Litmatch Made Us Meet

Litmatch Made Us Meet
Perdebatan



Setelah mendapat panggilan telephone dari finda semalam aku menjadi tidak bersemangat sekarang, Apalagi dari pagi hingga saat ini dianran tidak ada kabar sama sekali.


Aku tidak tahu mau khawatir untuk penyakitnya, atau kedekatan nya dengan mantan nya, karena posisinya sama-sama untuk di khawatirkan.


Saat ini hari sudah beranjak sore, sedari pagi kerjaanku hanya bermalas-malasan di kasur, sambil menonton drakor kesukaanku di handphone disebuah aplikasi ditemani makanan ringan yang siap jadi santapan.


Ketika lagi asik-asiknya menonton tiba-tiba ponselku masuk sebuah panggilan suara, ternyata itu dari dia. Aku segera keluar dari aplikasi untuk mengangkat telephonenya.


"Hallo, lagi apa?" sapanya dari seberang.


"Baru selesai nonton drakor" jawabku sambil mengumpulkan sampah, bungkus krupuk yang tadi barusan kumakan kedalam kantong plastik.


"Kamu kenapa seharian gak ada kabar? Apa sakitmu kambuh lagi?" Tanyaku padanya ingin tahu.


"Kamu gak usah khawatir, aku baik-baik aja kok" Jawabnya dari sana.


"Baguslah kalau begitu, lalu kenapa gak ngasih kabar?" Aku kembali melontarkan pertanyaan padanya


"Aku tidur seharian yank, baru sempat memberi kabar sama kamu sekarang" tuturnya dari sana.


"Baru sempat yah? Hem... gak apa-apa kok, bisa dikasih kabar aja udah syukur he...he...he..." jawabku dengan suara rendah, aku ini tidak penting juga untuk dia prioritasi, aku hanya orang baru yang masuk dihidupnya.


"Kenapa ngomongnya begitu?" Tuturnya dari sana menyadari nada bicaraku yang sedikit berbeda.


"Gak apa-apa kok, kamu lagi apa? dan sedang dimana sekarang?" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Saat ini aku sedang duduk diteras rumah, menatap pemandangan langit sore, sambil menikmati secangkir kopi" ucapnyq dari sana.


"Kopinya pahit gak?" Lontarku tiba-tiba padanya.


"Gak kok, kan pake gula" jawabnya dari seberang.


"Kopi walau sudah dicampur gula pahitnya tetap tidak akan pernah hilang, meski rasa kopinya sudah tidak terlalu kuat namun diakhir tetap terasa pahit dilidah" tuturku memberinya filosofi.


'Begitu juga denganku, meskipun aku sudah mencoba menepis pikiran buruk tentangmu, namun kamu memberi peluang untuk aku berasumsi buruk terhadapmu, tanpa mau menjelaskan dan memberitahu kebenaran padaku' sambungku membatin.


Tadi pagi finda mengirimiku sebuah foto dianran yang sedang tidur nyenyak, dan finda duduk disamping kasurnya dianran berkedok menjaganya yang lagi sakit.


Apakah kalian masih bisa tenang jika seperti itu? walaupun disitu dia mengatakan hanya memberitahu kondisi dianran, namun terlihat seperti memamerkan kedekatan dan ketelatenan nya merawat dianran tidak sama denganku yang berstatus dekat dengan nya malah tidak bisa apa-apa, sayang sekali.


"Kenapa malah jadi ngomongin kopi? Aneh banget sih kamu! sebenarnya ada apa? Bukan nya senang sudah dikasih kabar malah ngomong yang gak jelas, Kamu benar-benar aneh hari ini!" ucapnya dari sana merasa heran dengan perubahan sikapku.


"Aku menyebalkan yah? Huffftt... maaf gak bisa selalu ada disaat kamu lagi membutuhkan" tuturku semakin menyimpang dari arah pembicaraan.


"Siapa yang memintamu selalu ada untuk ku? kamu cukup menemaniku dari jauh dan tetap bersamaku itu sudah cukup" Ucapnya dari sana dengan serius.


Dengan begini semakin membuat aku bingung, sebenarnya apa dia benar serius denganku? Atau cewek itu hanya menjadi pemanas saja diantara kita? Entahlah! aku juga tidak tahu apa yang terjadi saat ini.


"Baiklah, aku dengar apa katamu saja, mungkin aku terlalu banyak berpikir makanya berbicara ngawur seperti ini" jawabku menghindari perdebatan dengan nya.


