
Setelah mengucapkan kata-kata perpisahan itu. semua bet tekuk lutut di belakang Oglost. Menyisakan Ismira Yukky dan Gilang yang berdiri keheranan dengan semua ini.
Serta di barengi Oglost yang membalikan badanya sambil mencabut katana yang menancap di kepala orang yang ia pengal.
"Pastiin orang terdekatnya Hidup bahagia!!!... Paham!!!.."
Teriaknya perintahnya pada semua orang yang di jawab sepempak dengan teriakan.
"Pasti kami lindungi walau nyawa kami taruhanya!!"
" Diri kalian!!... ada mayat yang harus kita kubur dengan layak. Kita pulang sekarang!!.."
Serunya sambil berjalan menuju Gilang dan Ismira yang berdiri.
Lantas Gilang yang sedari tadi berdiri mematung itu di hampiri oleh Ismira yang ingin menanyakan siapa orang yang tega membunuh temanya sendiri itu. Namun ketika ia ingin bertanya pada Gilang iya keburu di tarik yukky yang merasa sangat ketakutan karena searang Oglost sudah berada di depan mereka bertiga.
"Kalian ikut kan sama kita?"
Tanya pembuka Oglost pada mereka yang di sambut gelagapan Ismira karena saking takutnya dengan Oglost.
" Ga... Ga....ma~~"
Belum selesai ia terbata bata ucapanya di potong Gilang yang mengiyakan pertanyaan itu.
"Iya kita ikut"
Ucapnya sambil membekam mulut kekasihnya itru karena ia takut jika Oglost mendengan tolakan yang sebelumnya akan di ucapkan Imira.
"Ya udah, kalian ikut mobil sama Wildan bareng ya..."
Ucapnya sambil berlalu menuju mobil yang sebelumnya ia naiki bersama reze.
Lantas Gilang dan yang lain menaiki mobil yang di tumpangi Oglost yang di supiri rize, sayup sayup suara para anggota yang ikut berperang itu mulai terdengar, alunan nada mulai terdengar mengiring perjalanan.
" The worldly life is not but the amusement.
But the home of Hereafter is best for those
Who fear God? Who fear God?
So, are we listening? "
Saut nada yang terdengar menemani mereka. dan tak terlihat wajah bahagia yang tersirat di wajah mereka, yang sangat berbeda saat mereka turun di medan perang.
Setelah sekitar setengah jam mereka menaiki mobil, mereka sekarang memasuki daerah yang di kelilingi oleh tembok beton dan juga terlihat gapura yang menjulang dan tertutup gerbang besi yang tertutup rapat.
Segera mobil reze mengedipkan lampunya, memberi tanda untuk meminta seseorang di balik gerbang membuka pintunya.
Lantas pinntu yang menjulang itu terbuka dan segera menyuruh para rombongan masuk yang di ikiuti mobil reze yang masuk terlebih dahulu dan di susul iring-iringan tiga mobil di belakangnya.
Terlihat banyak orang yang sudah menunggu kedatangan mereka yang terlihat seperti berharap akan sesuatu yang turun dari mobil itu.
Tak lama decit ban mobil terdengar tanda Reze menghentikan mobilnya dan segera turun dari mobil di susul Oglost yang terlihat menatap kosong kearah kerumunan orang.
Terlihat para anggota yang turun dari kendaraan di sambut haru dan juga tangis para penduduk yang khawatir sanak saudara mereka yang ikut dalam peperangan itu kembali hanya nama.
"Akhirnya..... Kita sampai, turun Lang!.."
Ucap Wildan yang menepuk pundak Gilang memintanya untuk ikut turun karena sudah sampai di 'shelter' tujuan akhir dari petualangan mereka.
Lantas Wildan meloncat dari atas bak belakang mobil, di ikuti Gilang dan yang lain yang merasa sangat bahagia sekaligus sedih karena bisa melihat sisa sisa warga yang selamat dari wabah bisa bersatu namun, di satu sisi mereka juga teringat dengan semua perjuangan mereka untuk bisa sampai ke tempat itu.
Terlihat seorang gadis sepantar Yukky berlari menghampiri mereka, dan memangil nama Wildan dari kejauhan.
