Last Night

Last Night
Cuma Angan



Dalam sebuah ruangan kamar yang cukup luas. Tepatnya di atas ranjang sana. Gadis cantik dengan rambut panjang yang begitu indahnya. Masih saja tak sadarkan diri, dengan posisi yang terikat. Di hadapan nya, sedang duduk seorang pria paruh baya. Yang sedang memandangi tubuh indah sang gadis.


Cerutunya mengepulkan asap ke udara. Bola mata keranjang menelisik dress sang gadis, yang sedikit tersingkap. Karena, kedua tangan dan juga kaki terikat kuat di sisi ranjang.


"Kau memang begitu sempurna. Aku tak akan menyesal, merelakan sedikit hartaku. Hanya untuk keluargamu yang bodoh itu" Ucap sang pria paruh baya, dengan kekehan kecilnya.


Ia meletakkan cerutu yang masih menyala, di atas asbak dari kuningan tembaga tertempah di atas meja sana. Lalu, ia pun ikut beranjak, untuk mendekati ranjang emasnya. Bahkan, baginya sosok bidadari sudah menunggu dia sejak beberapa menit yang lalu.


"Hahaha.... Setelah ini, kau tak akan kabur lagi, gadis manis" Ucapnya dengan tegukan air liur yang hampir menetes, saat ia melihat pemandangan yang begitu indah tepat di depan matanya.


Syahwatnya jangan di tanya. Sudah pasti telah menggebu sejak tadi. Bahkan, milikknya yang hanya seukuran jempol kaki, telah bergerak tak beraturan lagi. Ia naik ke atas ranjang sana. Ingin coba menyentuh sang gadis. Dengan menggunakan tangannya sendiri, dan mencium aroma tubuh sang gadis dengan nyata.


”Wow... Kau memang luar biasa, Manis. " Pujinya sambil mendekat kam hidungnya, tepat di area leher sang gadis.


Ya, itu adalah Selena. Yang masih terpengaruh obat bius. Bahkan, ia sampai saat ini belum juga sadarkan diri. Padahal, ia sedang dalam bahaya. Berada di dalam ruangan kamar. Seorang pria yang doyan kawin, dan pria tua berjiwa tua-tua keladi. Tak puas hanya dengan satu wanita saja. Padahal, miliknya tak ada yang bisa di bangggakan. Saat ia ada di atas ranjang sana.


"Bos,,, Di luar ada nyonya "


"Ck... Suruh dia pergi! Jangan ganggu konsentrasiku saat ini! " Sentak pria tua bangka tersebut. Yang mana, sudah wajar di panggil kakek.


Mungkin, dia adalah keturunan sugiono beda benua. Yang mana, hasratnya selalu naik. Kalau lihat barang bagus sedikit saja. Padahal kekuatannya di atas ranjang sangat memalukan sekali.


"Tapi, bos.... "


"Hei, tua bangka sialan. Kau mau kawin lagi? " Seorang wanita datang dengan berkacak pinggang. Menatap nanar pria tua, yang akan menjamah tubuh gadis lain.


"Dasar wanita sialan. Kenapa kau datang kemari? " Pria tua itu pun ikut menatap tajam istri tuanya.


Wanita paruh baya itu, hanya bisa mengela nafas kasar. Ia sudah sering di perlakukan tidak baik. Padahal, ia adalah istri tertua. Namun, ia tidak memiliki anak karena di nyatakan mandul.


"Apa hakmu melarangku? " Bentak pria tua bangka itu.


"Aku ini istri mu. Dan aku lebih berhak dari semua istri mu yang lain. Kau lupa?, jika sebagian dari semua harta mu akan jadi milik ku Jika, kau berani membuat kesalahan " Ancam wanita paruh baya itu dengan sinis.


Pria tua itupun langsung turun dari ranjang. Dan menatap tajam pada istri pertamanya. Namun, ternyata. Disana tak hanya ada satu istri tertuanya saja yang datang. Tapi, Empat istrinya yang lain juga ikut datang.


"Ck... Sialan!? " Umpat pria tua tak tahu diri itu. Saat sadar, semua istrinya sudah datang ke Villa khususnya.


"Kami mau cerai! " Seru mereka dengan kompak.


