Litmatch Made Us Meet

Litmatch Made Us Meet
Kau Berbeda



Aku dianran ekdanta, anak dari seorang karyawan PT. Karabha digdaya, yang merupakan perusahaan dari aset eks.


Perusahaan ini bergerak di bidang golf melalui Emeralda Golf Club, Cimanggis Depok dan di bidang estat melalui Cimanggis Golf Estate.


Aku anak pertama dari dua adik ku yang berbeda ibu. semenjak kematian ibuku kerap kali aku mengalami hal pahit dalam hidup, ayahku jadi sering marah-marah, bahkan memukulku jika aku berbuat nakal seperti saat ini.


"Dari mana saja kamu dian? Udah jam segini baru pulang, hah?" Hardik lelaki parubaya itu padaku.


"Main lah, lalu apa lagi?" Jawabku acuh tak acuh.


"Main katamu! kamu dari balapan lagi kan?"cercah ayahku dengan berapi-api.


Sekarang sudah jam 1 malam dan aku baru pulang, itu yang membuat ayahku sering kali marah.


"jawab, aku dian!" Teriaknya saat tidak mendapatkan jawaban dariku.


"Kalau iya kenapa? Mau marah? Mau pukul aku lagi? Silahkan! Harusnya kamu tuh sadar, dirimu sendiri aja masih belum baik. gara-gara siapa ibuku meninggal, hah?" Tantangku balik melawan dengan muka sangar.


PLAK


Sebuah layangan tangan mendarat di pipiku tiba-tiba.


"Kurang ajar kamu! ibumu meninggal bukan salahku, tapi itu sudah takdirnya" elaknya membela diri.


"Takdirnya kamu bilang? Dia meninggal itu gara-gara menangkapmu selingkuh dengan j*l*ng itu!" marahku sambil menunjuk perempuan yang berdiri di tangga.


"Yang sopan kamu sama mamamu jangan kurang ajar, dia bukan J*l*ng yang seperi kamu katakan" balasnya sengit.


"Aku tidak punya mama, aku cuma punya ibu, itupun sudah Mati. apa kamu bilang, dia bukan j*l*ng? cewek perebut seperti dia pantas di sebut j*l*ng " ejek ku.


"Diam kamu!" Teriaknya.


BUK


Sebuah tinjuan melayang ke muka ku, namun aku tidak menghindar sedikitpun.


"Sudah puas? J*l*ng dan b*jing*an seperti kalian pantas di satukan!" umpatku kesal.


Tanpa menunggu reaksi dari mereka aku segera melangka ke kamarku, lalu mengunci pintu dan menghempaskan tubuh ke kasur.


Aku menyesal pulang ke rumah ini, sudah dua hari aku kembali ke rumah setelah satu minggu aku keluar dari rumahini, tapi ayah masih mengajak ribut demi membela perempuan m*rah*n itu.


Swush


Brak


Aku menyerak kan semua barang-barangku dari atas meja hingga berhamburan ke lantai.


Saat aku lagi kacau begini tiba-tiba aku terpikir dengan cewek itu.


Tut


Tut


"Hallo... Assalamu'alaikum, ada apa ian?" Telephone tersambung, lalu terdengar suara lembut dari seberang membuat aku sedikit lebih tenang.


"Iya, wa'alaikum salam. Alisa... " jawabku serak dan ucapanku langsung terpotong, seluruh badanku bergetar menahan tangis.


"ian? Hallo... ian kamu kenapa?" terdengar kepanikan dari seberang saat tidak mendengar jawaban dariku.


"Alisa... arrghhhh...!" luapku akhirnya berteriak.


"Ian, kamu dengarkan aku! kamu tenang dulu yah, kamu bicaralah pelan-pelan jangan membuat aku panik seperti ini, sebenarnya kamu kenapa?" Tanyanya dengan panik sambil berusaha menenangkanku.


"Aku ingin pulang saja Alis, aku ingin ikut nenek dan ibuku" ucapku frustasi dengan air mata terus merembes keluar membasahi pipi.


"Ian kamu tenangkan dirimu dulu yah, jangan bicara sembarangan begitu! ada aku yang mendengarkanmu, sekarang kamu tenang dulu redakan amarahmu" dari seberang dia terus berusaha menenagkanku dan meredam emosiku.


