
Kalian pernah mendengar kata fall in love beyond, Gak? jadi aku mengalam jatuh cinta melebihi kali ini. aku menjatuhkan perasaanku pada seseorang yang baru-baru ini kutemui di sebuah aplikasi.
Namaku lalisa nayyala trishala, aku anak pertama dari tiga bersaudara. merantau dikota orang demi melanjutkan study, untuk menggapai cita-cita yang dikehendaki. disini aku bertemu sosok yang mampu membuat hari-hariku lebih hidup dan berarti.
Dia bukan cinta pertamaku, tapi dia yang mengajariku mengenal apa artinya sebuah hubungan, yang saling keterikatan tanpa pacaran.
Kami bertemu dengan cara tidak disengaja, dengan iseng aku membuka sebuah aplilkasi ingin mencoba menggunakannya. banyak omongan teman-teman katanya bisa mencari teman baru dari aplikasi tersebut.
Dengan rasa penasaran aku mencoba menggunakan. aku mulai melakukan penjelajahan diaplikasi itu.
Malam ini malam minggu saatnya mengistirahatkan badan dari tugas yang melelahkan.
"Alis! Aku pamit ingin keluar malam ini, kamu tidak apa-apa kan di tinggal sendirian?" Tiba-tiba munculah sosok dari balik pintu kamar dengan pakaian lengkap untuk berpergian.
Aku sedang berada diruang tamu, duduk beralaskan sofa kecoklatan, sambil berselancar di aplikasi pencari teman.
"Bukannya itu udah sering kamu lakukan? Bahkan kamu pulang sampai larut malam. Kamu masih mencoba menghawatirkan aku?" Tanyaku dengan muka mengejek.
"Bukan begitu alisa, aku memberitahumu agar kamu nantinya tidak mencariku" jawabnya membela diri.
"kamu gak perlu khawatir, aku udah terbiasa kamu tinggalin pergi pacaran. bukan hanya malam ini juga, perasaan" sewotku padanya.
"makanya alisa, cari cowok biar gak kesepian, saat aku tinggalkan seperti ini" saranya sambil berjalan kearahku.
"kalau mau jalan silahkan, jangan menyesatkan aku untuk melakukan yang dilarang tuhan" balasku cepat.
"Baiklah, ukhti sholeha. Kamu jangan lupa bukain aku pintu, oke" saat lewat dia sempat mencubit pipiku sebentar lalu berlari cepat keluar pintu.
"tidak akan, kamu tidur saja diluar sekalian" balasku sengit sambil bangkit untuk menutup pintu.
"Aku akan membawamu makanan, tenang saja Alisa" teriaknya dari luar diatas kereta cowoknya.
"Itu namanya sogokan" jawabku saat sudah diambang pintu.
"biarkan saja, asal kamu tidak keberatan membukakan pintu untukku saat aku pulang" sahutnya dengan muka sumbringah.
Cowoknya melirik kearahku dengan sedikit senyuman, lalu menganggukan kepala padaku, aku membalasnya dengan mengangguk juga tapi tanpa tersenyum, lalu mereka segera tancap gas untuk pergi berkencan.
Dia bernama vidya tavisha, teman satu kamarku dikontrakan. dia sering meninggalkanku keluar untuk bertemu cowoknya, baik siang maupun malam aku selalu dia tinggalkan sendirian. dia anaknya baik tetapi suka jail, terkadang aku jadi korban keusilannya.
Aku berjalan menuju kamar ingin segera berbaring ditempat tidur. rasanya badanku remuk setelah seharian berkutat dengan tugas yang tidak ada habisnya.
Keesokan harinya aku terbangun sedikit terlambat, beberapa menit lagi kelas akan dimulai. dan apesnya lagi hari ini dosen killer yang akan masuk dijam pertama, dengan tergesa aku buru-buru berlari menuju kamar mandi.
"Bruk" karena terburu-buru aku jadi jatuh terjerembab dilantai menabrak sesuatu.
"Alhamdulillah, aku tidak apa-apa" ucapku senang sambil beranjak menuju kamar mandi.
"Iya lis, kamu tidak apa-apa. tapi aku yang kenapa-napa Lalisa nayyala trishala..." ucap seseorang dengan penuh penekanan. aku celingukan mencari sumber suara, lalu mataku tertuju ke bawa meja dapur dengan terkejut.
"Ya Allah vidya. ngapain lesehan disitu?" Tanyaku bingung melihatnya.
