
Keesokan harinya, Zein yang lelah akan aktivitas semalam. Di tambah lagi, saat ia masih merasakan efek mabuk semalam juga. Kepalanya masih terasa sakit, dengan tubuh yang ikut pegal. Zein membuka kedua matanya, dengan langsung menatap langit-langit kamar luas itu.
"Shitt, kepalaku rasanya sakit sekali" Ujarnya dengan suara lirih.
"Anda, sudah bangun. Tuan? "
Zein langsung menoleh ke samping kirinya. Dan melihat Han sudah berdiri tepat di samping ranjang miliknya. Tatapan, pria itu terlihat dingin. Ia juga membawakan segelas sup pereda pengar, sisa mabuknya semalam.
"Hei, sejak kapan kau ada di kamarku? " Zein bertanya dengan nada suara yang sedikit kesal.
Han tak menjawab. Pria itu pun hanya diam, sembari meletakkan gelas di atas nakas sana. Lalu, Han mengambil melemparkan handuk tepat ke arah Zein.
"Anda, harus segera bersiap, tuan! " Seru Han tanpa ingin menjawab sedikit pun apa yang tadi di tanyakan oleh Zein.
"Kau tidak tahu?. Kalau aku tidak akan pergi ke acara itu! " Jawab Zein dengan ketus.
"Tuan, anda harus bersikap profesional!. Walaupun... " Han tak menerus kan kata-katanya, karena Zein sudah beranjak lebih dulu dari atas ranjang sana.
"Panggil kan, Selena!. Dan kau boleh keluar! " Usirnya sambil memberikan perintah.
Terdengar helaan nafas sedikit kasar. Dan itu di lakukan oleh Han. Hingga, Zein menoleh kembali. Ketika ia ingin masuk ke dalam kamar mandi sana.
"Why?. Kenapa kau belum pergi juga?. Apa ada masalah? " Tanya Zein mulai penasaran. Apalagi, saat ia melihat wajah Han, yang malah terlihat ragu untuk mengutarakan perasaannya.
Zein pun mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam kamar mandi sana. Pria tersebut malah menghampiri Han Yang mana, Han seakan tampak ragu. Namun, seperti ada yang ingin ia sampaikan pada atasannya itu.
"Apa kau tidak dengar?. Apa yang barusan aku perintahka" Selidik Zein, dengan penuh penekanannya.
Bukannya menjawab, Han memberikan secarik kertas. Yang telah di masukkan kedalam amplop kecil bewarna putih. Yang ia ambil dari saku jasnya. Dengan harapan, jika Zein tak akan marah besar padanya setelah ini. Sebab, ia juga menemukan itu tepat di atas nakas samping ranjang Zein tadi.
Zein mulai mengerut kan keningnya bingung. Selain itu, ia juga dibuat bingung akan sikap Han pagi ini. "Apa ini? " Tanyanya dengan penuh kebingungan nya.
"Itu pesan yang nona Selena tinggalkan untuk anda, tuan" Jawab Han mulai memberitahu.
"What?. Pesan?. " Ulang Zein bertambah bingung lagi.
Ia sama sekali tak bisa berpikir jernih. Apa maksud dari ucapan Han saat ini. Walaupun ia mabuk berat, tapi otak Zein masih ingat dengan jelas. Apa yang telah mereka lakukan semalam.
"Nona Selena sudah pergi, tuan. Bahkan, dia tak berpamitan dengan kepala pelayan " Ucap Han dengan pelan.
Zein hanya bisa bergeming, dan mulai membuka isi surat dari tulisan tangan milik Selena saja. Sementara, Han hanya bisa diam. Sambil memperhatikan raut wajah Zein.
"Shitt... Apa yang dia pikirkan? " Umpat Zein, saat ia sudah membaca semua isi surat tersebut.
"Lacak lokasinya sekarang juga!. Dan segera temukan dia secepatnya! " Perintahnya dengan sedikit amarah di dalam hatinya.
"Baik, tuan! "
Han pun bergegas pergi dari hadapan Zein. Walaupun ia sebenarnya sudah mengecek keberadaan Selena sejak ia datang ke menison. Dan gadis itu belum tiba di rumah orang tuanya sama sekali.
"Haisss... apa yang ada di dalam otak gadis itu?. Apa dia... " Zein mulai menijat kepalanya karena mendadak pusing.
