Litmatch Made Us Meet

Litmatch Made Us Meet
Menghilang Tanpa Kabar



Udara dingin masuk menembus baju kaos lengan panjang yang saat ini aku kenakan, sehingga mengenai pori-pori kulit tubuhku.


Pagi ini udara begitu dingin, apalagi udara yang dihasilkan dari area pergunungan, embun menetes dari dedaunan pepohonan merembes kebawa, sinar matahari sedikit demi sedikit mulai menampakan cahayanya.


Saat ini aku sedang berjalan-jalan disekitaran komplek, ditemani satu botol air mineral ditangan dan handuk kecil yang menggantung dileher, udara sejuk masuk melewati rongga hidungku membuat hatiku terasa damai, untuk sesaat aku bisa melepaskan beban hidupku.


Sudah seminggu kami tidak melakukan komunikasi, dan tidak saling mencari atau sekedar memberi kabar, dengan begini aku bisa memberi ruang pada diriku sendiri untuk berpikir dengan permasalahan yang terciptakan.


Bukan aku egois atau tidak ingin memahami kondisinya, namun jika dia tidak mau menceritakan semuanya aku bisa terus-terusan salah paham begini apalagi menyangkut dengan masalalunya.


Aku berjalan melintasi sebuah taman yang tidak begitu luas, namun sering pakai untuk tempat orang-orang beristirahat ketika sedang melakukan lari pagi.


Aku memandang jauh pada sebuah pasangan yang sedang duduk dikursi taman saling melempar canda dengan tertawa riang, dimana si cowok menyuapinya es krim sambil mengusilinya dengan mencolek kan es krim pada muka si cewek lalu mereka tertawa bersamaan, sungguh bahagia.


Aku memindai mataku kesekitarnya sehingga mataku terhenti pada satu pasangan yang sedang mengikat tali sepatu yang terlepas, dimana sang cowok mengikatkan tali sepatu pacaranya yang terlepas, lalu wanitanya membelai rambut cowoknya dengan sayang, sehingga si cowok mengangkat kepalanya menatap pada wanitanya dan mereka saling melempar senyuman dengan bahagia.


Lalu aku melihat kesekelilingnya semuanya dipenuhi dengan sepasang kekasih yang saling menyayangi, ada juga beberapa pasang keluarga dengan anak-anaknya memakai pakain olahraga couple sedang melakukan lari pagi, mungkin disini hanya aku yang sendiri.


Saat ini rasa nyaman dan damai yang kurasakan seperti tadi langsung meluap begitu saja, apakah aku bisa merasakan seperti apa yang mereka rasakan juga? Jika tidak semuanya setidaknya salah satunya saja sudah lebih dari cukup, tapi apakah bisa terlaksana? Orangnya saja belum pernah aku melihatnya bertatap muka secara langsung, bagaimana bisa mewujudkan nya dengan nya.


"Mbak, sendirian aja?" Tiba-tiba aku dihampiri oleh seorang lelaki yang tidak aku kenal, aku berbalik menatap ke arahnya, sepertinya dia seumuran denganku.


"Iya, masnya juga sendiri aja?" Aku balik bertanya padanya sekedar menghargai kehadiran nya.


"Iya sendiri, karena kalau berdua itu pasangan" tuturnya dengan pandangan jauh, aku mengikuti arah pandangnya, terlihat dua orang sedang berciuman dibalik pohon disekitar taman dengan mesranya.


"Dia pacarmu?"aku mencoba menebak apa yang terjadi sebenarnya.


"Bukan, tapi pacar kami berdua." lontarnya sambil tersenyum getir menatap dua insan yang tidak tahu tempat malah bermesraan ditempat umum seperti ini.


"Jadilah wanita yang bisa menghargai dirinya sendiri bukan menodai apalagi merusak diri, kamu mungkin memang sendiri saat ini namun kamu harus tahu satu hal berdua belum tentu bahagia" tuturnya sambil menatap ke arahku dengan serius.


"Hah"


Aku tercengan mendengar perkataan nya seperti sebuah tamparan untuk ku, dia benar berdua belum tentu bahagia seperti aku dan dianran saat ini kami berdua itu pasangan, namun tidak menjamin kami akan baik-baik saja, seperti sekarang kami difase masa renggang-renggangnya.


Aku juga tidak menutup kemungkinan apa yang dilakukan pacar orang ini tidak akan dilakukan oleh dianran diluar sana, aku tidak tahu bagaimana kelakuan nya ketika aku dan dia tidak sedang bersama-sama, apalagi diantara kami memakan jarak yang tidak pernah kami tembus.


"Pacarmu, apakah sudah lama melakukan ini dibelakangmu?" Aku melontarkan pertanyaan padanya, terlihat dia menunduk dan mentap jalanan dengan tatapan nanar.


"Maaf telah lancang untuk mengulik hal pribadimu, kamu tidak harus menjawabnya, lupakan saja" aku merasa bersalah telah melontarkan pertanyaan itu padanya.


"Sekitar 7 bulanan, disebabkan karena aku tidak menyentuhnya selain berpegangan tangan dengan nya, dia berpikir aku tidak mencintainya, tapi tanpa disadarinya sebenarnya aku sedang menjaganya" jawabnya dengan muka lesuh tidak bersemangat.


"Dengan cowok itu mungkin dia mendapatkan apa yang diinginkan nya, aku hanya bisa berpura-pura bodoh tidak mengetahui segalanya untuk mempertahankan hubungan, namun jika aku sudah lelah aku memilih untuk melepaskan nya" sambungnya lagi dengan muka pasrah.


