
Waktu terus berjalan, hari demi hari, minggu berganti bulan, dan begitu lah seterusnya. Selena masih saja terperangkap di dalam sarang emas milik Zein. Dan ia pun belum ingin meninggal kan tempat utu. Walaupun hati kecilnya sudah ingin sekali pergi. Setidaknya, ia mau bertanya secara langsung. Kepada Mommy nya, kenapa ia di tinggalkan begitu saja.
Dan sudah satu bulan ini juga, Zein tak datang ataupun pulang ke mension. Pria itu sama sekali tak bilang apapun padanya. Karena, saat pergi Zein hanya berpenampilan seperti biasa saja. Ketika ia ingin berangkat kerja.
Malam semakin larut, Selena masih enggan menutup matanya. Gadis itu memilih untuk berdiri di depan jendela kamar. Sambil menatap langit yang sudah sangat gelap gulita. Nampaknya malam ini akan segera turun hujan.
Piyama tidur dengan bahan satin halus, yang ia balut dengan jubah bewarna senada. Terlihat melambai-lambai, saat di terpa angin dari arah luar sana. Deburan ombak yang ada di tepi pantai laut lepas, sudah sangat terdengar jelas.
"Sebaiknya, aku pulang saja besok pagi" Ujarnya dengan lirih.
Ia juga perlu melanjutkan hidup. Walaupun, kelak hatinya akan kecewa. Dengan semua dugaan yang sudah menusuk di dalam hati. Praduga dan prasangka buruk, saat dimana ia sudah tak di anggap ada oleh Mommy nya sendiri.
"Bagaimana, dengan pekerjaan ku?. Apa mungkin aku sudah di pecat? " Gumam nya sambil menghela nafas kasar.
Tentu saja ia gusar, tak akan mungkin juga. Ia akan selalu numpang hidup di kediaman Zein. Bahkan, beberapa maid juga sudah sangat menunjukkan sikap tak sukanya, akan kehadiran dia disini. Walaupun, sang pemilik mension sudah mengatakan. Jika, ia tak boleh pergi dan dibebaskan tinggal semaunya disana.
Namun, Selena bukanlah orang yang mau memanfaatkan kebaikan orang lain. Ia merasa bagaikan benalu, yang hanya numpang singgah, tapi malah di perlakukan bak tuan putri. Karena, semua kebutuhan hidupnya selalu di tercukupi dengan mudah disini. Dari mulai pakaian, make up, makanan dan yang lainnya juga.
"Ya, aku sebaiknya pulang saja! " Ucapnya lagi memantapkan hatinya.
Cukup lama Selena bergumam dengan dirinya sendiri, sampai ia mulai mendengar suara kendaraan memasuki halaman Mension. Selena pun langsung keluar dari dalam kamarnya. Sebab, ia sudah bisa menebaknya. Siapa yang datang tengah malam begini.
Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Semua orang pasti sudah terlelap di dalam kamarnya masing-masing. Walaupun mension itu masih banyak bodyguard yang berjaga.
"Biar saya saja yang buka!. Kalian lanjutkan istirahat nya! " Seru Selena, saat ia keluar kamar. Dan melihat dua orang maid berjalan dengan buru-buru.
"Tapi, Nona... "
"Sudah!, nanti biar saya yang jelaskan ke tuan! " Potong Selena sambil tersenyum.
Gadis itu cukup tahu diri sekali. Walaupun, ia selalu di perlakukan bak tuan putri. Namun, pasti beberapa di antara mereka ada yang tak ikhlas, melayani dirinya setiap hari. Belum lagi, Selena juga sempat mendengar. Ketika mereka mengobrol. Jika, beberapa di antara maid. Menganggap dirinya sebagai wanita penggoda majikannya. Sehingga, Zein memperlakukan nya dengan baik.
Selena pun langsung berjalan kearah pintu utama. Bergegas dengan langkah lebarnya. Karena, ia yakin Zein pasti sangat lelah sekali. Sehingga ia pulang selarut ini.
Ceklek!
Brukk! "
"Tuan, anda mabuk? " Selena langsung menyanggah tubuh Zein. Yang tiba-tiba saja hitung, ketika ia berhasil membuka pintu utama.
