
“Terus apa, yang mau kamu omongin lagi??.."
Tanya Gilang sebari memberatkan suaranya agar terkesan serius.
Namun, bukanya di dengar. Yang ada Ismira malahh mentertawakan kelakuan kekasihnya karena, menurutnya. Kelakuan itu bukan yang terkesan ‘Gilang banget’.
“Dih,... dih... malah so soan cool yang ada kamu kaya orang kesurupan tau”
ucap gelak tawanya, sambil memegangi perutnya yang tak kuasa menahan gelak tawa karena kelakuan kekasihnya.
“ya terus mo ngomong apa ??..Ismira sayang!!...”
Tegas Gilang berusaha mengembalikan alur pembicaraan.
Lantas Ismira bercerita, tentang pembicaraan sebelumnya dengan Wildan. Tentang bagaimana ia bisa memaparkan virus ‘zero’ yang ia idap ke tubuh Gilang.
“Tadi aku ngobrol sama Wildan, tentang bagaimana kamu bisa terpapar virus zero. Wildan ngomong, kalo penyebabnya itu karena air liur atau cairan yang aku tularin ke kamu.”
Tuturnya menjelaskan kembali pembicaranya dengan Wildan tentang virus itu.
“Terus gimana caranya?”
ucapnya sambil mematikan rokok dan mengeluarkan asap di mulutnya. Namun setelah ia menanyakan itu pada Ismira ia Hanya terdiam dan tak melanjutkan pembicaraan.
mukanya terlihat ia memerah padam, karena tak kuasa menahan malu. Serta, untuk mengutarakan hal yang bisa membuat Gilang merasa menyesal.
“Mi.....” satu sapaan tak di gubris
“ayaaanggg”
candaan Gilang yang sama tak di gubris, membuat ia kesal dan memangilnya untuk ketiga kalinya sambil memukul pintu yang ia dan Ismira sandari berdua.
Dukk....
"Ismira!!...”
ucapnya yang menaikan nada bicaranya dan suaara daun pintu yang dipukul cukup keras.
Lantas Ismira terperanjak dari lamunnya, dan segera ia membalikan badanya serta meminta maaf sebelumya.
“iya...maaf tapi janji kamu jangan marah, atau ketawa. Ini baru perkiraan aku sama Wildan aja."
Menyuruh Gilang untuk tidak tertawa atau marah karena hal itu mungkin sangat sensitif.
“iya apaan?... cintaku, kasih ku,pacarku, pujaan ku”
ucap lebaynya.
“Karena kita sering ciuman. Itu baru spekulasi awal, karena pada dasarnya virus itu menular dari cairan atau darah bahkan bisa dari udara si penderita ke orang yang tertular”
tuturnya menjelaskan cara ia menularkan virus kepada Gilang, tapi bukanya kaget, Gilang mengangap itu hanya sebuah takdir.
karena pada dasarnya ia pun mengerti tentang penuralan sebuah penyakit.
“Mi, sebenarnya aku udah kepikiran kalo aku tertular itu karena itu, tapi aku ngangap itu takdir aku. Asal jangan pernah coba coba KAMU NYIUM BIBIR ORANG LAIN!!... AKU GA SUDI NGEBAGI BIBIR LEMBUT KAMU!!...”
Jawabnya yang sedikit agak bercanda di akhir kalimatnya, yang sekaligus menegaskan jika ia tak pernah menyesal tentang apa yang dia alami sekarang.
mendengar hal itu, Ismira hanya tersenyum dan menitikan air mata, karena ia sekarang tidak merasa lagi bersalah. Dan yakin jika Gilang sudah mau menerima keadaanya serta ‘takdir buruk’ yang sebelumnya melekat padanya.
“Dih.... bucin!!!”
perik perkatanya sambil tersenyum dan memukul daun pintu, karena kesal tidak bisa melihat wajah Gilang yang seakan akan sedang mengolok- ngoloknya di balik pintu.
Tak lama Yukky datang dan memarahi kelakuan Ismira, yang sedari tadi bukanya Istirahat tidur dan malah asik memadu kasih yang terhalang pintu dengan Gilang.
“dakk.... dukk.... dakk.... dukk.... mulu dari tadi!!! Susah tidur tau kak!!!”
Ucap marahnya sambil berjalan memeluk guling serta terlihat wajah yang ngantuk berat.
“iya... iya... maaf dek, tuh si kak Gilang orangnya gombal mulu”
Pembelaanya yang mencoba menyudutkan Gilang.
“udah tidur lagi yuk” pinta Ismira pada gadis kecil itu, dan segera terbangun dari duduknya. Dan berjalan menghampirinya, yang lantas mereka berdua masuk ke kamar untuk tidur dan melanjutkan harinya di esok pagi.
Tak terasa pagipun datang terlihat Yukky yang masih tertidur memeluk Ismira yang terbangun oleh cahaya matahari yang masuk dari sela-sela jedela kamarnya.
“emmmhhh...” erangnya sambil membuka mata nya sembab karena dari kemarin tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
“dek bangun dah pagi ayo siap-siap” ucapnya sambil mengoyangkan badan mungil Yukky yang setengah badanya memeluknya.
“bentar mah, neng masih ngantuk”
racau setengah sadarnya sebari memeluk Ismira lebih erat.
Lantas Ismira menghentikan membangunkanya dan membiarkan gadis kecil itu memeluknya lebih lama lagi karena ia juga mengetahui bahwa sekarang gadis itu sudah tak punya siapa- siapa lagi di dunia. kecuali ia dan Gilang yang sudah mengapnya sebagai adik mereka berdua.