Dia menatap pada dua orang yang sudah menyelesaikan kegiatan nya, dan sekarang mereka sedang makan eskrim di bangku taman sambil bersenda gurau tanpa merasa bersalah jika ada hati yang terluka disini.


"Apa kamu sering memantau mereka disini? Dan apakah kamu tidak kecewa padanya?" Aku kembali mengorek kisah percintaan nya yang tidak beruntung menurutku.


"Iya, aku selalu melakukan nya. jika dikatakan aku tidak kecewa berarti aku bukan manusia, tentu saja aku merasa sakit melihatnya namun karena dibutahkan oleh cinta semuanya jadi bisa aku terima." ungkapnya dengan perasaan sedih dan murung.


"Baiklah, aku pergi dulu" pamitnya lalu berbalik pergi begitu saja tanpa menghiraukan lagi perbuatan pacarnya itu, namun jika semakin dilihat juga semakin membuat dia terluka.


Aku memilih meninggalkan tempat ini, karena terlalu banyak yang terjadi jika terus-terusan berada disini.


Sesampainya dikontrakan aku memilih beristirahat sebentar, lalu segera membersihkan diri di kamar mandi untuk menyegarkan tubuh.


"Sudah pulang?" Tanya vidya dari dalam kamar sambil menguap, sepertinya anak ini baru saja bangun.


"Sudah, kamu kenapa baru bangun?" Tanyaku padanya.


"Ngantuk alis, semalam aku habis bergadang karena menonton drakor" jawabnya lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


[ Ai, sudah seminggu dia sudah tidak memberi kabar lagi padaku ]


Aduhku pada teman cewek ku.


[Kalian kenapa lagi? Berantem?]


Balasnya dari sana.


Aku menceritakan semuanya padanya, mulai dari aku dihungi oleh cewek itu hingga kami berantem dengan dianran, meskipun aku yang memulai perdebatan itu duluan namun sungguh tidak etis jika dia yang merajuk, seharusnya itu aku yang melakukan nya bukan dia.


[ Apa disini aku salah?]


Tanyaku pandanya.


[ Kamu tidak salah, karena cowokmu itu sama saja memberi peluang pada mantan nya untuk dekat lagi dengan nya, seharusnya dia mengerti perasaanmu bukan malah menyuekimu seperti ini ]


Balas temanku dari sana.


[ Jadi sekarang aku harus bagaimana? ]


Tanyaku meminta saran darinya.


[ Kamu tenang dulu yah, mungkin mereka hanya sekedar saling membantu satu sama lain untuk menyelesaikan masalah masing-masing ]


Dia mencoba menenangkanku untuk menepis perasaan buruk tentangnya.


[ Tapi jika hanya membantu tidak mungkinkan sampai menjaganya semalaman saat dia sakit? apa tidak ada keluarganya untuk menjaga? ]


Aku mencoba menyangkal perkataan temanku itu, yang menurutku dia tidak mau berbicara yang sebenarnya.


[ Baiklah, aku akan mengatakan yang sebenarnya padamu, mungkin mereka kembali bersama dengan alasan saling membutuhkan satu sama lain saat ini karena masalah masing-masing ]


Akhirnya dia mengatakan kebenaranya, yang sebenarnya sudah aku curigai ada yang tidak beres dengan mereka berdua.


[ Jadi sekarang aku harus melakukan apa? ]


Aku meminta solusinya darinya, karena biasanya dia memiliku ide-ide yang brilian.


[ Minta surat keterangan dokter darinya, tapi jangan menampak kan bahwasanya kamu curiga padanya, karena aku merasa ada yang aneh darinya katanya umurnya tidak lama lagi, namun mengapa sampai sekarang dia masih hidup? masih bisa berduaan dengan mantanya bukankah orang sakit tidak punya waktu untuk itu? ]


Nah, apa yang aku katakan itu benar! temanku ini sugguh smart jika menyangkut penyelidikan masalah yang seperti ini, tapi tidak juga mempertanyakan ketahanan hidup dianran seperti itu, dia masih bernyawa sampai sekarang saja sudah syukur, tapi perkataan nya itu ada benarnya juga.


[ Baiklah, aku akan melakukan nya! tungguh dia online dulu maka aku akan membidiknya dengan pertanyaan yang membuat dia tidak berkutik ]


Tekadku dengan semangat untuk membongkar kebohongan dianran.


[ oke, Kita sudahi dulu yah, aku masih ada pekerjaan soalnya ]


Balas temanku dari sana mengakhiri obrolan. aku menatap layar ponsel melihat tidak ada lagi pesan disana selain pesan grub yang masuk, aku tersenyum miris dengan harapanku yang terlalu jauh.


Karena bosan aku memilih menyibuk kan diri dengan pekerjaan, seperti yang saat ini aku lakukan membersihkan ruang dapur dan kamar mandi.


Karena kelelahan aku memilih istirahat duduk lesehan diruang dapur sambil menatap dinding dengan kosong.


Sebenarnya jatuh cinta itu apakah semeyiksa ini? Harus menahan rindu jikala jauh, harus menahan cemburu jika kedatangan masalalu, harus mengalah jika ada masalah, apakah serepot ini dalam soal perasaan? entahlah, mungkin memang seperti ini.


Aku akan berpura-pura bodoh saja demi membuatmu bahagia, mungkin apa yang kamu cari tidak ada padaku melainkan ada pada dirinya~ Lalisa nayyala trishala


Tbc❤


Terimakasih sudah mampir dan nungguin cerita aku...😘