Litmatch Made Us Meet

Litmatch Made Us Meet
Gombalan maut mr. Cool



[ Khalis!]


[ Kemana? tumben gak aktif!]


[ Dear, kamu gak apa-apa kan?]


[ Kamu baik-baik aja kan?]


[ Sekarang bagaimana? Udah mendingan belum sakit perut sama kepalanya?]


[ Kalau udah aktif Kabarin yah, Aku khawatir saat ini!]


Saat aku membuka whatsapp ke esokan harinya, pesan beruntun masuk darinya, berisi dengan ke khawatiran yang dia tujukan.


[ Sejauh ini udah gak sakit lagi, cuma tadi perutnya masih sedikit perih.]


[ Tadi lagi tidur siang, dear.]


[ Udah gak apa-apa yank, gak usah khawatir ini udah baikan, kok]


Ketik ku mengirim pesan balasan padanya, lalu hendak mematikan data seluler, namun tiba-tiba ponselku berbunyi menandakan pesan masuk.


[ Alhamdulillah, yank. kamu jaga diri baik-baik yah, jangan sampai sakit lagi] bunyi pesan itu.


[ Iya yank, lain kali aku akan jaga diri baik-baik, tapi kan yang namanya sakit bukan kita yang nentukan] balasku padanya.


[ Gak ada kata lain kali! emang bukan kita yang menentukan, tapi kita bisa mencegahnya, dengan cara menghindari pantanganya] balasnya dari sana.


[ Iya yank, aku akan ikut apa katamu] balas ku mematuhi perkataannya.


[ Nice, aku lanjut kerja dulu yah, dear] pamitnya mengakhiri percakapan.


[ Iya yank, semangat!] balasku menyemangatinya.


[ You are a women who can make me feel that not all women are the same, you are a women i met accidentally.]


[ I hope my wishes and yours can come true. Lalisa i love you and i love you so much.]


[ Liat ini baca perlahan dan resapi artinya, aku tinggal kerja dulu, yah?]


Ternyata dia masih belum benar-benar mengakhiri, malah mengirim sesuatu padaku.


[ Sebentar, aku translate dulu] balasku diakhiri emot nangis.


aku tidak bisa mentranslate-nya sendiri, karena masih ada sebagian yang masih belum aku mengerti, meskipun di sekolah dulu aku terkenal dengan translator kelas, saat pelajaran bahasa inggris.


[ kamu adalah wanita yang bisa membuatku merasa bahwa tidak semua wanita itu sama, kamu adalah wanita yang tidak sengaja kutemui.]


[ Saya harap keinginan saya dan Anda dapat menjadi kenyataan. Lalisa aku mencintaimu dan aku sangat mencintaimu]


[ Aaaa... ayank aku jadi sedih bacanya]


aku terharu dibuatnya, dia tidak pandai mengutarakan perasaannya secara langsung, tapi kata-katanya mampu membuatku mewek.


[ Sudah... sudah..., aku tinggal kerja dulu, nanti sambung lagi] balasnya dari sana memnghancurkan suasana.


[ kamu yah, bisanya menghancurkan suasana aja, lagi dramastis-dramastisnya juga, malah gitu balasnya] aku ngambek dengan tanggapan cueknya.


[ iya yank, maaf. aku emang gak romantis orangnya, tapi inilah aku yang mencintaimu dengan caraku]


[ udah yank, aku gak kuat sama kata-kata kamu, terlalu manis dari gula] tulisku mengirim balasan padanya.


Kami ngobrol lagi sebentar, lalu dia benar-benar mengakhiri obrolan kali ini, dan mematikan data selulernya pertanda dia sudah tidak aktif lagi.


Apa kalian pernah merasakan seperti aku? bertemu dengan cowok cuek dan dingin, tapi sekalinya mengirimi kata-kata puitis, langsung membuat kita baper dan mabuk kepayang.


Padahal kedengarannya hanya kata-kata biasa dan sederhana, tapi menurutku itu sudah sangat luar biasa, mungkin juga karena tidak biasa dia lakukan, tapi sekalinya dia utarakan hancur dunia drakoran.


Hari ini aku masih belum masuk kuliah, dikarenakan baru selesai sakit, sekalian juga mata kuliah hari ini zoom jadi bisa dari rumah, tidak perlu repot-repot ke kampus lagi.


*******


Malam ini langit terlihat sangat cerah, aku duduk di kursi teras sambil memandang langit yang berbintang, tampak sinar bulan menyoroti mukaku namun aku memilih tidak menghindar, malah menikmatinya.


Jika dipikir-pikir aku lucu juga yah? dulu aku bersikeras untuk tidak mengenal terlalu dekat dengan seorang cowok, namun kini aku melakukan nya bahkan ini kali pertama aku merasakanya.


Dia yang tak ku sangka-sangka mampu menghancurkan dinding pertahananku, mampu membuatku berani mengenal cinta dengan lebih, dia telah berhasil membuka labirin hatiku, sehingga hanya dia penghuni sepenuhnya disana.


