Litmatch Made Us Meet

Litmatch Made Us Meet
Pertengkaran Pertama



"Hoam" aku terbangun dari tidurku, lalu menatap jam dinding yang menunjukan pukul 7:30 wib.


sekarang masih pagi, hari ini hari libur aku kuliah. hari jum'at, sabtu, dan minggu aku tidak memiliki jadwal kuliah, karena free jadi saatnya bersenang-senang.


Aku segera bergegas ke kamar mandi segera membersihkan diri, selang beberapa menit aku telah selesai mandi.


"Vid... hari ini kita jalan-jalan, yuk?" Teriak ku dari kamar pada vidya yang berada di ruang tamu.


"Boleh, kemana?" Teriaknya balik dari sana.


"Ayanaz gedong songo, gimana?" Saranku.



Ayanaz Gedong Songo berlokasi di Krajan, Banyukuning, Bandungan, Semarang, Jawa Tengah. Di sini kamu bisa nongkrong sambil menikmati beragam spot cantik yang Instagramable banget.


Pengelola Ayanaz memang menyediakan banyak spot yang bisa dipakai para pengunjung untuk berfoto, di antaranya ada bubble tent, balon udara, tempat duduk unik di tengah kolam, dan hammock. Suasananya pun begitu menyegarkan, karena Ayanaz berada cukup jauh dari hingar bingar lalu lintas.


"Boleh, aku mau siap-siap dulu, kamu buruan sarapan setelah itu kamu juga langsung siap-siap" balasnya dari sana dengan semangat.


Giliran liburan aja langsung gerak cepat dan semangat banget, giliran nugas malah malas-malasan, terkadang minta bantuan aku yang mengerjakan. hadeh... benar-benar nih, anak.


Karena dari tadi aku belum sempat menyentuh ponsel, kini aku berniat mengeceknya mana tau ada info penting, terutatama dari ayank. he...he...he....


Benar saja saat membuka aplikasi whatsapp pesan darinya telah menanti disana.


[ Aku berangkat kerja dulu yah?]


[ Jangan lupa sarapan!]


[ Jaga kesehatan jangan sakit-sakit lagi yah, dear]


[ Tunggu aku selesai kerja, nanti kita baru melepas rindu lagi, oke?]


Isi pesan itu, yang membuat aku tersenyum.


[ iya, ayank. aku ingat apa katamu!]


[ oke ayank, ditunggu. Nanti kalau udah selesai kerja, kabari aja, yah?]


[ Satu lagi aku mau izin pergi jalan-jalan ke ayanaz gedong songo bareng sama vidya, yah?]


Ketik ku mengirim balasan padanya, meskipun aku tahu pasti saat ini tidak langsung terbalas, karena dia lagi bekerja.


Setelah itu aku mematikan data, menaruh handphone kembali ke atas nakas.


Sudah dua bulan kami menjalin status tanpa pacaran ini, tapi kami saling peduli dan saling mencari bila tidak ada kabar satu sama lain, entah disebut apa hubungan ini yang penting jalani aja.


Aku segera sarapan lalu mengganti pakaian agar vidya tidak mengomeliku karena terlambat, saat semuanya telah selesai, aku dan vidya segera berangkat menuju ke ayanaz gedong songo meggunakan bis.


Diperjalanan aku kembali membuka whatsapp melihat pesan masuk, ternyata sudah dibalas olehnya.


[ Aku sudah pulang yank, aku izin sama bos soalnya perut aku lagi sakit.]


[ Iya, jangan pulang malam-malam. hati-hati dan juga jaga hati, yah?]


Isi pesan-nya dari sana, memberitahuku keadaanya.


[ Sakit perutnya parah, gak?]


[ Gak akan lama kok, paling lama sore baru pulang]


[ gak kok, hatinya cuma buat pak ketua aja]


Balasku diakhiri sedikit gombalan padanya, dia sudah tidak aktif lagi mungkin lagi istirahat sekarang.


Setelah menempuh perjalanan sekitaran 1 jam lebih, akhirnya kami sampai juga lalu segera membeli tiket untuk masuk.


Pertama-tama kami menuju Candi Gedong Songo, yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke 9, atau sekitar tahun 927 Masehi. Di kawasan tersebut, terdapat sembilan buah candi.


Kami berdua mengabadikan moment dengan membawa gambar di candi tersebut, kami berfoto bersama terkadang juga foto sendiri-sendiri.


Setelah puas mengambil gambar dengan berbagai gaya, kami memilih mengunjungi tema wisata kekinian.



Kami juga tidak lupa mengambil gambar dengan berbagai gaya yang terbaik.


Selanjutnya, kami menuju ke tempat duduk eksotis yang sangat bagus untuk mengambil gambar.



Setelah puas berselfie ria sekarang kami ingin pergi ke spot di tengah kolam, namun di karenakan vidya sudah lapar kami memilih mengisi perut terlebih dahulu baru lanjut lagi.