"Nona, tolong jaga tuan Zein! " Ucap Han yang sempat memegangi tubuh Zein sejak tadi.
"Ada apa dengannya? " Tanya Selena sedikit bingung. Karena, Zein malah tampak begitu frustasi.
Pria itu juga tersenyum tak jelas, dalam kondisi nya yang sedang mabuk berat begini. Ia pun, sampai menatap wajah Selena dengan tatapan tak biasa.
"Bawa saja, tuan ke kamar nya! " Titah Han yang sama sekali tak berniat untuk menjelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu saat ini.
"Kenapa kau begini, padaku? " Racau Zein, sambil menepuk-nepuk pipi Selena.
"Tuan, ayo kita ke kamar! " Ucap Selena, berusaha untuk membawa Zein menuju arah kamar utama.
Zein mengangguk kan kepalanya. Namun, ia juga mulai nakal. Tangannya merambat ke pinggang Selena, dan perlahan naik sampai ke bagian dada Selena.
"Tuan, ayo tolong jangan begini! " Selena menepis tangan kekar itu. Yang malah masuk di sela jubahnya.
"Hahaha,,, kau masih saja malu-malu! " Ucap Zein sambil tersenyum penuh arti.
Selena hanya diam, sambil sedikit kesulitan untuk membawa Zein masuk kedalam kamar utama. Langkah kakinya pun sangat susah, apalagi sampai di kamar itu.
"Ah, kau lagi. Kenapa kau masih ada di mension ku?. Apa kau akan memberikan bayaran?. Untuk biaya selama kau tinggal disini?. Hm? " Zein benar-benar mabuk berat. Sehingga, ia bicara ngelantur tak jelas.
"Memang nya tuan, mau bayaran apa dariku? " Selena malah dengan konyol ikut menimpali racauan Zein.
"Wanita itu sama saja, mereka hanya membutuhkan uang, dan kenikmatan" Zein mendorong tubuh Selena. Agar menjauh darinya. Dengan sempoyongan Zein pun menuju atau ranjang sana.
Namun, sebelumnya. Zein masih sempat untuk membuka resleting dan menurunkan celana panjangnya itu. Membuangnya asal, dan merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, dengan ukuran king size tersebut.
Bukannya langsung pergi, Selena pun malah menghampiri Zein. Saat melihat pria itu sudah terkapar di atas ranjang sana.
"Ambilkan aku handuk! " Ucap Zein, menunjuk arah kamar mandi sana.
Selena yang ingin duduk di sisi ranjang. Tanpa protes lagi, langsung menuju arah kamar mandi. Dan mengambil apa yang diminta oleh Zein. Tapi, ketika ia keluar dari dalam kamar mandi. Zein malah sudah mengunci pintu kamar itu. Dengan senyum penuh artinya.
"Kau tidak bisa keluar lagi, sekarang" Serunya dengan membuka kancing kemeja, dan bagian bawahnya pun sudah tersisa penutup sang pusaka.
"Aku akan siapkan air, kalau tuan ingin mandi! " Selena tak terlihat takut sedikitpun. Walau saat ini, Zein sudah setengah polos.
Bau alkoholnya pun menyengat sejak tadi. Namun, Selena tak bertanya tentang berapa banyak pria itu minum. Tapi, Zein masih mengenalinya. Dalam kondisi mabuk berat seperti sekarang ini.
Zein berjalan dengan oleng. Dan menuju arah ranjang kembali. Membuat Selena mengerutkan keningnya bingung. "Tuan, besok aku akan... "
"Ah, kenapa dia bangun begini" Ucapan Selena terjeda, saat Zein malah menggaruk bagian pusaka nya. Sang gatot bangun tanpa izin, membuatnya mengumpat kasar.
"Shiitt,,, Gatot memang tak tahu diri. Lihatlah!. Dia malah menegang! " Ujar Zein tertawa sendiri.
"Oh, astaga. kenapa harus sekarang? " Gumam Selena sambil sesekali memalingkan wajahnya.
"Mari, saya bantu buat berendam saja, tuan! " Seru Selena, berusaha untuk menenangkan dirinya.
Padahal, ia juga merasa sangat penasaran. Kenapa pusaka Zein bisa sepremium ini. Dan ia juga sungguh penasaran sekali, apa rasa dari benda itu sebenarnya.