Last Night

Last Night
Ancaman



Gleg!?


Pria tua bangka, yang tadi sempat ingin menikmati tubuh Selena. Lantaran ia pikir akan semudah itu untuk menyentuhnya. Walaupun, sebenarnya Selena sejak awal sudah di tawarkan oleh mommynya sendiri. Agar mereka tetap bisa mempertahankan hotel milik keluarga mereka sendiri. Yang tak lain dan tak bukan adalah hotel peninggalan orang tua Selena.


"Istri? " Ulang pria tua bernama Robert itu dengan tatapan setengah tak percaya.


Namun, sosok pria yang berpenampilan rapi. Rambut gondrong yang ia kucir dengan tatanan gaya khasnya. Tapi, mampu membuat orang terpesona. Lantaran wajahnya sungguh tampan rupawan. Jika, seandainya sampai saat ini ia masih menjadi seorang aktor. Mungkin, ia akan selalu menjadi idaman para kaum hawa.


"Kau sudah berani menyentuh milikku" Sentak Zein dengan tatapan tajam nan dingin.


"Keluarkan, mereka dari sini! " Bentak tuan Robert tanpa tahu, siapa yang saat ini mereka hadapi.


Bahkan, anak buahnya pun sudah tak mampu untuk melakukan hal apapun lagi. Sebab, beberapa orang dari anggotanya. Sudah tahu betul, siapa yang sedang mereka hadapi sekarang ini.


"Kembalikan istriku dengan baik-baik!. Atau... " Zein mulai memainkan belatinya. Hingga, para istri tuan Robert pun sudah kocar-kacir sendiri-sendiri.


"Han... " zein memberikan kode, pada sang asisten nya. Dan Han yang sudah paham pun. Segera beranjak, dari sisi Zein. Menghampiri Selena yang masih sibuk, untuk melepaskan diri dari ikatan di atas ranjang sana.


Tiga anggota Robert pun mulai menghalangi jalan Han, Akan tetapi, dengan hanya satu gerakan tangan saja. Han mampu membuat mereka satu persatu tumbang. Melihat itu, tuan Robert hanya bisa melotot tak percaya.


"Kalian, sudah benar-benar keterlaluan! " Geram tuan Robert dengan menggertakkan giginya.


Ia juga memerintahkan anak buahnya, Untuk menyerang Zein dan juga Han. Tapi, ia semakin terperangah. Ketika para anak buahnya yang di luar. Sudah tampak babak belur, dan bahkan ada yang sudah cidera. Sehingga, tua bangka yang berbadan gemuk itu. Hanya bisa bergeming dengan lutut yang mulai lemas.


"Jangan...! " Selena berteriak saat Zein, ingin menghujam perut tuan Robert dengan belati di tangannya.


"Tolong, jangan lakukan itu! " Mohon Selena, yang tak ingin ada pertumpahan darah di depan matanya.


Selena memang sangat berhati lembut. Tak heran, jika ia banyak di sukai oleh banyak orang. Dan wanita itu juga tak pernah tegaan akan siapapun. Sesakit apa perasaannya, ia masih bisa menyapa dan bersikap baik.


"Aaawww....! " Selena hanya bisa menoleh. Saat kedua manusia yang ia pikir selama ini adalah keluarganya sendiri. Namun, saat ini pikiran itu telah sirna.


Ia tahu, kenapa mommy nya bersikap tak adil pada anak-anaknya. Dan hanya selalu melihat Ibel dibandingkan dirinya sejak dulu. Bahkan, ketika kecelakaan itu terjadi. Sang Mommy pun hanya peduli dengan kakaknya saja. Sehingga, ia di tinggalkan pergi tanpa mengkhawatirkan keadaannya. Yang pada saat itu lukanya jauh lebih parah, dibandingkan dengan sang kakak.


"Selena, sayang. Kau kah itu? " Nyonya Berta ingin menghampiri Selena. Yang mana, Han sudah stay di depan Selena.


Agar dua wanita beda usia itu, tak bisa menyakiti Selena begitu saja. Sementara, Zein mulai tersenyum sinis. Dengan keadaan tuan Robert yang sudah gemetaran sendiri. Padahal, Zein belum sedikitpun menyakitinya. Namun, pria tua bangka tersebut. Malah sudah ketakutan sendiri.


"Selena, kemarilah sayang!. Kita pulang bersama! " Ujar Nyonya Berta, bersikap seolah ia adalah ibu yang benar-benar mengkhawatirkan putrinya.


