Last Night

Last Night
Seringai Licik Asisten Reyhan



Zein mengumpat kesal, bukannya ia melayani tawaran konyol Selena. Pria itu malah bergidik ngeri sendiri, di saat ia mendapatkan lawan yang seimbang dengan dirinya. Dimana, Selena benar-benar gadis tak tahu malu. Dengan mudahnya ia akan membuka gaun di depan mata Zein begitu saja.


"Haisss,,, Dasar gadis tak waras. "


"Bagaimana bisa dia melakukan hal konyol itu, tepat di depan mataku ini? "


"Setidaknya, dia menolak atau berusaha untuk memberontak. Apa dia tidak punya harga diri lagi? "


"Ck,,, aku bisa gila, jika dia terus berada di mensionku ini"


Zein terus saja menggerutu, sambil sesekali mengumpat. Baru kali ini ia menemukan sosok garis gersek seperti Selena. Padahal, gadis itu jauh terlihat anggun dan nampak polos. Namun, apa yang ada di pikirannya malah sebaliknya. Selena sangat ceroboh dan bar-bar. Jika ingat kelakuan Selena. Zein malah tertuju pada adik bungsunya sendiri. Yang mana sifat sang adik sangat mirip dengan Selena saat ini.


Zein memang pernah jatuh cinta. Bahkan, sangat mencintai pasangannya dulu. Sehingga, ia sampai dibutakan akan cinta. Dan di tipu, di permainan, sehingga kelicikan sang kekasih tak ia lihat sama sekali. Sampai hidupnya hampir berakhir tragis sekali. Ia hampir kehilangan nyawa hanya dengan waktu satu malam saja.


"Dimana, kau? " Zein mulai bicara lewat panggilan telponnya. Di saat situasi seperti sekarang ini, ia baru ingat dengan sekretaris nya sendiri. Yang mana ia tinggal begitu saja di tempat pesta.


"Ada apa, tuan?." Apa tuan sedang kesulitan? "


"Haisss,,, cepat cari cara apapun!. Untuk membuat dia keluar dari mensionku ini! " Titahnya dengan rasa kesal.


"Dia, siapa? " Tanya Reyhan pura-pura bodoh.


"Kau,,, !? " Zein akhirnya mematikan sambungan telpon itu tiba-tiba. Karena, ia begitu kesal akan sikap sekretaris nya sendiri. Dan juga garis yang ia pelihara beberapa hari ini di kediamannya itu.


Zein pun memilih untuk pergi ke ruangan kerja nya. Daripada ia harus kembali ke kamar sekarang, Dan malah bertemu dengan Selena, yang sedang kacau baginya.


"Apa gadis itu sedang kesurupan setan cabul? " Guman Zein sambil menggeleng kan kepalanya.


"Ah, apa aku harus panggil paranormal, ustadz, atau dukun? " Tanyanya pada diri sendiri.


Zein tak sadar, jika sejak tadi. Selena sudah menguping semua gumanannya dari balik pintu sana. Ingin sekali Selena tertawa terbahak-bahak. Namun, sebisa mungkin untuk ia tahan. Baginya, malam ini Zein nampak bodoh sekali.


Dimana, tak selamanya pria mesum seperti Zein. Akan melakukan hal gila, dengan semua gadis yang ia temui. Buktinya, Zein malah takut saat lawannya lebih agresif dari dirinya.


"Salah siapa, jadi pria mesum?." Lirih Selena sangat pelan, dan kembali masuk kedalam kamar sana. Bukannya pergi ke kamar nya sendiri. Yang sudah di siapkan oleh maid, untuk tempatnya. Namun, Selena memilih untuk masuk kedalam kamar utama Zein.


*******


"Kenapa dia seperti orang kesal? " Guman Reyhan, yang malah berbalik arah.


Pria itu bukannya ingin pulang ke mension. Ia malah ingin menuju ke suatu tempat, yang mungkin bisa membuat pikirannya sedikit tenang saat ini. Setidaknya, jika Zein sedang kesal. Pria itu tak akan menghubungi nya, atau mungkin bisa sampai besok.


"Sepertinya, aku akan menyuruh Selena awet saja tinggal di mension! " Ucap Reyhan sambil menarik sudut bibirnya penuh arti.


Pria itu nampaknya sedang menyusun rencana. Agar ia bisa sedikit menghela nafas, dari semua tugasnya setiap hari. Dan ia akan mengambil cuti dalam beberapa pekan. Otaknya juga butuh refresing sejenak, untuk lari dari semua pekerjaan. Yang mana, Zein selalu saja mengandalkan dirinya.


