Last Night

Last Night
Pria Dingin



Malam semakin larut, kebisingan di ibukota pun nampak mulai sepi, jam menunjukkan pukul satu malam. Sebetulnya ini adalah waktu istirahat yang tenang. Untuk masuk ke alam mimpi panjang malam ini. Namun, seorang pria baru saja tiba di Apartemen nya. Dengan keadaan sudah mabuk berat.


Ia berjalan dengan teruntah-runtah. Bahkan sesekali oleng dan sudah jatuh berkali-kali. Suasana sepi, di saat semua penghuni apartemen telah istirahat dengan nyaman.


Ceklek!


Pintu apartemen nya mulai terbuka, pria itu berjalan sempoyongan, untuk masuk kedalam sana. Sambil berpegangan tembok.


"Hahaha, malam ini aku sangat bahagia sekali. Besok pagi pasti akan ada berita menghebohkan" Ujarnya dengan tawa penuh kepuasan.


"Salah sendiri, beraninya membantah dan melawanku di depan semua orang. Dia pikir dia siapa?. Hanya seorang kacung saja belagu sekali" Ujarnya lagi dengan senyum meremehkan.


"Saat dia sudah tiada, aku pasti akan dengan mudah untuk menjalani kerjasama dengan perusahaan itu" Pria tersebut masih saja bergumam sendiri. Seakan ia telah membereskan sesuatu dengan benar.


Membuat seseorang yang sejak tadi telah menunggu nya di dalam sana. Hanya menarik sudut bibirnya penuh kelicikan. Tebakannya pun benar, jika pria tersebut yang telah menyewa preman, untuk membuat dirinya celaka.


"Sepertinya, kau bisa tersenyum puas malam ini," Ucapnya dengan nada suara dingin.


"Kau,,, " Pria yang masih dengan keadaan mabuk itu, sontak saja terkejut. Dengan apa yang ia lihat sekarang ini.


Dimana, pria yang seharusnya sudah di bereskan oleh orang-orang suruhannya. Bahkan, mereka bilang sudah aman, lengkap dengan memberikan bukti foto serta video rekamannya pada dia. Namun, saat ia telah bersenang-senang. Pria itu malah ada di hadapan nya sekarang.


"Bagaimana bisa kau masuk ke Apartemen ku? " Tanya pria itu yang masih bisa mengenali suara dan juga wajah pria, yang saat ini tengah duduk santai di sofa empuk, tepat di hadapan nya.


"Bukannya ini adalah foto keluarga mu? " Bukannya menjawab, pria disana malah bertanya balik padanya. Sambil memperlihatkan sebuah foto yang ia ambil dari kamar sang pemilik Apartemen.


"Apa maksud anda? "


"Tuan Heru, anda begitu naif sekali. Dengan coba-coba bermain denganku. " Ucap pria di hadapan nya dengan tatapan dingin dan juga aura yang terlihat sangat menakutkan.


Tuan Heru, sebagai pemilik apartemen pun. Langsung mundur beberapa langkah. Walaupun tubuhnya tetap saja sempoyongan begini. Ia berusaha untuk lari, dan kabur dari hadapan pria dingin itu. Yang ternyata, bukan hanya sebuah gosip semata. Jika, ia adalah orang yang menakutkan begini.


"Kau tahu, jika kehilangan keluarga adalah momen yang paling menakutkan dalam hidup?. Apalagi, itu adalah istri dan anakmu sendiri? " Ucap pria dingin itu, yang berhasil membuat tuan Heru, menghentikan langkah kakinya.


"Kau mau coba mengancamku? " Tuan Heru balik membentak sang pria dingin dengan tatapan tajamnya. Walaupun, sebenarnya ia juga merasakan seluruh tubuhnya tak bisa bergerak dengan normal.


Saat tatapan pria di hadapan nya saat ini, begitu terlihat membunuh dan dingin sekali padanya. Sungguh, ia sama sekali tak pernah menduga. Jika, apa yang ia rencanakan malah akan berbalik menyerangnya seperti ini.


"Kau sudah salah berurusan dengan saya, tuan Heru" Ucapnya lagi dengan senyum liciknya.


"Periksa ponselmu! " Titahnya lagi, setelah ia berhasil mengirim sebuah foto. Yang sudah pasti itu adalah ulah dari anggota nya juga.