Tawa pria tua itu menggelegar. Saat para istrinya minta cerai darinya secara tiba-tiba. Padahal, selama ini mereka tak pernah berani untuk menggugat. Karena, tanpa pria tua itu. Mereka tak akan bisa apa-apa. Kehidupan keluarganya dia yang jamin. Sebab, mereka berempat adalah anak-anak dari seorang petani. Namun, keluarga mereka memiliki hutang yang sudah jelas, tak akan bisa untuk mereka bayar. Walaupun, harus kerja sampai tua sekalipun.


"Apa, cerai? " Ulang pria tua itu meremehkan. "Silakan kalian pergi!, Dan jangan harap bisa dapat sepeserpun dariku" Ancamnya dengan seringai licik.


Sementara istrinya yang lain. Mereka memang sengaja minum obat kontrasepsi setiap kali sudah berhubungan dengan pria tua tersebut. Karena, tak ingin mengandung benih hina dari tua bangka tak ingat usia itu.


Agni pun hanya terdiam. Ia bingung, harus bagaimana. Sebab, ia memiliki anak yang masih harus di biayai hidupnya. Usia putranya juga masih sangat kecil. Baru jalan dua tahun. Sementara, para istri yang lain. Mereka mungkin masih bisa hidup dengan bebas. Tidak seperti dirinya yang tak punya siapapun lagi.


"Bawa anak itu! " Titah sang tua bangka. Pada salah satu anggota kepercayaan nya.


"Jangan!. Tolong jangan, tuan!. Putraku tidak bersalah!. Aku tidak akan menuntut cerai! " Seru Agni memohon pada pria, yang telah berstatus menjadi suaminya itu.


"Agni...! " Ketiga istri lainnya, langsung menatap Agni dengan tajam. Karena mereka merasa di khianati akan kesepakatan semula.


"Maafkan aku, nyonya!. Aku tak punya pilihan lain! " Lirih Agni yang hanya bisa menyingkirkan diri, dari para istri pria tua tersebut.


Baginya, anak adalah segalanya. Dan dari arah ranjang sana. Selena, sudah mendengar semua perdebatan mereka. Hanya saja, Selena masih enggan untuk membuka mata dengan jelas. Gadis itu, berusaha untuk tetap setenang mungkin. Sebab, ia sadar. Jika dirinya sedang tak aman juga.


Tangisan seorang anak laki-laki. Membuat suasana semakin ricuh saja. Dan kesempatan itu dimanfaatkan oleh Selena. Untuk melepaskan ikatan tangan dan juga kakinya. Berharap ia bisa lepas, dan kabur dari sana. Sebelum orang yang mengikatnya sadar.


"Ah, sial..., Ikatannya sangat kuat sekali" Batin Selena sambil terus berusaha.


Ia tak akan mau terjebak di antara prahara rumah tangga orang lain. Apalagi, sejak tadi mereka berdebat tentang harta dan juga pernikahan. Selena cukup cerdas, hanya untuk mencerna dengan baik setiap kalimat, yang mereka lontarkan tanpa jeda lagi.


"Bos... gawat, bos" Seru seorang pria, yang berlarian dari arah luar sana.


"Ada apa?. Kau jangan membuat susana semakin runyam! " Bentak pria tua berperut buncit tersebut. Sambil duduk di kursi goyangnya.


"Di luar, ada... "


"Wah... Inikah sarang kadal busuk itu" Suara seorang pria. Yang melontarkan kata-kata hinaan untuk memuji Villa. Seorang bos rentenir yang terkenal di kota ini.


"Siapa kau?. Kenapa dia bisa masuk?.Dimana mereka semua? " Pria tua itu langsung bangkit. Dan menatap nanar dengan penuh emosi pada sosok pria, dengan rambut di kucir itu.


"Bos, pelankan suara anda!. Dia adalah.. "


"Haisss,,, Diam kau!? " Potong pria tua itu dengan membentak anggotanya.


Serahkan istriku! Atau akan ku hanguskan tempat ini, sekaligus dengan pemilik nya! "


"Hah, Istri?. " Pria tua itu, masih saja meremehkan. "Yang mana istri mu? " Tanyanya dengan ketus.


"Yang baru saja, kau culik. Dan kau bawa ke tempat kotor ini! "


Gleg!?