Last Night

Last Night
Perihal Gaun



"Tuan, lebih baik anda duduk saja! , sambil menunggu nona Selena selesai! "


Raihan pun memberikan saran, agar Zein duduk. Sebab, ia juga pusing melihat atasannya, yang sejak tadi mondar-mandir tak karuan. Bahkan, ia juga beberapa kali melirik arloji di pergelangan tangannya.


"Apa saja yang mereka lakukan di dalam sana?. Kenapa lama sekali? " Zein mulai jengah sendiri.


Ya, ia sudah hampir satu jam menunggu. Namun, yang di tunggu malah tak kunjung keluar dari kamarnya. Padahal, ia hanya memberikan waktu sepuluh menit tadi.


"Tuan, lebih baik anda pergi sendiri saja!."


"Apa kau bilang?. Pergi sendiri? " Ulang Zein menatap tajam kearah asistennya itu.


Sosok pria tinggi tegap dan juga tampan. Dan bersikap dingin bahkan jarang sekali tersenyum, dalam keadaan apapun. Nampaknya senyum pria ingin sangatlah mahal. Namun, ia begitu welcome kepada Selena. Sehingga, Selena lebih ramah juga padanya dibandingkan kepada Zein.


"Kau lebih baik suruh mereka cepat selesai kan segera! Atau aku yang akan menyeret mereka semua keluar? " Zein yang kesabaran nya sudah setipis tisu, mulai pusing sendiri. Sebab, ia yang sudah bosan menunggu akhirnya menyerah juga.


Belum juga sempat Raihan menjawab, ataupun mengiyakan nya. Dari arah ruangan lain, langkah kaki jenjang seorang gadis, yang kini telah berpenampilan sangat mewah. Bahkan, damage nya adalah wanita berkelas.


Suara hells tinggi yang berjalan di atas marmer mahal itu, kini terdengar sebagai nada yang khas di telinga Zein dan Raihan.


"Zein tak bisa berkedip akan pemandangan indah ini


"Maaf tuan!. Tadi ada sedikit masalah dengan gaunnya, jadi kami... "


Ucapan mua itu langsung terhenti, dimana mereka melihat Zein telah mengangkat tangannya. Yang menandakan, jika mereka tak di haruskan menjelaskan apapun. Sementara itu, Selena yang tak biasa memakai gaun dengan bagian dada sedikit terbuka. Bahkan, belahan gaunnya sudah sampai di atas lutut. Sehingga, paha mulusnya terlihat dengan jelas saat ini.


"Siapa yang memilih gaun ini? " Tanya Zein setelah ia sadar, jika penampilan Selena sekarang ini sungguh sempurna. Tapi, ada perasaan tidak rela jika tubuh gadis itu bisa di lihat oleh banyak orang. Apalagi, pesta tersebut merupakan pesta para kalangan kolega bisnisnya.


"Tuan, gaun ini adalah pilihan anda sendiri tadi" Jawab sang mua dengan suara lirih.


Mereka sudah takut duluan. Bahkan, untuk menatap wajah Zein saja mereka tak mau. Bukan karena pria itu jelek atau apapun itu. Tapi, mata Zein sangatlah tajam. Bagi mereka menunduk adalah cara terbaik untuk saat ini. Daripada harus bersitatap dengan pria seperti Zein.


Padahal, jika mereka tahu. Bagaimana seorang Zein yang dulu. Mungkin, sekarang mereka akan lebih nyaman. Dan tak akan ada perasaan takut sama sekali. Sebab, Zein yang dulu sangat jauh berbeda dengan Zein yang sekarang.


"Han... ! "


"Iya tuan? "


"Suruh dia ganti gaunnya!. Mereka pikir ini acara pesta jual tubuh, apa? " Perintah Zein dengan nada kesal. Entah sadar atau tidak, ia sedang memperlihatkan sisi lain dari dalam dirinya.


Seolah Zein tak rela, jika Selena menjadi pusat perhatian. Karena gadis itu berpenampilan sangat mempesona. Raihan yang sejak tadi memperhatikan penampilan Selena saja. Sampai tak bisa berkata-kata lagi. Hanya saja, pria itu lebih bisa menyembunyikan apa yang ia rasakan. Cukup dia sendiri yang tahu, apa yang sedang ada di dalam otaknya itu.