"Tuan... "
"Apa terjadi sesuatu di antara tuan dan nona Selena, semalam? " Han kembali masuk kedalam kamar, dan hanya untuk menanyakan kecurigaan nya itu.
Zein tak menjawab. Ia pun hanya mengerutkan dahinya, seolah sedang berpikir. Jawaban apa yang akan ia berikan pada sang asisten. Dan tidak mungkin juga, jika ia mengatakan hal yang sebenarnya. Saat ia sedang mabuk berat. Sementara, Selena malah dengan senang hati memberikan hal, yang seharusnya tak ia berikan begitu saja.
"Tuan... "
"No!. " Jawab Zein gugup.
"Anda yakin, tuan? " Han mulai mendesak atasanya itu. Karena ia bukanlah orang yang bodoh. Hanya untuk hal yang sudah jelas terlihat olehnya saat ini.
"Han, kau... "
"Tuan, tanda di leher dan dada anda itu...! " Potong Han, saat Zein ingin membantah pertanyaan, yang di sudutkan sejak tadi.
Sontak saja, membuat Zein langsung memperhatikan bagian dada bidangnya itu. Dan Zein pun hanya bisa terdiam. Ketika, ia sudah tak bisa lagi mengelak. Walaupun, Han sama sekali tak akan tahu Apa yang sebenarnya sudah mereka lakukan semalam.
"Saya akan segera menemukan, nona Selena. Jika, anda berjanji akan bertanggungjawab, tuan! " Ancam Han dengan nada serius nya.
"Kau berani mengancamku, Han? " Sentak Zein dengan menatap tajam asistennya itu.
"Tuan, kenapa anda tidak bisa menahan nya?. Saya sudah bilang sejak awal, jangan sentuh gadis itu! Jika anda tak ingin sungguh-sungguh! " Han dengan beraninya pun ikut membentak Zein.
"Wah, kau sudah benar-benar di luar batas. Han" Zein menggeleng pelan. Namun, Zein juga merasa bersalah akan apa yang sebenarnya terjadi.
"Okay, kami sudah melakukannya semalam. Dan itu bukan karena aku yang memaksanya Tapi..."
"Anda sedang mabuk, mana mungkin anda sadar, Tuan"
"Haisss,,, seharusnya semalam saya yang mengantarkan anda sampai kedalam kamar. Bukan malah.. " Han mengusap wajahnya kasar.
Sungguh, pria itu pun ikut merasa bersalah. Dengan apa yang telah terjadi di antara atasannya dan juga gadis malang itu. Seharusnya, ia sebagai asisten terus berada di samping atasannya. Ketika sang atasan sedang tak baik-baik saja.
"Temukan dia! Dan bawa dia kembali!" Ucap Zein dengan suara yang mulai tenang.
"Apa yang akan anda lakukan, setelah ini? " Tanya Han memastikan terlebih dahulu.
"Akan kuputuskan, saat dia sudah kembali nanti! " Jawab Zein. Yang sudah dengan mode seriusnya.
Zein sampai tak habis pikir. Bagaimana bisa, Han bersikap tegas begini padanya. Padahal, sebelumnya juga ia banyak mempermainkan wanita di luar sana. Namun, Han tak pernah repot sampai seperti ini padanya. Han juga malah memilihkan sendiri. Mana, wanita yang pas untuk sekedar bermalam dengan Zein. Tapi, saat pertama kali mereka bertemu Selena. Han, malah tampak jauh lebih posesif. Dan selalu saja mewanti-wanti dirinya itu.
"Anda serius, tuan? " Han kembali memastikan atasanya. Jika, Zein kali ini bisa di percaya.
"Iya, sejak kapan aku berbohong padamu?. Lagian, aku juga akan menikahinya, jika ia kembali" Jawab Zein dengan nada serius.
"Saya tak akan segan. Jika, sampai anda ingkar janji, tuan! " Lagi-lagi Han mengancam atasannya sendiri.
"Ck,,, kau sudah seperti kakaknya saja saat ini, Han" Sinis Zein menggeleng pelan.
Han hanya diam, tak membantah apapun. Pria itu malah langsung pamit undur diri. Dan hal itu membuat Zein sama sekali tak paham. Apa yang sebenarnya terjadi saat ini.