
"Aaaa.....!? " Selena berteriak, saat ia masuk kedalam kamar Zein. ternyata pria itu sedang memakai ****** ********. Dan itupun belum menutup seluruh ruangan area pangkal pahanya itu.
Sehingga, benda yang bergelantungan tersebut. Ikut menatap Selena dengan gemas. Zein pun sontak memakai segitiga biru dengan cepat.
"Haiss,, Shiit!. Kenapa kau tidak ketuk pintu dulu, jika ingin masuk? " Sentak Zein dengan nada kesalnya.
"Tuan, kenapa dia besar sekali? " Lain ditanya lain yang di jawab. Selena malah enggan berpaling dari arah bawah sana.
"Ini belum seberapa, dia bisa hidup tiga kali lipat lagi" Timpal Zein malah ikutan konyol juga.
"Benarkah? " Selena malah kembali terpesona. Otaknya mulai melalangbuana entah kemana. Di saat baru pertama kalinya, ia bisa melihat langsung sebuah benda panjang nan mengerikan. Tapi, berhasil membuatnya penasaran di saat bersamaan.
"Sana keluar!. Sebelum aku khilaf! " Usir Zein cepat.
Sudah lama sekali ia tak memakan wanita. Lebih tepatnya saat Selena masuk ke mension ini, dan ia pun tak memiliki selera untuk sekedar mencari hiburan. Otaknya terisi dengan khayalan saat ingin menikmati tubuh Selena. Namun, ketika Selena menantangnya. Zein malah kelabakan sendiri.
"Baiklah, aku akan keluar tuan. Tapi, jangan lama-lama!. Karena aku sudah sangat lapar" Selena nyengir kuda, dan langsung menutup pintu kamar Zein kembali.
"Dasar gadis gila. Aku harus segera mengusirnya! Sebelum aku ketularan gila juga darinya" Lirih Zein sambil menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup.
"Sial, kenapa kau harus hidup sekarang? " Tanya Zein pada bagian ular yang tiba-tiba berdenyut tanpa diminta.
"Haisss,,, dasar pusaka sialan. Aku sedang tak punya waktu untuk buang oli sekarang" Umpat Zein kembali sambil menggerutu kesal. Akan ulah pusakanya sendiri.
"Tuan, apa anda butuh bantuan ku? " Teriak Selena malah menggoda Zein dari luar sana.
"Shiit... Dia belum pergi juga. Apa dia sudah benar-benar tak waras lagi? " Zein sampai memijat kepalanya pening.
Bagaimana tidak, jika tiba-tiba saja Selena berubah sikap. Dari yang terlihat kalem, sekarang malah tiba-tiba nampak agresif begini. Dan jika terus menerus dibiarkan, Zein yakin pada akhirnya. Dia sendiri yang tak akan sanggup, untuk menahan diri lebih lama lagi.
Zein akhirnya melangkah kearah pintu kamar sana. Sambil membalut kan kembali handuknya. Lalu, ia mengunci rapat pintu kamar tersebut. Agar, Selena tak seenaknya masuk tanpa izin kekamar nya lagi, seperti tadi.
"Jangan sok menantang, Jika akhirnya kau malah menjerit" Tegas Zein sinis.
Tak ada sahutan lagi dari arah luar sana. Yang mungkin saja, Selena malah sudah kabur. Setelah ia mengucapkan kata-kata konyolnya barusan.
"Dasar gadis binal tanggung" Ketus Zein, yang kembali ingin mengganti pakaian nya.
*******
"Mom, apa belum ada kabar juga dari mereka? "
"Ini sudah berapa lama, Mom?. Come on aku tidak mau menggantikan posisi Selena"
"Ibel, Kau bisa diam tidak? " Mommy pusing, tua bangka itu terus saja menanyakan hal yang sama" Jawab wanita paruh baya, yang tak terlihat sedang mengkhawatirkan anaknya.
Sebagai seorang ibu, bisanya akan sangat khawatir dan bahkan akan sangat kehilangan anaknya. Jika, sudah beberapa pekan tak ada hasil pencarian sama sekali. Namun, ia malah masih bisa makan dengan tenang. Tidur dengan nyenyak, dan masih bisa menyaksikan siaran televisi dengan nyaman.
