"jawabnya dengan muka di tekuk.


Kami kembali masuk kerumah, lalu kembali melakukan aktivitas masing-masing.


Tidak terasa sekarang hari sudah berganti malam, aku sedang menyetrika pakaian yang habis di angkat dari jemuran.


"Beep..."


"beep..."


Tiba-tiba, terdengar pesan masuk dari aplikasi whatsapp.


"Hai, khalis" Bunyi pesan itu.


"Wa'alaikum salam" sindirku.


"Eh, lupa. Assalamu'alaikum, khalis?" Salamnya, sambil menyapa ulang.


"Wa'alaikum salam, udah pulang kerja?" Tanyaku berbasa-basi.


"Udah, baru aja pulang. Kamu lagi apa?" Tanyanya balik


"Lagi nyetrika pakaian" ketik ku mengirim balasan.


Tiba-tiba suara dering handphone terdengar, ternyata panggilan masuk.


"Udah makan?" Terdengar suara dari seberang.


"Udah, baru aja selesai. kenapa nelpon? Kok gak lanjut ngechat aja?" Tanyaku bingung


"Katanya lagi nyetrika pakaian, jadi biar gak ganggu kamu aku telepon aja, biar kamu gak susah harus ngetik sambil nyetrika" jelasnya panjang lebar.


Satu hal yang aku tahu beberapa hari ini kenal dengan dia, yaitu sikap dia yang pengertian dan peduli, ini yang membuat aku penasaran dengannya.


Aku hanya terdiam tanpa menanggapi kata-katanya.


"Hallo, kamu dengar suara aku kan?"tanyanya terburu-buru Saat dia tidak mendengar suara dariku.


"Iya ian... aku dengar kok, kamu lagi apa?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Ini lagi rebahan, soalnya capek abis pulang kerja" keluhnya.


"Kalau capek kenapa gak istirahat? malah ngehubungin aku?" Tanyaku.


"Kan, kalau denger suara kamu jadi hilang capeknya" gombalnya.


"Kamu udah makan?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Belum lagi, soalnya gak ada yang masakin" jawabnya dengan suara manja.


"Catering aja biar gak repot" saranku padanya, karena aku tahu sekarang dia udah tinggal sendirian.


"Menghemat uang khalis, lebih baik masak, tadi udah beli mie instan sih, tapi belum di rebus" jawabnya dari seberang.


"Jangan sering makan mie instan, itu gak sehat" peringatku.


"Gak sering sih, kalau lagi malas aja baru masak mie instan" jawabnya


"Iya, jangan terlalu sering mengkonsumsinya, itu gak baik" nasehatku.


"Ciee... perhatian" godanya


"Cuma ngingetin juga, gak mau denger yaudah" rajuk ku


"Iya... iya... aku ikut apa katamu" ngalahnya.


"Huh" dengusku.


"Jangan marah, ih" bujuknya


"Siapa yang marah?" Kesalku


"Alis kamu lagi ngomong sama siapa?" Tiba-tiba vidya mendorong pintu kamar, lalu menatapku dengan curiga.


"Itu... em, gak ada kok vid, cuma lagi ngobrol doang sama teman" jawabku gugup.


"Serius aku cuma di anggap teman?" suara merajuk terdengar dari seberang sana, aku dan vidya menoleh ke handphone yang aku taruh di lantai, dalam keadaan terloudspeaker lupa aku mute saat dia masuk.


"Eh, itu... sepertinya aku masih ada pekerjaan, kamu lanjut menelephone saja alis, aku tidak akan menganggu" alibinya canggung sambil menutup pintu dengan sedikit keras.


"Kamu kenapa ngomong, sih? kan dia jadi salah paham" omelku padanya.


"Salah paham gimana? kita kan bukan lagi selingkuh" jawabnya blak-blakan.


"bukan begitu dianran ekadanta... tapi dia pikir kita ada hubungan spesial, nanti dia malah menggodaku, aku tidak suka kalu sampai itu terjadi!" jelasku padanya dengan sengit.


"Biarin aja lah, lagian dia juga bukanya tidak pernah merasakanya, bahkan mungkin dia udah punya pasangan" crocosnya menanggapi perkataanku.


"Dia emang udah punya" jawabku sebel.


"Nah, berarti gak masalah dong, udah gak usah khwatir dia pasti ngerti kok" ucapnya menenangkan.


"Ini gara-gara kamu, sih" ucapku menyalahkanya.


"Iya, jangan dibahas lagi. oh ya, aku istirahat dulu yah? kamu juga jangan lupa istirahat" tiba-tiba dia ingin mengakhiri panggilan.


"Iya... iya... abis nyetrika langsung tidur" jawabku patuh dengan nada kesal.


"Nah, begitu kan bagus kalau gak ngebantah, yaudah aku tutup dulu yah. Assalamu'alaikum" pamitnya.


"Iya, wa'alaikum salam" jawabku, setelah itu panggilan pun berakhir dan aku lanjut nyetrika lagi.


Begitulah hari-hariku setelah kehadiranya selalu ada yang mengingatkanku, kadang menyemangati terkadang juga menjahili.


Dia mampu mengusir kepenantanku dari tugas yang menumpuk, dengan adanya dia aku tidak hanya berfokus pada tugas dan kuliah saja, tapi dengan adanya dia ada teman untuk ngobrol dan teman berkeluh kesah.


Dia juga mau sedikit mengalah, meskipun terkadang dia sangat keras kepala dan suka ngambek, tapi untuk saat ini dia mampu membuat aku tersenyum karena tingkah lakunya.


mau baper, tapi takut kalau nantinya dia hanya sekedar menyapa, tanpa niat memberikan rasa ~Lalisa nayyala trishala