
Malam panjang yang telah di lalui oleh Zein dan juga Selena kemarin malam. Membuat Zein tak bisa lagi mengelakkan diri. Ia terperangkap dalam kehangatan tubuh Selena. Gadis yang telah ia nodai atas dasar suka sama suka. Dan kini, mereka saling tak bisa meninggalkan satu sama lainnya.
Sementara itu, Asisten Han tak lepas memberikan nasihat dan wejangan untuk Zein. Agar ia tak hanya cuma sekedar mencicipi tubuh Selena saja. Tapi, mendesak Zein agar segera menikahi gadis itu.
"Tuan, anda harus mengambil keputusan!, sekarang nona Selena hanya memiliki anda dan... "
"Iya, aku tidak tuli, Han" Serkah Zein, yang mulai kesal karena Han sejak tadi pagi, tak pernah diam. Pria itu seakan begitu mendukung hubungannya dengan Selena, sampai ketahap serius.
"Aku akan bertanggungjawab, dan menikahinya! " Sambung Zein lagi dengan serius.
Ya, Zein tak akan lepas tangan begitu saja. Walaupun, ia sebetulnya belum sadar akan perasaan dia sendiri. Yang mulai nyaman karena keberadaan Selena disisinya selama ini.
"Ada yang ingin kau jelaskan padaku, Han? " Kini, giliran Zein yang menatap penuh intimidasi pada sang asistennya itu.
Dimana, keduanya saat ini tengah berada di dalam ruangan kerja Zein. Dan bahkan keduanya belum keluar sejak beberapa jam yang lalu. Suasana weekend, bukan membuat Zein ataupun Han bisa bersantai. Namun, saat weekend begini mereka berdua akan membuat rencana matang. Agar, bisnis Zein semakin berkembang. Sebab, ia juga lebih sering bekerja di balik layar. Apalagi, untuk bisnis bawah tanahnya itu.
"Sudah waktunya makan siang, tuan! Lebih baik anda... "
"Han, sudah berapa lama kita bekerjasama? " Potong Zein, semakin curiga akan tingkah dan sikap Han sejak, Selena ia bawa pulang ke mension ini.
Han mulai menghela nafasnya pelan. Dan pria itu pun kembali menatap Zein, dengan tatapan datar tapi. Zein bisa merasakan jika Han sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Sehingga, setiap kali melihat Selena terluka ataupun menangis. Han sampai tak bisa mengalihkan pandangannya dari gadis itu.
"Wajah Selena mengingat kan saya pada gadis remaja, yang dulu sempat menolong saya dulu, tuan"
"Gadis remaja? " Ulang Zein mulai penasaran, tapi Zein juga tak mau jika pertanyaan nya ini. Malah akan membuat Han semakin bersedih akan kisah silam nya dulu.
"Ya, tuan. gadis remaja yang menyelamatkan saya dari sebuah insiden penembakan. Tapi, nyawanya malah tak terselamatkan" Ungkap Han dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Dia tewas? " Zein semakin penasaran. Namun, anggukan kepala Han, membuat Zein terkejut.
"Bagaimana bisa, ada gadis remaja yang tiba-tiba datang menyelamatkan kamu, Han? " Selidik Zein semakin penasaran lagi.
Han sudah kembali dengan mode sadarnya. Dan pria itu hanya menatap Zein datar. "Ceritanya panjang, tuan. Dan tak akan cukup jika aku ceritakan sekarang" Jawab Han berusaha untuk mengalihkan perhatian Zein. Yang memang aslinya Zein itu sangat cerewet dan juga konyol.
Namun, pekerjaan ini membuat Zein harus bisa menjadi pribadi yang berbeda. Apalagi, kisah masa lalu Zein dulu juga. Sangat tidak mengenakan, ia jika ingat masa silam. Mungkin, Zein akan ikut merasakan kesedihan dan juga kekecewaan yang mendalam.
"Ah, kau itu memang payah! " Zein masih bisa bercanda. Karena kesal, Han tak menceritakan apa yang ingin ia dengar sekarang.
Zein pun langsung beranjak dari tempat duduk nya. Meninggalkan Han yang cuma memasang wajahnya yang datar, nyaris tanpa ekpresi tersebut.
"Kisah itu, sungguh membuat saya akan terus merasa bersalah, tuan" Batin Han dalam hatinya.
Pria itu hanya akan menyimpan cerita menyakitkan itu, cukup untuk dirinya sendiri. Karena baginya itu hanya sebuah masa lalu, tidak untuk di ingat. Karena akan menimbulkan rasa sakit dan penuh rasa bersalah.