Saat ini kami lagi berada di warung Makan Gedongsongo Indah Mardlotillah, kami memesan dua porsi mie ayam dan gado-gado, minumnya aku memilih teh hangat sedangkan vidya lemon tea.


Karena terlalu asik bermain, aku sampai melupakan si bapak ketua, aku segera membuka whatsapp melihat pesan darinya ingin mengetahui keadaanya.


[ Perutnya udah mendingan sekarang, tadi udah minum pil, yank]


[ iya, sekarang lagi dimana?]


[ Kamu yah, selalu aja ngeledekin aku, yank. itu mah, yang buat teman-teman aku. gak ada otak mereka, emang!]


pesan yang terakhir membuat aku terkekeh geli, tidak bisa kubayangkan bagaimana kesalnya dia pada teman-temannya, yang menamainya pak ketua.


[ Baguslah, istirahat yang banyak, jangan lupa makan!]


[Ini lagi makan di warung Makan Gedongsongo Indah Mardlotillah]


[ bukan ngeledekin, tapi bagus nama panggilannya, yank]


Balasku padanya, terlihat dia sedang aktif.


Tiba-tiba masuk panggilan video darinya.


"Sama siapa disitu?" Muncul lah sebuah wajah tampan dilayar handphone ku.


Aku sempat melirik ke arah vidya sebentar, ternyata dia sedang teleponan juga sama pacarnya.


"Sama vidya"


"Gimana liburan-nya, menyenangkan?" Terdengar suara serak-serak basah dari seberang.


"Menyenangkan, tadi sempat foto-foto sama vidya, pokonya bagus banget tempatanya! kalau nanti kesemarang mainlah kemari" ceritaku padanya dengan antusias.


"Belom tau ini kapan bisa kesana, soalnya masih ada pekerjaan" jawabnya.


"Iya yank, kalau nanti sudah ada waktu luang mainlah kemari, kita jalan-jalan bareng nanti" ajak ku padanya.


"Insya Allah, emang tempatnya sebagus apa, sih?" Tanyanya.


"tapi tempatnya terbuka gitu, tempat berteduhnya cuma pakai payung doang" sambungku lagi.


"Jadi penasaran pengen kesana, pengen foto-foto disana juga" dia memasang muka ingin dengan memajukan bibir bawahnya, membuatku ngakak melihatnya.


"Kamu mah, malah ketawa" protesnya.


"Yah soalnya mukamu lucu, pak ketua" ledek ku padanya.


"Udah ah, aku bete nih!" Ngambeknya dengan muka ditekuk.


"Ojo nesu-nesu sayangku...🎶" aku masih membercandainya.


"Malah nyanyi kamu, mah" dumelnya.


"Iya... iya... gak ngeledek lagi, sekarang udah makan toh?" Ucapku segera mengalihkan pembicaraan.


"Udah dari tadi, sama ayam goreng dari warung depan kontrakan" jawabnya kembali menetralkan muka.


"Baguslah, jadi itu gak balik lagi ke tempat kerjanya?" Tanyaku.


"Gak, besok lagi baru balik kerja" jawabnya.


"Okelah, jangan makan sembarangan lagi, apalagi makan pedas, yank" ucapku memperingatinya.


"Eum" jawabnya singkat.


"Alisa yah?" Tiba tiba sebuah suara muncul dari depan meja kami, membuat pandanganku teralih menatap orang itu.


"Iya, atharya sama siapa kemari?" Tanyaku basa basi.


"Sama teman, tapi mereka masih berada di candi gedongsongo, aku malas nungguin mereka soalnya udah lapar" jawabnya sambil duduk disamping vidya.


"Yank bentar yah? jangan dimatiin dulu! ada teman aku yang datang" beritahuku padanya.


Kami sudah selesai makan saat ini, namun kami memilih rehat sebentar sebelum lanjut lagi.


"Eum" jawanya singkat dengan ekspresi jutek.


Atharya auriga teman satu prodiku di kampus, sekalian juga taman satu kelasku, kami tidak terlalu dekat tapi saling kenal.


"Kalian cuma berdua aja?" Tanyanya padaku sambil melirik sekilas ke arah vidya.


"Iya, soalnya yang lain ada kesibukan masing-masing" jawabku padanya.


Dia mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.


"Eh, kalian udah naik balon udara belum?" Tanyanya dengan muka antusias.


"Belum lagi, rencana selepas makan siang mau kesana kalau gak ada kendala" jawabku.


"Oh pas benget, sekalian aja kalau begitu aku juga setelah ini menuju kesana, kita barengan aja kalau begitu" tawarnya untuk pergi bareng.


"Ekhem" dehem seseorang dari balik telephone.


"Eh, itu... athar sepertinya kami gak bisa bareng deh, soalnya masih ada urusan lain, jadi kamu duluan saja" aku menolak tawaranya secara halus.


"Oke, tidak masalah. kalau nanti kalian butuh bantuan atau apa hubungi aku aja yah, alisa? Aku pergi dulu" pamitya segera berdiri dari kursi melangkah pergi.


