
Setelah mengucapkan kata demi kata, kalimatnya yang santai namun penuh dengan penekanan. Dan lebih tepatnya itu adalah sebuah ancaman semata. Hingga, kini sosok pria tersebut. Yang menggunakan topi bewarna hitam. Serta setelan pakaian yang senada, lengkap dengan masker serta sarung tangannya.
Mendadak listrik di gedung apartemen pun padam, secara serentak. Sehingga, sistem keamanan pun ikut bermasalah. Dan bertepatan dengan itu, suara di dalam apartemen tersebut, terdengar seperti benda jatuh. Pintu apartemen terbuka.
Ceklek!
"Good bye! " Ujar sang pria sambil menarik sudut bibirnya. Puas dengan apa yang ia lakukan malam ini.
Baginya, membunuh tanpa menyentuh mereka. Itu lebih ampuh. Dengan hanya membunuh mental mereka sendiri, sehingga nyali di dalam diri sirna begitu saja. Menyisakan ketakutan yang mendalam.
Kegaduhan di gedung Apartemen tak hanya, gara-gara listrik padam saja. Namun, karena tiba-tiba ada keluar asap dari salah satu unit Apartemen di sana. Sehingga, alarm tanda bahaya pun ikut menyala. Akan tetapi, hal itu malah membuat sosok pria, yang masih menuruni anak tangga. Untuk pergi meninggalkan Apartemen, saat ini hanya tersenyum iblis. Menyaksikan kegaduhan yang ada di gedung apartemen tersebut.
"Lebih baik hidup dengan nyaman!. Daripada harus mengusik diriku! " Ujarnya dengan seringai iblisnya.
Tak ada kata ampun baginya, sekalinya membuat salah. Maka, ia akan menemukan cara ampuh. Untuk melakukan tindakan di luar nalar. Yang pasti akan mampu, membuat hatinya senang.
"Suiiittt... Suiitttt! " Suara siulan pria itu, membuktikan rasa bahagia di hatinya saat ini.
Walaupun wajahnya sama sekali tak terlihat jelas. Namun, percayalah sosok nya adalah idaman para kaum hawa. Ia akan berubah jinak dan juga berwibawa, ketika ia berada dalam lingkungan yang nyaman. Namun, siapa sangka sifatnya berubah total. Saat ia sedang berhadapan dengan orang-orang yang culas, pengkhianat, dan juga tak bisa di atur ataupun tidak bisa di percaya sama sekali.
******
"Haisss,,, kenapa dia kembali membuat ulah? "
"Shiitt....?! " Umpat Zein sambil memukul meja kerjanya.
Belum juga selesai, urusan di Mension. Dimana ia harus berhadapan langsung dengan gadis cantik. Tetapi, mempunyai kekonyolan yang hakiki. Dan mampu membuat nyalinya lenyap. Kini, ia harus di pusingkan kembali. Akan masalah yang dibuat oleh orang kepercayaan nya sendiri.
"Hei, apa kau sudah gila? " Sentak Zein, saat panggilan nya baru saja terhubung. Karena, beberapa kali ia mencoba menelpon. Malah tak bisa dihubungi sama sekali.
"Wah, cepat sekali beritanya menyebar " Bukannya takut, seseorang di seberang telpon sana malah bicara dengan nada santainya.
"Ada apa denganmu?. Kau bisa menjelaskan nya padaku? " Zein mulai bicara dengan nada pelan. Ia tahu, bagaimana sifat orang dekatnya ini.
Dimana, pria yang sedang ia telpon sekarang ini adalah Han, asisten kepercayaannya sendiri. Dan beberapa menit lalu, ia sudah menghabisi nyawa seseorang. Tanpa sepengetahuan nya sama sekali.
"Tikus itu sudah mulai tak bisa, untuk di atur lagi. Tuan. " Jawabnya dengan jujur.
"Apa jalan negosiasi, sudah kau lakukan? " Zein bertanya secara terbuka kali ini.
"Bukan hanya sekali, tapi sudah lebih dari dua kali. Tuan. Dan hasilnya tetap nihil" Jawab Reyhan berkata apadaya.
Tak ada yang sedang ia tutupi saat ini. Apalagi, ia sedang bicara dengan seseorang. Yang juga sangat berarti di dalam hidupnya. Orang yang sudah pasti tak akan pernah, untuk pergi meninggalkan nya. Walaupun, ia sering membunuh orang banyak. Tetapi, dia tetap selalu ada untuknya.