"Itu lebih baik! kamu jangan terlalu kepikiran padaku fokus saja dulu pada kuliahmu, sebentar lagi kamu akan Uts katamu waktu itu, jadi belajarlah yang rajin" peringatnya dari sana.


"Iya...iya... aku mengerti" jawabku mengikuti perkataan nya.


"Mau berobat? Atau mau check up yank?" Tanyaku padanya.


"Check up yank, mau lihat perkembangan kesehantan nya sudah bagimana sekarang" jelasnya dari sana.


"Yaudah, semoga hasilnya semakin membaik" aku berharap dia bisa sembuh.


"Aamiin... semoga aja, meski peluangnya untuk sembuh itu minim banget" tuturnya dari sana.


"Gak boleh ngomong gitu, mana tahu ada keajaiban dan kamu bisa sembuh total, kita kan gak tahu kedepan nya nanti seperti apa, yang penting berusaha aja dulu" tuturku padanya agar dia tidak mudah menyerah begitu saja.


"Baiklah, aku akan bertahan dan berusaha semampu yang aku bisa" jawabnya dari sana sedikit putus asa.


"Itu lebih bagus! Besok perginya sama siapa? Apa sama finda?" Aku kembali mengungkit finda, aku ingin tahu apakah perempuan itu akan pergi juga bersamanya.


"Iya yank, dia yang mengantarku, dikarenakan yang lain nya pada sibuk jadi gak ada yang bisa untuk menemani" jawabnya dari sana.


"Oh, oke" jawabku singkat.


"Kamu kenapa lagi? Cemburu sama dia? Aku kan sudah bilang dia cuma teman, gak lebih yank!" Tuturnya dari sana dengan frustasi.


"Aku kan gak marah atau ngelarang kamu sama dia, aku ikut apa katamu saja, jadi kita tidak perlu ribut, lagian aku cuma bertanya gak membahas tentang kedekatan kalian" pungkasku menghindari terjadinya keributan.


"Tapi kamu seolah-olah menukasku jika aku berselingkuh darimu" dia malah memperpanjang masalah.


"Aku tidak mengatakan bahwa kamu selingkuh, bahkan aku tidak komplain dari tadi padamu, lalu apa yang kamu ributkan?" Disini dia memancing kesabaranku.


"Tapi dari nada bicaramu seperti tidak senang" ucapnya dari sana membuat aku jengah.


"Jadi maksudmu saat pasangan jalan sama orang lain kita harus senang, begitu? Aku cuma takut kamu akan berpaling dariku apalagi aku orang baru dihidupmu, wajarlah aku cemburu karena sainganku adalah mantanmu bukan perempuan baru yang sama sepertiku" tuturku padanya penuh dengan penekanan dengan emosi membeludak.


Mataku memerah menahan tangis setelah meluapkan isi hatiku pada, rasanya aku seperti tidak dihargai saja, jika aku tidak bertanya dia pergi sama siapa mungkin dia tidak akan memberitahunya.


"Kamu terlalu berpikir berlebihan, aku rasa saat ini kamu sedang emosi jadi kita sudahi saja dulu, kamu tenangkan diri dulu baru kita sambung lagi nanti" dia malah menghindari pertengakaran ini setelah dia menyulut emosiku.


"Kamu memilih menghidar setelah sudah begini?" Tanyaku tidak habis pikir dengan pikiran nya.


"Bukan menghindar yank, tapi aku memberi waktu untukmu agar menenangkan diri dulu, jika aku terus menjawabmu dan meladeni amarahmu kita bisa berantem, jadi kita sudahi saja dulu ngobrolnya yah? Tunggu kamu sudah tidak marah lagi baru disambung kembali" tuturnya dari sana dengan tenang.


"Terserah" jawabku ketus lalu mengakhiri panggilan


Aku benar-benar kesal dibuatnya, padahal aku sudah berusaha menahan kesal dari semalam untuk tidak marah padanya, tetapi dia malah membuatku marah, dia tidak merasa bersalah apalagi mencoba membujuk ku, dia benar-benar tidak peka.


Aku memilih pergi mandi untuk meredam emosiku, aku langsung menyambar handuk digantungan baju lalu pergi ke kamar mandi dengan perasaan kesal padanya.


Aku bukan nya membatasi pertemananmu, hanya saja aku takut dengan perubahan perasaanmu terhadapku ~Lalisa nayyala trishala


Tbc❤


Hai semua... terimakasih yang masih mau nunggu ceritaku, maaf jika jarang ngepost...🙏


Terimmakasih udah mampir😘❤