Sudah hampir 4 tahun, ia ikut dengan Zein. Namun, mereka memang di pertemukan dengan cara yang tak di sengaja. Di saat Reyhan memang sedang membutuhkan sandara. Dan tak mempunyai harapan untuk bertahan hidup lagi.


Akan tetapi, sekarang ia sudah menjadi seseorang yang di hargai, dan juga di takuti banyak orang. Dengan kedudukan yang tak main-main. Sehingga, nyalinya bangkit seperti semula untuk bertahan hidup. Setidaknya, walaupun bukan untuk dirinya sendiri. Ada Zein yang akan selalu ia lindungi.


Jika di tanya takut mati, mungkin Reyhan akan menjawab. Tidak!. Sebab, baginya sekarang kehidupan sudah tak begitu penting. Ia pun tak akan takut dengan hal apapun. Walaupun nyawa dia adalah taruhannya. Kesetiaan nya sebagai seorang asisten kepercayaan. Sudah tak usah di ragukan lagi.


"Shittt,,,!? " Umpat Reyhan, ketika tiba-tiba ada satu mobil dengan flat plasu. Sudah menghadang jalan nya untuk pulang, ketempat peristirahatan yang nyaman.


Tak berselang lama, Empat orang pria berbadan kekar mulai turun dari mobil tersebut. Dan mereka pun membawa senjata, yang sudah di persiapkan untuk melakukan kekerasan.


"Haisss,,,! " Reyhan pun hanya mengumpat, sambil menatap para pria di luar sana.


Jujur saja, malam ini ia sedang tak ingin berkelahi. Karena mood nya sedang tak baik. Tubuhnya lelah ingin istirahat dengan waktu yang sedikit lama. Namun, selalu saja halangan untuk menuju tempat nyaman itu.


Drakkk! "


Salah satu pria mulai memukulkan tongkat bisbol ke kaca mobil Reyhan. Namun, beruntung kaca mobil Reyhan adalah anti peluru, dan tak akan bisa untuk di hancurkan begitu saja. Apalagi, dengan senjata seperti itu.


Melihat beberapa pria mulai ingin melakukan sesuatu pada mobilnya. Reyhan malah masih nampak santai, seolah ia tak akan bisa untuk di ciderai semudah itu.


"Keluar! " Titah pimpinan pria tersebut. Sambil terus menggedor kaca jendela mobil Reyhan.


"Kalian pikir, kalian itu siapa?. Berani sekali memberiku perintah" Jawab Reyhan mendengus kesal.


Drakkk!


Dasssshh!!


Beberapa kali mencoba, namun hasilnya tetap sama. Malah, Reyhan hanya mengejek mereka dari dalam mobilnya. Pria itu melambaikan tangan, setelah ia mengenakan kaca mata hitamnya.


Dan selang beberapa detik, sesuatu hal terjadi pada salah satu pria di samping mobil. Dengan semua kecanggihan mobil tersebut. Reyhan akhirnya bisa menggunakan waktu, untuk pergi dari sana. Meninggalkan para pria tak di kenal begitu saja.


"Yes,,, " Senyum licik Reyhan terbit, saat ia sudah bisa menebak, siapa yang sudah mengutus para pria itu tadi.


"Ada apa? " Tanya Reyhan lewat sambungan earphone yang selalu ada di telinganya.


"Anda baik-baik saja, tuan? "


"Hm"


"Apa yang harus kami lakukan pada mereka? "


"Bereskan dengan rapi!. Dan kau tau langkah selanjutnya, bukan? " Senyum Reyhan semakin terlihat licik.


"Siap, tuan! "


Ya, mana mungkin Reyhan pergi tanpa di kawal oleh anak buahnya sendiri, yang mana ia akan selalu di awasi dari kejauhan. Begitu juga dengan Zein, sebab orang-orang seperti mereka. Merupakan asset berharga, yang mesti di jaga.


"Kalian berani sekali bermain denganku" Guman Reyhan sambil menarik sudut bibirnya.


Tak akan ada yang bisa membuat mereka celaka. Jika, mereka bermain kurang rapi. Dan tak kerjasama dengan orang dalam. Namun, untuk mendapatkan informasi dengan orang di sekitar mereka pun, itu bukanlah orang yang mudah dilakukan.


Semua anggota Zein dan Reyhan, adalah orang-orang yang lebih memilih mati, daripada harus mengkhianati tuannya. Makanya, sejauh ini Zein begitu tenang. Ia juga kerja jauh dari keluarga besarnya. Walaupun, keluarga besarnya sudah pasti, akan mampu melindungi diri masing-masing.