"Haisss, kenapa kau tidak bilang dari awal? " Zein tersenyum bangga.
"Oke, pulanglah!. Setidaknya kau harus beristirahat dengan nyaman malam ini! " Titah Zein, karena kecemasan nya sudah terjawab sudah.
"Baik, tuan! " Reyhan pun dengan senang hati, menerima dan sekaligus mematuhi perintah atasannya itu. Sebab, malam ini tugasnya sudah beres.
Ia juga sambil menyalakan radio di dalam mobilnya. Demi untuk mendengar berita, yang pasti akan heboh mulai malam ini. Semua yang ia lakukan tadi, sudah ia prediksi dengan benar. Dan tak akan pernah ia melakukan sesuatu hal. Namun, itu malah membahayakan mereka semua.
"Sampai bertemu di neraka! " Ujarnya sambil mengetuk-ngetukkan jari di stir mobilnya.
Ia cukup sadar diri. Jika, orang seperti nya sangat tipis harapan untuk masuk surga. Begitu banyak dosa, yang telah ia lakukan selama ini. Semuanya memang hanya untuk bertahan hidup. Tetapi, ia juga cukup sadar diri juga. Jika, membunuh dengan cara menyakitkan itu. Merupakan jalan instan, untuk mendahului waktu yang telah di tentukan oleh malaikat pencabut nyawa. Sesuai dengan perintah sang maha kuasa.
******
Keesokan harinya, Selena pagi-pagi sekali sudah bangun. Ia pun sudah terlihat rapi, wangi dan juga nampak begitu menawan sekali. Rambut panjang yang ia gerai, terlihat begitu indah dan sehat sekali.
Waktu masih menunjukkan pukul enam pagi. Dan maid juga sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Termasuk koki di Mension yang sedang menyiapkan sarapan untuk majikan mereka.
"Nona, ada yang bisa saya bantu? " Kepala maid datang menghampiri Selena. Dimana, gadis itu malah berdiri membeku. Dibalik pintu pembatas antara dapur bersih dan juga dapur kotor.
"Ah, tidak ada! " Jawab Selena sedikit gugup. Karena, tatapan wanita yang ada di hadapan nya ini., Kadang jiha membuatnya segan.
Sungguh, ia memang tak pernah tinggal ataupun melihat bangunan mewah, megah, dan juga luas. Seperti yang sedang ia tinggali sekarang. Ya, walaupun ia sendiri hanya menumpang, dan sebagai tamu disana. Namun, ia begitu bangga, bisa menjadi bagian di Mension dalam beberapa hari ini.
"Kalau tidak ada, kenapa anda malah berdiri disini. Nona? "
"Saya, tadi hanya ingin mengambil air minum saja. Tapi,,, "
"Biar saya bantu ambilkan! " Potong sang kepala maid.
Selena menganggukkan kepalanya lega. Saat, kepala maid sudah pergi dari hadapannya. Mata, Selena terus tertuju pada para orang-orang di dalam dapur. Yang nampak seperti sebuah restoran besar saja. Dimana, para chef fokus dengan tugasnya masing-masing, seperti yang di lakukan tiga orang pria, yang ada di dalam dapur kotor tersebut.
"Wah, siapa sebenarnya tuan Zein ini?. Kenapa dia begitu mempunyai segalanya? " Tanya Selena pada dirinya sendiri.
Tentu saja, sebagai tamu. Ia juga sangat penasaran sekali. Dengan seluk beluk Zein sebenarnya. Sikap pria itu memang sangat ketus sekali. Tetapi, ia mempunyai cara tersendiri untuk membuat seseorang nyaman, berada di dekatnya.
"Ini, nona!" Kepala maid, menyodorkan segelas air minum, untuk Selena.
"Thank you! " Ucap Selena dengan tulus, dan diiringi dengan senyum manisnya.
"Sarapan akan segera siap. Sebaiknya, anda tunggu saja di meja makan, nona! " Ujar sang kepala maid lagi.
"Aku akan membangunkan, tuan Zein dulu! " Jawab Selena, dan bergegas pergi dari hadapan sang kepala maid.
"Nona, tidak per... " kepala maid pun tak sempat lagi bicara. Saat Selena sudah pergi begitu saja dari hadapan nya.