
"Hei, tunggu! " Zein mencekal tangan Selena. Ketika, wanita itu melangkah pergi meninggalkan Zein begitu saja. Saat keduanya sudah tiba di mension.
Selena hanya menoleh, dan menatap pergelangan tangannya Yang saat ini masih di pegang erat oleh Zein. Tatapan wanita itu tampak dingin. Padahal, semalam ia masih terlihat hangat.
Perlahan, Zein melepaskan cekalan tangannya. Dan ia seakan merasa kasihan dengan nasib Selena. "Okay.sorry!. Aku tidak bermaksud un...! "
"Biarkan aku sendiri untuk saat ini, tuan! " Potong Selena yang ternyata, masih tak habis pikir akan nasib kehidupan dia sendiri.
Hidup dan dibesarkan oleh seorang wanita, yang ia pikir adalah ibunya sendiri. Bahkan, ia selalu mengutamakan kebahagiaan sang kakak selama ini. Tak, ada rasa iri, ataupun menilai tak adil. Atas semua perlakuan sang Mommy. Namun, kekecewaan hadir saat ia tahu kebenaran. Yang sangat membuat hatinya sedih.
"Baiklah!. Istirahat saja! , jika kau butuh sesuatu aku ada di ruangan kerja! " Ucap Zein, memberikan sedikit waktu. Agar Selena berpikir dan menyendiri untuk meluapkan kesedihannya.
Walaupun, kekhawatiran sudah merambat di otaknya sejak tadi. Ingin sekali Zein bertanya lebih detail, dengan apa yang telah terjadi padanya hari ini. Kalau saja, ia terlambat datang. Mungkin, Selena pun sudah di sentuh oleh pria tua itu. Dan beruntung saja, Han sang asisten bisa melacak keberadaan Selena. Sebab, Han selain menyuruh anggotanya, untuk selalu mencari keberadaan Selena. Ia juga memasang alat pelacak di bros yang di pakai Selena.
"Han,,, habisi saja pria itu!. dan bereskan masalah ini secepatnya! " Titah Zein, dari balik earphone nya. Saat Selena sudah masuk kedalam kamar tamu.
Kamar, yang biasa Selena tempati selama ini. Namun, Zein sebenarnya tak akan membiarkan siapapun lewat begitu saja. Saat orang tersebut sudah berani mengusik miliknya. Zein yang sekarang, bukanlah Zein yang dulu. Dan ia tak akan mengenal kata iba lagi.
"Baik, tuan. Akan saya urus sisanya! " Jawaban Han, sangat membuat Zein yakin. Jika, setelah ini pria yang telah berani membuat onar. Dan bahkan melibatkan dirinya itu. Tak akan mampu lagi berkutik, ataupun menampilkan wajahnya di depan umum lagi.
"Tetap awasi, Selena! Jangan sampai ia keluar mension tanpa izin dariku! " Ucap Zein, kepada kepala pelayan.
"Baik, tuan! "
Setelah memberikan perintah kepada kepala pelayan. Zein pun langsung menuju arah ruangan kerjanya. Ia tak akan tinggal diam. Setelah kejadian hari ini, ada semburat kesedihan yang ia rasakan. Ketika, melihat wajah Selena yang bersedih.
Kepala pelayan, dan beberapa maid. Hanya bisa menatap bingung akan sikap majikan mereka. Yang mana, Zein sangatlah peduli akan Selena. Padahal, mereka pikir. Selena akan sama nasibnya dengan para wanita, yang selama ini Zein bawa. Hanya untuk di nikmati dan setelah bosan. Maka, ia akan membuangnya begitu saja. Digantikan dengan sejumlah uang dan kemewahan.
*****
Selena menangis dengan tangisan tanpa suaranya. Matanya sembab, dan pipinya pun memerah. Kedua tangannya terkepal erat. Tubuhnya sudah tak mengenakan pakaian sehelai pun lagi. Karena, saat ini ia ada di dalam kamar mandi. Melucuti semua kain yang ia pakai sebelumnya.
"Aku harus bagaimana, sekarang? " Lirih Selena sambil menyeka air matanya.
Ia pun mulai menghidupkan shower. Agar tubuhnya yang telah polos itu tersiram air, setidaknya. Tangisan ia tak akan terlihat oleh siapapun.
"Hiks... hiks... Apa aku masih bisa melanjutkan hidup?, " Selena terus berasumsi sendiri.Sambil menundukkan kepalanya, dengan tubuh yang sudah basah terkena siraman air dari shower sana.
Ia begitu merasakan kepahitan hidup yang luar biasa. Keluarga pun tak punya. Hanya hidup sebatang kara, bahkan kesucian pun sudah ia berikan pada pria, yang tanpa adanya hubungan apapun dengannya.
Ia terduduk sambil terus menitikkan air matanya. Dibawah guyuran air shower, yang telah membasahi seluruh tubuhnya itu. Bahkan, berharap tak ada satu orang pun yang melihatnya dalam keadaan terpuruk seperti ini. Sungguh menyedihkan sekali, sudah tahu ia orang asing di dalam keluarganya sendiri. Bahkan, ia juga hampir di jual oleh mommy yang ia pikir adalah orang tua kandungnya juga.