"Arrghhhh... aku capek alisa, aku capek...!" teriak ku sambil mencengkram rambut dengan putus asa.


"Nenek... ibu... aku ingin ikut kalian pulang, aku mau mati saja...!" Teriak ku frustasi


"Dianran ekadanta... dengarkan aku!" terdengar suara keras yang tegas dari seberang, membuatku tertegun dan terdiam.


Dengan mata memerah aku menatap layar ponsel, lalu aku mencoba mendengarkan suara cewek itu dari sana.


"Kamu itu lagi dalam kondisi sedang tidak berpikir jernih, makanya ngomong ngelantur begitu, sekarang tarik napas lalu hembuskan" intruksinya dari sana.


Aku mengikuti arahanya tapi dengan ogah-ogahan.


"Jika sudah, sekarang bicaralah! apa yang sebenarnya terjadi?" Desaknya ingin tahu.


"Aku berantem sama ayahku, gara-gara aku telat pulang" jelasku dengan suara serak.


"Kamu ada pulang ke rumah?" Tanyanya dari seberang.


"Iya, mengambil barang yang tertinggal di rumah" jawabku.


"Lalu setelah itu kalian ribut lagi?" tebaknya dari sana.


"Iya, aku dipukul dan di tampar oleh nya, karena aku membahas soal ibuku" jelasku padanya.


"Kamu jangan sering membuat ayahmu marah, mungkin dia juga akan merasa bersalah setelah memukulimu, dia hanya marah karena kamu bandel" nasehatnya dengan tenang.


"Aku tidak sakit jika dia memukulku atau menamparku sampai dia puas, tapi sakit rasanya jika dia lebih memilih orang lain, daripada keluarga yang sudah lama bersamanya" curhatku padanya.


Tidak ada yang perlu kututup-tutupi dari dia lagi, karena saat ini aku butuh dia buat bersandar, dan dia sudah tau bagaimana aku dengan keluargaku meski kami belum lama dekat, tapi entah mengapa aku percaya menceritakan masalahku padanya.


"Iya tahu, akan sulit jika di posisimu" dia mencoba mengerti aku.


Aku menangis tanpa suara, paling akan sedikit terisak jika sudah tidak sanggup menahan lagi.


"Alisa tunggu sebentar! aku akan berkemas, jangan matikan telephonenya!" perintahku padanya.


"Kamu mau kemana?" Tanyanya bingung.


"Aku akan pulang ke kontrakan" jawabku, sambil bergegas menganti pakaian dengan pakaian yang masih tertinggal sebagian di kamarku.


"Tapi ini udah malam, lagian kamu dalam keadaan marah tidak baik berkendara" cegahnya sambil mengingatkan.


Dia terus mengomel dari seberang sana sambil memperingati ini, itu.


"Aku sudah selesai, jangan di matikan dulu, kamu temani aku, yah?" ucapku tanpa mau dibantah.


"Iya... iya... kamu harus hati-hati jangan ngebut" nasehatnya.


"Iya, aku tahu" jawabku sambil melangkah ke luar kamar.


Saat melewati ruang tamu, aku melihat ayah dan perempuan itu sedang duduk sambil menonton televisi.


"Mau kemana kamu dian?" Tanya ayah dengan mengintimidasi.


"Kamu tidak perlu tau, urus saja j*l*ngmu itu, bersenang-senanglah kalian wahai pembunuh!" sarkasku lalu berjalan dengan cepat melewati mereka menuju pintu.


"Anak kurang ajar tutup mulutmu, berhenti disitu! aku akan menghajarmu" teriaknya sambil bangkit hendak mengejarku.


Kulihat perempuan itu menahanya dan membantu menenangkan dirinya.


Dasar sampah! kalian patas untuk bersama, tapi kalian harus menangung akibatnya atas perbuatan yang kalian lakukan, aku tidak akan membuat hidup kalian tenang, terutama perempuan m*rah*n itu tekadku.


"Ian kamu baik-baik aja kan?"tanya alisa saat aku sudah di teras rumah.


"Maaf alisa, kamu harus mendengar lelucon keluarga yang sangat membosankan ini" lontarku padanya.


"Tidak apa-apa yang aku khwatirkan itu kamu, jangan sampai membuatmu terluka" respondnya terlihat peduli.