"Kamu nanya? Dan kamu bertanya-tanya kenapa sekarang aku berada disini? Ini itu karena kamu menabrak aku Alisa... dan aku terpental kebawah meja" Geramnya mejelaskan dengan menggertakan gigi memasang muka sangar kearahku.
"Maaf vidya aku lagi terburu-buru soalnya" seruku sambil membantu dia bangun dengan memasang muka memelas.
Karena jalan menuju kamar mandi harus melintasi dapur, tidak hati-hati aku malah menabrak vidya yang badannya lebih kurusan dari aku, membuat dia terpelanting kebawah meja.
"Sudahlah, pergi mandi! aku tidak menyalakanmu lagi" lerainya sambil beranjak mengambil air minum yang sempat tertunda. dia terlihat santai seperti itu karena dia membawa mata kuliah siang, berbeda dengan aku yang membawa mata kuliah pagi.
Saat ini aku sudah berada dikelas, untung saja dosennya memberi dispensasi lima belas menit untuk mahasiswa/i yang terlamabat, jadi kali ini aku masih selamat.
Aku berkuliah dikampus Universitas Negeri Semarang (UNNES). perguruan tinggi negeri yang diselenggarakan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) Republik Indonesia, untuk melaksanakan pendidikan akademik dan profesional dalam sejumlah disiplin ilmu, teknologi, olahraga, seni, dan budaya.
Sebelum menjadi universitas, lembaga pendidikan ini dikenal dengan nama IKIP Negeri Semarang yang berdiri pada tahun 1965 di Kota Semarang.
Cikal bakal UNNES sudah ada sejak masa Pemerintah Kolonial Belanda. Pada saat itu Pemerintah Kolonial Belanda menyelenggarakan sekolah guru di atas SMA.
"Hoam" aku mengantuk sekali rasanya, Semalam aku bergadang sampai jam tiga pagi. aku terjaga sampai dini hari karena menemani seseorang melakukan panggilan suara.
Jika di ingat, membuat aku sangat bersemangat, apalagi kami sampai melakukan sleep call sangking serunya.
Saat itu aku membuka sebuah aplikasi pencari teman, litmacth namanya. Setelah melalui proses daftar akun, kini muncul lah berbagai fitur di dalamnya. ada soul game, voice game, party match, dan masih ada fitur lainya.
aku mencoba mengklik voice game, hingga tersambung ke prangkat lain, yang ternyata seorang lelaki. Kita saling bicara hingga merasa nyambung satu sama lain.
Karena disini berdurasi hanya tujuh menit, jadi kita saling mengkilik tanda love atau saling menekan like, otomatis kita bisa berbicara sampai kapan kita mau mengakhiri. Singkat cerita kita saling tukeran nomer hingga lanjut ke whatsapp.
Kami baru saja kenal tapi dia sudah bercerita banyak tentang dirinya, tentang keluarganya, bahkan keluh kesah jadi seorang dia.
[Kamu hobynya apa?] Tulisnya di pesan watshapp.
"Membaca, menulis, dan memasak" balasku.
[Oh, kamu suka masak? Jadi pengen dimasakin kamu, deh] gombalnya dari sana.
[Boleh kalau dekat mah, udah di masakin buat kamu] balasku lagi.
[Serius? Jadi pengen nyobain masakan kamu, deh] balasnya cepat.
[Iya serius! tapi kan, kamu jauh] jawabku.
[Iya, sekarang kamu lagi sibuk apa? Kerja apa kuliah?] Tanyaku pengen tahu.
[Kerja, karena kalau kuliah biaya tidak memadai, jadi kerja sebagai montir aja] balasnya sambil menjelaskan.
[Oh begitu. bagus sih, yang penting halal] balasku
[Iya, kalau kamu aku tebak, pasti kuliah!] Tebaknya.
[Hah, kok tau?] Tanyaku penasaran.
[Ya, nebak aja. kuliahnya yang bener yah, biar nanti kalau udah jadi ibu, bisa didik anak-anaknya dengan baik] nasehatnya.
[Iya... iya... dih, masih lama juga] balasku.
[Ya kan, kamu bakalan jadi calon ibu, khalis...!] balasnya dengan nama yang begitu asing bagiku.
[Khalis?] tanyaku bingung.
[Iya, khalis. gak apa-apa kan, aku panggil khalis?] Tanyanya.