Beberapa menit berada di dalam kamar mandi, Selena keluar dengan bibir yang telah membiru kedinginan. Ia masih mengenakan handuk, tanpa mengeringkan rambut basahnya itu lagi. Selena langsung menuju arah ranjang, dan merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, tanpa ingin memikirkan hal yang akan semakin membuat dirinya bersedih saja.
Kelelahan dalam tangisan penuh kepiluan, tanpa menunggu lama lagi. Selena akhirnya terlelap seorang diri, dengan tubuh yang masih berbalut handuknya saja.
Sementara di luar sana, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sejak tadi sibuk di dalam ruangan kerja. Dengan segala kesibukannya, Zein pun keluar.
"Tuan, makan malam sudah siap. Mau makan sekarang atau... "
"Nona Selena, sejak tadi belum keluar dari kamarnya. Tuan" Jawab sang kepala pelayan jujur. Karena, ia juga tak diizinkan untuk menganggu Selena oleh Zein. Sejak wanita itu masuk kedalam kamarnya beberapa jam yang lalu.
"Sejak tadi? " Ulang Zein dengan mata yang terbelalak.
"Iya, tuan! "
Tanpa menunggu lama lagi, Zein pun langsung beranjak pergi. Dan tujuan utamanya adalah kamar Selena. Walaupun, ia terlihat sedikit acuh. Percayalah, saat ini Zein begitu peduli akan wanita itu. Lebih tepatnya, saat ia telah merasakan apa yang telah Selena berikan padanya semalam.
Hal yang tak pernah Zein rasakan sebelumnya. Sampai sejauh ini, Bagaimana rasa yang sebenarnya terjadi. Ia memang mabuk berat. Namun, Zein masih bisa merasakan kehangatan tubuh Selena. Hingga, keduanya sampai bercucuran keringat.
Tok!
Tok!
Tok!
"Selena... boleh aku masuk? " Tanya Zein, sambil mengetuk pintu kamar Selena.
Namun, beberapa kali ia mengetuk. Tak ada jawaban sama sekali dari dalam sana. Yang mana, semakin membuat Zein menjadi khawatir. Dengan apa yang terjadi pada wanita itu. Wanita, yang nasibnya sangat malang. Ia hanya beda cerita saja dengan dirinya pada masa lalu dulu.
Ceklek!
Beruntungnya, ternyata pintu kamar Selena tak di kunci. Entah lupa atau tidak. Tetapi, saat ini Zein merasa sedikit lega. Kamarnya begitu gelap, karena tak ada satu pun lampu yang menyala. Membuta Zein mulai khawatir, ia berjalan menuju arah saklar. Dan bertapa terkejutnya Zein. Ketika ia melihat Selena, sedang tidur dengan posisi tengkurap. Dan tanpa memakai selimut sama sekali. Bahkan, handuk yang ia kenakan, sudah melorot kebawah.
"Astaga, kenapa dia begitu ceroboh? " Zein pun hanya bisa meneguk air liur dengan sangat susah. Sambil berusaha untuk menarik selimut, hanya untuk menutupi tubuh Selena.
Tapi, hal yang tak diinginkan malah kembali terjadi. Di saat bersamaan, Selena membalikkan badannya, ia tidur dengan mengubah posisi menyamping. Sehingga, dua bukit kembar, yang semalam sudah di pegang dan di remas oleh Zein. Terlihat begitu nyata, dan juga begitu berisi nan padat. Bahkan, tanda merah bekas kissmark akan ulah dirinya, masih terlihat nyata disana.
Gleg!
"Sadarkah, Zein!. Ini bukan waktu yang tepat! " Zein berusaha menguatkan imannya sendiri. Agar, ia tak melakukan hal yang malah akan membuat Selena merasa seperti wanita yang menyedihkan.
Zein cepat-cepat menutup tubuh Selena. Menggunakan selimut tebal itu. Agar ia tak Kerasukan setan mesum, dan tak melakukan hal gila pada wanita malang tersebut. Namun, saat Zein ingin beranjak pergi. Demi menghindari hal yang tak diinginkan olehnya. Tangannya malah di tarik oleh Selena.
Zein menoleh, dan menatap Selena dengan tatapan penuh kebingungan. Dan juga penuh minat. "Mari kita lakukan lagi! " Seru Selena dengan suara seraknya.
"Hah? " Zein membulat sempurna, mendengar ucapan Selena, yang seolah sedang melantur itu.
Entah apa yang membuat Selena senekad itu. Ia pun nampak tak sabaran, saat melihat Zein yang hanya membeku di samping ranjang. Dan hal itu tentu saja, membuatnya begitu agresif. Selena pun menarik tangan Zein, hingga pria itu jatuh di atas ranjang.
Brukkk!
"Aku mau , kita melakukan nya lagi! " Seru Selena, dengan tatapan yang berapi-api.
"Tapi...! "