"Tapi, tuan. Bukankah biasanya anda lebih senang dengan wanita yang berpakaian terbuka seperti... "


"Kau mulai coba membantahku, Han? " Zein beralih menatap asistennya dengan tatapan membunuh.


"Bai... "


"Walaupun, waktu kita tak akan cukup lagi, tuan" Han malah memotong ucapan Zein, sebelum Zein selesai bicara.


"Shittt...!" Umpat Zein semakin kesal saja. Lalu, ia menatap kembali kearah Selena. Dimana gadis itu tampak risih dengan penampilan saat ini.


Ia terlihat tak nyaman dengan gaun yang ia kenakan. Tapi, ia juga tak ingin protes. Sebab, Zein sudah berhasil membuatnya bungkam dengan semua ancaman yang sama.


"Bagaimana, kalau saya tidak usah ikut saja, Tuan? " Akhirnya, Selena memberanikan diri untuk membuka mulutnya.


"Kau berani membantah sekali lagi, maka aku akan membuangmu ke dasar jurang hutan sana! " Tegas Zein dengan tatapan semakin tajam.


Rasa kesalnya belum reda. Tapi, ia malah langsung mendengar penolakan dari Selena kembali. Jelas saja, ucapan Zein sontak membuat Selena tak berani membuka mulut lagi. Apalagi, Han memberikan isyarat padanya. Jika akan lebih baik, jika ia diam saja. Daripada menambah masalah saat ini.


Zein langsung melangkah pergi, setelah ia mengucapkan kalimat ancaman kembali untuk Selena. Han juga menyuruh Selena untuk mengikuti langkah kaki Zein. Sehingga ketiganya kini berjalan beriringan, untuk keluar mension, membuat hati para maid dan mua tadi jadi lega.


*****


"Mom, apa yang harus kita lakukan sekarang? ".


" Selena apa benar-benar sudah tiada?. Bagaimana dengan perusahaan dan juga... "


"Diam, ibel!. Jangan membuat pusing kepala Mommy! " Sentak wanita paruh baya, yang benar-benar sudah pening akan semua masalahnya saat ini.


Sementara itu, anak gadisnya hanya mendengus kesal. Ia tak akan sudi, untuk menggantikan posisi Selena. Menikah dengan pria yang sama sekali tak ia cintai. Hanya untuk menyelamatkan perusahaan dan juga asset mereka saat ini.


Namun, di sisi lain. Ibel juga tak ingin jatuh miskin. Hidup mereka terbiasa berkecukupan dan walaupun mereka bukan Sultan. Tapi, setidaknya mereka masih bisa hidup berfoya-foya. Dan mampu membeli barang-barang branded yang mereka mau.


"Kita harus temukan Selena secepatnya!. Kalau tidak, kita juga harus siap kehilangan semuanya! " Ujar wanita paruh baya itu bicara serius pada putri nya.


"Semua ini gara-gara Mommy, siapa suruh ninggalin Selena begitu saja?. Sekarang, Ibel gak mau tahu. Mommy harus temukan Selena, jika benar kalau Selena masih hidup! " Ibel pun merasa kesal akan Mommy nya. Yang sama sekali tak peduli akan adiknya itu.


Bahkan, Mommy nya sampai saat ini masih terus yakin. Jika, Selena masih hidup. Namun, ia malah berpangku tangan. Tanpa melakukan hal apapun. Seolah, ia yakin jika suatu hari nanti Selena pasti akan kembali kerumah.


"Mom, kenapa Mommy bisa lupa dengan Selena? " Tanya Ibel jadi penasaran sendiri,dengan apa yang ada di dalam pikiran Mommy nya pada saat itu.


"Kamu juga sama, dengan Mommy, Ibel!. Kamu juga melupakan adik kamu itu! "


Wanita paruh baya itu ikut memojokan putri nya. Yang malah tak menegur dia untuk pergi begitu saja. Padahal, kondisinya masih tetap sadarkan diri.


"Ibel terlalu panik, Mom. Makanya, Ibel lupa kalau Selena bersama kita juga" Jawab Ibel dengan nada lirihnya. Ia merasa bersalah akan apa yang telah ia lakukan pada adik bungsu nya itu.


"Mommy menyesal honey!. Sungguh!" Wanita paruh baya itu bicara dengan di iringi isak tangisnya.