“Iya dek gapapa, tidur lagi aja” tambahnya sambil membelai lembut kepala gadis kecil itu.
Taklama berselang gadis kecil itu membuka matanya dan sekilas melihat wajah ibunya yang sedang membelai rambutnya.
“mah, jangan tingalin neng lagi ya” ucapnya setengah sadar dan masih belum mengetahui jika itu Ismira.
Sesaat ismira terdiam dan memeluk yukky dan juga berjanji tak akan meningalkan ia serta Gilang untuk kedua kalinya.
“Kakak janji!!..ga bakal ningalin kalian lagi!!..walau kakak harus mati. Karena kalian berdua orang-orang yang berharga di hidup kakak!!..”
ucap pelanya yang tak ingin gadis itu dengar.
“hoammmm.... bangun-bangun!!.. ayo berangkat”
ucapnya sambil berjalan serta meregangkan badanya, dan segera membuka pintu kamar Gilang yang sebelumnya ia kunci.
“Lang.. lu belum jadi gagaran kan??..”
ucapnya sambil membuka pintu dan melihat Gilang yang sudah siap untuk pergi.
“Yo.. aman wil”
sambil mengacungkan jempol tangan kirinya menyatakan bahwa ia tidak berubah sedikitpun dan tetap daLam wujud manusia.
“Yaudah, bangunin Ismira sama gadis kecil itutuh siapa namanya”
titahnya dan menanyakan Gadis kecil yang mengikuti mereka berdua.
“Yaudah bentar, namanya Yukky. Gimana kaki lu udah mendingan??”
ucapnya sebari berdiri dari duduknya dan juga fokus ke arah kaki Wildan.
“Aman lang”
ucap jawab singkatnya sebari mengacungkan jempolnya tanda ia baik-baik saja.
Lantas Gilang keluar dari kamarnya dan segera mengetuk serta membuka pintu kamar itu.
:aku masuk ya”
Ucapnya sambil menekan knop pintu. Terlihat mereka berdua masih tidur dengan posisi saling peluk satu sama lain.
Ia pun mengoyang-goyang pundak ismira yang tidur di ujung kasur.
“Mi... bangun yang, dah pagi”
ucap lembutnya sebari melihat wajah wanita yang sekarang menjadi kekasihnya itu.
“bentar dek, masih ngantuk”
racaunya sambil asal menarik tangan Gilang yang membuatnya tertarik dan terjatuh karena tersandung dipan kasur.
“duk......
"aduh” ucapnya agak keras, yang membuat Yukky dan Ismira terbangun dan langsung membuka mata mereka.
“dasar mesum....”
ucap Ismira, sebari melempar tangan yang sebelumnya ia Pegang dan berbalik serta menendang sekuat tenaga namun berhasil di tahan oleh Gilang dengan tangan kirinya yang tepat akan mengenai wajahnya.
“Gilang..... maaf aku ga sengaja, aku kira si wildan mesum masuk kesini”
ucap pembelaanya yang baru menyadari jika orang yang ia tendang itu adalah kekasihnya.
“duh maaf ya, sini aku liat tanganya" sambil terduduk di kasur tepat di depan Gilang.
Lantas Wildan dengan santai berbicara karena melihat kemesraan yang baru saja terjadi di depan matanya
“Aduh cie... mentang-mentang pacaran. Baru bangun udah mau di ‘morning kiss’ aja si Gilang.. pantes ga nyesel jadi gagaran!. Udah cantik, baik di ‘jatahin mulu’,lagi jadi pengen..”
Ucap santainya sambil menghisap sebatang rokok di mulutnya.
Mendengar hal itu Gilang dan Ismira segera melihat dan menatap tajam wajah Wildan yang sedang bersandar di kusen pintu.
“Mau mati apa gimana wil”
ucap ketus ismira sebari melepaskan gengaman tanganya dari Gilang.
“udah,malah bercanda yo ah siap-siap!!!” ucap Gilang sebari berdiri dan mengelus ngelus kepala Ismira, mencoba menenangkan kekasihnya.
Lantas ia meminta rokok pada Wildan dan menanyakan berapa waktu yang di butuhkan untuk menuju shelter yang di jawab sekitar tiga jam berjalan kaki.
“kalo dari sini itu paling tiga jam itu juga kalo ga ada gagaran atau inang yang ngehadang”
tuturnya sambil menjelaskan tentang rute yang akan di tempuh oleh mereka berempat.
Tak lama Ismira dan Yukky datang dan membuka pintu kamar serta berjalan menuju mereka untuk bergabung.
Terlihat Ismira dan Yukky yang sudah Siap untuk memulai perjalanan dan ditambah dengan Wildan yang sekarang menjadi bagian dari mereka.
“Dek kalo ga kuat jalan bilang ya sama kak Gilang ,nanti biar kakak gendong!!."
Ucap Gilang sambil duduk jongkok sebari mengusap kepala Yukky.
“siap kak”
jawab singkatnya sambil tertawa kecil.
“kamu juga yang, kalo ga kuat ngomong aja kaya biasa ya”
sambil menaikan penutup mulut yang ia pakai dan memberikan tas yang sebelumnya di bawa oleh Yukky.
Melihat itu Wildan tersenyum dan mengingat teman nya Agan, yang gugur demi dirinya dan juga Gilang.
“kalian udah kaya keluarga kecil bahagia ya,”
ucapnya sambil tertawa kecil.