Seakan-akan tak pernah terjadi hal buruk sekalipun. Padahal, ia sudah tahu. Jika ia sedang kehilangan anak, salah satu putrinya yang sampai sempai sekarang, belum juga ada kabar berita nya sama sekali.
"Apa Selena sudah meninggal? " Tebak sang kakak, yang terus berpikir sendiri.
"Kenapa kau tak coba, tanyakan pada temen-temen nya dulu? " Siapa tau, anak itu sengaja untuk menghindari kita" Tebak sang Mommy dengan tatapan seriusnya.
"Tidak mungkin, Mom. Ibel tahu betul bagaimana Selena"
"Pokoknya, kita harus temukan dia Mom!. Jangan sampai tua bangka itu tahu, kalau kita sama sekali tak tahu. Dimana Selena berada" Desak Ibel pada Mommy nya.
"Menyusahkan saja, sama seperti ibunya" Gumam wanita paruh baya itu kesal.
"Apa Mommy bilang?. Ibunya? " Ulang Ibel sedikit tak percaya akan ucapan sang Mommy barusan.
"Kamu hanya salah dengar saja!. Mommy tidak bilang begitu" Elak wanita paruh baya tersebut, dan langsung bangkit dari tempat duduknya.
"Apa benar, Mom. Jika Selena bukan adik kandung Ibel? "
Deg!
"Jangan bicara sembarangan, kamu!. " Sentak Mommy nya dengan cepat. Ia juga mendelik tajam kepada putri nya.
"Kalau begitu, Kenapa Mommy malah meninggalkan Selena begitu saja? "
"IBEL...?! " Bentaknya sekali lagi.
Tak mau terus membahas masalah, yang tak akan pernah ada habisnya. Wanita paruh baya tersebut akhirnya benar-benar pergi dari hadapan putri nya sendiri. Membuat Ibel semakin yakin akan tebakannya.
"Baiklah, aku mesti harus cari tahu sendiri tentang ini" Ujarnya, yang menatap layar ponselnya.
*******
"Ini berkas yang anda minta, tuan! " Han pun memberikan map kepada Zein. Saat keduanya sudah berada di dalam mobil yang sama.
Dan Han merangkap menjadi sopir, Karena keduanya akan pergi ke kantor hari ini. Bisnis nyata Zein, yang ia bangun dan ia buka dengan real hasil kerja kerasnya selama ini. Nekad, untuk pergi jauh dari keluarga dan juga orang-orang terkasihnya. Sejak dimana, hatinya membaik akan keterpurukan sebuah pengkhianatan.
"Tebakan anda benar, tuan. Jika nona Selena adalah anak di luar nikah" Ucap Han memberitahu inti dari semua data informasi tersebut.
"Bagaimana dengan keluarga itu saat ini? " Zein bertanya, sambil mulai membuka isi map tersebut.
"Mereka masih berupaya, untuk mencari nona Selena, tuan"
"Ck,,, sampai ke ujung dunia pun. Mereka tak akan pernha menemukannya" Sinis Zein dengan seringai licik.
"Apa anda, masih ingin membuang nona Selena, tuan? " Tanya Han memastikan saja. Apa yang ada di dalam pikiran Zein saat ini. Bahkan bisa jadi sejak semalam.
"Untuk sementara waktu, aku akan singkirkan masalah Selena. Karena, masih ada hal yang jauh lebih penting dari itu. " Jawab Zein, sambil terus membuka semua isi berkas lengkap, tentang siapa Selena sebenarnya.
Sehingga gadis itu, malah di perlakukan tak adil. Oleh keluarganya sendiri. Ibu dan juga kakak perempuan nya tersebut. Yang , mana ia sempat di anggap sudah meninggal dunia. Terbakar oleh kobaran api, Lantaran di sebab kan oleh mobil yang mereka tumpangi bersama-sama. Untuk pergi ke suatu tempat, dan pada saat itu juga yang mengendarai mobil sedang sedikit mabuk.
"Sebaiknya, anda pikirkan saja dulu. Tuan! Siapa tahu, nona Selena masih berguna untuk anda! "
"Hm! " Timpal Zein datar.