Saut gadis itu terus berlari sambil mengelap air matanya yang tak kuasa ia bendung saat melihat Wildan.
Sontak Wildan berdiri mematung yag langsung di peluk gadis itu, tak sepatah kata pun terucap dari mulut Wildan yang sekarang jatuh berlutut dan balik memeluk gadis itu saat menanyakan dimana kakaknya
"Kak.... Kak Agan mana kok gak ada??.. "
Ucapnya sambil mengoyang goyangkan tangan Wildan yang mematung diam tak menjawab pertanyaan itu.
Sambil berlutut memeluk gadis itu Wildan menitikan air matanya, tak kuasa membendung sedihnya kala harus membawa kabar buruk tentang temanya yang meninggal.
" Sorry win, kakak kamu gak selamet"
mendengar itu, sontak yang membuat Ismira,yukky, dan Gilang terdiam mematung yang tak menyangka bahwa gadis itu adalah wini. Adik wanita dari Agan.
" Engga..... Kak Wildan bercandakan??.... Pasti kakak lagi sembunyi Kak Agan....... Kak sumpah gak lucu..."
Teriak gadis itu, memanggil mangil nama kakaknya sambil mendorong badan wildan yang mencoba memeluk dirinya
" Win, ini gak bercanda. kakak kamu beneran meninggal. "
Ucap Wildan sambil memberikan foto temanya bersama adiknya, yang langsung membuat gadis ini berteriak sekencang kencangnya. Tak percaya bahwa kakaknya benar benar pergi untuk selamanya.
" Kak Agan......"
Teriak gadis itu sekencang kencangnya sambil tertunduk melihat foto yang sebelumnya di berikan wildan. Dan tak lama badan gadis itu terjatuh pinsan tak kuasa menahan kesedihan yang langsung jatuh ke tanah.
Melihat kejadian itu, sontak Gilang langsung mencoba membopong gadis itu yang di susul Ismira yang membantu Wildan berdiri untuk segera berdiri.
" Wil, ayo"
Buka Imira, yang mencoba membantu Wildan berdiri dari berlututnya sambil memeganggi bahu pria itu
Reze yang sedari tadi melihat temanya dalam keadaan tertekan mencoba datang dan menghibur temanya yang lantas mendatangi mereka.
"Biarin Wini sama gue, yo Wil kita balik. banyak orang disini."
Sambil mengulurkan agar bisa membopong Wini dan menyuruh mereka untuk menuju rumah agan.
Setelah kejadian haru di gerbang mereka menuju rumah yang di tinggali oleh Agan yang persis di depan rumah Wildan.
"kalian tuggu aja diluar biarin wini sendiri sadar. Sama buat sementara biarin dulu Wildan sendiri, dia butuh waktu buat nenangi pikiranya. Nanti ada bininya Oglost dateng kesini. kebetulan dia salah satu dokter yang bisa di andelin di shelter sini "
Ucap Reze sambil menurunkan badan Wini ke kasur, dan meminta agar Ismira dan Gilang agar menunggu gasdis itu sadar serta membiarkan Wildan untuk sendiri.
"Dek yukky kak reze turut bela sungkawa atas meninggalnya bapak, moga beliau tenang ya"
ucap reze pada Yukky sambil mengelus kepala gadis itu yang terlihat tegar melihat kejadian yang sebelumnya ia alami saat kematian orang tuanya beberapa hari lalu.
"makasih ya ka resa... Pasti ayah sekarang sudah tenang disana. "
Ucap gadis itu yang terlihat sudah mengiklaskan kepergiaan ayahnya.
Melihat ke akraban mereka yang seperti kakak dan adik Lantas Ismira memberanikan diri untuk menanyakan tentang kedekatan mereka berdua.
"Dek... kakak ini siapa kok deket sama kamu?..."
Ucap berbisik Ismira sambil menarik tangan Yukky agar bisa mendekat kearahnya, karna sedikit ketakutan dengan penampilan Reze yang tinggi besar.
"oh.... ini kak Resa murid bapak yang sering main ke rumah dulu "
Ucapnya sambil berbisik ke tenlingga ismira.