Lalu segera mengeluarkan motor dari garasi lalu tancap gas membelah jalanan.


"Ian... kamu pelanlah sedikit jangan ngebut begitu, kalau kamu kenapa-napa bagaimana?" Peringatnya padaku.


"Tidak masalah, yang penting kamu tahu aku dimana" jawabku santai.


"Jangan begitu kamu..." belum selesai dia ngomong aku sudah terjatuh terlebih dulu.


Brumm


Brukkk


"Hei! kamu kenapa? Kamu jatuh? Aku bilang juga apa jangan ngebut Dianran..." cerocosnya mengomeli.


"Aku tidak apa-apa aku tidak akan mati karena jatuh begini" ucapku dengan tenang.


Aku segera mengangkat motorku dan bangkit sendiri, karena jalanan sepi jadi tidak ada orang di sekitar sini.


Saat di tikungan aku tidak hati-hati malah tergelincir, jalanan juga licin karena habis hujan untung saat di tikungan aku tidak terlalu kencang mengendarainya, jadi hanya luka ringan saja tidak terlalu parah.


"Dian... apa kamu mendengarku? Bagaimana kedaanmu? Kamu baik-baik saja, kan?" Deretan pertanyaan dia lontarkan dari sana.


"Aku tidak kenapa-napa, temani saja aku sebentar lagi akan sampai" ucapku padanya.


Selang beberapa menit akhirnya aku sampai di rumah, aku segera memarkirkan motor di garasi lalu masuk ke rumah.


"Aku sudah sampai, kamu tunggu bentar aku mandi dulu" beritahuku padanya.


"Iya, pergilah! aku juga akan menyelesaikan tugasku dulu" jawabnya dari sana.


Aku segera menyambar handuk lalu melangkah ke kamar mandi, handphone dalam keadan panggilan masih tersambung dengan alisa, aku letakan di atas nakas.


Selang beberapa menit akhirnya aku selesai mandi, segera berganti pakaian lalu kembali mengambil ponsel dan segera berbicara dengan alisa.


"Hallo? aku udah selesai mandinya, kalau masih buat tugas selesaikan aja dulu tugasnya" bicaraku di telephone.


"Bentar ian, ini sedikit lagi mau selesai" jawabnya dari seberang.


"Iya, aku tunggu" jawabku sambil mengeringkan rambut dengan hair dryer.


Selang beberapa menit alisa telah menyelesaikan tugasnya.


"Hallo, ian?" Terdengar suaranya dari seberang.


"Iya, udah selesai?" Tanyaku.


"Udah nih, gimana lukanya saat jatuh tadi parah, gak?" Tanyanya kembali mengenai keadaanku setelah jatuh.


"Gak. cuma luka kecil, udah di oleskan obat juga tadi" jawabku memberitahu keadaanku.


"Iya, makanya lain kali kalau udah diperingatin itu di dengar yah, biar gak terjadi begini" omelnya.


"Eum, kamu udah makan?" Ucapku mengalihkan pembicaraan.


"Udah dari tadi lagi. kamu udah makan?" Tanyanya balik.


"Sebelum pulang ke rumah tadi sempat mampir di warung makan, jadi duluan aku makan dari kamu" jawabku sedikit ngeledek.


"Bagus kalau begitu, kamu mungkin capek, mending sekarang tidur udah jauh malam, jangan bergadang lagi!" perintahnya padaku.


"Boleh, tapi temenin. jangan di matiin yah panggilannya, biar aja tersambung sampai pagi kamu temenin aku tidur dari sana" ucapku manja dengan suara ringan.


"Iya...iya... buruan tidur!" suruhnya padaku


"Iya, ini mau tidur. kamu juga tidur" suruhku balik padanya.


"Iya, ini juga udah mau tidur" jawabnya.


Hingga akhirnya hening tidak terdengar suara lagi, mungkin dia sudah tertidur akhirnya aku juga ikut tertidur, karena sudah terlalu lelah menghadapi masalah malam ini.


Malam telah beranjak pergi, kini digantikan dengan cahaya matahari yang menyoroti bumi.


Aku terbangun saat sinaran matahari menyoroti kedua mataku melalui ventilasi ruangan.


"Hoam" aku menguap lalu turun dari ranjang segera menuju kamar mandi.


