
Dibawah guyuran hujan yang membasahi. Oglost masih terus menatap langit, seakan menyembunyikan kesedihanya atas semua kejadian yang terjadi.
" Rez yakin dia di tingal sendiri??... Dia mungkin kesakitan abis di pukulin pake payung!!... "
Tanya Gilang sambil menarik tangan kiri Reze yang membuat mereka menghentikan langkahnya.
" Biarin dia sendiri dulu, dia butuh waktu buat sendiri "
Jawab dingin Reze sambil menarik tangan kirinya karena merasa terganggu dengan perlakuan Gilang.
Lantas Reze meninggalkan Gilang begitu saja yang terus memandang Oglost yang berdiri menatap langit.
Tak lama terdengar Suara Oglost yang menanyakan Sebuah pertanyaan yang agak aneh dan menanyakan kenapa Ia masih berada di area pemakaman.
" Heh... Menurut lu arti kehilangan tuh sesakit apa??.. "
Tanya Oglost sambil berbalik dan berjalan menuju Gilang yang sekarang berdiri di bawah Guyuran Hujan.
Terlihat beberapa luka lebab serta pelipis yang mengeluarkan cukup banyak darah yang mengalir bersama air hujan yang membasahi wajahnya.
Melihat itu Gilang hanya bisa terdiam dan sedikit ketakutan melihat Oglost yang Terlihat tak kesakitan sedikitpun berjalan menuju arahnya, bibirnya terlihat gemetar karena tak kuasa menahan dingginya cuaca dan ketakutanya.
" Seneng ya punya rasa empati atau rasa sakit, yo balik!!.. "
Ucap Oglost sebari menepuk pundak Gilang menyurhnya untuk pulang dan membuat Gilang bertanya tanya maksud dari pertanyaan dari Oglost.
Lantas mereka pun pulang. Terlihat Gilang berjalan di bawah guyuran hujan berjalan tertunduk memikirkan sesuatu.
" Sebenernya mereka itu siapa??.. "
Gumat otaknya, yang terus bertanya- tanya tentang semua kejadian mulai dari peperangan dengan inang, ikut bersama mereka ke tempat itu. Sampai semua sikap orang yang seolah menuruti komando orang yang bernama Oglost itu.
Tak lama ia sampai di depan rumah Agan dengan terengah engah karena berusaha berlari namun tetap basah kuyup, saat ia membuka pintu rumah.
Terlihat Wanita sepantaran Ismira menggunakan Jaket yang sama dengan team explore namun berwarna putih, keluar dari pintu tempat wini.
Serta Ismira yang ikut keluar dari pintu itu hendak mengantarkan gadis itu menuju pintu namun segera berhenti tak kala melihat Gilang yang basah kuyup berdiri di depan pintu.
" Ya ampun Gilang, ngapain hujan hujanan???... Tar aku bawa buat kamu ganti "
Ujarnya yang langsung berlari menuju belakang untuk mengambil handuk serta baju untuk kekasihnya.
" Lu siapa??... "
Tanya Buka Gilang sambil terus melihat gadis itu dengan tatapan terpesona akan kecantikan gadis itu.
" Anissa, lu Pasti Gilang pacar dari si Mira "
Jawabnya sambil mendudukan dirinya di lengan kursi ruang tamu.
Mendengar hal itu Gilang merasa sedikit binggung , karena baru kali ini ada orang yang memangil kekasihnya dengan sebutan Mira seakan mereka sudah lama kenal.
Tak lama Ismira datang dengan membawa handuk dan sebuah ember di tanganya yang langsung di ketawai oleh gadis itu.
" Ehh... Lu masih aja panikan kaya dulu. Coba ngapain lu bawa ember ?? Mau dimana salinnya!!.. Masa mo di depan gue??... "
Canda gadis itu sambil memukul lembut pundak Ismira yang menyadarkan ia dari kelakuan kikuknya.
" Astaga lupa!!.. Dah masuk aja padahal ngapain benggong di depan pintu!!... Apa gara gara ada cewe cantik??... "
Periknya yang terus melihat wajah kekasihnya yang terus melihat ke arah Annisa dan menyadarkan Gilang dari lamunanya.