Dia menuju ke meja lainya setelah sedikit melirik pada layar ponselku ku yang menyala, mungkin juga dia sempat melihat mukanya ian, soalnya panggilannya masih terhubung sampai saat ini.


"Kenapa gak jadi pigi? bukan-nya udah ditawarin, tuh?" Terdengar suara dari sana dengan nada sinis.


"Takut nanti kamu ngambek" jawabku.


Dia emang suka cemburuan sekarang, teman chattingan aku aja selalu ditanyain sama dia cowok atau cewek, bahkan sekarang dia posesif able banget padaku, jadi sekarang aku kudu berhati-hati kalau bergaul.


"Udah bareng aja piginya sama dia! aku mah apa atuh, jauh juga gak bisa jagain kamu secara langsung, gak bisa temanin kamu jalan-jalan, gak bisa selalu ada buat kamu" tuturnya dari sana padaku dengan merendah.


"gak yank, kamu selalu mengabari aku saja itu sudah cukup, gak perlu kamu harus ada disini bersamaku" jawabku meyakinkanya.


"Sudahlah, kamu sama dia aja! kelihatanya kalian nyambung gitu ngomongnya, udah gak virtual, bisa ketemuan setiap hari, bisa jalan-jalan bareng, aku mah jauh gak bisa selalu stay sama kamu" dia terus membanding-bandingkan dirinya dengan orang lain.


"Vid pergi yuk! kita cari tempat tenang biar enak ngomongnya" ajak ku pada vidya yang juga masih berbicara dengan cowoknya.


Si ian terlihat lagi tidak dalam mood yang bagus, kalau nanti tiba-tiba dia marah takutnya menganggu pengunjung lain.


Vidya mengangguk sambil mengekoriku dari belakang, setelah sampai ditempat yang jauh dari hiruk pikuk ,aku kembali berbicara padanya memecah keheningan diantara kami.


"Yank, kamu kenapa sih? malah ngomong begitu? aku cuma dekat begini cuma sama kamu yank, gak ada yang lain!" aku masih terus meyakinkan-nya.


"Kalau soal tadi itu aku sekedar menghargai dia sebagai temanku satu prodi aja, gak lebih" Sambungku lagi mencoba menjelaskan.


"Tapi dari cara dia berintraksi sama kamu itu seperti ada tujuan lain, dan kamu itu gak ngerti!" Jawanya dari sana dengan muka kesal.


"Itu hak dia, yang penting aku gak suka dia, sukanya sama kamu" jawabku dengan yakin.


"Kamu jauhi dia! Jangan terlalu dekat lagi sama dia!" Larangnya dengan muka serius.


"Kalau nanti sempat nugas bareng, kan gak mungkin aku menghindar, yank?"aku berusaha memberi pengertian padanya.


Bahwasanya aku akan ada saat-saatnya ngumpul sama teman-teman kalau ada tugas, dan itu tidak padang cewek atau cowok karena tidak bisa ditentukan.


"Terserahlah! aku capek mau istirahat, kamu terserah mau pulang kapan, aku gak peduli" ketusnya dengan ekspresi cuek.


"Yank, jangan begitu dong... kita obrolin baik-baik yah, kalau kamu mau aku pulang sekarang, aku akan pulang!" ngalahku berusaha membujuknya.


"Kenapa alis? Lagi bertengkar yah?" Tanya vidya dari depan dengan sedikit berbisik agar tidak di dengar sama dian.


Aku melirik ke arahnya lalu menganggukan kepala.


"Sudahlah! aku mau bobok dulu, nanti lagi dibahasnya, sudah yah, bye..." pamitnya sembari mengakhiri panggilan video, sebelum aku sempat menjawabnya terlebih dahulu.


Aku menghembuskan napas dengan kasar, menatap layar ponsel sudah tidak ada mukanya lagi, lalu mengalihkan pandangan pada vidya.


"Yasudah ayo pulang! Kita Sudahi saja dulu jalan-jalannya, dilanjut lain kali saja" tutur vidya sambil menatapku dengan sendu.


"Iya, ayo pulang!" jawabku dengan muka tidak bersemangat lagi.


Kami segera pulang, padahal masih ada beberapa tempat lagi yang masih belum dikunjungi, namun sudah tidak ada semangat lagi untuk melanjutkanya.


Sesampainya di rumah aku segera mandi dan memilih beristirahat, aku mencoba menghubunginya berkali-kali namun tidak diangkat.


Kali ini dia benar-benar marah, antara mungkin lagi kecapean atau ada kendala lain yang memicunya menjadi seperti ini, aku memilih beristirahat saja dulu, akan menghubunginya nanti lagi saja.


Kamu boleh marah, boleh diamin aku sampai kamu benar-benar sudah merasa lega, tapi habis itu balik lagi sama aku yah ~Lalisa nayyala trishala


Tbc...


makasih sudah mampir...😘