Saat sedang memantau pesan masuk di whatsapp dari teman-temanku, tiba-tiba masuk panggilan video darinya.


"Hallo, Assalamu'alaikum, aku datang" terdengar suara ceria dari seberang sana dengan muka berbinar, aku menatap mukanya dengan tersenyum.


"Wa'alaikum salam, selamat datang di tokoh hati, ada yang dapat saya bantu mas?" Candaku padanya.


"Tidak mas! saya tidak mencurinya!" Balasku pura-pura panik.


"Baiklah anggap saja saya lupa menaruhnya entah dimana, bisakah mbak, membantu saya mendapatkan kepinganya?" Dia masih lanjut memainkan peran.


"Bisa! tapi saya tidak tahu bagaimana caranya?" Jawabku dengan ekspresi berlagak pasrah.


"Gampang! mbak tinggal memberikan sepotong hati mbak kepada saya, untuk melengkapinya" lontaran perkataannya membuat aku tersenyum.


"Mas, sama aja menuduh saya mencurinya kalau begitu" balasku dengan muka pura-pura sedih.


"tidak mencuri tapi mencopetnya" jawabnya dari sana.


"Sama aja bambang!" Kesalku mulai keluar dari jalur peran.


"Kok ngamuk mbak? Bambang itu nama kakek saya bukan nama saya" dia berusaha mengembalikan ke jalur peran.


"Sudah! tidak usah main lagi" ucapku segera menghentikan agar tidak berkepanjangan.


"Baiklah, kamu lagi apa itu?" Tanyanya dari sana.


"Lagi duduk di teras, sambil memandang langit malam yang berbintang" jawabku memberitahu.


"Oh, sama dong. aku juga lagi duduk di depan rumah, lagi menatap langit yang sama" ucapny dari sana


"Iyalah menatap langit yang sama, kalau udah gak sama itu namanya beda alam" lontarku asal.


"Hei! gak boleh ngomong gitu!" Larangnya padaku dengan ekspresi muka tidak senang


"Iya... iya... gimana kerjanya hari ini?" Tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Tugas aku nambah" jawabnya dari sana dengan suara khas miliknya.


"Loh, nambah kenapa? apa bosnya memberikan pekerjaan baru lagi?" tanyaku Dengan ekspresi serius.


"Yang kemarin tugas aku hanya jagain kamu, nemenin kamu, buat kamu tertawa, tapi sekarang nambah lagi" tuturnya dari sana.


"....."


Disini aku terdiam sebentar mencernah kata-katanya.


"Nambah apa lagi?" Akhirnya aku mengeluarkan suara.


"Aku berpikir menyenangkanmu juga adalah tugasku, sekarang katakan apa yang kamu inginkan, insya Allah aku kabulkan" dia menawarkan aku untuk beberapa permintaan padanya.


"Aku hanya ingin kamu selalu ada dan jangan pernah berubah" pintaku dengan ekspresi serius.


"Tapi kalau ini aku gak bisa janji, karena aku tidak tahu di mana tata letak takdirku tertuju" jawabnya dengan muka suram


"Huffff... baiklah, aku tidak meminta lagi" jawabku dengan muka lesuh.


"Jangan sedih dear, kita hanya merencanakan tapi tuhan yang menentukan, kamu harus percaya pada cinta sejati meski banyak yang merintangi, tapi jika Allah merestui tidak ada yang bisa menghalangi" ucapnya memberi pengarahan padaku.


"Baiklah, kita jalani saja dulu, selanjutnya biarkan berjalan sesuai rencana Allah" aku mencoba mendengarkan perkataannya.


"Yasudah, sekarang masuk rumah gih! Gak baik lama-lama diluar nanti terkenak angin malam" suruhnya padaku.


"Siap pak ketua" candaku mulai ceria lagi.


"Kamu yah, meledek aja terus kerjanya" ucapnya dari sana dengan ekspresi pura-pura kesal.


"He... he... he... maaf pak ketua" aku terus membercandainya.


"Aku marah loh, ini" ucapnya dengan ekspresi yang menurutku sangat imut.


"Marah kok, bilang-bilang" ledek ku lagi.


"Udah yank tidur! besok masih harus ke kampus" suruhnya pada ku agar segera tidur.


"Iya yank, ini udah mau tidur" jawabku mematuhi omongan-nya.


"Yaudah aku matiin yah, telephone nya? Assalamu'alaikum" pamitnya mengakhiri panggilan.


"Wa'alaikum salam"


Setelah panggilan terputus aku segera menarik selimut segera tidur, namun sempat melirik ke arah vidya yang telah tertidur lelap disampingku dengan damai.


Setelah itu hening, dan perlahan aku mulai memejamkan mata menuju alam mimpi.


Kau mencintaiku dengan apa adanya, kau mengutarakannya lewat cara yang kau punya, sederhana tapi bermakna ~Lalisa nayyala trishala