Selang beberapa menit akhirnya aku selesai mandi dan segera mengecek handphone.


"Ngumpul yuk!" Bunyi pesan masuk yang pertama, itu dari temanku.


"Kamu dimana?" Pesan kedua dari mantanku.


"Hy, boleh kenalan?" Ini dari cewek yang tidak jelas asal usulnya, aku memilih mengabaikan.


"Aku mau lari pagi dulu yah? Sama vidya, kalau ada apa-apa telephone aja" ini pesan dari si cewe lugu yang selalu ada saat aku butuh.


"Boleh! dimana?" Aku segera mengirim pesan balasan pada temanku.


"Kamu gak perlu tau aku dimana! dan kamu, tolong jangan ganggu aku lagi!" Aku langsung send ke mantanku yang naif itu.


"Oke khalis. aku mau kumpul sama teman dulu! nanti aku kabari lagi, kamu jangan lupa makan!" Aku mengirim pesan balasan pada cewek itu sambil tersenyum.


Aku beranjak berganti pakaian tanpa sarapan terlebih dahulu, berniat nanti mampir di warung pinggir jalan saja untuk mengisi perut.


Selang beberapa lama akhirnya aku sampai di tempat yang di tuju.


"Kau kemana aja tidak muncul-muncul? selain bekerja kau sibuk apa lagi?" introgasi salah satu temanku.


"Apa lagi kalau tidak berkencan dengan wanita, kau pikir pak ketua ini bisa diam tanpa ada wanita disisinya?" balas yang satu lagi.


"Benar! jika tidak ada wanita disisinya maka gelar perayu terkenalnya ini tidak akan di sematkan pada dirinya" timpal yang lain lagi.


"Diamlah! Kalian terlalu berisik" perintahku sambil duduk di salah satu kursi kayu.


Saat ini kami lagi kumpul di sebuah kafe, louis kafe. Louis berada di depan RS Hermina Depok, atau tepatnya di Jalan Mawar No.22, Depok, Kec. Pancoran Mas, Kota Depok, Jawa Barat.


"Pak ketua sudah berapa wanita yang kau kencani sekarang?" Tanya temanku yang ini terbilang sangat cerewet di antara kita.


"Aku rasa sudah banyak, bahkan saat ini mungkin sudah ada yang baru lagi" dan yang ini si tukang gosip suka menyebar luaskan berita.


"Apa aku seburuk itu?" Tanyaku tiba-tiba pada mereka.


"Pake ditanya lagi, memang siapa yang tidak tahu denganmu pak ketua, Kau bahkan disebut perayu terkenal jadi dimananya yang tidak buruk" nah ini si mulut pedas di antara kita.


"Eum, begitu yah? Tapi aku rasa untuk saat ini tidak! karena sudah lima hari aku tidak bosan pada wanita itu" jawabku dengan santai.


"Apa? Pak ketua hampir seminggu tapi tidak ganti cewek? Ini berita yang spektakuler pantas untuk di apresiasikan" dan yang ini yang paling heboh dia antara kita saat mendengar berita baru.


"Cewek mana itu? aku ingin lihat bagaimana dia menaklukan si perayu terkenal ini bertahan" dan yang ini yang paling ingin tahu dengan masalah orang lain.


"Sudahlah! untuk apa kalian ributkan begini, intinya aku masih dalam tahap pendekatan bukannya sudah jadian, dan lagi dia kelihatannya cukup berbeda jadi aku masih proses mendapatkannya" jelasku pada mereka sambil tersenyum penuh arti.


Saat mengingatnya hatiku jadi menghangat, mengingat perlakuanya padaku yang tidak ada niat merayu atau memeraskun bahkan dia bisa mengendalikanku, sungguh menarik.


Kami menghabiskan waktu hingga pukul empat sore, mulai dari ngegame bareng hingga surfing di pantai, membuat aku kelelahan hingga ingin cepat pulang.


Mumpung juga hari ini jum'at, dan tempat kerjapun tutup beberapa hari ini, karena ada keluarganya yang meninggal jadi aku habiskan untuk healing di luar.


Aku benar-benar ingin segera sampai di rumah, rebahan dan ingin mengetahui kabar si gadis polos itu.


Meski kau orang baru tapi mampu membuatku terharu~ Dianran Ekdanta