"Selena, kakak begitu merindukan mu. Kakak senang kau benar-benar masih hidup! " Ibel pun tersenyum senang. Ia juga ingin menghampiri Selena. Yang hanya berdiri mematung di tempat semula.


"Maaf, Selena tak bisa pulang" Jawab Selena, tanpa ingin menatap wajah Mommy dan juga kakaknya lagi.


"Selena, ada apa denganmu?. Mommy dan kakak sangat..!"


Melihat itu, Zein mulai bertindak ia sama sekali tak tahan lagi. Akan akting ibu dan anak tersebut. Yang masih saja pura-pura peduli dengan Selena. Padahal, mereka hanya ingin memanfaatkan Selena saja. Agar, Selena mau pulang dan menerima permintaan mereka. Untuk setuju menikah dengan tuan Robert. Agar hotel mereka bisa bangkit lagi dari keterpurukan ini.


Setidaknya, sampai hotel itu kembali beroperasi. Dan mereka juga bisa membayarkan gaji karyawan. Bahkan, melunasi tunggakan tagihan pinjaman mereka. Yang mungkin sudah sangat membengkak.


"Ayo kita pulang! " Zein menarik tangan Selena, untuk segere meninggalkan kediaman tuan Robert. Yang telah berantakan akan ulah Zein dan juga anggotanya tadi.


Selena pun hanya bisa menurut. Dan sama sekali tak peduli akan teriakan, ataupun panggilan nyonya Berta. Begitu pula dengan Ibel, yang ingin mengejar langkah kaki Zein serta Selena.


"Jangan macam-macam, jika hidup kalian ingin tetap aman! " Tegas Han dengan penuh penekanannya.


"Kau siapa? " Tanya nyonya Berta mulai tak terima.


"Putri anda sudah menikah dengan atasan saya. Jadi, jangan harap kalian bisa menemuinya lagi!. Atau hanya sekedar untuk melihat nya! " Han memang ahli, jika harus membuat orang takut. Tatapan pria itu sungguh mengerikan, dan mencabik-cabik nyali setiap orang.


Entah ilmu apa yang ia pakai. Sehingga, hanya dengan melihat tatapan nya saja. Semua orang bisa bungkam, tak akan berani untuk melakukan hal gila di hadapan nya.


"Tung... "


"Mom, sudah!. Tak ada gunanya kita mengejar mereka sekarang! " Ibel menahan tangan mommy nya. Saat nyonya Berta ingin mengejar langkah Han.


Dimana, Zein dan Selena sudah keluar duluan dari sana. Meninggalkan kediaman tuan Robert, yang kata Zein adalah sarang kadal.


"Bagaimana perjanjian kita? " Tuan Robert pun langsung menatap Ibel dan juga Berta dengan tatapan kesal, marah dan juga bingung.


"Salah sendiri anda gagal" Nyonya Berta ikut membentak pria tua itu dengan raut penuh kekesalannya.


"Kau punya rencana, Ibel? " Tanya nyonya Berta pelan.


"Lebih baik, kita pulang dulu Mom! " Jawab Ibel dengan seringai liciknya.


"Kalian harus mengembalikan uangku dulu!. Baru kalian boleh pergi dari sini! " Tuan Robert mulai mengancam ibu dan anak itu.


Namun, Nyonya Berta malah terlihat santai. Walaupun, para anak buah pria tersebut. Saat ini sudah mulai mengepung mereka. Sesuai dengan perintah majikannya


"Tuan, Robert. Bukankah uang itu hanya sebagai jaminan saja?. Dan saya tidak pernah memintanya sama sekali, tapi justru anda yang memberikan nya secara cuma-cuma pada saya waktu itu?. Bukan? "


"Kau...! " Tuan Robert pun semakin kesal saja.


"Jika, berani menyentuh kami sedikit saja. Maka, video ini akan menyebar!" Ancam nyonya Berta menunjukkan layar ponselnya. Tepat di depan wajah tuan Robert.


Melihat potongan video tersebut, tuan Robert pun hanya bisa mengepalkan kedua tangannya. Ia tak menyangka, jika nyonya Berta sudah menyiapkan senjata. Untuk membuat dirinya tak bisa berkutik. Sebab, rekaman video tersebut akan membuat dirinya hancur tanpa sisa. Dan merusak semua bisnis nya selama ini. Jika menyebar sekali saja.


"Sial...?! " Umpat tuan Robert sambil mengeraskan rahangnya.