Last Night

Last Night
Turun Tangan



Helaan nafas panjang dari seorang gadis cantik. Yang saat ini masih merasa ragu, untuk melangkah dan masuk kehalaman rumah orang tuanya sendiri. Berulang kali ia berpikir, seakan ia memang tak mau lagi. Untuk kembali kesana. Namun, demi sebuah kepastian yang selalu mengganjal pikirannya. Selena pun tak mau, di hantui rasa penasarannya begini.


"Oh Tuhan. Apa yang harus aku lakukan sekarang? " Gumamnya dengan keraguan di hatinya.


Saat ia telah memantapkan hatinya. Untuk masuk kehalaman rumah. Yang tampak sepi bak tidak ada penghuni itu. Tiba-tiba, dari samping sana. terdengar suara perdebatan dua orang wanita. Yang mana, Selena bisa mendengar dengan jelas. Jika itu adalah suara Mommy dan kakaknya sendiri.


"Mom, apa benar semua ini? " Tanya Ibel dengan suara sedikit membentak.


"Ibel, mommy bilang jangan pernah bahas masalah ini lagi! " sang Mommy pun tak mau kalah. Jangan kan untuk menjelaskan, membahasnya saja dia enggan.


"Kalau Selena bukan anak Mommy, lalu siapa ibu kandung Selena, Mom? " Gadis berambut pirang itu begitu sangat penasaran sekali. Dengan apa yang baru ia ketahui saat ini. Yang membeberkan sebuah fakta, jika kecurigaan nya akan sikap sang Mommy. Sangatlah berbeda akan adiknya itu.


"Dia hanya wanita murahan. Yang menjual tubuhnya untuk Daddy mu. Puas kau sekarang? "


Deg!


Bagaikan terhantam tombak tepat di depan dadanya. Sehingga, membuat Selena sesak. Air matanya tumpah ruah tanpa diminta lagi. Tubuhnya gemetar, hatinya sakit. Mendengar semua kata yang keluar dari wanita paruh baya itu.


"Apa benar, jika aku bukanlah putri kandung Mommy? " Lirih Selena dengan suara tercekat. Menahan sesak di dadanya saat ini.


Awalnya ia pulang. Hanya untuk memperbaiki keadaan, dan ingin meminta maaf. Karena ia sama sekali tak mau tahu lagi akan keluarganya. Walaupun, hatinya merasa penasaran dengan sikap sang Mommy. Yang meninggalkan dirinya begitu saja, saat mereka kecelakaan. Tapi, ia malah di sambut dengan sebuah kenyataan lebih pahit lagi begini.


"Tidak... aku harus tanyakan langsung ke mereka! Jika, yang aku dengar ini salah dan tidak benar" Selena menghapus air matanya. Dan masih saja berharap, jika ucapan Mommy nya barusan hanya sebuah kekesalan semata.


"Nona...! "


Selena menoleh dan langsung tak sadarkan diri, saat tiba-tiba ada dua orang pria datang menghampiri nya. Dan membekapnya dengan obat bius. Sehingga, perlahan kesadaran Selena hilang.


"Bawa dia kedalam mobil! " Titah salah satu pria memberikan perintahnya.


"Oke, bos! "


Sebuah mobil bewarna hitam tanpa plat nomor yang jelas. Sudah membawa Selena untuk pergi dari sana. Dan Selena pun sedang tak sadarkan diri saat dibawa oleh mereka. Para, pria yang sama sekali tak Selena kenal.


*******


Brakkk!!!


"What? "


Han menggebrak meja kerjanya, saat ia mendapatkan laporan dari anggota nya. Jika, orang yang mereka cari sedang berada di tempat yang tak di inginkan.


"Bagaimana, cara kerja kalian?. Membawa satu orang saja, kalian tak becus begini? " Sentak Han dengan tatapan tajamnya.


"Maafkan kami, tuan.! "


"Kami, pun kehilangan jejaknya" Sambung anak buahnya lagi, merasa bersalah.


"Shiiit...!?. "


"Kalau sampai terjadi sesuatu padanya. Maka, kalian semua akan bertanggung jawab! " Sungguh, ucapan Han kali ini membuat mereka merinding.