Kedua mata tuan Heru melotot sempurna. Dengan degupan jantung yang tak beraturan lagi. Ia pun langsung menghampiri sang pria, sambil berlutut. Memohon agar ia di ampuni.


"Ck,,, Maaf saja tak akan cukup bagiku" Jawab pria itu dengan gaya santai, dan memainkan belati kecil di tangannya.


"Kesalahan mu, bukan hanya di pesta tadi saja, bukan? " Pria itu semakin menyeringai licik. "Kau yang selama ini, bekerjasama dengan pemerintah, untuk menghancurkan bisnis kami!. Dan kau juga yang telah menggagalkan penjualan barang di perbatasan"


Deg!


Tuan Heru, semakin ketakutan saja. Rupanya, pria di hadapan nya ini. Memang bukan pria sembarangan, sebab apa yang di katakan olehnya adalah fakta. Kebenaran yang telah ia lakukan selama ini. Bukan karena ia taat akan aturan negara. Namun, karena ia ingin mendapatkan bisnis yang bisa menghasilkan pundi-pundi uang.


Dengan kata lain, ia berencana menghancurkan banyak bisnis ilegal. Dan bekerjasama bersama pihak kepolisian, tanpa tahu. Siapa dalang dari semua bisnis tersebut.


"Jadi, semua itu adalah... "


"Hssttt,,, kau tak ada waktu untuk tahu banyak tentang itu!. Sebaiknya, kau persiapkan diri saja!. Untuk bertemu tuhan mulai dari sekarang! " Potong sang pria dingin, dengan seringai semakin licik dan menakutkan.


"Tuan, saya bersalah. Saya mohon maafkan saya!. Dan tolong, jangan sakiti keluargaku, tuan! " Tuan Heru terus saja berlutut dan memohon ampunan. Namun, siapa yang peduli akan hal tersebut.


Mereka tak mengenal toleransi dalam berbisnis. Dan baginya, orang yang berbuat salah. Maka harus di hukum dengan adil. Dan seorang pengkhianat maka, harus di lenyapkan tanpa sisa. Agar parasit seperti mereka tidak menjadi benalu untuk kedepannya nanti.


"Sudah ku katakan, apa yang bisa kau lakukan. Untuk menyelamatkan mereka? " Pria itu kembali bertanya, sambil meletakkan belati nya tepat di samping leher Tuan Heru.


"Saya, akan lakukan apapun tuan!, asalkan anak dan istri saya bisa hidup dengan nyaman! " Jawabnya dengan sungguh-sungguh karena rasa takut nya.


"Apapun? " Ulang sang pria dengan tatapan penuh intimidasi nya. Seakan tak puas akan jawaban tuan Heru.


Anggukan kepala tuan Heru, membuat pria tersebut senang. Lalu, ia menunjuk kearah dapur sana. "Lihatlah! Benda itu sudah menunggu mu sejak tadi! " Ujarnya dengan santai.


Tuan Heru menoleh, dan melihat ada sebuah tali tandan dengan ukuran sedang. Lengkap dengan satu kursi yang sudah di naikkan di atas meja makan. Pak Heru semakin ketakukan saja. Rasa mabuknya tadi tiba-tiba hilang begitu saja. Saat ia sadar apa yang harus ia lakukan setelah ini.


"Kau lakukan dengan tenang!. Atau harus dengan cara kasar? " Tanya sang pria dengan tatapan yang lebih mengerikan lagi.


"Sa... saya... "


"Hsssttt!. Jangan buang waktuku lebih lama lagi!. Jika, kau banyak berpikir maka aku sudah mendapatkan gantinya! " Ancam sang pria, tanpa ingin negosiasi dengan akal sehat kembali.


"Waktumu hanya 10 menit!. Saat waktumu habis, dan kau belum juga mengambil keputusan bijak, maka jangan salahkan aku, jika... "


"Baik, saya akan lakukan itu!. Tapi, jangan sakiti keluarga saya! " potong tuan Heru memohon.


Entah apa yang terjadi malam ini, sehingga keamanan apartemen malah tak terkendali. Padahal, selama ini ia bisa hidup dengan nyaman. Dan juga tak akan ada orang yang sembarangan bisa keluar masuk gedung tersebut. Tanpa, akses khusus dari sang penghuni.


"Aku tak akan pernah ingkar janji!. Asalkan kau juga tidak melakukan kesalahan! " Jawab sang pria dengan tatapan membunuhnya.