Lantas Gilang langsung masuk ke dalam rumah, melewati dua gadis itu, namun segera di tahan oleh Ismira yang memberikan ember yang ia peggang. Dan menyuruh mengembalikannya ke tempat semula.
" Nih, nitip sekalian mandi sana tar sakit !! "
Ucap ketusnya sebari memberikan ember yang berisi baju ganti serta handuk kepada Gilang.
Lantas Gilang berlalu sambil membawa ember dan handuk di lehernya.
Ucap Goda gadis itu sambil tersenyum kecil selepas melihat wajah Gilang dari dekat. Yangmembuat Ismira sedikit marah dan mencubit pipi gadis itu.
" Heh..! Tutup termos. berani ya main mata depan gue!!.... "
Ucap sebal Ismira sambil mencubit serta menarik pipi wanita itu, yangdi barengi rintihan sakit keluar dari mulut gadis itu.
" Addu duh sakit ******, iya maaf maaf "
Rintis gadis itu sambil memegangi tangan Ismira yang terus menarik pipinya.
Lantas Ismira melepaskan cubitanya yang meni galkan bekas merah matang di wajah gadis itu.
mendengar kegaduhan di ruang tengah, membuat Wini adik dari agan terbangun dan berjalan menuju pintu kamar untuk melihat sumber keributan.
Namun sesampainya ia di pintu. Ia melihat Gilang yang sedang berjalan mengenakan baju hitam serta wajahnya yang tertutup handuk karena sibuk mengeringkan rambutnya dengan handuk. Membuatnya ia terlihat seperti sosok kakaknya.
" Kak Agan.... Akhirnya pulang.... "
Teriak gadis itu sambil memeluk badan Gilang yang tak sadar karna pandanganya terhalang handuk.
Lantas Gilang merangkul gadis itu dengan tangan kananya dan membiarkannya memeluk dirinya, serta Wildan yang keluar dari kamar agan untuk bertemu Wini yang sekarang sudah siuman.
" Win maaf kakak bukan kak Agan, Kakak kamu beneran udah meninggal "
Ucap dingin Gilang sebari memperlihatkan wajahnya yang sebelumnya tertutup handuk.
Sontak Wini yang mendengar ucapan itu kaget dan langsung melihat keatas tepat ke wajah Gilang. Membuatnya langsung mundur dan menabrak tubuh Wildan yang berdiri di belakangnya.
Wini yang masik tak percaya segera membalikan badanya dan memeluk Wildan, tak lama Wildan berlutut dan meminta maaf sekali lagi kepada adik sahabatnya itu.
" Dek.. Maafin kakak, kakak udah gagal ngejaga kakak kamu "
Ucapnya sambil memeluk Wini sambil tak kuasa menahan kesedihanya.
Ismira dan Anissa yang datang melihat kejadian itu pun takkuasa menahan haru saat menyaksikan kejadian itu.
" Wil nitip Wini pastiin dia bahagia!!.. "
Ucap anisa sambil berjalan dan mengelus kepala gadis kecil itu yang nampaknya sudah mulai mengiklaskan kepergian kakak tercintanya.
" Pasti Nis Gue pastiin dia bahagia "
Ucap janji Wildan sebari berdiri dan melepaskan peluknya dari Wini.
" Lu tadi dari mana aja Lang? "
Tanya pembuka Wildan, yang langsung di jawab nya. " Dari pemakaman " ucapnya sambil menarik handuk dari lehernya.
" Lu pasti liat si Oglost ketua dari mereka ?? "
Tanya Khawatir Anissa yang membuat semua orang di situ merasa keheranan karena perubahan sikapnya yang awalnya tenang mendadak berubah menjadi panik.
" Liat, cuma pasti keadaanya gak baik baik aja. Soalnya dia di pukulin sampe berdarah. Tapi dia masih bisa bangun kok. "
Jawab santai Gilang sambil berjalan menuju ke arahnya.
" Bodoh!!... Kenapa gak bilang dari tadi "
Ucapnya yang langsung berlari menuju pintu keluar yang di tahan oleh Ismira yang keheranan karena sikap temanya itu.
" lu kenapa?? Kok jadi aneh gini "
Tanya Ismira yang merasa kebingungan karena sikap temanya yang berubah.
" Laki gue punya penyakit CIPA "
Ucap singkatnya yang menarik lenganya dan berlari keluar dari rumah Agan.