"Apa, yang kalian tunggu?. Cepat cari mereka sampai ketemu!. " Bentak Han penuh amarahnya.


"Siap, tuan! " Anggota Han pun langsung pamit undur diri. Di saat tatapan Han sudah sangat mengerikan sekali. Seakan saat ini juga, pria itu ingin menelan mereka hidup-hidup.


Daripada kembali membuatnya marah. Akan lebih baik, jika mereka pergi saja, dan menjalan kan tugas dengan baik. Kalau tidak mau, mendapatkan masalah besar nantinya.


Melihat anggotanya yang sudah pamit undur diri. Han, juga ikut beranjak pergi. Tapi, langkah kakinya di tahan oleh Zein. Atasannya sendiri, yang baru keluar dari kamarnya.


"Ada apa? " Zein bertanya dengan wajah bingung dan juga penasaran nya.


"Nona Selena, si culik, tuan"


"What?. " Zein langsung mendelik tajam.


"Siapa yang berani membawa nya pergi?. " Zein ikut tersulut emosi. Saat baru mendengar laporan asisten pribadinya ini.


"Han...!? " Siapa? " Bentaknya dengan nafas yang turun naik. Menahan emosi membuncah di dadanya. Tangannya mulai terkepal kuat. Sehingga, Buku-buku jarinya ikut memutih.


"Hanya tikus liar, tuan" Jawab Han datar.


Tanpa ingin menunggu penjelasan dari Han, lebih detail lagi. Zein pun segera beranjak pergi lebih dulu. Pria, itu tak akan tinggal diam. Saat sesuatu mungkin terjadi pada Selena. Dan melihat sikap Zein saat ini, Han sedikit lega. Karena, Zein setidaknya ikut peduli pada Selena. Gadis malang yang tak pernah merasakan kasih sayang dengan tulus. Baik dalam lingkungan keluarga maupun orang-orang terdekatnya.


Jelas saja, Han tak terima. Saat ada seorang gadis di perlakukan tak adil seperti itu. Apalagi, wajah Selena mengingatkan Han akan seseorang. Yang sangat dekat dengannya. Namun, takdir malah membuat mereka harus berpisah. Bahkan, bagi Han takdir juga yang sudah membuat kekejaman hidup di dunia ini.


"Siapkan mobil! " Titah Zein yang langsung meriah jaket kulitnya. Dari tangan kepala pelayan begitu saja.


Han pun paham. Dan segera menghubungi anggotanya yang sedang di luar mension. Setidaknya, hari ini mungkin mereka semua akan sedikit mengeluarkan tenaga. Untuk membuat perhitungan dengan tikus liar tersebut.


"Tuan, apa tidak sebaiknya anda menunggu di mension saja? " Han mulai memberikan saran. Sebab, baginya mungkin akan tidak baik. Jika Zein sampai memperlihatkan wajahnya di siang hari begini.


Belum lagi, Orang-orang mereka mungkin akan sedikit mencolok. Untuk sekedar membuat perhitungan dengan tikus liar seperti mereka.


"Aku masih waras, untuk menunggu sambil bersantai. Di saat Selena sedang menunggu bantuan dariku" Jawab Zein dengan tegas.


"Bagaimana, kalau dia sedang mengandung bayiku?. Apa aku harus tinggal diam saja?" Seloroh Zein dengan tidak tahu malunya.


"Tuan...Tolong jaga sikap anda! " Han sedikit berbisik. Agar kepala pelayan tak mendengar apa yang tadi di ucapkan oleh Zein.


"Tapi... "


"Tuan, kalian baru melakukan nya semalam. Dan itu pertama kalinya, mungkin belum berhasil " bisik Han sambil menghela nafasnya pelan.


"Ck... Kau tidak tau saja, jika semua benih di keluarga ku itu, sangat premium. Jangankan satu kali, baru celup saja. Kemungkinan akan jadi bayi" Zein memang benar-benar konyol.


Dalam situasi seperti ini saja, Ia masih bisa bercanda. Dan itu tentu saja membuat Han sedikit kesal. Namun, setidaknya, Zein juga mengkhawatirkan keadaan Selena saat ini.


"Ayo kita pergi! " Seru Zein saat mobil mereka, sudah berada di halaman depan mension sana.


"Baik, tuan! "