[Ya gak apa-apa, sih] jawabku.
Kami terus mengobrol, hingga berlanjut melakukan panggilan suara.
"Aku mau cerita, boleh?" Tanyanya dengan suara lembut.
"Boleh, sok atuh" jawabku sambil menarik selimut sampai dada.
"Khalis, asal kamu tau yah, capek loh, jadi aku" curhatnya.
"Capek kenapa?" Tanyaku.
"Yah, capek karena gak ada lagi yang mau peduliin aku. capek sama keluarga yang udah gak utuh, capek karena setiap saat tuh, aku merasa sendiri" keluhnya dengan suara rendah.
"Iya aku ngerti, gak mudah ada di posisi kamu, tapi yakinlah kamu anak yang kuat. kamu juga termasuk orang hebat, yang masih mau bertahan sampai detik ini, hingga kita dipertemukan" balasku
"Gitu yah, menurut kamu? tapi, kenapa malah aku di benci sama mama tiriku?" Ujarnya dengan nada datar.
Aku terdiam sebentar, saat dia mengatakan jika dia mempunyai mama tiri.
"Yah, namanya juga bukan mama kandung, pasti bedalah perlakuanya sama kamu" terangku.
"Iya khalis, aku tahu itu. aku jadi begini, setelah di tinggalkan nenek satu tahun lalu. disitu aku mulai berubah, gak terima sama keadaanku yang sekarang, sehingga membuat aku jauh dari kata baik" ceritanya panjang lebar dengan suara serak.
"Kamu jangan sedih, justru dengan kondisimu yangseperti itu, tuhan menempahmu menjadi pribadi yang kuat dan tegar" hiburku padanya.
"Tapi, aku lelah khalis. aku merasa gak di butuhkan dalam keluarga, ayahku saja yang dulunya hangat, sekarang menjadi asing bagiku" keluhnya lagi.
"Iya aku tau kamu lelah, dan kamu capek. tapi apa kamu pernah berpikir, jika masih ada almarhumah nenekmu akan seneng melihatmu begitu?" tanyaku dengan intonasi kuat.
"Mungkin dia akan kecewa sama aku, saat melihat aku begini" ucapnya dengan nada sedih.
"Yaudah, jangan sedih lagi. kamu bisa kok, cerita apa pun sama aku jika kamu mau, aku siap mendengarkan" hiburku sambil menenangkanya.
"Makasih khalis, udah mau dengerin cerita aku. Sekarang tidur gih, udah jauh malam ini" suruhnya padaku.
"Dih, aku malah diusir setelah dengerin cerita kamu, jahat ih" aku pura-pura ngambek.
"Bukan diusir khalis... tapi nyuruh kamu cepat tidur, besok kamu masih pergi kuliah, jadi biar gak terlambat ke kampusnya" terangnya padaku.
"Iya, dianran ekadanta.... aku akan tidur. Salah kamu sih, dongengngin aku panjang lebar sama cerita kamu" jawabku pura-pura menyalahkannya.
"Ya, kamunya juga mau dengerin aku, gimana sih" dumelnya malah ngambek balik.
"Aku bercanda, jangan marah, ih" bujukku padanya.
"Yaudah tidur gih! Sambungannya jangan dimatiin, biar idup-idup aja" perintahnya padaku.
"Iya, kamu tidur juga" ucapku padanya.
"Aku gak tidur, mau ngegame dulu" jawabnya santai
"Yah, nyuruh orang tidur, dianya malah bergadang. gimana sih kamu?" dumelku padanya.
"Yadeh, iya. aku tidur juga" putusnya tidak mendebatku lagi.
Hingga akhirnya kita sama-sama terlelap, dengan panggilan tidak terputus.
itulah dia, dengan nama lengkap, Dianran ekadanta. asal dari depok, pria yang aku temui di aplikasi litmatch semalam.
seorang anak broken home, dengan sejuta problem dalam hidupnya, memiliki mama tiri yang pemarah dan adik tiri yang tidak begitu dekat denganya.
Mengingatnya saja, aku jadi pengen cepat pulang, biar bisa ngobrol lagi bareng dia.
'Huh, jadi gak sabar deh, nunggu mata kuliah berakhir' gumamku sambil kembali fokus ke depan, melihat dosen killerku yang terus menerangkan dengan serius.
Jika kau datang karena diundang, maka jangan pergi tanpa permisi~ Lalisa nayyala trishala